23 Maret 2012

MC dadakan dan Kaos kaki Misterius

Emang rempong banget deh ah kalo jadi aktivis HIMA (Himpunan Mahasiswa).  Bahkan hari libur pun harus  ke kampus. Hari ini sebenernya hari bersantai, soalnya tanggal merah (yang aku nggak tau kenapa merahnya, lagi dapet kali ya). Tapi apa daya, HP aku berdering terus, temen2 yang lain nyuruh dateng ke kampus, ada acara Temu Alumni PGSD jam 2 siang. Aku  di suruh datang jam 09.30. aku datang jam 2 siang. Hihi.. 

lumayan lah, dari pada aku nggak datang?? Itu pun nggak niat banget, pake busana casual (gaya bahasa di majalan geetoh) rok berbahan jins dan baju kaos garis-garis. Sepatu karet, di lengkapi tas ransel hitam + laptop di dalamnya. Biasalah aktivis geto loh, banyak data-data penting (gaya banget lo! Plak!)

Sampai di kampus, langsung di tawarin makan nasi bungkus, waahh.. biasanya walaupun seharian kerja rodi di HIMA, nggak pernah dapet makan. Yah aku jabanin deehh..

And then.. ternyata.. aku di minta jadi MC dadakan di acara itu. Alamakk.. saiyya kan KESTARI, bukan seksi acara, kerjaanku di belakang layar. Kayak desain spanduk, ID card dll. Dan itu semua udah beres. Sempet nolak dan berdebat sama si tukang tunjuk, Pak Bupati (Bupati di kampus ya, bukan bupati di kampung). Temen-temen yang lain pun pada ngotot juga nyuruh aku. Maka pasrah lah aku dengan pakaian ala orang mau naik gunung, jadi MC di acara temu alumni.

Ku pandangi semua audience, para kakak-kakak tingkat yang udah dapet gelar S.Pd alias Sepedah. Eh bukan, Sarjana Pendidikan Ding. Pakaian mereka rapi-rapi, formal dan cantik, sedangkan aku, rok jins belel dengan sepatu karet murahan. Alamak..  pengen banget rasanya mukulin si Pak Bup yang main tunjuk seenaknya, seandainya bilang dari kemaren kan aku bisa pake baju yang cakepan dikit dari pada ini. untung aku punya kadar PD yang tinggi.

Nah, secara ini kan acara sejenis reunion gitu. Nggak tau susunan acaranya apa aja. Maka mulailah aku ngarang bikin susunan acara. Sampai-sampai kata sambutannya terbalik. Aku panggil Dosen duluan yang ngasih sambutan, baru deh ketua Panitia dari HIMA. Lebih terhormat anak HIMA ya dari pada Dosen. Haha. Ampun Bapaaakk..

Acaranya biasa aja. Sosialisasi akreditasi kampus, bagi-bagiin angket, pembentukan Organisasi Alumni PGSD, dan tentunya iklan seminar pendidikan berkarakter yang bakal di adain HIMA tanggal 8 April besok. Dengan target peserta 200, tapi sampai saat ini yang daftar baru 3 orang. bikin stress panitia deh ah..
Selesai acara, temenku buka tas nya. dia ketua panitia acara seminar ini, sebut saja namanya Rahmat. Cowok satu ini kalo di lihat-lihat dari tampangnya sih lumayan menawan juga, ada tampang pintar (secara anak konsen Matematika, kayak aku :P ) dan aktifis banget (rempong sana-sini).

Nah waktu dia buka tas nya yang udah lama di telantarkan di ruang sekre HIMA, ada sebuah bingkisan menarik. Dia langsung kaget dan heran.

“hah? Apa-apaan nih?” katanya sambil memegang hadiah berbungkus Koran itu. (yang ngasih nggak modal banget yak?!)

 Kami-kami yang lagi ada di situ langsung nyorakin.

“Ciee… punya penggemar”

Tanpa basa-basi langsung aja dia buka tuh bingkisan. Dan Taaaaraaa.. isinya adalaahh…

KAOS KAKI TIGA BIJI
gambar nyomot di Om google

Hahahaha.. ada gitu yah orang ngasih kado kaos kaki. Kontan panitia yang masih ada di situ langsung ketawa jungkir balik. Termasuk aku. Dan aku langsung ngambil kesimpulan, kenapa si penggemar rahasia ngasih benda keramat itu sama Rahmat.

“Mungkin dia kasian liat kaos kaki mu yang udah bolong-bolong dan bau banget, Mat.. hahaha”

Yang lain tambah sakit perut. Rahmat bingung sendiri sekaligus bertanya-tanya, siapa yang masukin 3 biji kaos kaki itu ke dalam tasnya. Di bungkus Koran pula. And the last he said :

“lumayan lah, kaos kaki 3 sepuluh ribu.” Katanya sambil ngakak juga.

Rahmat..rahmat..

dan sampai saat ini SMS an masih berlanjut, menyelidiki siapa pengirim kaos kaki misterius. hohoho.
apakah santa claus?? 

Udah ah cerita GEJE nya. sobat blogger, maap yaaa… hihi.
 eh ogut numpang nampang dulu yak! ini pulang kampus kemaren. hehe




13 Maret 2012

Cerpen : "Menjemput Ayah"


Oleh : Risah Azzahra
Kamar itu berantakan, penuh barang. Tas besar masih kosong, calon penghuninya masih telentang berserakan di atas kasur. Di lantai pun masih ada lagi sepatu-sepatu dan peralatan mandi yang akan di bawa pemiliknya. Ruang seluas 3 x 4 meter itu bagaikan toko sedang cuci gudang, Oh, bukan. Persisnya lebih mirip kapal barang yang sedang bongkar muat. Sangat kacau.

Ibu si empunya kamar membuka pintu, dan terkejut melihat isi kamar anak sulungnya itu. Terkejut sekaligus terharu. Ia kira bincang-bincang mereka di ruang tamu kemarin hanyalah igauan anak lajangnya itu, ternyata tidak. Sulungnya itu akan benar-benar pergi. Pergi menjemput Ayah.

“Jadi Juga engkau berangkat malam ni, Jang?” tanya Emak Ujang sambil berusaha mengambil tempat untuk duduk di pinggir dipan.

“Jadi lah, Mak. Dah Ujang telpon abang travel tu tadi pagi. Tiket kapal pun dah Ujang beli ni.” Jawab Ujang dengan mata tetap terfokus ke lemarinya yang sudah mulai kosong.

“Tapi barang-barang engkau ni banyak betul lah, Jang. macam tak nak balik lagi” seru emaknya risau.
“Ye lah, Mak. Ujang nak siap-siap saja. kalau sehari belum jumpa, Ujang tambah disana dua hari lagi, tak juga jumpa, tambah tiga hari lagi, tak tentu lah, Mak. Mungkin bisa seminggu, sebulan.” Ujang masih sibuk melipat pakaian yang ia keluarkan dari lemari. “Ni dah lima bulan , Mak.  Kalau Ayah tak mau pulang, biar Ujang yang jemput Ayah untuk emak, Ujang tak sanggup lagi dengar Etek-Etek di kedai tu membicarakan emak, emak rindu juga kan sama Ayah?”

Emaknya menarik napas berat. Seberat beban yang dipikulnya selama lima bulan ini. suami yang entah kemana rimbanya. Tak ada kabar. Entah masih hidup atau mati, entah berbini baru, entah makan entah tidak. Sama sekali tak tau. Berkali-kali ia berdoa pada Allah dalam setiap tahajudnya, tapi Ayah dari tiga orang anaknya itu tak kunjung muncul di ambang pintu rumah mereka yang hampir rubuh.

Tak disangkanya Ujang anak sulung yang nakal bin bengal itu akan berpikiran menjemput Ayahnya. Entah jin dari mana yang merasuki pikiran anaknya yang beranjak dewasa itu. Sebelumnya ia telah benar-benar pasrah. Merelakan kepergian suaminya yang tanpa sebab. Toh sejak awal mereka menikah pun sang suami tak pernah benar-benar menafkahinya. Untunglah ia punya kantin di dalam kawasan sekolah yang berada tak jauh dari rumahnya. Dari situ lah asap dapur mereka dapat mengepul, dari situ ia dapat menyekolahkan ke tiga anaknya hingga kini si sulung mendapat gelar Sarjana. Masih ada dua orang buah hati lagi yang saat ini ia sekolahkan di pesantren. Syukur mereka berprestasi di sekolah dan mendapat beasiswa.

Selama ini suaminya itu memang tidak punya pekerjaan tetap, tapi semasa di rumah dia rajin betul beribadah, hari-hari ia di masjid. Sholat lima waktu tak pernah tinggal, itu pula yang menyebabkan nenek Ujang sayang betul sama menantunya itu. Emak Ujang pun dengan ihklas menafkahi keluarga. Kadang Ayah Ujang coba-coba bercocok tanam di kebun belakang rumah, dengan modal dari emak. Tapi jarang ada hasilnya. Selalu rugi. Coba pula Ayah Ujang berdagang. Lagi-lagi tak ada untung, bahkan modal pun tak balik. Ia pun pasrah, hanya duduk di rumah sambil membaca-baca buku-buku agama. Jika tiba waktu sholat, maka ia pun melangkah ke masjid. Begitulah keseharian Ayah Ujang. Kadang jika ia bosan di rumah, dengan alasan cari uang, ia akan pergi ke Tanjung Balai Karimun di Kepulauan Riau. Tempat ia lahir dan adik-adiknya tinggal. Ia tinggal menupang saja di situ, dan saat kembali ke Pekanbaru akan di bekali banyak uang oleh adiknya yang kaya raya. Mereka menggapnya balas budi terhadap abang. Tapi dalam lima bulan ini entah mengapa ia tak kunjung pulang.
*****

Ujang menyeka keringat yang membasahi baju kemejanya. Kepalanya masih pusing karena mabuk laut akibat di ombang ambing ombak di atas kapal selama 5 jam. Sudah berjam-jam ia berdiri mencari mobil tumpangan yang bisa membawanya ke kecamatan Meral, desa Pangke,  rumah Etek, Tempat Ayahnya menumpang. Eteknya termasuk jajaran orang kaya di kampung ini. sukses sebagai pedagang dengan toko pakaian dimana-mana. Ujang selalu tak habis pikir, mengapa kesuksesan adik Ayahnya itu tak sedikitpun menular kepada Ayahnya.

“Nak Kemane, Dik?” sapa seorang pria tambun yang memakai jas kulit usang, dari penampilannya jelas sekali ia berprofesi sebagai tukang ojek.

“Nak ke Pangke, Pak. Bisa ke antar saya kesana?” jawab Ujang sambil mengibas-ngibas kemejanya kepanasan. Mereka pun berdebat sebentar menegoisasi harga. Hingga akhirnya motor bebek itu bergerak melaju menuju desa Pangke.
*****

Sampai di tujuan, Ujang dipeluk erat Etek Imay. Langsung dituntunnya Ujang ke meja makan. Ujang pun tak dapat menolak hidangan. Tak henti-henti Eteknya berbasa-basi menanyakan kabar keluarga di Pekan. Ujang pun tak segan lagi makan, meskipun ia sedang heran. Kemana gerangan Ayah yang akan di bawanya pulang. batang hidungnya pun tak bertandang.

“Macam mana kuliah adik kau si Ilham tu, Jang? Dah semester berapa sekarang?” tanya Etek sambil menambah hidangan.

“Alhamdulillah dah semester 6. Sedang persiapan ujian proposalnya sekarang, Tek” jawab Ujang sambil tetap terus saja mengunyah hidangan yang ada.

“Hmph…” Etek menarik napas berat. “macam mana pula lah emak kau menyekolahkan kalian. Ayah engkau pun menganggur tak ada kerja disini, sakit-sakitan pula. tak nak balik-balik, sudah berulang kali Etek suruh balik ke Pekanbaru, tak dihiraukan. Jantung ayah kau itu ada sedikit masalah, tapi tak mau di ajak berobat. Ayah kau tu dah tua, harusnya hidup disamping istri dan anak-anaknya. Biarlah Etek kirim uang tiap bulan untuk uang sekolah kalian kakak beradik, tapi Ayah kau tu keras kepala. Mungkin dia kepalang malu sama emak kau yang dari dulu tak pernah dinafkahinya.” Jelas Etek sambil mengusap-usap bahu Ujang. Hampir saja Ujang tersedak mendengar penjelasan Eteknya. Mungkin Ayahnya merasa rendah diri dan minder di hadapan ibunya, sehingga tak berani lagi menampakkan muka di hadapan keluarga.

“Besar jasa Ayah kau tu terhadap Etek, Jang. Sejak kakek nenek kau meninggal, Ayah kau yang menghidupi kami berlima kakak beradik, saat itu Ayah kau masih SMP, dan Etek masih SD. Sejak saaat itu Ayah kau berhenti sekolah dan berkerja mati-matian menyekolahkan adik-adiknya. Subuh-subuh Ayah kau dah ke kebun menakik getah. Sampai akhirnya semua adik-adiknya sarjana. Kini tibalah saatnya kami adik-adiknya ini membalas budi. Saat Ayah engkau tak ada penghasilan macam sekarang ni. Mungkin dia sudah penat betul, tenaganya pun sudah habis  termakan usia.” Kelihatannya Etek mencoba membela abangnya.

“Assalamualaikum” tiba-tiba terdengar suara baritone dari depan. Suara yang sangat dikenal Ujang. Suara yang selama ini dirindukan emak dan kedua adiknya. Mata mereka bertemu, mata ayah dan anak yang dirundung rindu. Belum sempat Ujang menjawab salam, mata ayahnya melotot bagai ketakutan. Detik selanjutnya, tubuh ringkih itu jatuh menyelosor di lantai keramik rumah etek.

Bruk!
Eteknya panik dan teriak-teriak minta tolong. Ujang masih terpaku, bukan karena ia begitu merindukan Ayahnya hingga tak lagi bisa berkata, bukan pula karena kekenyangan sesudah menyantap hidangan lezat dari Eteknya. Bukan karena ia benci ayanya yang tak pulang lima bulan, tapi karena nadi orang yang membuatnya lahir kedunia ini, sudah tak berdenyut lagi. (di Muat di Riau Pos edisi Minggu  4 Maret 2012)

*di posting berdasarkan permintaan dari cerita sebelumnya dan yang udah baca wajib kasih kripiknya!  kripik pedas boleh. apalagi kripik manis.. ^_^

04 Maret 2012

How Lucky I am Today


"fabiayyi aalaai robbikumaa tukaddzibaan"

maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau  dustakan?

Entah kebetulan, atau aku aja yang merasa terlalu beruntung hari ini.

Pagi-pagi di posko aku udah dapet sms kalau cerpen ku terbit di Riau Pos. langsung loncat-loncat kegirangan di posko, yang lain Cuma bisa geleng-geleng kepala aja nggak tau sebabnya. Cerpen yang aku tulis dalam 2 jam,  tanpa ending. Sempat blank mau di buat ending apa, dan sempet nyuruh (maksa) beberapa teman baca dan kasih saran buat endingnya. Tapi saran-saran dari mereka bisa bikin cerpen itu tambah panjang, sedangkan halaman di Riau pos Cuma 3 halaman. And then.. kebiasaan penulis kejam yang suka mematikan tokoh. Aku matikan aja tokohnya. Selesai. Haha kejaam.. dan ternyata di muat..#hore…hore…  





Cerpen ini sebenernya hasil cuplikan sebagian hidup aku (always) dan di modifikasi sedikit.  Latarnya melayu di kepulauan Riau. Hasil investigasi via sms dengan si Dori yang ngakunya anak Kepri. Hihi.. thanks dori atas kecamatan Pangke nya.. haha

Tadi sempet deg-degan waktu Ummi masuk kamarku dan nyariin Koran itu, padahal udah aku umpetin biar Ummi nggak baca, tapi tetep minta, dengan pasrah aku serahin. Aku takut Ummi nangis baca itu, soalnya that is truly story bout my father. Dengan ending yang bikin nyesek. Dan nggak nyangka banget setelah  baca  Ummi malah ketawa ngakak.

“Kok mati? Hahaha..  pasti gara-gara endingnya ini makanya bisa dimuat” tuduh Ummi aku yakin.
“ Umur Buya 3 tahun lagi 60 tuh. Bisa aja karena hobi merokoknya. Hahaha” Ummi ketawa lagi. Garing deh ah. Maksudnya apa coba?

Keberuntungan lain, terjadi waktu di posko KKN tadi
DPL (Dosen Pengawas Lapangan) yang sejak 2 bulan kami KKN, baru tadi Bapak itu datang. Kedatangannya pun mendadak. Untung kami masih ada di posko, sedangkan posko-posko yang lain sudah ada yang pulang, dan Bapak DPL itu datang dengan pintu posko yang terkunci.

Beberapa temen ku tadi udah ada  yang pulang duluan, sedangkan aku sholat zuhur dulu, dan yang lain menunggu ketua dari kelompok lain karna mau survey lapangan. Seandainya kami tidak ada kepentingan dan langsung pulang di siang itu, alamatlah pak DPL ngamuk-ngamuk. Karna emang belum waktunya pulang. dan untung juga laporan bulanan nggak di minta, karena ke asyikan menghakimi ketua kelompok yang poskonya kosong (langsung datang waktu di telpon). Karena kalau sempet di minta laporan bulanan, kami belum buat, dan tentu aja aku yang bakal di salahkan, karena sekretarisnya aku! Untungg.. untung..

Dan untung juga, waktu Bapak DPL minta Monografi Desa, aku punya fotocopian dari kelompok KKN gelombang sebelumnya. Walaupun isinya nggak lengkap dan itu satu-satunya pegangan, dengan pasrah aku serahkan ke Bapak DPL. Dan tampaknya Bapak fine-fine aja dengan hasil kerja kami. Ahaayy..

Keberuntungan selanjutnya, Aku JUARA 1 (SATU) lomba foto unik yang di adakan kampus.. aha..ahaha..ahaha.. kalo inget foto itu aku sendiri nggak berenti ketawa. Mau liat penampakannya??

Keasyikan belajar, kejar skripsi. nggak nyadar ada maling sedang beraksi nyolong kompi nya


Foto unik yang ada unsur pendidikan, yang di nilai keunikan dan kreatifitas. Untung aja kualitas foto nggak dinilai, karena aku foto ini pake Camera HP pinjaman (maksa) punya si Ori (thanks berat Ori, selalu aku repotin. Hehe).

Betaapa senengnya aku hari ini,  suasana hati kayaknya bagus banget. Pengen berbagi sama orang lain, sekedar makan bakso, tapi pas d isms orangnya lagi belajar kelompok pula (harre genne masih belajar kelompok? nyontek berkelompok kalle).  Ya sudahlah, aku share di blog ku tersayang ini ceritanya. Thanks buat yang udah baca. I LOVE YOU ALL..  ^_-