26 April 2013

Wisuda Adekku ; Sofi Edition


"Zaman sekarang. dari anak TK, MDA, sampe SMA udah pada di wisuda. Zaman dulu bisa wisuda kalau udah kuliah 4 tahun, ditambah lagi 2 tahun. "

Itu lah kata sambutan dari ketua komite di acara wisuda nya Sofi. adik aku no 2.  

Sebelum wisuda, terbayang betapa rempongnya. Sofi yang mau wisuda, aku yang rempong.  Nyari bajunya di Ramayana berjam-jam. Nyari jilbabnya. Sepatunya.  Sebenernya nggak rempong kalau bukan karna Titah ummi

“Belikan Kebaya untuk wisuda sofi, besok bisa sekalian untuk wisuda Icha”
What?? Jadi besok kebaya wisuda aku bekas kebayanya Sofi. Aaa.. ummi tegaa.. wisuda S1 kan jauh lebih berkelas daripada wisuda SMA, masssaa aku pake yang bekas nya Sofi? Aa.. ummi tega..
Tapi yang namanya Titah nggak bisa dibantah.  Dengan pasrah aku ngantar nemenin Sofi nyari kebaya dll nya. 

17 April 2013

Review Draft Novel : Cinta Saus Tomat dan Sambal


Kemaren-kemaren (sebenernya lebih cocok di bilang 'dulu' saking lamanya) mas Gembol alias Ryan Hasanin nawarin aku baca draft novelnya bareng si Feby. Mereka berdua ini aku kenal di FBC (Freak Blogger Community) yang isinya bisa di itung berapa orang yang aktif, kayak si Naspard, anak SMK yang tulisannya kritis kaya mahasiswa, ada KeVen yang aktif dan kerjaannya buang link, ada OmNuel lubis, ada TeKa, ada Thea, ada Randy ada Teguh kuachyi, yg sejak off in FB jadi gak gabung lagi, dan ada beberapa orang lain.
Ryan dan Febi sebelumnya udah punya buku yang terbit di Leutika Prio. Sama kayak aku. Dan kali ini mereka duet lagi nulis novel yang berjudul

CINTA SAUS TOMAT DAN SAMBAL

novel ini menceritakan Ronald yang galau sama pacarnya yang raib dimakan waktu, dan sohibnya  Agil yang gendut dan doyan makan tapi baik hati. Aku tebak 2 tokoh ini adalah jelmaan dari penulisnya, Feby dan Ryan. Iya kan?? Haha

Semacam Acara Perpisahan Dengan Fitri -__-

Postingan sebelumnya, aku udah menceritakan tentang Fitri, teman yang ketemu di fesbuk yang berujung di dunia nyata. ^_^

Setelah sebelumnya dia ngirimin aku kumcernya pake JNE, dan  mewariskan novel-novelnya sama aku, kali ini kami mengadakan acara em.. yah semacam perpisahan gitu, secara belom tau bakal bisa kapan lagi ketemu sama dia. Amrik loh.. jauh bangetttttttt.  Udah beda benua. Dan Fitri bakal pindah abis-abisan kesana, jadi warga negara Amrik dia. Wuiihh…

09 April 2013

Tragedi 1 Malam di Rumahku


Cerita ini di awali hari sabtu.  Adik aku yang kelas 1 MA (Sederajat SMA) namanya Iskandar, panggilanya kandar, kalau di rumah sih di panggil Andan. Pulang sekolah langsung main futsal.  Nggak pamit, nggak makan dulu, nggak mandi de el el. Pulangnya sebelum isya, sama seperti perginya, pulangnya pun dia Cuma minta uang dan pergi lagi. Katanya tadi ban motornya bocor, duit abis, jadi helm nya yang di gadaikan. Dan malam itu juga (abis main futsal) dia mau balik lagi ke TKP tempat ban motornya bocor, nebus helm nya yang digadaikan di bengkel tambal ban.

Dan kemudian…..
1 jam kemudian… dia nggak pulang-pulang
2 jam kemudian… belum muncul-muncul..
5 jam kemudian… belum pulang.

Ummi risau, Buya (Panggilan Untuk Ayah) Galau, aku emosi. Udah jelas banget dia pergi malam mingguan, nongkrong sama teman-teman nggak jelasnya. Alesan mau ambil helm, tapi udah larut belum juga pulang.
Ummi mencoba tidur dikamar, Buya tidur di luar. Aku dengar ummi berkali-kali bangun dan bolak-balik ke kamar mandi, sampai jam 1 malam. Ummi belum benar-benar tidur, entah jam berapa ummi benar-benar terlelap. Aku baru tau pagi. Kali sekeluarga bangun jam 6. Sang alarm (Ummiku) bangun telat karena begadang semalaman nggak bisa tidur, jadilah hari minggu kami sholat subuh bersama jam 6 -__-

Paginya.. Andan belum juga nongol. Ummi semakin risau. HP yang di bawanya dual SIM, satu pun nomornya nggak ada yang aktif. Buya semakin galau. Satu-satunya kabar dari Andan yaitu SMS nya kalau dia sedang di rumah temannya, di Panam. Selain itu, no nya tidak lagi bisa dihubungi.

Siangnya.. aku ngajak adik aku ke Puswil (Pustaka Wilayah) sambil aku ngerjain olah data bareng Qisty dan Ori, adik aku main game. Sorenya kami pulang, kandar masih belum muncul.. bener-bener bikin emosi! Nggak tau diri!

Malamnya.. ummi mulai menyuruh aku menghubungi nomor teman-temannya. Dari satu nomor temannya yang ada di HP Shofi (adikku no 2) aku mulai mendapatkan no-no teman lainnya. Satupun tak ada yang tau Andan dimana. Aku tanya apa ada teman sekelas yang tinggal di Panam, teman2 nya tak ada yang tau. Jadi yang di panam itu siapa? Teman dimana? Berbagai piikiran bukruk menghantui, apalagi ada berita kalau sore ini, jam 16.00 di depan Riau Pos sedang terjadi kerusuhan antar pemuda, dan polisi sudah 2 kali menembakkan senapannya untuk membubarkan massa itu. aku tambah galau, apakah adikku ikut-ikutan? Aku Cuma bisa SMS ke no nya :
“Pulanglah kau ndaaaaan…. Bikin Ummi stress aja”
Jam 10.12.. aku sedang berkutat dengan statistik, Uji Homogenitas yang tak Homo.. masuk SMS dan Andan ke HP Sofi. Isinya bikin napas berhenti :

“Kak, Andan sedih kali ni ha”

Walaupun aku udah emosi berat, udah mikirn kata-kata buat maki-maki dia, mau mukul dia pake apa, tapi demi melihat SMS yang isinya begitu,aku jadi panas dingin. Apa yang terjadi sama adik aku yang sedang labil banget ini. bisa nyebayanginkan gimana galaunya? Langsung aku telpon no nya. dan dia Cuma jawab “Iya, sebentar lagi Andan pulang ni” dengan suara seperti mau nangis.
Satu jam kemudian..  dia pulang.. (AKHIRNYA) Ummi yang membukakan pintu, Buya masih tidur sambil baca buku di luar. Dan apa yang terjadi? Setelah parkirkan motornya, tiba-tiba dia nangis sambil minta maaf sama ummi.  Dia terduduk di depan, sambil nangis terisak-isak.

“Maafkan Andan, Mi.. maafkan Andan”

Ummi langsung syok tapi tetap bersyukur anaknya udah pulang. sambil terisak-isak dia cerita kalau motornya sejak semalam di larikan di pinjam sama abang temannya, dan abang itu baru pulang jam 10 tadi (mungkin waktu dia SMS “lagi sedih banget”) abang itu pulang dengan kaki yang berdarah-darah, dan helm nya yang juga di pinjam abang bangsat itu juga raib. Abang brengsek itu janji mau ganti helmnya besok. Andan di suruh jemput ke rumahnya. WHAT???

Ummi nggak jadi marah, malah kasian. Kata Ummi biar lah helm itu raib, nggak usah di jemput lagi. Dan jangan pernah temui orang itu lagi. Ternyata yang melarikan motornya  aku juga. Semua emosi aku langsung runtuh. Ummi nyuruh dia makan, tapi orang nangis kayaknya bener-bener nggak selera makan, dia langsung masuk ke kamarnya melanjutkan tangis. 
Dan Buya??

Buya langsung tanya, siapa nama kawannya itu, dimana rumahnya. Biar besok di samperin gitu loh! Dengan kurang ajarnya ngelariin motor orang. dan Buya marah, bukan. Bukan marah karena Andan nggak pulang semalaman. Tapi Buya marah karena Andan pulang dengan menangis. Buya paling Pantang liat orang nangis, nggak ada kata Nangis dalam kamus hidupnya. Hidupnya keras, sejak umur 13 tahun sudah yatim piatu dan harus menghidupi 4 orang adiknya. Menyekolahkan mereka hingga lulus kuliah. Buyaku paling marah melihat orang menangis, menangis itu tanda kelemahan. Dan mulailah Buya ceramah panjang lebar.

“Kau laki-laki, Jantan. Motor di larikan diam aja. BODOH!”

Andan masih nangis.

“Zaman sekarang teknologi canggih, masak nggak bisa mengabari orang di rumah. Lapor kek ke polisi kalau motor di larikan. Ini pulang-pulang nangis. Mau jadi BANCI kau..!” Buya marah besar.
Andan mulai berenti nangis

“Buya dulu sebesar kalian udah bisa cari makan, kau bisa apa? Nangis aja bisanya! Percuma kau juara di sekolah! Pidato bahasa arab, bahasa inggris, tapi soal macam ni kau tak punya akal lagi!”
Aku masuk kamar.. takutt… hihihi.

Masi banyak lagi ceramah panjang lebar Buya.. sampai setengah jam kemudian, baru berhenti. Ummi sudah sejak tadi menggalkan forum, karena tau, Buya kalau ceramah pasti panjang..

Diam-diam aku bersyukur.. untunglah adikku nggak kenapa-napa.. untunglah dia masih sadar dan minta maaf sama Ummi. Untunglah motornya masih ada..  kalau dilarikan beneran, dia sekolah pake apa. Aku nyangka, pasti SMS ku tadi bikin dia kepikiran. Sebandel-bandelnya anak pasti sayang sama emaknya. Makanya SMS nya begitu dan pulang-pulang dia langsung nangis-nangis minta maaf sama ummi. Dramastis banget kan kayak sinetron. haha
Bayangkan cowok se unyu dan se 4L4Y ini nangis kejer sambil minta maaf. :D 

Semoga aja kejadian ini bisa bikin dia sadar, nggak sembarangan milih teman. Dan nggak suka keluyuran lagi. Semoga.. 

*yang udah baca, makasiiihhhhh bangett :D

08 April 2013

Cerpen : "Tanda Tangan"


Oleh : Risah Azzahra
*Di muat di koran harian Metro Riau (07-04-2013)               

 Sudah dua bulan Qisty mondar-mandir di kampus, keluar masuk ruang dosen dalam rangka mencari tujuh buah tanda tangan dosennya yang sangat berharga. Qisty baru saja selesai ujian proposal dan harus puas ketika kerja kerasnya mengerjakan proposal dan menjawab semua pertanyaan diseminar proposal dengan nilai B. Sebab itulah Qisty harus telaah proposal sebelum melanjutkan penelitian. Saat ini ia sedang mengurus administrasi untuk meminta telaah proposal. Sesuai prosedur, Qisty harus meminta tanda tangan dosen pembimbing, tanda tangan empat orang dosen penguji ketika proposal, ketua prodi, dan ketua koordinator seminar. Totalnya tujuh tanda tangan yang harus ia kumpulkan.

    Tapi apa daya, sudah dua bulan Qisty tak pernah bosan datang ke kampus, mencari dosen-dosen yang namanya tertera pada kertas satu halaman ini untuk meminta sebuah tanda tangan berharga. Tak pernah bosan juga Qisty menunggu di sudut kampus menunggu kedatangan dosen tersebut. Harapan akan diwisuda dan lulus dalam tiga setengah tahun telah terbayang dipelupuk mata. Harapan akan membanggakan orangtuanya.

    Qisty memastikan, harapannya tidaklah muluk-muluk. Ia hanya ingin lulus dalam waktu 3,5 tahun, 7 semester dengan IPK 3,5. Itu saja. apakah itu terlalu muluk? Terlihat simple, standar, menengah dan dipastikan bisa dicapai. Qisty sadar, ia bukanlah mahasiswa yang berharap lulus dengan predikat Cumlaude dengan IPK 4,00. Memang selama ini Qisty belum pernah mendapatkan nilai C. nilainya sebanding antara A dan B. karena itu lah IPK nya selalu terpaut di angka 3,5. Dan itu saja IPK yang diinginkannya ketika wisuda nanti. ia tidak mau bersusah payah mencapai IPK lebih dari itu, alasannya adalah agar angka IPK sama dengan angka lama studinya. Ah itu hanya alibi.

******
    Siang itu hujan lebat. Musim hujan memadang sedang meradang di bulan-bulan yang berakhiran “ber” ini.  Qisty dan beberapa pengendara motor lainnya terkurung di depan sebuha ruko. Menepi mengharapkan hujan segera turun. Sekitar setengah jam Qisty berdiri dengan tas dalam pelukannya. Penahan dingin. Setelah langit puas memuntahkan air rahmatnya, Qisty pun memulai melanjutkan perjalanan. Ditemani gerimis tipis sebesar jarum yang menemaninya hingga ke kampus. Ya, tujuan Qisty siang ini masih sama dengan dua bulan yang lalu. Mencari tanda tangan.

    Sampai di parkiran kampus, ia memperhatikan mobil-mobil yang diparkir disana. Berharap mobil Pak Syamsu hadir. Ketika mobil itu memasuki area parkir dan hadir di hadapan matanya, bukan main girangnya Qisty. Ia mengikuti langkah dosen pengujinya itu dari belakang. Diam-diam ia bersyukur dalam hati, kedatangannya tepat waktu.
    “Pak, saya mau minta tanda tangan surat telaah proposal.” Kata Qisty terbata-bata ketika dosen yang di buntutinya sampai ke kantor.

    “Aduh.. saya baru saja sampai nih, belum juga duduk. Tunggu dulu sana!” bentakan itu diterima Qisty tanpa terduga. Dengan muka melas Qisty keluar kantor dan berniat duduk di kursi, ternyata kursi itu basah terkena air tetesan dari atap yang bocor. Selain itu tak ada lagi tempat duduk yang kosong. Terpaksa ia berdiri dengan lesu.

    Selang lima belas menit kemudian, gadis semester tujuh itu melihat Pak Syamsu keluar dari kantor. Lagi-lagi ia membuntuti. Tapi kali ini ia tak sendiri, ada tiga orang mahasiswa lain yang juga membutuhkan tanda tangan dosen yang dikenal Killer itu.

    “Pak, saya mau minta tanda tangan.” Pinta mahasiswa yang satu tingkat di atas Qisty.
    Dengan permintaan simple, dosen itu langsung berhenti berjalan dan mengambil tempat duduk dikoridor kampus. Ia pun menanda tangani berkas yang diberikan.
“Saya juga pak.” Pinta Qisty sambil menyodorkan berkasnya.
Dosen yang berkacamata tebal itu memperhatikan Qisty dan membaca berkasnya dengan pandangan menyelidik.
“Kamu sudah tiga kali minta tanda tangan dengan saya dengan berkas yang sama. Kenapa di ulang-ulang? Yang kemaren salah lagi?” Tanya bapak itu. qisty tidak menyangka ternyata dosennya itu mengingat kejaidan dua minggu yang lalu.
“Ehem.. itu, Pak. Yang kemarin bapak sudah tanda tangani itu ternyata ada yang salah.” Jawab qisty sambil menunduk.
“Bah! Apanya lagi yang salah?” dengan aksen bataknya dosen itu bertanya.
“Tenyata penulisan nama dosennya tidak memakai huruf besar semua, Pak. Pak Anto yang menyuruh saya merubah.” Jelas Ratih. Dosen itu menceramahinya sebentar. Dan dalam 3 detik, dapatlah ia tanda tangan yang sudah 2 bulan ini diincarnya. Ia pun membuka berkas proposalnya, tinggal tiga buah tanda tangan lagi.
******
    Pagi ini qisty harus mengorbankan jadwal les privatnya. Terpaksa murid lesnya ia liburkan. Planingnya hari ini adalah bertemu bu Gusni, bukan di kampus tapi di rumahnya. Ibu itu sedang sakit, jadi qisty harus bertamu kerumahnya. Sehari yang lalu Qisty sudah membuat janji dengan dosen yang menjadi pengujinya juga ketika ujian proposal.

    Setelah beberapa kali salah alamat dan nyasar tak tentu arah. Berkat arahan dari temannya melalui telpon, akhirnya Qisty berhasil menemukan rumah dosennya itu. rumah tiga lantai dengan aksen barat. Jelas saja, dosennya itu menempuh pendidikan di Adelaide, Australia. Dan lama tinggal di sana. Mungkin rumahnya ini terinspirasi dari rumah di barat.

    Puas dengan tanda tangan yang didapatkannya hari ini. Qisty pun pulang dengan senyum merekah. Tinggal dua tanda tangan lagi, yakni tanda tangan ketua Prodi dan koordinator seminar. Kalau dosen yang berdua ini tak perlu dikhawatirkan, karena menjabat sebagai ketua, tentu saja Pak Rahmat ini stanby di kantornya. Tak perlu mengecek kedatangan dan jadwal masuknya.
    ******
    Qisty Berlari-lari kecil memasuki ruang dosen. Baru saja ia mendapat SMS dari Rani kalau Pak Dodi ada di kantornya hari ini. setelah kemaren bersusah payah membuntuti Pak Rahmat selama seminggu, akhirnya hari ini perjuangan Qisty mengumpulkan tanda tangan. Dan dan targetnya hari ini adalah pak Dodi. Ketua koordinator Seminar Proposal di kampusnya.

    Mendung sudah dari tadi bergelayut, tinggal menumpahkan airnya sederas air terjun tujuh tingkat di Kuansing. Qisty sudah sudah sampai di depan gerbang kampusnya setelah sempat jilbabnya tersangkut di Pintu angkot karena saking tergesa-gesa. Ia memeluk mapnya seolah itu emas seharga satu milyar. Tiba-tiba langit yang sudah sejak tadi ingin memuntahkan airnya sudah tidak tahan lagi menunggu Qisty sampai di pintu masuk gedung kampusnya. Hujan membasahi bumi, jalan, pepepohonan dan termasuk Qisty yang masih berusaha berlari. Selang beberapa detik kemudian ia sudah memasuki gedung kampus. Qisty mengibas-ngibaskan baju gamisnya yang terciprat air hujan. Dalam beberapa detik ia melupakan map nya. dan detik selanjutnya Qisty baru menyadari, kalau map yang di peluknya erat-erat telah basah ujungnya.

    “Apa-apaan ini?! kertasnya sudah kamu mandikan! Print lagi sana!” Hardikan itu yang diterima Qisty dari Pak Dodi di ruangannya. Padahal tadinya Qisty sudah benar-benar berdoa agar Tuhan memudahkan urusannya kali ini. namun Tuhan ingin menguji kesabaran Qisty untuk kesekian kalinya. Kali ini Qisty harus memulai perjuangannya meminta tanda tangan tujuh orang dosen dari awal. Air mata Qisty runtuh bersama tetesan hujan yang membasahi jilbabnya.
 
*Musim Hujan kota Bertuah, Oktober 2012



  Attention : DILARANG MENG COPY PASTE CERPEN INI TANPA SEIZIN PENULIS!