16 Februari 2015

Kisah Seorang Paman Yang Tega Membakar Tangan Keponakannya


Cerita ini aku dapat dari Mario Maurer, temen SM3T UNESA (Universitas Negeri Surabaya) yang ketemu selama liburan natal dan tahun baru di kotaa. Kebetulan doski dan temen-temannya pernah nginap di Megapura, posko kedua ku, karna saking seringnya aku nginap disana.

Si Mario ini tugasnya di Papua juga, tapi beda kabupaten. Tempat tugasnya di Kab. Membramo tengah itu lebih terisolir dan masyarakatnya masih sangat terbelakang. Selain itu akses nya susah, makanya harga-harga muahal banget, bayangkan aja beras 50kg harganya Rp. 1.750.000. gilakk apa.. mending makan ubi aja deh. Harga lain jangan di tanya. Bikin mulut menganga dengernya.

Tulisan ini aku culik dari memo HP nya. Karna dia nggak berniat mempublish cerita ini, aku pikir mubazir  banget. Jadi lumayan deh utuk menambah postingan di blog ini. hihihi

Pagi ini saat aku duduk di dapur ada seorang bapak2 paruh baya yg bertamu di dapur kami. Beliau dari Pak dokter untuk berobat, sayang sekali Pak dokter masih ada di wamena, belum pulang ke illuga.

Dari sinilah perkenalan kami di mulai. Beliau Top Gombo. Beliau cerita panjang lebar tentang Papua. Yg menarik perhatian ku, beliau cerita tentang berbagai macam pemakaman di Papua. Yg paling ekstrem adalah pemakaman di suku pedalaman hutan di daerah Distrik megambilis, kab. Membramo Tengah, Prov Papua. Suku pedalaman tersebut apabila ada warganya yg meninggal, mayatnya di gantung saja di pepohonan. Lama kelamaan kalau sudah busuk organ2 dalamnya akan jatuh di tanah, yg tersisa hanya tulang brlulang yg menggantung di pohon.

Jadi jangan heran kalau ada tulang belulang yg bergelantungan di pohon2 hutan Papua. Organ dalam yg berjatuhan di tanah, di kubur dan di tanami pohon sebagai tanda.
Oke kembali ke Pak Top. Sedikit cerita tentang Pak Top Gombo. Beliau adalah orang tua murid dari totius kelas XII Ipa dan totianus VII.

Berbeda dg orang pada wajarnya, Pak Top memiliki kelainan fisik pada tubuhnya. Pergelangan dan jari jemari tangan Pak Top yg sebelah kiri tidak ada, dan tangan yg sebelah kanan terdapat luka bakar. Miris sekali melihatnya. Setelah panjang lebar kami bercerita, beliau menceritakan kisah bagaimana tangannya bisa seperti itu.

Kisahnya bermula saat beliau masih kecil, kisaran masih kelas 3 SD. Pak Top kecil main2 ke hutan sama teman2nya, untuk cari makanan. Ketika berjalan kedalam hutan, beliau menemukan pohon kelapa yg berbuah. Karna kondisi perut lapar dan dahaga, akhirnya memutuskan tuk memetik buah kelapa tersebut. Apa lagi Pak Top tau kalau kelapa tersebut adalah milik om nya sendiri. Jadi beliau fikir petik dulu,nanti baru izin ke om nya. Di pohon tersebut ada 7 butir kelapa. Pak Top petik semua, 2 beliau makan, dan yg 5 beliau bawa untuk di taruh di dapur om nya (pemilik kelapa).

Setelah memakan buah kelapa, Pak Top dkk pulang ke rumah lewat jalan atas bukit. Naas sekali om Pak Top marah sekali melihat tak ada satu butir kelapa pun di pohon kelapanya. Dalam keadaan emosi yg meluap2 om Pak Top mencari siapa yg telah mencuri kelapanya. Setelah tau yg mencuri kelapanya tersebut adalah keponakannya sendiri yg tidak lain adalah Pak Top kecil, malamnya om Pak Top mendatangi rumah Pak Top.

Dengan emosi yg tak terbendung lagi, om Pak Top memukul kepala Pak Top sampai Pak Top tak sadar diri. Setelah itu kedua tangan Pak Top di bakar. Karna dalam kondisi tak sadar diri, Pak Top tak merasakan apa2. Setelah sadar Pak Top menangis dg sekeras2nya. Bukan karena perih terbakar, tapi karena kaget melihat kedua tangannya telah hangus. Keluarga yg tau kondisi Pak Top kecil, langsung membawanya ke Pak mantri. Tapi sudah terlambat, hanya tangan kanan Pak Top yg terselamatkan, sedangkan tangan kiri beliau harus diamputasi, karena tingkat kebakaran yg sudah terlalu parah.

Tangan kanan Pak Top memang masih ada tapi tidak seperti kondisi tangan orang normal pada umumnya, luka bakar masih membekas jelas. Luka tersebut masih terasa sampai sekarang, bahkan seumur hidupnya pun gak bakalan bisa sembuh. Ironis sekali, gara2 7 butir kelapa seorang om tega membakar kedua tangan keponakannya. Semoga kisah Pak Top bisa menjadi pelajaran buat kita..


Ngeri kan pemirsah?? Bayangin aja si Mario harus jadi guru di tengah-tengah masyarakat yang fikirannya masih terbelakang gitu. Semangat buat Mario dan teman-teman SM3T UNESA Lainnya.fighting! 


01 Februari 2015

Di Sebuah Perjalanan Guru SM3T

Setiap perjalanan ada banyak cerita. Di perjalanan menuju sekolah ada banyak realita. Ada banyak momen yang bisa di cerna. Foto–foto dibawah ini menceritakan bagaimana perhatiannya mama mama (panggilan untuk ibu-ibu di Papua) terhaadap guru. Foto ini di ambil oleh kakak Duta SM3T (Kak Akhirudin Haer dan kak Fajrin Alumni UNM) yang waktu itu sedang  di utus DIKTI untuk melakukan program Rekam Jejak SM3T di Jayawijaya

Aidi dan Darwin adalah guru SM3T yang bertugas di desa Air Garam, distrik asotipo. Mereka harus menempuh perjalanan 1 jam mendaki bukit untuk sampai di sekolah. Setiap hari aidi yang alumni UNRI dan Darwin yang berasal dari LPTK UNMUL ini harus berjalan kaki 2 jam demi mencerdaskan anak bangsa. Tak terhitung berapa kali mereka jatuh terjerembab dalam kubangan lumpur saat hari hujan dan jalan menuju sekolah menjadi tidak bersahabat. Karena perjuangan mereka, banyak masyarakat Air Garam yang perhatian dan sayang pada 2 guru muda ini. Sayur-mayur dan buah-buahan hasil kebun selalu hadir sebagai buah tangan ketika mereka pulang sekolah.

Berikut ini adalah foto di perjalanan ketika pergi sekolah. Foto-foto ini bercerita dimana mama-mama yang akan pergi ke kebun, berhenti dulu untuk menyapa 2 guru muda ini dan memberikan ipere (ubi jalar) sebagai sarapan pagi. Subhanallah… pertunjukan yang tidak akan pernah kita dapatkan di kota-kota besar.

buka dan nikmati cerita yang disuguhkan foto ini ^_^

Jadi Guide Sehari Untuk SM3T UNNES


SM3T Memang memberi banyak manfaat. Salah satu manfaat terbesar adalah memperoleh pengalaman yang nggak semua orang bisa dapatkan. Selain itu, teman, kenalan dan kerabat jadi bertambah. Kita bisa tau karakter orang yang berbeda-beda dan datang dari kota yang berbeda. Jadi tau kebiasaannya, cara bicara, logat dan adat istiadat. Hal-hal yang nggak bakal bisa di dapat kalau cuma duduk manis di rumah.

Bulan desember tahun 2014 ini bisa dibilang bulan full jalan-jalan. Dari berkujung ke danau habema, Danau tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3225 m DPL, jalan ke distrik-distrik di kab. Jayawijaya dan banyak lagi. Kali ini aku mau pamer cerita perjalanan aku dengan teman-teman SM3T dari UNNES (Universitas Negeri Semarang) yang kemaren “terdampar” di Wamena.
Aku ceritain sedikit tentang temen-temen dari UNNES ini, Mereka  di tempatkan di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. nggak ada akses darat dari kab. Jayawijaya menuju kesana. Harus naik pesawat kecil (yang kalo terbang  berasa naik roller coaster). Harga-harga disana tentu lebih mahal, karena kabupaten pemekaran, semua logistik di kirim dari Wamena. sayur-sayuran juga mahal banget karena di kirim dari Wamena (tempat aku bertugas). Untungnya mereka dapat BAMA (Bahan Makanan) dari PEMDA Yahukimo. Jadi nggak terlalu berat kalau soal makan.