05 April 2015

Agrowisata Petik Nanas di Bokondini, Kabupaten Tolikara.



Selama SM3T di Papua, aku punya beberapa genk alias kumpulan. Ada geng se distrik di Asotipo, ada geng jalur Wouma. Artinya, temen-temen yang poskonya dari Minimo, Megapura, Hitigima, Sogokmo. Kami sering ngumpul (numpang makan gratis) di posko Megapura. Ada geng gila-gilaan di sekre, Ada juga geng pengajianku kalo lagi liburan di kota. Temen-temen itu adalah anak SM3T yang aktif di BSMI. Sebuah organisasi kemanusiaan yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan dan agama Islam. Ada beberapa teman-teman SM3T yang aktif di berbagai kegiatan BSMI Jayawijaya. Tapi yang tetap istiqomah dari awal sampai akhir adalah para ihkwan dan akhwat yang berasal dari 2 LPTK ini. ada Wulan, Muti, Rina, Tami, Sony de el el.
 
Biasanya rombongan ini kemana-mana selalu barengan. Jadilah dipanggil bubuhan muslimah. Bubuhan dalam bahasa banjar artinya rombongan atau sekawanan gitu. Bukan berarti cewek-cewek yang lain nggak muslimah. Kelompok satu ini dipanggi muslimah karena hobinya mengejar kelompok-kelompok pengajian yang di gelar di wamena. Dan aku salah satu yang ikut didalamnya.

Suatu waktu, mereka merencakan rihlah alias liburan ke rumah Bg Poby. Salah satu dokter relawan di BSMI Jayawijaya. FYI relawan di BSMI ini rata-rata adalah dokter dan pendatang yang tinggal di sekitaran lembah baliem Papua. kalau weekend dan libur biasanya datang ke Wamena untuk belanja kebutuhan sehari, karena Wamena adalah pusat perekonimian di Lembah Baliem ini. relawan BSMI juga diramaikan  dengan kami  guru-guru SM3T.

Tempat tugas Bg Poby ada di Bokondini yang terletak di kabupaten Tolikara. Yap! Bener banget! Yang waktu lebaran 1436 H kemaren masjid nya di bakar pas lagi sholat Iedul Fitri.
Sebenernya wisata di Bokondini nggak ada yang menonjol sih. Cuma si tuan rumah yang gencar banget mempromosikan agrowisata di tempat tugasnya, dan berkali-kali mengundang kami untuk menghabiskan liburan disana. Jadilah kami tergiur untuk sama-sama datang kesana  dalam rangka liburan setelah ujian semester. 

Sony (SM3T), mas Khoir (salah satu relawan BSMI yang bertugas di kantor BPS Tolikara), Dokter Ghozali (relawan BSMI yang bertugas di Nduga) sudah lebih dulu sampai di TKP pagi hari. Kami para akhwat menyusul siangnya. Karena aku belum pernah kesana, dan dirombonganku semuanya adalah cewek. Jadilah aku mengajak Aidy (temen SM3T didistrik Asotipo) dengan setengah memaksa dia untuk ikut. Di Papua ini kita perlu berjaga-jaga dalam setiap keadaan.

Hanya butuh angkos 100k dari wamena dan naik angkutan andalan orang papua, mobil strada, 3 jam kemudian kami sampai di kota Bokondini. yang walaupun cuma sekecil RT, tapi udah disebut kota. Hohoho.
 
Kantor Bupati Persiapan, Bokondini, Tolikara, Papua, Aidi kalo orang nak bepoto dia ikut-ikut

Begitu sampai aku langsung takjub melihat rumah dinas nya dokter poby (yang sudah biasa kami panggil abang). Rumahnya 2 lantai dengan 4 kamar yang dilengkapi dengan dapur yang luas, tempat cuci piring, kamar mandi di dalam dan tempat tadah hujan yang besar. Jadi tidak perlu angkut air dari kali seperti nasib kami para guru SM3T. FYI lagi, punya tempat tadah hujan adalah suatu barang mewah di Papua.

Walaupun rumah dinasnya dari kayu, tapi sangat nyaman. Bg Poby tinggal dengan seorang dokter lajang yang juga PTT di Bokondini. Namanya dokter cita. Biasanya di panggil dokcit. Begitu kami ketemu dokcit langsung cie cie in bang poby. Kami angsung ngebayangin yang enggak-enggak karena Bg Poby tinggal satu rumah sama dokter secantik dan sebening ini.

Jadi gimana dong bg sehari-hari dirumah berdua doang, gimana rasanya?” aku mulai kepo.
“Ya biasa aja, hidup masing-masing. Lagian dokcit lebih sering tidur dirumah bidan di depan rumah dari pada tidur dikamarnya di lantai 2. Dan juga dokcit itu Kristen. Nggak mungkin dong abang macam-macam sama dia. Itu lah pembatas abang sama dia.” Kami langsung manggut-manggut.
Dokter Poby dan Dokter Cita show off keahlian mereka merajut noken
Sekolah international di Bokondini
Begitu sampai kami langsung di ajak melihat Sekolah international Bokondini.  Namanya SD OB ANGGEN yang berada di bawah Yayasan Lentera, Gereja Gidi. Sekolah ini nggak jauh dari rumah dinas Bg Poby. Dan memang kota Bokondini ini bisa dikelilingi dengan jalan kaki. wong kotanya kecil doang. Disana kami ketemu dengan guru SD nya yang berasal dari Manado. Kami sempat ngobrol-ngobrol dengan guru cakep yang sudah 2 tahun mengajar disana. Di ajakin lihat-lihat ruang kelas nya juga. Di SD ini juga bersekolah anak-anak bule yang tinggal di bokondni sebagai missonaris. Ada anak-anak papua asli juga. Keren ya belajar dan satu sekolah sama bule. Mereka juga belajar computer, photoshop, microsof dll. Waah… salut sama ank papua yang sekolah disini. murid ku di SD YPPGI hitigima boro-boro belajar photoshop, baca aja masih kayak kura-kura. Lamban banget.
Mejeng di depan Sekolah Dasar International Bokondini

 salah satu program di Metro TV "Alenia Journey" Pernah datang meliput bokondni dan sekolah Internasional nya

Mengintip Cara Kerja Missionaris Mendidik Orang Papua
Ada banyak missionaries yang tinggal di bokondini. Mereka bahkan melahirkan dan menyekolahkan anaknya disana. Tujuan mereka ke Papua selain menyebarkan agama Kristen juga adaalah memajukan Papua yang tertinggal ini. kami sempat berkunjung ke rumah bule yang berasal dari brazil. Suaminya adalah missionaries, sedangkan istrinya aktif mengelola ibu-ibu Papua. mereka bahkan membuat koperasi, mengajari matematika, computer dan juga cara menyimpan uang. (orang papua kan terkenal watak nya boros dan nggak bisa nyimpan uang). Berkat binaan dan berbagai fasilitas dari missionaris ini taraf hidup masyarakat bokondini mulai membaik.
Pusat Pelatihan Masyarakat yang dikelola oleh Bule
 
berasa lagi di eropa to..
barisan pohon yang ada di sebelakang rumah. sejuuukkk
smilee. *Trada sangka dokter Ghozali fans nya Cherrybell. :D
Putar Papeda ala Habibi
Selain dokter cita, Bg Poby juga sering ditemani oleh seorang Mantri yang bernama Habibi. Pertama ketemu kami kira dia sudah beranak dua. Ternyata masih lajang dan umurnya masih di bawah aku! Gubrak. Bermutu (bermuka tua) dia ternyata. Hahaha.. ampun bro.. Doski berasal dari Palopo di Sulawesi sana. Habibi sudah 4 tahun mengabdi sebagai mantri di Bokondini. Logatnya sudah kental dengan logat papua, pandai merajut noken dan lihai memutar papeda. Wuihh.. Papua abis lah!
sholat jamaah magrib di rumah bg Poby
Malam itu kami para cewek-cewek terpana melihat keahlian Habibi dalam memutar papeda. Papeda adalah makanan khas Papua yang terbuat dari sagu, tapi kadang orang gunung lebih sering memakai tepung kanji. Cara memasaknya gampang, tinggal mencampur tepung kanji dengan air mendidih yang sudah kita tuangkan ke dalam baskom, dan langsung di aduk dengan cara diputar. Makanya namanya putar papeda. Papeda dimakan dengan kuah kuning, alias gulai tanpa santan. Bisa gulai ayam, gulai ikan, bahkan gulai babi. Kalau acara-acara pernikahan aau kematian, biasanya ada papeda dengan kuah kuning Babi. Kalau jauh dari pasar bisa pakai sarden sebagai pengganti ikan. Aku dan hotma sudah pernah putar papeda di posko, tapi kami gagal dan bentuk papeda jadi kacau balau karena tidak teraduk dengan sempurna. Nah, sewatu Habibi unjuk gigi putar papeda, kami langsung terpana. Baru kali itu melihat cara membuat papeda yang benar-benar professional layaknya koki restoran. Gerakannya cepat, dan penuh tenaga. Setelah dia selesai mengaduk papeda. Kami pun reflex tepuk tangan. hahaha

Agrowisata di Kebun Nanas Bokondini
Dari semua promosi bang poby, sebenarnya yang paling menarik itu adalah wisata metik nanas yang katanya manisnya ampun ampunan udah gitu nggak gatel dan nggak ada mata nanasnya. Udah gitu harganya murah! Dari 1000-5000 aja perbiji. Wew…

Kami pun jalan kaki ke kebun nanas yang letaknya di atas bukit. Jalan ke kebun nanas melewati bandara yang kosong. Aku dan bg poby sempat berdebat karena bang poby bilang bandara bokondini adalah bandara tertua. Padahal bandara tertua itu di belakang poskoku di hitigima. Bg poby bilang juga bahwa bandara ini adalah saksi bisu pertama kali injil masuk ke papua. Nah lo, bandara hitigima lah saksi pertama kali ajaran injil di papua. bahkan sampe ada patung monumen inji pertama kali di terima di papua. kami terus saja berdebat sampai perjalanan nggak terasa udah sampe di sebuh bukit yang penuh ditumbuhi nanas. Membayangkan makan nanas sebanyak itu lidahku mulai meriang, eh gatal.

Bandara yang tara da orang
Bandara ini nggak ada pengawasnya. jadi kalo pesawat mau mendarat dan ada orang di jalan. pesawatnya muter-muter dulu di udara, hahaha
 
bandara bokondini dilihat dari atas.*please abaikan celana trening pink saya itu. auu
this is it! nanas pertama yang kami petik
 
hari itu Sony baru beli tongsis. jadi dia exited banget pake tongsis. hahaha
Bendera BSMI Jayawijaya yang selalu berkibar dimana-mana

Foto minumen hitigima vs monument bokondini

Di kebun nanas ini kita boleh makan nanas sepuasnya, GRATIS! Tapi kalau mau dibawa pulang, baaaru deh bayar! Inget ya, makan di tempat gratis, bawa pulang bayar. Haha.. jadilah kami puas-puasin dulu makan nanas di kebunnya. Nanas yang baru aja kami petik langsung di buka oleh si Habibi dengan lagi-lagi memamerkan keahliannya buka nanas. Sepat, sigap, dan rapi. Heran sama anak ini. kok apa aja bisa dikerjain.

Puas makan nanas yang maniiiisss banget, suer deh ini nanas terbaik yang pernah aku cobain seumur hidup! Manisnya kayak pake gula! Setelah kami puas makan nanas, mulailah menghitung berapa nanas yang akan di bawa pulang ke Wamena. Akhirnya berkarung-karung nanas pun di angkut oleh seorang kaka Papua yang kebetulan lewat dan di upahi sebungkus rokok. Kalo kami bawa sendiri mana kuaatt… udah lah karungnya besar, jalannya menuruni bukit pula. Kekuatan orang Papua memang tara da lawan e!

Pasar bokondini. Murah apaaaa…
Sebelum pulang ke wamena, kami sempat jalan-jalaan dulu ke pasar bokondini. Pasar ini menjual hasil kebun masyarakat. Banyak buah-buahan murah-murah. Yang paling menggirukan untuk diborong adalah markisa. Bayangkan aja, seikat markisa yang isinya 8-10 buah markisa Cuma dijual 5ribu. Murah apaaa… (murah banget) ada nangka, alpukat mentega sayuran dan banyak lagi yang semuanya murah-murah. Berasa pengen gue borong semua terus jualan di pasar Wouma atau pasar baru di wamena. Tapi ngebayangin duduk menunggui jualan di pasar dengan jaket SM3T ini. oh no! bisa-bisa dipecat jadi guru. :D
torang pigi belanja dulu e
thats it. pasar bokondini.
Kami pulang kewamena dengan membawa berkarung-karung nanas dan markisa. Selain itu aku juga memborong alpukat dan nangka. Sampai di wamena aku kayak orang habis pulang kampung! Hasil “Panen” itu langsung aku bagi-bagikan ke penghuni sekre SM3T, ke mamak angkat, tante angkat dan angkat-angkat yang lain. Muehehe..

At least, makasih buat dokter Poby Karmendra yang udah jadi tuan rumah dan tour guide bokondini yang luar biasa! Pelayanan sangat memuaskan! Hahaha… sampai-sampai di bekali sekantong obat ketika pulang ke posko. Terimakasih dokter Cita atas tumpangan kamarnya, makasih dokter ghazali dengan resep ipere gorengnya yang lezat, mas Khoir, juga teman-teman seperjalanan yang asik, terimakasih Aidi yang mau jadi pengawal juga. Semoga ukuwah ini tetap terjaga selamanya.

Ayo ke Bokondini! Cuma 100k bisa agrowisata! Hahaha
Risa
-Guru SM3T yang hobi melala