27 Maret 2016

Jadi Ratu di Istana Maimun Medan

Jadi ceritanya, setelah 2 minggu tinggal di Medan, baru kemaren itulah aku dkk mahasiswa dari Riau dan Padang ini bisa ngebolang di Medan. Sebelumnya kami cuma tau kampus, asrama dan pasar di Aksara. What a boring day! Setelah tanya sana-sini, lobi sana sini sampai bibir dower, kami menemukan pahlawan yang tidak kesiangan untuk membawa kami keliling kota Medan. Doski menawarkan diri untuk jadi Guide dan nawarin pinjaman mobil sekaligus jadi supir. Waaahh.. paket lengkap! Temen PPG asal UNIMED ini awalnya tidak mau disebut namanya, tapi kita sebut saja inisialnya Zulvan. Sebelumnya Zulvan juga yang banyak membantu kami dalam proses kehidupan nomaden kami di asrama UNIMED. Pokoknya Zulvan ini care banget lah. Oke punya.

Malamnya rapat kecil, paginya kami pun ready keliling kota Medan. Tadinya mau ke Brastagi, tapi takut nggak terkejar waktunya, secara status kami sekarang adalah anak asrama yang terikat peraturan. Finally diputuskan kami keliling-keliling kota aja dan ke Istana Maimun, sekalian sholat di Masjid Raya Medan. Oke deh. 8 orang dari UNRI, 4 Orang dari UNP, ditambah Zulvan sebagai supir, Pak Lurah Asrama dan Aan dari UNIMED bersiap cus and go…!!!

Karena mobil cuma satu, yang cowok-cowok di carikan pinjaman motor. Jadi yang cewek-cewek duduk cantik di mobil, yang cowok-cowok konvoi pake motor. Asek asek… akhirnyaaaa… ada jugaa yang ngajak jalan-jalan di Medan. Hahaha
cap cuuuuusssss


07 Maret 2016

Mencoba Baju Adat Papua


Sore itu beberapa bulan sebelum kepulangan kami, Mama Perlin (istri kepala sekolah) dan MamaIrpa (istri Pak Wetipo, guru yang tinggal serumah dengan kami) datang ke rumah. mereka berdua membawa tas yang penuh dengan noken. Aku dan Hotma (partner ngajar ku) langsung ke GR an tingkat dewa dong, dikira mereka bakal ngasi noken itu buat kami. Ehh.. ternyata noken-noken itu Cuma di titip dirumah kami karena besoknya mau di bawa ke pesta pernikahan. Karena menurut mereka rumah kamilah tempat paling aman untuk menyimpan noken, sedangkan kalau noken disimpan di Honai, nggak bakalan aman. Alias pasti di maling. Secara honai kan nggak punya kunci yang kuat.
 
Tapi karena liat mata aku dan hotma yang berbinar-binar melihat noken ini, maka kami di izinkan untuk mencoba memakai noken yang harganya bisa mencapai 500 ribu itu. Untuk bisa menjadi sebuah baju, dibutuhkan 2 helai noken.  Cara memakainya kalo nggak di ajarin pasti bingung banget dah. Hahaha..

Selain memakai noken, kami juga di pakaikan salli (dibaca sili). Rok tradisional lembah baliem yang terbuat dari dedaunan, kemudian di warnai. Memakai Sali ini tidak susah. Tinggal di lilit aja ke pinggang. 
baju adat Lembah Baliem, Papua. mahal bro!

Resensi Buku ; Sepotong Kisah di balik Lembah



 
Judul : Baliem Undercover
Penulis : Reby oktarianda
Penerbit :  C.V Draft Media
Harga : Rp. 45.000

Ketua SM3T UR Penempatan Jayawijaya memberi judul buku bercover putih ini dengan Baliem Undercover. Bukan tanpa alasan cowok jangkung ini memberi judul “Undercover”, karena memang buku ini mengupas dan menguak (kalah infotainment) sisi yang berbeda dari lembah baliem yang banyak belum diketahui khalayak ramai yang ada di luar pulau Papua. jangankan yang ada di luar Pulau Papua, jika di tanya tradisi bakar batu pada masyarakat Papua barat, mungkin mereka tidak tau, karena bakar batu adalah tradisi orang pegunungan di lembah baliem Papua.

Meskipun tipis karena hanya 70 halaman, tapi buku ini membuka mata pembaca mengenai bagaimana kehidupan masyarakat suku Dani di pedalaman Papua. suku Dani yang terkenal keras dan “hobi” perang justru dikenalkan penulisnya sebagi orang-orang yang suka memberi. Istilah “kasih” dan “Berkat” juga diceritakan di buku mungil ini.

Foto-foto dengan kualitas glossy paper juga memanjakan mata pembaca. Dengan melihat foto-foto yang dicetak berkualitas mendorong imajinasi pembaca dan menggerakkan ingin berwisata ke Papua. sejalan dengan tren medsos saat ini, dimana setiap orang mendadak menisbatkan dirinya menjadi seorang traveller.