13 Maret 2012

Cerpen : "Menjemput Ayah"


Oleh : Risah Azzahra
Kamar itu berantakan, penuh barang. Tas besar masih kosong, calon penghuninya masih telentang berserakan di atas kasur. Di lantai pun masih ada lagi sepatu-sepatu dan peralatan mandi yang akan di bawa pemiliknya. Ruang seluas 3 x 4 meter itu bagaikan toko sedang cuci gudang, Oh, bukan. Persisnya lebih mirip kapal barang yang sedang bongkar muat. Sangat kacau.

Ibu si empunya kamar membuka pintu, dan terkejut melihat isi kamar anak sulungnya itu. Terkejut sekaligus terharu. Ia kira bincang-bincang mereka di ruang tamu kemarin hanyalah igauan anak lajangnya itu, ternyata tidak. Sulungnya itu akan benar-benar pergi. Pergi menjemput Ayah.

“Jadi Juga engkau berangkat malam ni, Jang?” tanya Emak Ujang sambil berusaha mengambil tempat untuk duduk di pinggir dipan.

“Jadi lah, Mak. Dah Ujang telpon abang travel tu tadi pagi. Tiket kapal pun dah Ujang beli ni.” Jawab Ujang dengan mata tetap terfokus ke lemarinya yang sudah mulai kosong.

“Tapi barang-barang engkau ni banyak betul lah, Jang. macam tak nak balik lagi” seru emaknya risau.
“Ye lah, Mak. Ujang nak siap-siap saja. kalau sehari belum jumpa, Ujang tambah disana dua hari lagi, tak juga jumpa, tambah tiga hari lagi, tak tentu lah, Mak. Mungkin bisa seminggu, sebulan.” Ujang masih sibuk melipat pakaian yang ia keluarkan dari lemari. “Ni dah lima bulan , Mak.  Kalau Ayah tak mau pulang, biar Ujang yang jemput Ayah untuk emak, Ujang tak sanggup lagi dengar Etek-Etek di kedai tu membicarakan emak, emak rindu juga kan sama Ayah?”

Emaknya menarik napas berat. Seberat beban yang dipikulnya selama lima bulan ini. suami yang entah kemana rimbanya. Tak ada kabar. Entah masih hidup atau mati, entah berbini baru, entah makan entah tidak. Sama sekali tak tau. Berkali-kali ia berdoa pada Allah dalam setiap tahajudnya, tapi Ayah dari tiga orang anaknya itu tak kunjung muncul di ambang pintu rumah mereka yang hampir rubuh.

Tak disangkanya Ujang anak sulung yang nakal bin bengal itu akan berpikiran menjemput Ayahnya. Entah jin dari mana yang merasuki pikiran anaknya yang beranjak dewasa itu. Sebelumnya ia telah benar-benar pasrah. Merelakan kepergian suaminya yang tanpa sebab. Toh sejak awal mereka menikah pun sang suami tak pernah benar-benar menafkahinya. Untunglah ia punya kantin di dalam kawasan sekolah yang berada tak jauh dari rumahnya. Dari situ lah asap dapur mereka dapat mengepul, dari situ ia dapat menyekolahkan ke tiga anaknya hingga kini si sulung mendapat gelar Sarjana. Masih ada dua orang buah hati lagi yang saat ini ia sekolahkan di pesantren. Syukur mereka berprestasi di sekolah dan mendapat beasiswa.

Selama ini suaminya itu memang tidak punya pekerjaan tetap, tapi semasa di rumah dia rajin betul beribadah, hari-hari ia di masjid. Sholat lima waktu tak pernah tinggal, itu pula yang menyebabkan nenek Ujang sayang betul sama menantunya itu. Emak Ujang pun dengan ihklas menafkahi keluarga. Kadang Ayah Ujang coba-coba bercocok tanam di kebun belakang rumah, dengan modal dari emak. Tapi jarang ada hasilnya. Selalu rugi. Coba pula Ayah Ujang berdagang. Lagi-lagi tak ada untung, bahkan modal pun tak balik. Ia pun pasrah, hanya duduk di rumah sambil membaca-baca buku-buku agama. Jika tiba waktu sholat, maka ia pun melangkah ke masjid. Begitulah keseharian Ayah Ujang. Kadang jika ia bosan di rumah, dengan alasan cari uang, ia akan pergi ke Tanjung Balai Karimun di Kepulauan Riau. Tempat ia lahir dan adik-adiknya tinggal. Ia tinggal menupang saja di situ, dan saat kembali ke Pekanbaru akan di bekali banyak uang oleh adiknya yang kaya raya. Mereka menggapnya balas budi terhadap abang. Tapi dalam lima bulan ini entah mengapa ia tak kunjung pulang.
*****

Ujang menyeka keringat yang membasahi baju kemejanya. Kepalanya masih pusing karena mabuk laut akibat di ombang ambing ombak di atas kapal selama 5 jam. Sudah berjam-jam ia berdiri mencari mobil tumpangan yang bisa membawanya ke kecamatan Meral, desa Pangke,  rumah Etek, Tempat Ayahnya menumpang. Eteknya termasuk jajaran orang kaya di kampung ini. sukses sebagai pedagang dengan toko pakaian dimana-mana. Ujang selalu tak habis pikir, mengapa kesuksesan adik Ayahnya itu tak sedikitpun menular kepada Ayahnya.

“Nak Kemane, Dik?” sapa seorang pria tambun yang memakai jas kulit usang, dari penampilannya jelas sekali ia berprofesi sebagai tukang ojek.

“Nak ke Pangke, Pak. Bisa ke antar saya kesana?” jawab Ujang sambil mengibas-ngibas kemejanya kepanasan. Mereka pun berdebat sebentar menegoisasi harga. Hingga akhirnya motor bebek itu bergerak melaju menuju desa Pangke.
*****

Sampai di tujuan, Ujang dipeluk erat Etek Imay. Langsung dituntunnya Ujang ke meja makan. Ujang pun tak dapat menolak hidangan. Tak henti-henti Eteknya berbasa-basi menanyakan kabar keluarga di Pekan. Ujang pun tak segan lagi makan, meskipun ia sedang heran. Kemana gerangan Ayah yang akan di bawanya pulang. batang hidungnya pun tak bertandang.

“Macam mana kuliah adik kau si Ilham tu, Jang? Dah semester berapa sekarang?” tanya Etek sambil menambah hidangan.

“Alhamdulillah dah semester 6. Sedang persiapan ujian proposalnya sekarang, Tek” jawab Ujang sambil tetap terus saja mengunyah hidangan yang ada.

“Hmph…” Etek menarik napas berat. “macam mana pula lah emak kau menyekolahkan kalian. Ayah engkau pun menganggur tak ada kerja disini, sakit-sakitan pula. tak nak balik-balik, sudah berulang kali Etek suruh balik ke Pekanbaru, tak dihiraukan. Jantung ayah kau itu ada sedikit masalah, tapi tak mau di ajak berobat. Ayah kau tu dah tua, harusnya hidup disamping istri dan anak-anaknya. Biarlah Etek kirim uang tiap bulan untuk uang sekolah kalian kakak beradik, tapi Ayah kau tu keras kepala. Mungkin dia kepalang malu sama emak kau yang dari dulu tak pernah dinafkahinya.” Jelas Etek sambil mengusap-usap bahu Ujang. Hampir saja Ujang tersedak mendengar penjelasan Eteknya. Mungkin Ayahnya merasa rendah diri dan minder di hadapan ibunya, sehingga tak berani lagi menampakkan muka di hadapan keluarga.

“Besar jasa Ayah kau tu terhadap Etek, Jang. Sejak kakek nenek kau meninggal, Ayah kau yang menghidupi kami berlima kakak beradik, saat itu Ayah kau masih SMP, dan Etek masih SD. Sejak saaat itu Ayah kau berhenti sekolah dan berkerja mati-matian menyekolahkan adik-adiknya. Subuh-subuh Ayah kau dah ke kebun menakik getah. Sampai akhirnya semua adik-adiknya sarjana. Kini tibalah saatnya kami adik-adiknya ini membalas budi. Saat Ayah engkau tak ada penghasilan macam sekarang ni. Mungkin dia sudah penat betul, tenaganya pun sudah habis  termakan usia.” Kelihatannya Etek mencoba membela abangnya.

“Assalamualaikum” tiba-tiba terdengar suara baritone dari depan. Suara yang sangat dikenal Ujang. Suara yang selama ini dirindukan emak dan kedua adiknya. Mata mereka bertemu, mata ayah dan anak yang dirundung rindu. Belum sempat Ujang menjawab salam, mata ayahnya melotot bagai ketakutan. Detik selanjutnya, tubuh ringkih itu jatuh menyelosor di lantai keramik rumah etek.

Bruk!
Eteknya panik dan teriak-teriak minta tolong. Ujang masih terpaku, bukan karena ia begitu merindukan Ayahnya hingga tak lagi bisa berkata, bukan pula karena kekenyangan sesudah menyantap hidangan lezat dari Eteknya. Bukan karena ia benci ayanya yang tak pulang lima bulan, tapi karena nadi orang yang membuatnya lahir kedunia ini, sudah tak berdenyut lagi. (di Muat di Riau Pos edisi Minggu  4 Maret 2012)

*di posting berdasarkan permintaan dari cerita sebelumnya dan yang udah baca wajib kasih kripiknya!  kripik pedas boleh. apalagi kripik manis.. ^_^

34 komentar:

  1. ;)
    mantapp, dua jempol tangan dan kaki ku arahkan, keyyenn....:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. apanya yg mantap? udah di baca belum?? #curigaan :D

      Hapus
    2. wah3x, kudu piye toh...wong aq ja ra iso gawe ky iki...

      Hapus
    3. apaan nih? google translate dulu deh kayaknya :D

      Hapus
  2. bagus bgt mba,tapi kok terasa singkat ya?mau tau lanjutannya hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini tuntutan dari korannya.. cuma 3 halaman

      Hapus
  3. wedeh jadi terakhirnya si ayah wafat begitu?
    wah wah wah, berduka cita dah saya buat si Ujang
    untuk ujang : "mau, bagaimana lagi. Hidup emamng berat" :D

    akhienya yang ditunggu tunggu keluar, lagi lagi lagi. tapi kok ada bahasa riaunya yaa. huhuhuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaa... hidup emang berat buat ujang..

      aku nyoba (aka maksa) buat cerpen bertema lokalitas. nampaknya ini genre cerpen Riau Pos.

      ini kan gw posting atas persindiran dan permintaaan elu rul... ^_-

      Hapus
    2. nguahaha nguahahah, gini donk penulis handal juga ngeluarin kehandalannya :D
      sip sip sip :D

      Hapus
  4. mematikan tokoh adalah salah satu cara ketika bingung menuntaskan cerita , nyahahahahahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyaahahahhaaha. iihh.. tegoh.. kok selalu tau isi kepala aku sich..

      Hapus
  5. Ini kenapa akhirnya jadi jualan keripik! Padahal Ujanf itu anak yg baik, tapi ayahnya harus pergi meninggalkannya. Ini cerita masa kecil detektif Ujang ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. mungkin bisa aja.. makanya sejak ayahnya meninggal ujang jadi bikin buka lapak detektif. :D

      ujang itu kan nama panggilan anak cowok di Sumatra :)

      Hapus
  6. WaAaAH. .cocok nich jd penulis ? Hem nice mbk

    BalasHapus
  7. Mantapp 4 jempol untuk kamu risah :D

    BalasHapus
  8. apanya yg mantap?
    aduh belum baca udah pada muji2 semua.. kasih kritik dongg....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah dibaca koq. ceritanya bagus. kenapa ga jadi penulis cerita aja nich?

      Hapus
    2. wah udah di baca toh..
      makasih ^_-

      ini sedang bermimpi jadi penulis..

      Hapus
  9. Balasan
    1. akhirnya ada juga yang sedih baca ini... hihi

      Hapus
  10. asikk akhirnya endingnya ketemu tak kira ayahnya jadi preman pasar gitu wkwkwk

    BalasHapus
  11. kunjungan perdana... km suka nulis cerpen yah ^^

    BalasHapus
  12. hhhhhmmmm. .. . . cie cie cie. .. . bakal masuk majalah lagi ndak nih. .. . ada kripik singkong mau tak nih. . .???

    BalasHapus
  13. aw aw.. sangat sangat sedih banget ceritanya... suatu kebanggaan buat bapak itu untuk terakhir kalinya...

    BalasHapus
  14. ciee... cocok deh jadi penulis. ajariiin dwoong mbaak :)

    BalasHapus
  15. kunjungan sore ahhh. . . gi apa ya. . .. :)

    BalasHapus
  16. ending yang sungguh mengejutkan..mengharubiru..bahagia bertemu dan duka ditinggal pergi campur aduk jadinya rasa diri membacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah ari berlebihan de...
      di tunggu cerpen ari di riau pos yaaa.... ^_-

      Hapus
    2. ah ari berlebihan de...
      di tunggu cerpen ari di riau pos yaaa.... ^_-

      Hapus
    3. ups, saalah orang...
      kirain ari temen sekelasku.. haha

      Hapus