20 September 2014

Guru SM3T Di Pelosok Wamena Kampanyekan Gaya Hidup Sehat


Kebiasaan hidup tidak sehat siswa siswi SD YPPGI Hitigima, Distrik Asotipo, kota Wamena membuat dua guru muda yang tergabung dalam Program SM3T ini risau. Bagaimana tidak, pemandangan “Angka 11” yang terus saja mengalir tiada henti dari hidung anak didik. Bahkan cairan kental itu sampai mengering karena dibiarkan begitu saja. Kadang-kadang kalau nasib ingusnya mujur, cairan itu kembali masuk ke mulut anak-anak  berkat jilatannya. Jijik? Tentu saja. Bahkan hari pertama pemandangan ini tak pelak memancing isi perut dua guru muda itu keluar. Habislah nasi sarapan pagi dmuntahkan.

Belum lagi kaki-kaki mereka yang tidak pernah menggunakan sandal apalagi sepatu. Kaki itu menginjak lumpur sejak 2 hari yang lalu tidak dicuci, lumpur dan tanah itupun mengering di kaki mereka. Dengan kaki kotor itulah mereka berangkat ke sekolah. Ditambah lagi bau badan yang entah berapa lama tidak menyentuh air, rambut yang bau karena tidak mengenal shampoo dan baju seragam yang sudah berubah waarna menjadi coklat. Bisa dibayangkan baunya sangat menyengat hidung.

Dengan latar belakang masalah itulah dua guru asal Riau dan Kalimantan ini mengadakan kampanye hidup sehat untuk peserta didiknya. Dengan modal uang pribadi, mereka turun ke kota membeli sekitar 180 sikat gigi, odol dan sabun cair untuk cuci muka.

Selasa (09/09), Tepat pukul 11.00 WIT anak-anak sudah berbaris di lapangan. Sejak hari jum’at yang lalu guru sudah mensosialisasikan bahwa hari selasa akan ada kampanye hidup sehat, jadi antusias anak-anak sangat tingggi untuk bisa mendapatkan sikat gigi gratis, yag biasanya jarang hadir, hari itu hadir semua.
Setelah diberi motivasi hidup bersih dan manfaat hidup sehat oleh salah satu guru muda dari Riau yang biasa di panggil ibu guru Risa, anak-anak juga melihat demonstrasi cara menyikat gigi yang benar, cara mandi, cuci tangan dan lainnya dari ibu guru Hotma, guru SM3T asal Kalimantan.  Setelah mendengarkan pengarahan, barulah anak-anak membentuk lingkaran untuk memulai sikat gigi bersama.



tukang foto         : Arfan, asal Universitas Mulawarman, Kalimantan
tukang peraga     : Hotma, Asal  Universitas Mulawarman, Kalimantan
tukang ngomong : Risah

Sikat Gigi Bersama
Setelah guru membagikan sikat gigi, anak-anak menerima odol yang langsung di oleskan Ibu Guru ke sikat gigi yang sudah di pegang anak-anak. Setelah di pastikan semua mendapatkan odol, ibu Hotma, Ibu guru Risa dan di bantu guru-guru SM3T dari distrik Air Garam dan Asolokobal ikut memperagakan cara menyikat gigi yang benar di depan murid-murid.


Sebelumnya guru juga sudah menginstruksikan kepada anak-anak untuk membawa gelas dari rumah, sedangkan air disediakan di sekolah.

Cuci Muka Bersama
Acara gosok gigi selesai, agenda berlanjut ke cuci muka bersama. Kembali guru harus berkeliling untuk membagikan sabun cair kepada siswa-siswi SD YPPGI Hitigima dari kelas I-VI yang sudah tidak sabar.
Berbagai celetukan murid terdengar, seperti “sabunnya harum”, atau “Bu Guru, tambah lagi sabun punyaku boleh”, dan berbagai komentar lainnya. Ibu guru Hotma mulai mendemonstrasikan cuci muka menggunakan sabun. Beberapa detik kemudian hebohlah lapangan dengan wajah murid-murid yang penuh busa.
Hotmauli Gultom, SM3T asal Kalimantan dan siswanya
Gosokk teroooss... :D
Setelah sikat gigi dan cuci muka bersama, terlihatlah wajah-wajah segar dari siswa, senyum-senyum dengan gigi putih bersih. Dan keceriaan mereka mendapatakan sikat gigi baru. Selanjutnya Ibu Risa berdiri di tengah lapangan dan  menyimpulkan kegiatan hari ini. Anak- anak dengan antusias menjawaab pertanyaan-pertanyaan dari ibu guru, dan membuat janji akan menerapkan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari kedepannya. 
 
guru SM3T, Kepala Sekolah SD YPPGI Hitigima dan anak-anak yang ceria
setelah sikat gigi bersama. "kita orang su pu sikat gigi gratis dari ibu guru"

 

BERSIH….. YES!!!
KOTOR….. NO….!!!

#Terimakasih kepada :
1.      Kepala sekolah SD YPPGI Hitigima, Pak Pilemon Asso
2.      Guru-guru yang membantu menyukseskan acara ini, Bapak Yoel Wetipo, S.Pd.k, dan Bapak Yan Asso
3.      Guru-guru SM3T, Pak Darwin S.Pd (Kalimantan) dan Pak Marsidi S.Pd (Riau) dari Desa Air garam distrik Asotipo, dan Bapak Arfan S.Pd (Kalimantan) dari desa Megapura distrik Asolokobal.

*****Sekian, Semoga bermanfaat*****





19 September 2014

Memberantas “Angka 11”


Kali ini cerita lagi-lagi berasal dari distrik Asotipo, SD YPPGI HITIGIMA. Satu hal yang sangat mencolok ketika kami guru SM3T bertemu dengan anak-anak didik kami pertama kalinya di lapangan. Pemandangan yang mencolok itu dating dari wajah-wajah polos mereka yang di hiasi angka 11 yang mengalir dari hidung. Mungkin karena suhu udara di sini yang selalu dingin (berkisar antara 18- 26 derajat celcius) dan gaya hidup mereka yang jauh dari kata bersih dan sehat.
 
siapa yg tahan ngajar dengan pemandangan murid yang rata-rata begindang cyiinn....

SD YPPGI HITIGIMA #Part 2


Baca cerita sebelumnya di SINI

Anak Kelas VI Masih Buta Aksara
Ketika kami mengumpulkan semua murid dan observasi kemampuan baca mereka, ternyata hasilnya jauh dari yang diharapkan. Siswa kelas VI masih ada yang tidak kenal huruf, sebagian ada yanga masih mengeja, dan sebagian kecil ada yang sudah bisa membaca dengan kecepatan over low.



Itu baru kelas VI, Kelas V, IV dan kebawah jangan di tanya. Ketika aku masuk kelas III dan menuliskan semua huruf abjad di papan tulis, mereka hanya hafal huruf A-G. huruf selanjutnya masih banyak yang ragu bahkan tidak tau sama sekali. Anak kelas IV yang seharusnya sudah tau nilai tepat puluh ribuan, ketika kami tanya, puluhan saja mereka bingung. Ketika belajar bahasa Indonesia, Partnerku Hotmauli Gultom S.Pd yang berasal dari Universitas Muawarman Kalimantan membacakan sebuah teks, ketika dia tanya Judul teks kepada anak-anak, mendadak kelas menjadi hening seperti kuburan. Bayagkan, bagamana mereka memahami teks, ditanya judulnya saja mereka terdiam. Benar-benar miris.

Administrasi Sekolah Kacau
Dengan keadaan yang sudah dijelaskan di atas, administrasi sekolah jangan diragukan lagi, sudah bisa dipastikan NOTHING. Tidak ada yang namanya RPP, Silabus, Program Semester, Program Tahunan dan lain-lainnya. Ketika kami tanya kalender pendidikan untuk menyusun silabus, Kepala Sekolah mengatakan belum turun dan Dinas Pendidikan. Padahal tahun ajaran 2014/2015 sudah berjalan lebih dari sebulan.

Satu hal yang lebih lucu lagi adalah jadwal pelajaran. Bagaimana bisa jam pelajaran KTK lebih banyak dari pada jam pelajaran (Jampel) Matematika. Bahasa Indonesia juga hanya 2 jam. Anak kelas I, II dan III punya jam pelajaran yang sama. Padahal seharusnya kelas 1 30 jam, kelas II punya 32 jampel, dan anak kelas III punya 34 jampel sesuai dengan ketentuan kurikulum 2013. Namun sayangnya, sekolah ini masih memakai buku-buku paket dan kurikulum KBK (Tahun 2004) dan baru saja salah seorang guru ikut pelatihan penerapan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006). Ketika kami rapat dengan guru, kepsek memberitahukan bahwa akan ada pelatihan kurikulum KTSP utuk smua guru. Helloowww…. Se indonesia sudah sibuk sana-sini pelatihan dan penerapan kurikulum 2013. Disini malah baru mulai belajar gunakan KTSP. Alangkah Lucunya Negri Ini.

Rapat Guru Yang Berlangsung 7 Jam
Hari kedua kami bertugas d SD YPPGI HITIGIMA ini (3 September 2014), kami langsung mengikuti rapat guru yang di mulai jam 11.00 WIT. Rapat ini membahas agenda penempatan guru kelas dan pembagian guru bidang studi. Kemudian juga akan membahas masalah kesiswaan, sampai pembahasan anggaran dana BOS (Biaya Operasinal Sekolah) yang akhirnya cair juga setelah 6 bulan berlalu.

Di rapat guru itu kami sebagai guru SM3T berusaha semaksimal mungkin memperbaiki ADM sekolah dan memberikan masukan-masukan kepada kepala sekolaha Syukurlah kepsek sangat open minded, beliau menerima usul baik yang kami sarankan. Pembagian tugas dan hala-ahal penting lainnya sudah di bahas dengan lancar.

Namun tiada kami sangka rapat tersebut berlangsung hampir 7 jam!  Bahkan saat makan siang pun rapat tidak ditutup, tapi tetap rapat sambil makan hidangan yang sudah disedian istri kepsek sekaligus merupakan calon guru kelas I. Menu siang itu adalah nasi bulog dan mie instan yang di rebus dengan sayur sawi. Akhirnya rapat selesai jam 17.40 WIT. Luarr biasaaaaaaa…!!!

Cara Pembagian Anggaran Dana BOS Yang Unik
Setelah selesai membahas adiministrasi, kepsek mulai membuka lapak pembagian uang. Dana BOS yang baru saja cair hari itu, di keluarkan di atas meja. Jumlahnya sekitar Rp. 30.000.000. Mulailah acara hitung menghitung uang. bendahara membagia-bagi uang itu dalam beberapa kelopok, hal-hal yang di anggap perlu, di sediakan uangnya langsung di pisahkan di tempat lain. Jadilah meja penuh tumpukan uang.

saking transparannya, uang di serakkan gini di meja

Pembagian dana ini menurutku cukup unik juga. Biasanya pembagian anggaran di lakukan di atas kertas saja, uang tetap di simpan di bank, dan kapan perlu uang akan di ambil. Mungkin karena sifat transparansinya yang berlebihan membuat kepsek membuat lapak seperti ini, hahaha..

Masih banyak cerita unik dan aneh lainnya di tepat tugas kami. Mohon doanya semoga semua program yang kami canangkan berjalan lancar J

#Tulisan ini juga di posting di blog : http://sm3turjayawijaya.blogspot.com


Kepsek SD YPPGI Hitigima : Kami Butuh Guru Sarjana


Sekolah ini adalah sekolah tertua yang ada di distrik HITIGIMA, salah satu distrik di pojok kota Wamena. Didirikan oleh yayasan Gereja-gereja Injil. Sampai sekarang punya nama SD YPPGI (Yayasan Pendidikan Gereja-Gereja Injil) Hitigima. Sekolah ini berdekatan dengan gereja  Injil.  Walaupun penuh keterbatasana, sekolah ini telah melahirkan orang-orang sukses, seperti Sarjana yang sudah jadi Guru dan Bupati.

Yup! Benar sekali, bupati Wamena adalah alumni dari SD YPPGI Hitigima. Beliau lah yang melanjautkan perjuangan memperbaiki infrasturktur sekolah. Dan membangun sebuah gereja besar di depan sekolah.

Walaupuan sudah melahirkan alumni seorang  bupati, sekolah ini masihlah banyak kekurangan. Dari tenaga pengajar yanga hilang entah kemana rimbanya, sampai anak-anak kelas 6 yang tidak bisa membaca. Saya akan mulai ceritakan satu persatu.

Bertemu Mr. Fujiko, Kakek dari Jepang.


Ketika kami mendarat di bandara Soeta, Jakarta jam 20.30 WIB,  dan kami harus menunggu sampai jam 23.30 WIB utuk terbang ke bandara Sentani, Jayapura disinilah keahlian menghabiskan waktu agar tidak bosan menunggu dikerahkan. Dari duduk mendengar musik, sampai mencari-cari bule untuk  mengasah kemampuan English atau untuk di ajak ngobrol ngalor ngidul pake bahasaa antah berantah. hahaha

Malam itu, setelah menjama’ solat magrib dan isya, kami berfoto ria di ruang tunggu keberangkatan menuju Jayapura. Suasana Papua mulai terasa karena dinding pembatas semua ditempeli stiker bergambar orang Papua, ada foto-foto festival lembah baliem , foto-foto orang Papua berkoteka, rumah honai dan banyak lagi. Sebagian temanku menghabiskan waktu untuk tidur, sebagian lagi yang tidak tahan gadjetnya mati, sibuk mencari terminal carger, sedangakan aku duduk manis berusaha menangkap sinyal wifi. Biasa deh, maniak internet gratisan always do that.

:
dari kiri : Amak, Aam, Mas Aris, Aku, Aidi, Kak Endang, 
ada taman baca, tapi isinya majalah nggak jelas #atau aku nya yg gak ngerti

14 September 2014

When Your Birthday in Papua

Ini adalah Minggu ke dua ku di Wamena. Minggu pagi yang lengang seperti biasa. Hari minggu adalah hari Tuhan, dan semua masyarakat yang mayoritas kristen sangat menghormati hari Tuhan. Semua kegiatan dihentikan, pasar juga toko-toko di larang berjualan. Tukang becak, angkot, ojek dan taksi dilarang beroperasi. Karna hari minggu adalah hari Tuhan. Saatnya umat kristiani beribadah. Bahkan kalau di Kabupaten Lanny Jaya (kabupaten yang bertetangga dengan kota Wamena) dilarang melakukan kegiatan apapun di rumah, menyapu halaman juga tidak boleh. Pokoknya minggu pagi di Papua itu ibarat kota mati. Kosong melompong kayak kuburan..

Hari ini mungkin adalah hari yang special buat partner ku, ibu Guru Hotmauli Gultom S.Pd. tapi mungkin tidak se spesial tahun-tahun sebelumnya. Karna tahun ini, doski harus melewati hari ulangtahunnya di Papua… tidak ada kue ulangtahun dari vanhollano, tidak ada lilin yang akan di tiup, tidak ada kado, dan tidak ada teman yang tiba-tiba datang rame-rame ngasi surprise… karena kami saat ini ada di atas gunung desa Hitigima. Jauh dari kota, jauh dari teman-teman… sedihnya hotma...

Untuk menumpas rasa sedih dan kecewa adikku yang hobi memanggilku Eonniee (kakak dalam bahasa korea) ini, pagi-pagi aku udah rempong di dapur. Aku membuka lemari stok makanan kami. Hasilnya nihil, tidak ada sesuatu yang bisa di jadikan kue. Akhirnya ide brilian aku muncul, dan setelah setengah jam berkutat di dapur, , jadilah kue ulangtahun ala hitigima…


Here is.. birthday cake from friedrice… hahahha
si Hotma kadang di panggil Uli
Komposisi :
Nasi goreng
Telur dadar
Selada dari anak murid
Jeruk bali dari anak murid juga
cabe merah dari anak Murid
Saos beli sendiri

Waktu aku lagi bikin kue, hotma lagi rempong prepare ke gereja. Doski lagi nyetrika di ruang tamu, begitu aku selesai, aku langsung bawa kue nya kedepan dan nyanyiin lagu selamat ulangtahun pake versi bahasa korea (kami berdua itu korean addict loh..)

Saengi chukkaa hamnida.. saengi chukka hamnidaa…
sarangaaneul uri Hotma… saengi chukka hamnida… horeeee….
 
si Uli dengan senyum sumringah pagi-pagi di kasi suprise abal-abal
selfie bertiga doloo...
Abis nyanyi-nyanyi gaje, Hotma make a wish sebentar dan tiup lilin yang dari tadi aku usahakan supaya apinya nggak mati. Lilin ini aku buat dari lidi dan di atasnya lapisi kapas, setengah mati menahap supaya api nya nggak lari di bawa angin. Senangnyaaa akhirnya ada acara tiup lilin. Pake make a wish segala lagi.. hahaha..

Si Bapak Wetipo yang tinggal serumah dengan kami bertugas memegang handycam untuk merekam reaksi hotma saat aku kasih surprise… tapi reaksinya agak mengecewakan, aku kira dia bakal nangis-nangis dan kami berpelukan kayak teletubbies, ternyata dia malah ketawa ngakak liat kue ultah abal-abal ala aku. jiaaahh…… 

“uu maak lekk… kakak… jadi dari tadi kakak sibuk di dapur bikin ini kah?” tanya nya dengan logat kalimantan.

Aku mengangguk-anggukan kepala kayak burung pelatuk.

Huaaa… unnniiiieeee… kamsahammidaa…. Unniiee.. sarangee,,” alay versi koreanya kumat. Aku geleng-geleng, bapak geleng-geleng, anjing yang menonton pun geleng-geleng.

Sampe siang, Hotma pulang dari gereja, nasi goreng masi belum tersentuh. Katanya sayang dan nggak tega ngerusak hiasannya.. padahal aku nyiapin nasgor itu biar dia bisa sarapan dulu sebelum ke gereja. ujung-ujungnya aku deh yang nyicip dikit-dikit, tapi lama-lama tinggal setengah.. muehehehe.. abis laper sih… hihihihi…
HAPPY BIRTHDAY HOTMA SAYAAAANNKK....

Semoga Tuhan beri kami kesabaran mengarungi bahtera kehidupan selama setahun bersama ku #udah kayak laki bini ini.. iuuu...

Semoga target-target yang kita harapkan bisa tercapai...
Semoga sehat selalu, karna kalo mu sakit, aku yang repot. Hahaha
Dan semoga semua yang terbaik Tuhan beri padamu.

God Bless You chinggu.. muach!


01 September 2014

Air Mata Pertama (dan terakhir)


Exited, itulah perasaan yang bisa aku katakan ketika kami mulai keluar dari pusat kota wamena, menuju distrik-distrik yang sudah mulai jauh dari peradaban kota. Bus dari Dinas perhubungan mengantarkan rombongan kami memasuki kawasan pegunungan dan bukit. Kemana mata memandang hanya gunung, perkebunan dan beberapa onai yang terlihat. Suasana pengabdian mulai terasa

Bus mulai menurunkan penumpangnya satu persatu. Ada yang disambut sekolah yang kosong, ada yang disambut dengan wam (Babi) yang sedang merumput di halaman sekolah, ada juga yang beruntung di sambut semua murid di lapangan sekolah. Begitu bus kami memasuki gerbang sekolah, calon murid nya Aris (salah satu peserta SM3T dari Riau) langsung bersorak gembira menyambut kedatangan guru barunya. Senanganya mas Ariss… aku yang masih harus melanjutkan perjalanan tercengang melihat betapa sumringah senyum anak-anak ini menyambut gurunya. Di hiasi angka 11 yang mengalir indah dari hidung mereka. Ahahaha

Memasuki distrik Asotipo, aku makin berdebar, bukan rasa takut, bukan. Aku hanya terlalu exited dan tidak sabar melihat seperti apa calon murid-muridku nanti. Seperti apa tempat tinggalku selama satu tahun ke depan. Aku benar-benar tidak sabar melihatnya.


Bus mulai menanjak kaki gunung, tidak jauh dari SD sebelumnya, sampailah kami di SD YPPGI HITIGIMA. Disinilah aku akan mengabdi seama satu tahun ke depan. Bus menurunkan penumpang, bapak supir yang orang batak sudah 5 tahun tinggal di Paua ikut membantu menurunkan barang, juga bapak pengawas pendidikan rayon Asotipo ikut membantu kami menurunkan barang kami yang luar biasa banyak.


Aku dan Hotma (peserta SM3T asal Kalimantan) turun dari bus dengan memasang senyum yang tak habis-habis. Ku lihat sekilas beberapa calon muridku yang keluar dari kelas mengerubungi pagar sekolah ingin melihat guru barunya. Mereka berloncatan dan berpelukan kegirangan. Ya Allah, inikah calon murid-muridku?

Walauapun gurunya sudah berkalia-kali menyuruh mereka kembali ke kelas (karena saat kami datang masih dalam keadaan belajar), tapi mereka seperti menutup telinga. Semua sibuk membantu mengangkat barang kami, dan beberapa berusaha menyalami kami dengan malu-malu. Bahkan ada anak kecil yang ku taksir kelas 1 atau 2 SD, berusaha membaawakan ransel ku yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Kelapa sekolah yang saat itu juga turut menyambut kedatangn kami langsung mengambil alih tas itu. Ah anak-anak anak ini…


Bagai kerbau yang di cucuk hidungnyaa,kami langung di giring ke rumah yang bertuliskan RUANG PERPUSTAKAAN, tapi tak kulihat satu bukupun disitu. Ternyata rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal guru SM3T sebelumnya, kamar yang bertuliskan RUANG UKS dijadikan tempat tidur, dengan kasur yang harusnya adalah matras olahraga. Di ruangan ini cukup lengkap, ada lemarai 2 pintu, rak-rak (yang mungkin di niatkan untuk rak  buku), kompor, meja belajar, dan alat-alat daput yang cuku lengkap untuk dua orang.

Istri kepala sekolah sekaligus guru kelas 1 dan 2 datang bersalaman dan menciumi tangan kami. Begitu muliakah guru disini? Sampai seorang aibu beranak 5 harus dating tergopoh-gopoh dengan perutnya yang  sedang hamil besar mencium tanan kami anak gadis yanga merantau ini.

Barang pun di pindahkan ke rumah sebelah, rumah ini terbuat dari setengah batu dan beratap seng. Lantai ubin yang dilapisi karpet plastik. di dalam rumah juga sudah ada WC. Jadi Sudah sangat layak, aku bersyukur bisa tinggal di rumah seperti ini.

Kamar kami ternyata sudah di persiapkan, dengan gorden pink dan karpet pink. Betapa bersyukurnya aku.. langsung saja aku berterimakasih dan menyalami pak Yoel Wetipo S.Pd.k Yang aakn menjadi teman serumah kami setahun ke depan.

Dari jendela kamar kami, aku melihat barisan gunung dan perkebunan yang rapi. Disinilah air mataku meledak. Sudah berbaga macam cara aku ingin menahan, dari pura-pura mengaajak ngobrol si Hotma yanag sedang bongkar muat barang, sampai menghidupkan music dari HP ku, tapi tetap saja dua anak sungai itu mengalir dengan lincah melalui sela-sela kornea mata.


karena kamar kami cukup penuh dengan barang (padahal Cuma berdua,  barangnya hampir memenuhi isi kamar), aku persilahkan Hotma duluan yang bongkar koper dan perlengkapannya. Sedangkan aku menikati indahnya hamparan ciptaan tuhan yang ada di depan mata, aku duduk di pintu jendela dan air mata yang tak dapat ku tahan lagi menetes satu persatu…

entahlah.. entah atas perasaan apa aku harus menangis.  Entah rasa takut mulai menggelut, entah rasa rindu yang tiba-tiba muncul karena haru. Beru menyadari betapa jauhnya jarak antara aku dan orangatua ku. Betapa jauhnya jarak yang harus di tempuh ketika aku rindu masakan ummiku. Aku baru saja sadar, rasa nekatku telalu besar ketika memilih ikut program ini. Rasa penasaranku terlampau kuat untuk memijakkan kaki di tanah papua ini, tanpa memikirkan resiko jauh dari keluarga dan rasa kesepian yang saat ini sedang menjalari seluruh hatiku.

 Aku yang biasanya hidup dengan hiruk pikuk kota, dan kegiatan seabrek yang aku jalanai sehari-hari. Sekarang harus terkurung di antara bukit yang mengurungku dari keramaian. Jangankan motor, apalagi mobil, melihat manusia lewat saja jarang.

Satu hal yang aku syukuri, disini ada listrik PLN dan sinyal HP. Baik itu telkomsel maupun indosat. Jadi masih bisa tetap interaksi dngan dunia luar. Air mataku pun perlahan mulai berhenti tumpah. Aku memperhatikan Hotma, anak Universitas Mulawarman Kalimantan yang masih sibuk membongkar baranag-baranaganya.


“Ini barang-barang kamu semua Hotma? Berapa kilo over bagasinya kemaren?” tanyaku terperangah ketika  melihat banyaknya macam barang yang ia bawa. Mungkin barangku hanya sepertiga dari perlengkapannya.

“Iya, aku sudah lengkapi semua keperluan untuk setahun, barang-barang yang kira-kira tidak ada disini aku beli banyak. Kau Tanya apa, semua ada di koperku ini, Bah! Gampang lah itu, pakai aja nanti punyaku!”  dengan logat batak yang cukup menentramkan hatiku.

“Yah, sepertinya semua akan baik-baik sajaa. Amin ya Robb..” katakau dalam hati menutup tangisku sore ini.

Hari pertama di lokasi tugas.
Rumah Dinas Guru. SD YPPGI HITIGIMA.
Dsitrik Asotipo. Kota Wamena.
Kab. Jayawijaya. Prov. Papua
SD YPPGI HITIGIMA, DISTRIK ASOTIPO. WAMENA.  PAPUA



Halaman SD YPPGI HITIGIMA. WAMENA. PAPUA. Kemana memandang semuanya bukit.

*tunggu foto-foto lainnya dan cerita selanjutnya :)