16 Maret 2015

Kami Namai air terjun itu UNRI, UNMUL dan UNESA


Baca cerita sebelumnya : mengejar salju di kaki gunung trikora
 
Mobil Rusak Dapat Emas
Belum sampai ditujuan, kami berhenti di tengah jalan yang sama sekali tidak ada manusianya. Rumah penduduk pun tidak ada. Ternyata mobil rusak. Kalau tetap melanjutkan perjalanan ke atas bukit dikhawatirkan mobil nggak bisa dipakai untuk kembali ke wamena. Kami istirahat sembari menunggu supir memperbaiki sesuatu yang rusak di mobilnya. Ternyata di pinggir jalan banyak batuan yang bentuknya mirip seperti emas. Teman-teman UNESA yakin itu emas. Wah.. langsung deh kami heboh nyariin batu kecil-kecil yang berkilauan terkena sinar matahari. Entah emas atau bukan yang jelas dikumpukan saja dulu. Hahaha.. juga banyak macam batu akik kristal disana. Mario bahkan memenuhi tasnya dengan batu akik. Mau bikin rumah kali yeee
ketika mobil mogok. look at the cloud!
atur strategi biar tetap bisa nyampe air terjun

4000mdpl? jangan percaya! itu dusta teman :D

Kami Namai air terjun itu UNRI, UNMUL dan UNESA
Setelah supir mencoba memperbaiki (ternyata cuma ngecek), diputuskan untuk segera kembali ke wamena. Karena mobil dipastikan tidak akan kuat untuk terus naik ke atas.


What?? Kita udah jalan sejauh ini dan pulang gitu aja? Padahal air terjun sudah terlihat dari kejauhan. Walaupun keliatannya keciiillll… banget, tapi air terjun itu sudah di depan mata. Masak nggak bisa mobilnya jalan dikit lagi aja? Sudahlah gagal dapat salju. Masak air terjunnya juga gagal? Sia-sia dong ekspedisi hari ini.

Musyawarah di tengah jalan cukup lama. Aku pengennya jalan kaki menuju air terjun itu. Yang lain juga banyak berfikiran seperti itu. Tapi supir mengkhawatirkan fisik kami. Katanya, air terjun itu walaupun sudah terlihat, tapi sebenarnya masi jauh baanget. Butuh waktu kira-kira 1 jam jalan kaki untuk bisa sampai kesana. Supir yang katanya udah pengalaman ke daerah itu menyarankan untuk kembali ke wamena aja. Supir nggak mau ambil resiko.

Tapi keinginan kami kuat. Anak-anak UNESA sudah terbiasa jalan kaki. Untuk sampai ke ibukota Memberamo Tengah, mereka pernah harus jalan kaki 12 jam melintasi gunung, sangai dan hutan. Aku dan akhwat-akhwat lain juga sudah biasa jalan kaki. tapi ya tentu saja tidak sampai belasan jam. Untuk sampai ke posko ku dari pemberhentian mobil harus jalan kaki mendaki bukit selama 20 menit. Dan itu kulakukan setiap minggu. Setiap pulang pergi dari posko ke kota. Oh come on… kami ini guru-guru SM3T yang sudah dilatih mental dan fisiknya sebelum di lempar ke Papua. #sombooonng…

Melihat keinginan kami yang sangat kuat, supir pun mengizinkan kami memulai perjalanan ke air terjun tiga tingkat itu. Karena kami  jalan kaki, kami memilih jalan yang sekiranya paling dekat dan paling lurus menuju air terjun. Jalan ini melewati padang rumput yang luasnya entah berapa hektar. Luas banget! Sedangkan jalan yang bisa dilewati mobil itu berkelok-kelok dan akan menghabiskan tenaga dan waktu. Jadi kami pun masuk ke jalan pintas yang kami buat sendiri.

 Ternyata benar yang dikhawatirkan oleh supir. Jalannya jauh, dan lembab. Salah pijak bisa tenggelam dalam lumpur. Untung bukan lumpur hidup. Selain itu petunjuk jalan kami hanya arah air terjun yang kami dilihat ketika di dekat mobil tadi. saat sudah berjalan sekitar 30 menit. Air terjun sudah tidak terlihat dan kami mulai kehilangan arah di tengah padang rumput. sudah lebih 1 jam berjalan lurus ke depan tapi padang rumput ini seperti tak berujung. Seperti mengejar sunset, matahari nya terlihat dekat. Seperti itulah kami mengejar bukit yang punya air terjun itu. Kayaknya dekat tapi kok udah 1 jam nggak nyampe-nyampe… kak Ratmi mulai tepar, sudah tidak sanggup berjalan. Ia bahkan pasrah untuk di tinggalkan saja di tengah padang rumput itu. Kalau dilihat dari fisik kak ratmi memang tidak sekekar kami para cewek-cewek SM3T yang biasa jalan kaki ke posko. Kak Ratmi tinggal di kota Wamena dan bekerja di kantor BPS. Beda banget sama kami yang bertugas dipelosok. Untuk hal ini aku bangga bisa jadi guru SM3T #pamerin otot

Kami putuskan untuk istirahat sebentar sambil menikmati indahnya pemandangan. Memang Papua ini dasarnya surga dunia! Dimana aja bagus! kamera dikeluarkan dan jepret.. jeprett..







entah awan entah kabut. kereenn
Puas foto-foto, perjalanan pun dilanjutkan. Cowok-cowok kami jadikan guide di depan. Berjalan sesuai arah mata angin, eh sesuai perasaan deh kayaknya. Kak Ratmi tetap ikut berjalan tapi lumayan jauh tertinggal di belakang. Ada laki-laki juga jalan di deretan paling belakang untuk berjaga-jaga.


Kaki mulai kram karena kedinginan. Perut mulai lapar dan jari-jari tanganku kalau di sentuh kayak disetrum karena kesemutan. Padahal aku sudah memakai sarung tangan. Tapi diantara lelahnya kami, suara air terjun mulai terdengar sayup-sayup. Beberapa detik kami saling diam memastikan apakah itu benar-benar suara air atau hanya fatamorgana pendengaran (emang ada?) ternyata itu benar-benar suara air terjun. Maka  bersorak-sorak bergembiralah kami. Perjalanan sudah dekat! Semangat kami terbakar lagi. Kalau tadinya berjalan sesuai perasaan, sekarang kami berjalan mengikuti asal suara air. Wow. What a wonderfull journey!
Setelah menyebrangi sungai dengan air selutut yang tentu saja tidak ada jembatannya, kemudian merangkak memanjat sebuah tanjakan dengan napas ngos-gosan. Dan taraaaaa… terpampanglah pemandangan yang luar biasa indahnya. Air terjun tiga tingkat sudah di depan mata.  Beberapa lelaki berlari ke arah air terjun yang jaraknya kira-kira masih sekitar 300 meter lagi. Aku Cuma menghela napas lega. Alhamdulillaah… Akhirnyaaa.. ketemu juga nih air terjunnya.

itu loh air terjunnya.. yang terlihat warna putih nun jauh disana...
Masi jauh banget mbaaakkk...

mati gaya. kedinginan
versi dekat.
Karena perjuangan kami menemukan air terjun ini cukup berat, dan air terjun ini belum punya nama, maka kami sepakat memberinya nama. Air terjun ini ada 3 tingkat. Dan kebetulan kami dari 3 universitas berbeda, maka kami namakan air terjun tingkat pertama itu UNRI, tingkat kedua UNMUL, dan tingkat paling atas kami namakan air terjun UNESA. Hahaha, jadi merasa seperti colombus yang menemukan benua Amerika dan menamakan seenaknya. Kami memutuskan nama ini diam-diam karena selain dari 3 kampus in masi ada Relawan BSMI seperti Dokter Poby, kak Ratmi, Dokter Ghazali dll yang ‘belum punya air terjun’. Biarkanlah kami bahagia. hahaha

Untuk sampai di tingkat kedua, harus menanjak bukit yang kemiringannya lumayan ngeri. Jadi kami tidak naik dan hanya menikmati pemandangan dari tingkat paling bawah.
akhirnyaaaa.. sampe jugaaaaaaaaa




Perut sudah sejak tadi keroncongan didukung oleh cuaca yang dingin, tapi keindahan lembah baliem ini benar-benar menghipnotis. Aku bahkan lupa kalau sandal gunung dan kaos kakiku sudah basah oleh lumpur. Dokter Poby bahkan kehilangan sendalnya di aliran air terjun. Padahal itu sandal kesayangan yang katanya seharga 300k. #Kurang sedekah tu dok.. hahaha

Perjalanan pulang kembali ke mobil tidak terasa jauh karena sudah tau rutenya. Ternyata supir sudah risau setengah mati menunggu kami yang tak muncul-muncul berjam-jam. Ya iyalah… perjalanan nya aja hampir 4 jam! Belum leha-lehanya, foto-fotonya. Ah.. mengertilah pak supir..

Pulangnya kami masi sempat berhenti di tepi jalan yang ditumbuhi bunga edelweiss. Iya, bunga abadi yang nggak bakalan layu itu. Tapi karena diantara rombongan kami ada beberapa anak pecinta alam dan melarang keras bunga itu di petik, akhirnya kami nggak jadi petik bunga deh. Padahal aku pengen bawa pulang bunganyaaa…

dari atas Danau Habema. Danau Tertinggi di Indonesia
SUMPAH! ini orangnya yang maksa-maksa aku nulis begini :D
alay gitu ya. nama adik2 gue sebutin semua :D

nggak ngerti sama konsep fotonya. tapi danaunya baguss
Kami makan siang di tepi jalan yang menghaap ke Danau Habema. Terpal digelar, nasi bungkus dibagikan. Ah.. nikmatnya makan di atas ketinggian dengan pemandangan danau yang indah ini. terimakasih ya Allah. Engkau antarkan aku ke Papua dengan segala keindahannya ini…

makasih teman-teman yang udah maksa aku ikut trip ini. Walaupun kita gagal dapat salju, tapi menemukan air terjun ini rasanya WAH banget. Makasih teman2 UNESA (Mario-Firman, Daus, Udin(, temen-temen SM3T UNMUL (Sony, Bagas, Muti, Rina, Tami) dari BSMI Jayawijaya (Kak Ratmi, Dokter Poby, Mas Toha yang sellau bersedia jadi tukang foto). Thank you all for the awesome journey!!

Thanks for read! Sampai ketemu di perjalanan selanjutnya!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)