Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan

18 September 2016

Hai, Danau Toba!

9/18/2016 08:02:00 PM 20 Comments


Yeaayy… Alhamdulillah ya…  setelah 6 bulanan jadi anak asrama di Medan, akhirnya aku bisa liat Danau Toba juga. Gretongan lagi… rejeki anak sholeh emang kagak kemana. Sini-sini, aku ceritain dikit trip ke Danau Toba selama 3 hari kemaren. Bukan kemaren juga sih, udah lumayan lama juga. Hahaha.

Awalnya liburan lebaran Iedul Adha ini rencananya aku mau menumpang hidup dirumah temen sekamar. Namanya Erni. Cewek asli Batak ini tinggal di Binjai. Sekitar 1 jam dari Medan. Ya dari pada seminggu bengong aja di asrama yang udah bisa dipastikan bakal sepi banget itu, mending numpang hidup di rumah Erni, biar kebagian makan rendang daging kurban. Hohoho #mental gratisan

Sebelumnya, Ibu Asrama yang biasanya paling ditakuti dan disegani di asrama (like always every dormitory do), tau-tau nyamperin aku. ngajak touring pake motor ke daerah Sibolangit sana, mungkin kesian liat aku di asrama terus. Setiap orang liburan pada pulang selalu jadi penunggu asrama. So, udah diomongin sana-sini gimana berangkatnya, pake motor siapa, bobonya dimana dll. Eh, ujung-ujungnya karena beberapa alasan nggak jadi. Kalo pun jadi, belum tentu juga Ummi aku bakal ngizinin sih. Hihihi. Yaudah deh, aku rencanain ke rumahnya Erni aja di Binjai. Sedangkan temen-temen dari Riau yang lainnya masih betah jadi penunggu asrama. 

Eh dasar rejeki anak sholeh, beberapa hari kemudian, ibu asrama yang kami panggil Bu’ Nur nyamperin aku sebelum makan malam. Kali ini ngajak touring tapi pake mobil. Gak pake itinenary. Pokoknya dari asrama jalan aja terus, kalo nemu tempat bagus kita berhenti. Nginap dimana nanti aja dipikirin, penginapan dimana-mana juga banyak. Pokoknya kita jalan! Mungkin Bu’ Nur mau kekinian, pake istilah Let’s Get Lost aja kali. asek! Karena anggota masih kurang, temen lain yang di ajakin Bu’ Nur pada gak bisa ikut, yah, dari pada mobil kosong, aku ajak aja anggota di Kasturi. Terjaringlah Tika, Putri dan Fitri. Here we go….!!!

06 November 2014

Ketika Guru Jadi Backpacker #Air Terjun Napua

11/06/2014 05:05:00 AM 14 Comments




Dulu, sebelum pernah ngebayangin bakal terdampar di papua, aku pengen banget jadi backpacker. Karna apalagi kalo bukan karena baca-baca blog temen-temen yang tiap abis weekend postingan blog nya pasti jalan-jalan mulu. Sebut saja blog nya kak Lina. Tiap ngebaca tu rasanya pengen garuk-garuk keyboard laptop saking ngirinya liat foto-foto di blognya. Naik gunung rame-rame dengan ransel berat serba lengkap di gedong di punggung. Jalan kaki ratusan meter, naik turun bukit yang terjal, nginep di hutan pake tenda, wuaaahh… Keren banget kayaknya. Bukan kayaknya, emang keren banget!

Begitulah hasrat aku untuk jadi backpacker yang selama aku tinggal di Pekanbaru belum pernah kesampean. Tapi siapa sangka, Mimpi aja aku nggak pernah bakalan tinggal di Papua! Demi apa aku tinggal sama orang-orang yang nggak malu jalan telanjang d tengah kota Cuma pake koteka doang. Demi apa sodaraaa…. Ngimpi juga nggak pernah! Aku emang pernah kepengen ikut SM3T, rencana ini ada di dalam list PLAN B aku dan temen-temen setahunyang lalu. Bahkan rencana itu juga aku abadikan di postingan blog yanag ini. Eehh.. siapa sangka sodaraa… aku beneran ikut SM3T, dan terdampar di Papua lagi… paling pojoknya Indonesia… mamake tolooooongggg….. 

Tapi begitu turun dari pesawat Garuda yang udah mengombang ambingkan aku di udara selama 5 jam, perasaan nyesel, takut, pengen pulang, semua itu runtuh waktu aku liat pemandangan kota Wamena. Ibukota provinsi Jayawijaya. Yang kata orang, kalo belum ke Wamena, belum ke Papua cuy..

Disini terhampar bukit berbaris-baris. Gunung dimana-mana. Mengelilingi kota. Eh tapi sampe sekarang aku masih bingung deh, yang mana bukit yang mana gunung. Sama aja bentuknya. Kemana mata memandang di kota Wamena ini, semuanya gunung dan bukit. Kota yang ada di tengah-tengah gunung. Makanya nggak ada akses jalan darat untuk bisa sampe kesini, soalnya nggak ada jalan yang rata. Karena bisanya naik pesawat doang, harga-harga disini luar biasa mahalnya, karna semuanya di angkut pake pesawat. Babi tetangga aku aja pernah naik pesaawat dari jayapura ke wamena. Aku pikir Apa nggak di bom aja ya salah satu gunungnya biar ada akses darat, dan harga nggak melampung setinggi langit kayak gini. Makan nasi padang aja kena 50k cyinn..

Oke, ini udah keana-mana ceritanya… back to backpacker..

Jadi ceritanya waktu nyampe di Papua, aku langsung laper mata. Pengen jalan-jalan kesana kesini. Weekend Minggu pertama aku masi ngintilin si Hotma nginep di rumah nangborunya (Tante) sesama orang batak satu marga. Keluarga ini tinggal di kotaa. Kami di servis abis disana, makan enak, tidur pake selimut tebal, nonton tv dll. Hahaa.. minggu ke dua aku dirumah, ngebikin kue ulangtahun dari nasi goreng untuk partner seperjuangan aku yang waktu itu lagi ultah. Baca aja ceritanya DIPOSTINGAN HAPPY BIRTHDAY HOTMA.

Pertaruhan nyawa menuju air terjun Napua

Nah, minggu ketiga ada d Wamena. Aku dan rombongan temen-temen SM3T dari Riau, jalan-jalan ke Napua.  Sedangkan si Hotma memilih nginap di rumah tantnya, karena kata tantenya daerah menuju Napua nggak aman. Disana ada posko temen SM3T juga, dan ada air terjunnya. Berangkatlah kami guru-guru yang super nekat ini ke Napua dengan menyewa mobil sejenis superben. Nggak semua temen2 rombongan Riau yang ikut ke Napua. Hanya 13  orang-orang nekat yang ikut pergi. Kenapa? Karna hari kami berangkat itu sedang ada perang antar suku. Ya, papua kan emang hobinya suka perang suku gitu..
Sebelum berangkat, Alga, temen SM3T yang bertugas di Napua udah bertanya sana-sini, dan udah mastikan kalo perang antar suku yang berlangsung sejak hari jumat itu sudah selesai (hari kami berangkat adalah sabtu). Kami pun siap berangkat. 
Waktu jalan kaki keluar dari SD YPK Betlehem Wamena (posko tempat kami biasa berkumpul kalo turun ke kota), datanglah iring-iringan mobil polisi dengan pasukannya. Ada 3 kompi mobil polisi yang melintas di depan kami. Mereka semua membawa senjata yang siap ditangan. Salah seorang polisi menyilangkan tangannya di dada dengan muka pias. Aku pikir nih polisi ngapain sih.. ternyata mereka ngasih kode supaya kami jangan jalan terus, rombongan jalan kaki ini pun berhenti di depan sebuah bengkel.
Seorang bapak keluar dari bengkelnya dan bicara dengan Alga dan cowok-cowok yang jalan di depanku. Aku dengar bapak itu melarang kami melanjutkan perjaanan karena ada perang. Seorang ibu-ibu pendatang juga keluar dari toko pancing. Ibu itu dengan muka gelisah dan cemas melarang kami naik ke Napua.
“kalian mau kemana? Di sinagma ada perang ini. Kalian tidak lihatkah polisi sudah tutup jalan itu.” Kata ibu itu dengan muka pias.
“Kami mau ke Sinagma, Mama. Teman tadi su bilang di Napua Aman.” Jawab kami.
“aihh… Napua Aman, tapi kalau mau ke Napua lewat pasar sinagma, To. Disana dorang (dia orang) sedang perang itu. Mereka ratusan, bawa panah semua, bawa senapan angin juga ada. Sa (saya) kasi tau kalian e, jangan buang nyawa disini. Mereka itu tak pilih, siapa yang lewat main habisi saja itu. Mau pendatang kah, orang asli kah. Lebih baik kalian nginap di kota saja dulu, saya saja pu rumah di atas, suami suruh saya ngungsi disini dulu. Sa tra (tidak) berani naik.. anak saya libur sekolah sejak kemarin ini.  Doranag peranga kan sudah sejak hari kami to. Kalian tidak tau kah?” ceramah ibu pendatang asal makassar itu panjang lebar. Ibu itu sudah puluhan tahun tinggal di Papua. Mengikuti suaminya yang jadi PNS disini. 
Kami yang cewek mulai galau. Membayangkan ratusan orang papua yang memakai koteka, membawa panah menghadang mobil kami di pasar sinagma. Tempat mereka perang antar suku. Hampir satu jam kami berembuk di pinggir jalan itu. Mau kembali ke posko ku juga tidak mungkin, karena menuju posko ku harus melewati sungai Wouma. Disanalah kemaren ditemukan jenazah mengambang setelah perang, artinya sungai wouma di saat perang seperti ini tidak aman. Apalagi sore. Si Risma dan Jumi, yang punya posko di megapura juga pengen balik aja ke poskonya, tapi sudah sore,  tidak ada taksii (angkot). Kami makin resah gelisah. Sedangkan di Aan, Elen dan Oci (guru SM3T dari Kalimantan) tetap nekat mau ke Napua. Karna Alga selaku Ketua Rombongan (yang kami nobatkan saat itu juga) udah menghubungi kepseknya d Napua dan bilang kami bisa naik dengan aman. Jadilah Dedek, tanpa pesetujuan dari Aku, Risma dan Jumi (kelompok minoritas yang nggak berani naik) memesan sebuah mobil untuk naik ke atas. Aku dan cewek-cewek yang takut berharap semoga mobil itu tidak jadi datang. Tapi kalau tidak ke Napua, kami juga tidak tau mau tidur dimana malam itu, sedangkan sore sudah mulai menyisakan gelap.
Finally, mobil sewaan itu datang, setelah bernegoisasi harga dan supir siap untuk enembus kerumunan masa di pasar sinagma. Kami naik ke mobil dengan jantung yang berdetak tak karuan. Aku ambil posisi duduk di tengah paling belakang. Semua kaca mobil di tutup. Kamia pun berangkat dengan doa yang tak putus-putus ku ucap di mulut.
Sampai di pasar sinagma, memanga abanyak orang bersenjataa berserakan.  Tapia abaukan oranaga papua yang memakai koteka membawa panah seperti cerita yang kami dengar. Beberapa toko dan kios sudah di tutup. Polisi dan TNI dengan seragam loreng dan sejata di tangan juga berkeliara disana. Aku tidak tau lagi berapa kecepatan  jantungku ini berdetak. Handycam yang rencananya akau pegang untuk merekaama adegan perang sungguhan itu mulai bergetar. Tak ajelas lagi mengarah kemana. 
Sampai di simpang pasar, mobil kami di cegat oleh sekelompok pilisi yang berjaga-jaga disana. Polisi menanyakan tujuan kami. Setelah kami jawaab polisi itu bilang tidak bisa naaik, jalan di pasar Sinagma sedang tidak aman. Ketua rombongan mengataakan kami adalah guru-guru SM3T yang akan naik ke Napaua, polisi itu terlihat berat dan ragu-ragu. Tapai polisi lainnya menghampiri supir kami dan member solusi.
“Kalian bisa naik, tapi sampai ke pos Napua nanti kalian lapor dengan TNI yang ada di pos sana. Biar mereka kasi ama. Jalan sudah. Tidak apa-apa. tutup saja kaca mobil ini e.” katanya meberi solusi denga logat papua yang kental.
Kami melanjutkan perjalanan dengan jantung atraksi marching band. Suara degub jantungku hamper terdengar di telinga. Masing-masing kami komat-kamit membaca doa apa saja yang kami ingat. Tapi ada juga beberapa yang tetap saja melawak, mencairkan suasana.
Ketika di perjalanan, tepatnya di lapangan pasar sinagma inilah kami melihat puluhan (bukan ratusan seperti yang dikabarkan) orang papua memakai koteka, membawa panah. Tapi syukurlah mereka tidak sedang perang, melainkan sedang duduk berbaris mendngaarkan instruksi seseorang yang berdiri di depan mereka. Mungkin itu pimpinan perangnya. Supir kami bilang, mereka sedang rapat sebelum perang. Alaamaaakk….. sebelum perang ternyata rapat dulu. Gaaool…. Terus supir kami bilang, besok insyaallah kami bisa pulang dengan aman. Karena hari minggu disini adalah hari Tuhan. Kegiatan apapun d hentikan, termasuk perang. Jadi kalo hari minggu perangnya libur dulu, hari senin baru dilanjutkan kembali. O em ji…. 
Tidak lama kemudian, sampailah kami di Napua degan selamat. Betaapa leganya hati kami melihat gerbang poskonya Alga, kak Rina dan ini. Rasanya mau sujud syukur di tanah, bersyukur bisa melewati rintangan tadi.
 
Gerbang Poskonya Alga, Ochi dan Kak Rina
di belakang itu Poskonya Alga.. kumuh luarnya.. tapi dalemnya okeh banget!

Karena hari sudah sore, badan capek dan mental juga drop. Kami menunda acara jalan-jalan ke air terjun. Sore itu kami kumpul-kumpul nggak jelas aja di poskonya Alga. Paginya, barulah kami beraksi. Melihat sunset di paagi dari dari belakang rumah Alga.

sebenernya lebih indah dari yg di foto.
 
merah saga nya nggak keliatan karena cahaya camera terlalu terang
nah ini baru dapet.. tapi agak blurr.. hohoho

Dari atas gunung Napua jam 6 Pagi. dari Atas sini kita bisa lihat kota Wamena


Siangnya, barulah kami pelan naik turun gunung ke air terjun Napua. Jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki. 
perjalanan menuju Air Terjun Napua. semua ditempuh jalan kaki cyinn..
 
naik ke sini harus estafet. saling tarik biar bisa sampe ke atas

 
lewat Hutan Belantara

di tengah-tengah huta, kami ketemu tempat lapang seperti ini. foto dolloo...
 
kami ketemu sungai ini sebelum sampe. kirain ini air terjunnya. untung bukan


harus melewati kali kecil yang bikin kaki kami berbecek-becek ria

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnyyaaa sampe juga di air terjun Napua-Wamena-Jayawijaya. Ini dia penampakan air terjunnya… lumayaannn..

mereka langsung nyeburrr... aku nggak bawa celana ganti. gak berani ikut
akhirnya setelah kak Rina janji minjemin celana panjang, aku bisa nyebur dan berfosee... eaakkk
cari insprirasi
Absen dari kiri : Aidi, Jumi, Risma, Aku, Rina. semuanya SM3T Riau
si Alga (pake baju hitam) udah membeku kedinginan
Absen dari kiri searah jarum jam : I'am, aku, Aan, Tika, Rina, Aidi, Jumi, Ellen,
Risma, dan anak2 Papua. Masi banyak yg belum ikutan nih.

Setelah air terjun Napua, destinasi selanjutnya adalah air terjun Air Garam yang ada di Distrik Asotipo. Nantikan cerita dan fotonya hanya di blog tercintah ini yaaaaaa ^_^

19 September 2014

Memberantas “Angka 11”

9/19/2014 02:09:00 PM 3 Comments

Kali ini cerita lagi-lagi berasal dari distrik Asotipo, SD YPPGI HITIGIMA. Satu hal yang sangat mencolok ketika kami guru SM3T bertemu dengan anak-anak didik kami pertama kalinya di lapangan. Pemandangan yang mencolok itu dating dari wajah-wajah polos mereka yang di hiasi angka 11 yang mengalir dari hidung. Mungkin karena suhu udara di sini yang selalu dingin (berkisar antara 18- 26 derajat celcius) dan gaya hidup mereka yang jauh dari kata bersih dan sehat.
 
siapa yg tahan ngajar dengan pemandangan murid yang rata-rata begindang cyiinn....

Bertemu Mr. Fujiko, Kakek dari Jepang.

9/19/2014 01:18:00 PM 6 Comments

Ketika kami mendarat di bandara Soeta, Jakarta jam 20.30 WIB,  dan kami harus menunggu sampai jam 23.30 WIB utuk terbang ke bandara Sentani, Jayapura disinilah keahlian menghabiskan waktu agar tidak bosan menunggu dikerahkan. Dari duduk mendengar musik, sampai mencari-cari bule untuk  mengasah kemampuan English atau untuk di ajak ngobrol ngalor ngidul pake bahasaa antah berantah. hahaha

Malam itu, setelah menjama’ solat magrib dan isya, kami berfoto ria di ruang tunggu keberangkatan menuju Jayapura. Suasana Papua mulai terasa karena dinding pembatas semua ditempeli stiker bergambar orang Papua, ada foto-foto festival lembah baliem , foto-foto orang Papua berkoteka, rumah honai dan banyak lagi. Sebagian temanku menghabiskan waktu untuk tidur, sebagian lagi yang tidak tahan gadjetnya mati, sibuk mencari terminal carger, sedangakan aku duduk manis berusaha menangkap sinyal wifi. Biasa deh, maniak internet gratisan always do that.

:
dari kiri : Amak, Aam, Mas Aris, Aku, Aidi, Kak Endang, 
ada taman baca, tapi isinya majalah nggak jelas #atau aku nya yg gak ngerti

13 Juli 2014

Apa itu SM3T?

7/13/2014 03:57:00 PM 90 Comments

Semenjak aku pulang interview tadi, dan ngejadiin komennya si Dori ini jadi DP di BBM. Meluncurlah berbagai pertanyaan, baik itu di chat BBM yang bertubi-tubi (gitu deh kalo seleb), di FB dan IG yang sempat aku posting foto ini
Sebelum interview. Follow ig aku @risah_icha ya. Haha
Oleh karena itu,ada baiknya aku jawab pertanyaan yang bertubi-tubi dan membabi buta itu di postingan ini. Jadi nanti kalau ada yang tanya-tanya lagi, aku tinggal sodorin link postingan ini. Sekalian promo blog. Muehehe

Apa itu SM3T?
SM3T adalah singkatan dari Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Dari namanya aja udah kebayang kan? Sarjana bakal ngajar di daerah-daerah termarginal di Indonesia. Daerah yang bahkan listrik aja nggak ada, daerah yang semua penduduk nya buta huruf, daerah yang nggak berilmu pengetahuan, taunya perang doang angkat senjata. Di daerah-daerah seperti itulah peserta SM3T di tempatkan. Contohnya Aceh, Papua, NTT, Natuna dll.

Tagline program yang di taja DIKTI ini adalah “Maju Bersama mencerdaskan Indonesia”. Jadi Dirjen Kementrian Pendidikan bekerja sama dengan DIKTI dan 17 LPTK Se Indonesia untuk membantu daerah 3T supaya bisa maju bersama. Jangan ada lagi daerah yang tertinggal dan hidup dalam kebodohan. 17 LPTK yang di tunjuk bertugas menyeleksi sarjana-sarjana kependidikan yang baru lulus 3 tahun terakhir, utnuk dberangkatkan ke daerah 3T dan mengabdi disana selama 1 tahun.

Apa keuntungan ikut sm3T?
SM3T ini hampir sama keadaanya kayak KKN atau yang sekarang di kenal dengan KUKERTA (Kuliah Kerja nyata). Bedanya kalau KKN kita harus bisa survive sendiri, biaya keluar dari dompet orangtua sendiri, cari tempat tinggal sendiri, dll. Sedangkan program SM3T ini di kelola oleh pemerintah,  jadi semuanya disediakan oleh pemerintah,  mulai dari biaya transport PP ke lokasi,  tempat tinggal / posko sampai ke bahan makanan pokok, seperti beras. Dan tentu saja ada bonus nya berupa uang gaji. Kalau menurut aku uang gajinya cukup besar, cukuplah buat traktir temen makan bakso, sisanya buat beli rumah. Hehehe. Tapi besar kecilnya gaji kan relative, ada yang bilang satu juta/bulan itu udah gede kok, ada juga yang gajinya 40 juta/ bulan tapi masih merasa kurang, jadi nggak bakal aku sebutin disini. Hehe
Selain ada bonusnya, setelah satu tahun ikut SM3T kita juga bakal otomatis mendapatkan beasiswa kuliah PPG (Pendidikan Profesi Guru). Kuliah PPG ini selama 1 tahun juga lamanya dan biayanya tidak sedikit, belasan juta persemester. Jadi sangat beruntung kalau bisa mendapatkan beasiswa kuliah PPG.

PPG itu apa?
PPG itu adalah program dari Kementrian Pendidikan untuk mempersiapkan lulusan  S-1 Kependidikan dan S-1 / D-IV Non Kependidikan agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan (Permendiknas No. 8 Tahun 2009 tentang PPG)
Nah lulus dari PPG, maka kita mendapatkan sertifikat PPG, yang nilainya sama dengan sertifikat PLPG guru yang sertifikasi, dengan sertifikat PPG itu, kita akan di prioritaskan menjadi Pegawai Negri Sipil dan bisa langsung ikut sertifikasi guru setelah satu tahun bertugas mengajar. Enak? Enak bangeeettt…. Cepet kayaa nih kalau jalannya mulus. Hahaha

Kenapa harus kuliah PPG?
Karena kabarnya, beberapa tahun ke depan, setiap guru harus mengikuti kuliah Profesi Guru dulu, barulah dinyatakan layak bertugas mengajar.  Kemendikbud akan membuka kelas kuliah Profesi ini tahun depan. Tapi yang namanya rencana ada yang berjalan dan ada yang nongkrong di tempat, alias cum sekadar wacana. Kita sebagai rakyat Cuma bisa menjalankan .
Buat yang berada di bidang selain FKIP, mungkin agak bingung dengan penjelasan ala aku ini. Kalau masih kepo alias penasaran apa itu SM3T, PPG, PLPG dan sertifikasi guru, silahkan main-main ke rumah mbah google. muehehhe
artikel tentang PPG:

Sekarang pertanyaannya, apakah aku ikut jadi peserta SM3T?
jawabannya YA.
Bagaimana ceritanya? Bagaimana proses pendaftarannya? Apakah orangtua mengizinkan?  Apakah aku akan mengajar dan mengabdi di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal? Apakah aku siap diberangkatkan ke Papua? Apakah aku akan bertahan?? Apa saja suka dan duka mengikuti program SM3T?
Semua jawaban ada di postingan selanjutnya.
Stay tune terus di blog ini yaaaaaa ^_^