Tampilkan postingan dengan label WAMENA-PAPUA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAMENA-PAPUA. Tampilkan semua postingan

16 Juni 2015

Ibu Guru Jangan Pulang Ke Riau

6/16/2015 07:37:00 PM 13 Comments

Udara dingin masih setia menemani, gunung-gunung yang mengelilingi lembah baliem masi tertutup awan. Burung-burung berkicau seolah mengatakan kegembiraan. Hari ini adalah babak baru bagi murid-muridku di SD YPPGI Hitigima, distrik Asotipo. Karena hari ini adalah hari pertama di semester II. Saatnya lebih giat belajar dan lebih rajin datang ke sekolah agar bisa terbebas dari  predikat “Tahan kelas” dan bisa duduk dibangku kelas IV.

Pagi itu dipelajaran Bahasa Indonesia aku ajak anak-anak bermain Lompat kata.  Beberapa anak berdiri di depan kelas, sedangkan aku akan membacakan satu kalimat. Setiap kata yang di awali huruf kapital di dalam kalimat itu, anak-anak harus lompat. Misalanya ada nama orang, nama kota dan  nama hari di dalam kalimat yang aku bacakan, maka anak-anak harus lompat tiga kali. Barangsiapa yang tidak menyimak, maka akan tertinggal dan di anggap kalah.

19 Desember 2014

Ketika Guru Jadi Backpaker. Part #2

12/19/2014 04:42:00 AM 16 Comments
Air Terjun Air Garam
#Intro
Sebenernya perjalanan ke air garam ini udah lama banget. Sekitar awal oktober yang lalu. Tapi nggak afdol kalo nggak di ceritain di blog ter cintah ini. Ibarat sayur tanpa garam. (apa hunungannya) Jadi wajib gue certain di blog ini. Muehehe.

Air terjun yang akan kami kunjungi kali ini terletak di Desa Air Garam, Distrik Asotipo, Wamena, Kab. Jayawijaya. Provinsi Papua. Kalo kamu liat di peta. Nggak bakal ada desa air garam. Karna letaknya paling ujung di distrik asotipo. Nggak ada listrik, sinyal, dan sulit air. Di desa inilah 2 guru asal Riau dan Kalimantan mengabdi untuk anak negeri. Kepala desa air garam yang antusias banget dengan kedatangan 2 cowok ini langsung merelakan rumahnya untuk di tempati, sedangkan beliau sendiri rela tinggal di Honai (rumah adat papua).

Sayangnya, meski sudah di berikan rumah, si Aidi yang berasal satu kampus denganku itu tidak bisa tinggal di rumah yang sudah di sediakan persis di depan sekolah. Darwin yang datang dari UNMUL (Universitas Mulawarman, Samarinda) pun sependapat. Bahkan gosip yang beredar di antara SM3T Wamena, di awal kedatangan mereka di desa air garam. Darwin sempat menangis sambil menelpon orangtuanya hihihi.. siapa yang tidak menangis membayangkan bakal tinggal di rumah yang jauh terpisah dari rumah penduduk, tidak ada listrik, tidak ada sinyal dan tidak ada air. WC untuk membuang hajat pun tidak ada.  Wajarlah Darwin menangisi nasibnya untuk satu tahun ke depan.

Sorenya mereka turun gunung menuju Hitigima. Desa tempat tugasku mengajar. Perjalanan sekitar 1 jam jalan kaki (nggak ada transport selain jalan kaki disini). Mereka membawa laptop dan gadget lainnya untuk di cas di rumahku yang alhadulillah ala kulli hal ya Allah. Rumahku ada listriknya 24 jam. Sore itu mereka curhat. Sore di hari pertama di tempat kami mengabdi, sore ketika aku berteriak kegirangan melihat aidi datang dari atas gunung. Sore setelah air mata pertama ku di Papua.

Malam itu kami atur strategi, plan A nya Darwin dan Aidi bakal tinggal serumah dengan aku. Dan mereka akan bolak-balik jalan kaki ke sekolah. Karena mereka nggak cukup tahan untuk tinggal di atas (air garam) tanpa listrik, sinyal dan tidak ada yang bisa menjamin keamanan mereka karena rumah yang jauh terpisah dari rumah penduduk. Pasti udah pada tau gimana kondisi keamanan papua yang rawan terjadi kejahatan itu.
Ternyata, setelah di telpon, teman kami satu distrik asotipo yang hari ini juga sampai di Desa Sogokmo tidak beda jauh nasibnya dengan Air Garam. Rumah mereka ada di dalam lingkungan sekolah, tidak ada air, tidak ada listrik, kesulitan sinyal, tapi WC masih ada, menggunakan WC sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Ketika di telpon, suara muti  yang putus-putus menandakan mereka ketakutan tinggal rumah yang jauh dari keramaian. Dengan gagah berani, akhirnya Darwin dan Aidi malam itu juga menjemput Fauzan Azimah alias Aan dan Muti yang ada di sogokmo. Malam-malam jalan kaki sekitar1 jam dengan berbekal senter. Aku menahan napas khawatir menunggu mereka dirumah. Untunglah mereka selamat sampai dirumahku. Dengan membawa barang-barang berharganya dan sleeping bed, Aan yang alumni Biologi di UR dan Muti yang berasal dari UNMUL itu bercerita  tentang poskonya. Ternyata dari 3 posko di distrik asotipo. Posko akulah yang paling layak huni. Dirumahku ada 2 kamar, ruang tamu, ruang tengah, dapur mini, dan dilengkapi dengan listrik 24 jam. Sinyal bagus (bahkan bisa buka FB sesekali), dan ada WC di dalam rumah. Air memang agak sulit karna harus angkut jauh, tapi untuk hari pertama iitu pak Wetipo sudah menyedakan banyak air di kamar mandi untuk kebutuhan kami. Thanks God!
hari pertama hidup di Papua. masa-masa si Aidi dan Darwin masi jadi anak terlantar :D
awal -awal hidup di papua


06 November 2014

Ketika Guru Jadi Backpacker #Air Terjun Napua

11/06/2014 05:05:00 AM 14 Comments




Dulu, sebelum pernah ngebayangin bakal terdampar di papua, aku pengen banget jadi backpacker. Karna apalagi kalo bukan karena baca-baca blog temen-temen yang tiap abis weekend postingan blog nya pasti jalan-jalan mulu. Sebut saja blog nya kak Lina. Tiap ngebaca tu rasanya pengen garuk-garuk keyboard laptop saking ngirinya liat foto-foto di blognya. Naik gunung rame-rame dengan ransel berat serba lengkap di gedong di punggung. Jalan kaki ratusan meter, naik turun bukit yang terjal, nginep di hutan pake tenda, wuaaahh… Keren banget kayaknya. Bukan kayaknya, emang keren banget!

Begitulah hasrat aku untuk jadi backpacker yang selama aku tinggal di Pekanbaru belum pernah kesampean. Tapi siapa sangka, Mimpi aja aku nggak pernah bakalan tinggal di Papua! Demi apa aku tinggal sama orang-orang yang nggak malu jalan telanjang d tengah kota Cuma pake koteka doang. Demi apa sodaraaa…. Ngimpi juga nggak pernah! Aku emang pernah kepengen ikut SM3T, rencana ini ada di dalam list PLAN B aku dan temen-temen setahunyang lalu. Bahkan rencana itu juga aku abadikan di postingan blog yanag ini. Eehh.. siapa sangka sodaraa… aku beneran ikut SM3T, dan terdampar di Papua lagi… paling pojoknya Indonesia… mamake tolooooongggg….. 

Tapi begitu turun dari pesawat Garuda yang udah mengombang ambingkan aku di udara selama 5 jam, perasaan nyesel, takut, pengen pulang, semua itu runtuh waktu aku liat pemandangan kota Wamena. Ibukota provinsi Jayawijaya. Yang kata orang, kalo belum ke Wamena, belum ke Papua cuy..

Disini terhampar bukit berbaris-baris. Gunung dimana-mana. Mengelilingi kota. Eh tapi sampe sekarang aku masih bingung deh, yang mana bukit yang mana gunung. Sama aja bentuknya. Kemana mata memandang di kota Wamena ini, semuanya gunung dan bukit. Kota yang ada di tengah-tengah gunung. Makanya nggak ada akses jalan darat untuk bisa sampe kesini, soalnya nggak ada jalan yang rata. Karena bisanya naik pesawat doang, harga-harga disini luar biasa mahalnya, karna semuanya di angkut pake pesawat. Babi tetangga aku aja pernah naik pesaawat dari jayapura ke wamena. Aku pikir Apa nggak di bom aja ya salah satu gunungnya biar ada akses darat, dan harga nggak melampung setinggi langit kayak gini. Makan nasi padang aja kena 50k cyinn..

Oke, ini udah keana-mana ceritanya… back to backpacker..

Jadi ceritanya waktu nyampe di Papua, aku langsung laper mata. Pengen jalan-jalan kesana kesini. Weekend Minggu pertama aku masi ngintilin si Hotma nginep di rumah nangborunya (Tante) sesama orang batak satu marga. Keluarga ini tinggal di kotaa. Kami di servis abis disana, makan enak, tidur pake selimut tebal, nonton tv dll. Hahaa.. minggu ke dua aku dirumah, ngebikin kue ulangtahun dari nasi goreng untuk partner seperjuangan aku yang waktu itu lagi ultah. Baca aja ceritanya DIPOSTINGAN HAPPY BIRTHDAY HOTMA.

Pertaruhan nyawa menuju air terjun Napua

Nah, minggu ketiga ada d Wamena. Aku dan rombongan temen-temen SM3T dari Riau, jalan-jalan ke Napua.  Sedangkan si Hotma memilih nginap di rumah tantnya, karena kata tantenya daerah menuju Napua nggak aman. Disana ada posko temen SM3T juga, dan ada air terjunnya. Berangkatlah kami guru-guru yang super nekat ini ke Napua dengan menyewa mobil sejenis superben. Nggak semua temen2 rombongan Riau yang ikut ke Napua. Hanya 13  orang-orang nekat yang ikut pergi. Kenapa? Karna hari kami berangkat itu sedang ada perang antar suku. Ya, papua kan emang hobinya suka perang suku gitu..
Sebelum berangkat, Alga, temen SM3T yang bertugas di Napua udah bertanya sana-sini, dan udah mastikan kalo perang antar suku yang berlangsung sejak hari jumat itu sudah selesai (hari kami berangkat adalah sabtu). Kami pun siap berangkat. 
Waktu jalan kaki keluar dari SD YPK Betlehem Wamena (posko tempat kami biasa berkumpul kalo turun ke kota), datanglah iring-iringan mobil polisi dengan pasukannya. Ada 3 kompi mobil polisi yang melintas di depan kami. Mereka semua membawa senjata yang siap ditangan. Salah seorang polisi menyilangkan tangannya di dada dengan muka pias. Aku pikir nih polisi ngapain sih.. ternyata mereka ngasih kode supaya kami jangan jalan terus, rombongan jalan kaki ini pun berhenti di depan sebuah bengkel.
Seorang bapak keluar dari bengkelnya dan bicara dengan Alga dan cowok-cowok yang jalan di depanku. Aku dengar bapak itu melarang kami melanjutkan perjaanan karena ada perang. Seorang ibu-ibu pendatang juga keluar dari toko pancing. Ibu itu dengan muka gelisah dan cemas melarang kami naik ke Napua.
“kalian mau kemana? Di sinagma ada perang ini. Kalian tidak lihatkah polisi sudah tutup jalan itu.” Kata ibu itu dengan muka pias.
“Kami mau ke Sinagma, Mama. Teman tadi su bilang di Napua Aman.” Jawab kami.
“aihh… Napua Aman, tapi kalau mau ke Napua lewat pasar sinagma, To. Disana dorang (dia orang) sedang perang itu. Mereka ratusan, bawa panah semua, bawa senapan angin juga ada. Sa (saya) kasi tau kalian e, jangan buang nyawa disini. Mereka itu tak pilih, siapa yang lewat main habisi saja itu. Mau pendatang kah, orang asli kah. Lebih baik kalian nginap di kota saja dulu, saya saja pu rumah di atas, suami suruh saya ngungsi disini dulu. Sa tra (tidak) berani naik.. anak saya libur sekolah sejak kemarin ini.  Doranag peranga kan sudah sejak hari kami to. Kalian tidak tau kah?” ceramah ibu pendatang asal makassar itu panjang lebar. Ibu itu sudah puluhan tahun tinggal di Papua. Mengikuti suaminya yang jadi PNS disini. 
Kami yang cewek mulai galau. Membayangkan ratusan orang papua yang memakai koteka, membawa panah menghadang mobil kami di pasar sinagma. Tempat mereka perang antar suku. Hampir satu jam kami berembuk di pinggir jalan itu. Mau kembali ke posko ku juga tidak mungkin, karena menuju posko ku harus melewati sungai Wouma. Disanalah kemaren ditemukan jenazah mengambang setelah perang, artinya sungai wouma di saat perang seperti ini tidak aman. Apalagi sore. Si Risma dan Jumi, yang punya posko di megapura juga pengen balik aja ke poskonya, tapi sudah sore,  tidak ada taksii (angkot). Kami makin resah gelisah. Sedangkan di Aan, Elen dan Oci (guru SM3T dari Kalimantan) tetap nekat mau ke Napua. Karna Alga selaku Ketua Rombongan (yang kami nobatkan saat itu juga) udah menghubungi kepseknya d Napua dan bilang kami bisa naik dengan aman. Jadilah Dedek, tanpa pesetujuan dari Aku, Risma dan Jumi (kelompok minoritas yang nggak berani naik) memesan sebuah mobil untuk naik ke atas. Aku dan cewek-cewek yang takut berharap semoga mobil itu tidak jadi datang. Tapi kalau tidak ke Napua, kami juga tidak tau mau tidur dimana malam itu, sedangkan sore sudah mulai menyisakan gelap.
Finally, mobil sewaan itu datang, setelah bernegoisasi harga dan supir siap untuk enembus kerumunan masa di pasar sinagma. Kami naik ke mobil dengan jantung yang berdetak tak karuan. Aku ambil posisi duduk di tengah paling belakang. Semua kaca mobil di tutup. Kamia pun berangkat dengan doa yang tak putus-putus ku ucap di mulut.
Sampai di pasar sinagma, memanga abanyak orang bersenjataa berserakan.  Tapia abaukan oranaga papua yang memakai koteka membawa panah seperti cerita yang kami dengar. Beberapa toko dan kios sudah di tutup. Polisi dan TNI dengan seragam loreng dan sejata di tangan juga berkeliara disana. Aku tidak tau lagi berapa kecepatan  jantungku ini berdetak. Handycam yang rencananya akau pegang untuk merekaama adegan perang sungguhan itu mulai bergetar. Tak ajelas lagi mengarah kemana. 
Sampai di simpang pasar, mobil kami di cegat oleh sekelompok pilisi yang berjaga-jaga disana. Polisi menanyakan tujuan kami. Setelah kami jawaab polisi itu bilang tidak bisa naaik, jalan di pasar Sinagma sedang tidak aman. Ketua rombongan mengataakan kami adalah guru-guru SM3T yang akan naik ke Napaua, polisi itu terlihat berat dan ragu-ragu. Tapai polisi lainnya menghampiri supir kami dan member solusi.
“Kalian bisa naik, tapi sampai ke pos Napua nanti kalian lapor dengan TNI yang ada di pos sana. Biar mereka kasi ama. Jalan sudah. Tidak apa-apa. tutup saja kaca mobil ini e.” katanya meberi solusi denga logat papua yang kental.
Kami melanjutkan perjalanan dengan jantung atraksi marching band. Suara degub jantungku hamper terdengar di telinga. Masing-masing kami komat-kamit membaca doa apa saja yang kami ingat. Tapi ada juga beberapa yang tetap saja melawak, mencairkan suasana.
Ketika di perjalanan, tepatnya di lapangan pasar sinagma inilah kami melihat puluhan (bukan ratusan seperti yang dikabarkan) orang papua memakai koteka, membawa panah. Tapi syukurlah mereka tidak sedang perang, melainkan sedang duduk berbaris mendngaarkan instruksi seseorang yang berdiri di depan mereka. Mungkin itu pimpinan perangnya. Supir kami bilang, mereka sedang rapat sebelum perang. Alaamaaakk….. sebelum perang ternyata rapat dulu. Gaaool…. Terus supir kami bilang, besok insyaallah kami bisa pulang dengan aman. Karena hari minggu disini adalah hari Tuhan. Kegiatan apapun d hentikan, termasuk perang. Jadi kalo hari minggu perangnya libur dulu, hari senin baru dilanjutkan kembali. O em ji…. 
Tidak lama kemudian, sampailah kami di Napua degan selamat. Betaapa leganya hati kami melihat gerbang poskonya Alga, kak Rina dan ini. Rasanya mau sujud syukur di tanah, bersyukur bisa melewati rintangan tadi.
 
Gerbang Poskonya Alga, Ochi dan Kak Rina
di belakang itu Poskonya Alga.. kumuh luarnya.. tapi dalemnya okeh banget!

Karena hari sudah sore, badan capek dan mental juga drop. Kami menunda acara jalan-jalan ke air terjun. Sore itu kami kumpul-kumpul nggak jelas aja di poskonya Alga. Paginya, barulah kami beraksi. Melihat sunset di paagi dari dari belakang rumah Alga.

sebenernya lebih indah dari yg di foto.
 
merah saga nya nggak keliatan karena cahaya camera terlalu terang
nah ini baru dapet.. tapi agak blurr.. hohoho

Dari atas gunung Napua jam 6 Pagi. dari Atas sini kita bisa lihat kota Wamena


Siangnya, barulah kami pelan naik turun gunung ke air terjun Napua. Jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki. 
perjalanan menuju Air Terjun Napua. semua ditempuh jalan kaki cyinn..
 
naik ke sini harus estafet. saling tarik biar bisa sampe ke atas

 
lewat Hutan Belantara

di tengah-tengah huta, kami ketemu tempat lapang seperti ini. foto dolloo...
 
kami ketemu sungai ini sebelum sampe. kirain ini air terjunnya. untung bukan


harus melewati kali kecil yang bikin kaki kami berbecek-becek ria

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnyyaaa sampe juga di air terjun Napua-Wamena-Jayawijaya. Ini dia penampakan air terjunnya… lumayaannn..

mereka langsung nyeburrr... aku nggak bawa celana ganti. gak berani ikut
akhirnya setelah kak Rina janji minjemin celana panjang, aku bisa nyebur dan berfosee... eaakkk
cari insprirasi
Absen dari kiri : Aidi, Jumi, Risma, Aku, Rina. semuanya SM3T Riau
si Alga (pake baju hitam) udah membeku kedinginan
Absen dari kiri searah jarum jam : I'am, aku, Aan, Tika, Rina, Aidi, Jumi, Ellen,
Risma, dan anak2 Papua. Masi banyak yg belum ikutan nih.

Setelah air terjun Napua, destinasi selanjutnya adalah air terjun Air Garam yang ada di Distrik Asotipo. Nantikan cerita dan fotonya hanya di blog tercintah ini yaaaaaa ^_^

Keluarga Baru [live in papua part #2]

11/06/2014 03:09:00 AM 3 Comments

Haaallloo pembaca setia blog gaje ini. Ketemu lagi dengan cerita dari papua #kibas poni

Nggak kerasa udah 2 bulan tinggal di Papua, Alhamdulillah atas doa orangtua, saudara,kerabat dan kalian semua, aku disini masih bisa menghirup udara segar pegunungan, dan masih  bisa ngetik untuk mengisi blog tercintah. Juga untuk mengobati kerinduan sahabat semua #kibas jilbab

Kata kakak-kakak alumni yang SM3T Di papua sebelunya. Penempatan kita tergantung amal ibadah kita selama di Riau. Hahaha.. naik haji keless.. kak Juniar dan Kak Vita, alumni SM3T angkatan III yang bertugas di Lanny Jaya (daerah konflik di Papua, tempat nongrongnya OPM) mereka bilang, bukan hanya tempat tugas yang untung-untungan. Gaji dan honor juga beda-beda. Ada daerah yang memberikan tunjangan besar, bahkan sampai 7 juta perbulan. Ada juga yang sama sekali tidak memberikan tunjangan, dilirik juga kagak. Jadi guru SM3T yang bertugas hanya mendapatkan gaji pokok dari DIKTI Sebesar 2,5 juta perbulan. Kalau di hitung berdasarkan harga barang disini yang kadang bisa sampai 10 kali lipat dari harga Sumatra, 2,5 juta tidak ada artinya. Hidup pas-pasan.

Jadi selama sebelum berangkat, terhitung setelah dinyatakan lulus wawancara sampai detik-detik berangkat, aku selalu berdoa : “Ya Allah, berikanlah aku tempat tugas terbaik dan teman sekelompok yang baik”. Udah gitu doang. Aku lupa minta gaji yang besar. Karena menurutku tempat terbaik itu sudah mencakup semuanya. Kalau tempat tugasku punya Sekda yang baik, kepala Dinas Pendidikan yang perhatian, Kepala Sekolah yang mau bekerja sama, dan guru-guru yang care, aku kira semua pasti akan baik-baik saja.

Alhamdulillahirobbil ‘alamin ala kulli hal. Allah kasi aku rumah yang nyaman, dan teman sekelompok yang baiknya luar biasa. Allah maha mendengar do’a hambanya. Selain punya teman serumah yang baik, Allah juga kasi aku bodyguard gratis sebagai satpam kami 24 jam. Nikmat Allah yang  manakah yang engkau dustakan.?

 Pasti pada penasaran kan.. here we goes.. Aku  kenalkan satu persatu, siapa aja orang-orang yang ada di sekitarku. Yang akan menjadi keluargaku di Papua selama satu tahun ke depan.

20 September 2014

Guru SM3T Di Pelosok Wamena Kampanyekan Gaya Hidup Sehat

9/20/2014 04:09:00 AM 1 Comments

Kebiasaan hidup tidak sehat siswa siswi SD YPPGI Hitigima, Distrik Asotipo, kota Wamena membuat dua guru muda yang tergabung dalam Program SM3T ini risau. Bagaimana tidak, pemandangan “Angka 11” yang terus saja mengalir tiada henti dari hidung anak didik. Bahkan cairan kental itu sampai mengering karena dibiarkan begitu saja. Kadang-kadang kalau nasib ingusnya mujur, cairan itu kembali masuk ke mulut anak-anak  berkat jilatannya. Jijik? Tentu saja. Bahkan hari pertama pemandangan ini tak pelak memancing isi perut dua guru muda itu keluar. Habislah nasi sarapan pagi dmuntahkan.

Belum lagi kaki-kaki mereka yang tidak pernah menggunakan sandal apalagi sepatu. Kaki itu menginjak lumpur sejak 2 hari yang lalu tidak dicuci, lumpur dan tanah itupun mengering di kaki mereka. Dengan kaki kotor itulah mereka berangkat ke sekolah. Ditambah lagi bau badan yang entah berapa lama tidak menyentuh air, rambut yang bau karena tidak mengenal shampoo dan baju seragam yang sudah berubah waarna menjadi coklat. Bisa dibayangkan baunya sangat menyengat hidung.

Dengan latar belakang masalah itulah dua guru asal Riau dan Kalimantan ini mengadakan kampanye hidup sehat untuk peserta didiknya. Dengan modal uang pribadi, mereka turun ke kota membeli sekitar 180 sikat gigi, odol dan sabun cair untuk cuci muka.

Selasa (09/09), Tepat pukul 11.00 WIT anak-anak sudah berbaris di lapangan. Sejak hari jum’at yang lalu guru sudah mensosialisasikan bahwa hari selasa akan ada kampanye hidup sehat, jadi antusias anak-anak sangat tingggi untuk bisa mendapatkan sikat gigi gratis, yag biasanya jarang hadir, hari itu hadir semua.
Setelah diberi motivasi hidup bersih dan manfaat hidup sehat oleh salah satu guru muda dari Riau yang biasa di panggil ibu guru Risa, anak-anak juga melihat demonstrasi cara menyikat gigi yang benar, cara mandi, cuci tangan dan lainnya dari ibu guru Hotma, guru SM3T asal Kalimantan.  Setelah mendengarkan pengarahan, barulah anak-anak membentuk lingkaran untuk memulai sikat gigi bersama.



tukang foto         : Arfan, asal Universitas Mulawarman, Kalimantan
tukang peraga     : Hotma, Asal  Universitas Mulawarman, Kalimantan
tukang ngomong : Risah

Sikat Gigi Bersama
Setelah guru membagikan sikat gigi, anak-anak menerima odol yang langsung di oleskan Ibu Guru ke sikat gigi yang sudah di pegang anak-anak. Setelah di pastikan semua mendapatkan odol, ibu Hotma, Ibu guru Risa dan di bantu guru-guru SM3T dari distrik Air Garam dan Asolokobal ikut memperagakan cara menyikat gigi yang benar di depan murid-murid.


Sebelumnya guru juga sudah menginstruksikan kepada anak-anak untuk membawa gelas dari rumah, sedangkan air disediakan di sekolah.

Cuci Muka Bersama
Acara gosok gigi selesai, agenda berlanjut ke cuci muka bersama. Kembali guru harus berkeliling untuk membagikan sabun cair kepada siswa-siswi SD YPPGI Hitigima dari kelas I-VI yang sudah tidak sabar.
Berbagai celetukan murid terdengar, seperti “sabunnya harum”, atau “Bu Guru, tambah lagi sabun punyaku boleh”, dan berbagai komentar lainnya. Ibu guru Hotma mulai mendemonstrasikan cuci muka menggunakan sabun. Beberapa detik kemudian hebohlah lapangan dengan wajah murid-murid yang penuh busa.
Hotmauli Gultom, SM3T asal Kalimantan dan siswanya
Gosokk teroooss... :D
Setelah sikat gigi dan cuci muka bersama, terlihatlah wajah-wajah segar dari siswa, senyum-senyum dengan gigi putih bersih. Dan keceriaan mereka mendapatakan sikat gigi baru. Selanjutnya Ibu Risa berdiri di tengah lapangan dan  menyimpulkan kegiatan hari ini. Anak- anak dengan antusias menjawaab pertanyaan-pertanyaan dari ibu guru, dan membuat janji akan menerapkan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari kedepannya. 
 
guru SM3T, Kepala Sekolah SD YPPGI Hitigima dan anak-anak yang ceria
setelah sikat gigi bersama. "kita orang su pu sikat gigi gratis dari ibu guru"

 

BERSIH….. YES!!!
KOTOR….. NO….!!!

#Terimakasih kepada :
1.      Kepala sekolah SD YPPGI Hitigima, Pak Pilemon Asso
2.      Guru-guru yang membantu menyukseskan acara ini, Bapak Yoel Wetipo, S.Pd.k, dan Bapak Yan Asso
3.      Guru-guru SM3T, Pak Darwin S.Pd (Kalimantan) dan Pak Marsidi S.Pd (Riau) dari Desa Air garam distrik Asotipo, dan Bapak Arfan S.Pd (Kalimantan) dari desa Megapura distrik Asolokobal.

*****Sekian, Semoga bermanfaat*****





19 September 2014

Memberantas “Angka 11”

9/19/2014 02:09:00 PM 3 Comments

Kali ini cerita lagi-lagi berasal dari distrik Asotipo, SD YPPGI HITIGIMA. Satu hal yang sangat mencolok ketika kami guru SM3T bertemu dengan anak-anak didik kami pertama kalinya di lapangan. Pemandangan yang mencolok itu dating dari wajah-wajah polos mereka yang di hiasi angka 11 yang mengalir dari hidung. Mungkin karena suhu udara di sini yang selalu dingin (berkisar antara 18- 26 derajat celcius) dan gaya hidup mereka yang jauh dari kata bersih dan sehat.
 
siapa yg tahan ngajar dengan pemandangan murid yang rata-rata begindang cyiinn....

01 September 2014

Air Mata Pertama (dan terakhir)

9/01/2014 02:00:00 PM 11 Comments

Exited, itulah perasaan yang bisa aku katakan ketika kami mulai keluar dari pusat kota wamena, menuju distrik-distrik yang sudah mulai jauh dari peradaban kota. Bus dari Dinas perhubungan mengantarkan rombongan kami memasuki kawasan pegunungan dan bukit. Kemana mata memandang hanya gunung, perkebunan dan beberapa onai yang terlihat. Suasana pengabdian mulai terasa

Bus mulai menurunkan penumpangnya satu persatu. Ada yang disambut sekolah yang kosong, ada yang disambut dengan wam (Babi) yang sedang merumput di halaman sekolah, ada juga yang beruntung di sambut semua murid di lapangan sekolah. Begitu bus kami memasuki gerbang sekolah, calon murid nya Aris (salah satu peserta SM3T dari Riau) langsung bersorak gembira menyambut kedatangan guru barunya. Senanganya mas Ariss… aku yang masih harus melanjutkan perjalanan tercengang melihat betapa sumringah senyum anak-anak ini menyambut gurunya. Di hiasi angka 11 yang mengalir indah dari hidung mereka. Ahahaha

Memasuki distrik Asotipo, aku makin berdebar, bukan rasa takut, bukan. Aku hanya terlalu exited dan tidak sabar melihat seperti apa calon murid-muridku nanti. Seperti apa tempat tinggalku selama satu tahun ke depan. Aku benar-benar tidak sabar melihatnya.


Bus mulai menanjak kaki gunung, tidak jauh dari SD sebelumnya, sampailah kami di SD YPPGI HITIGIMA. Disinilah aku akan mengabdi seama satu tahun ke depan. Bus menurunkan penumpang, bapak supir yang orang batak sudah 5 tahun tinggal di Paua ikut membantu menurunkan barang, juga bapak pengawas pendidikan rayon Asotipo ikut membantu kami menurunkan barang kami yang luar biasa banyak.


Aku dan Hotma (peserta SM3T asal Kalimantan) turun dari bus dengan memasang senyum yang tak habis-habis. Ku lihat sekilas beberapa calon muridku yang keluar dari kelas mengerubungi pagar sekolah ingin melihat guru barunya. Mereka berloncatan dan berpelukan kegirangan. Ya Allah, inikah calon murid-muridku?

Walauapun gurunya sudah berkalia-kali menyuruh mereka kembali ke kelas (karena saat kami datang masih dalam keadaan belajar), tapi mereka seperti menutup telinga. Semua sibuk membantu mengangkat barang kami, dan beberapa berusaha menyalami kami dengan malu-malu. Bahkan ada anak kecil yang ku taksir kelas 1 atau 2 SD, berusaha membaawakan ransel ku yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Kelapa sekolah yang saat itu juga turut menyambut kedatangn kami langsung mengambil alih tas itu. Ah anak-anak anak ini…


Bagai kerbau yang di cucuk hidungnyaa,kami langung di giring ke rumah yang bertuliskan RUANG PERPUSTAKAAN, tapi tak kulihat satu bukupun disitu. Ternyata rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal guru SM3T sebelumnya, kamar yang bertuliskan RUANG UKS dijadikan tempat tidur, dengan kasur yang harusnya adalah matras olahraga. Di ruangan ini cukup lengkap, ada lemarai 2 pintu, rak-rak (yang mungkin di niatkan untuk rak  buku), kompor, meja belajar, dan alat-alat daput yang cuku lengkap untuk dua orang.

Istri kepala sekolah sekaligus guru kelas 1 dan 2 datang bersalaman dan menciumi tangan kami. Begitu muliakah guru disini? Sampai seorang aibu beranak 5 harus dating tergopoh-gopoh dengan perutnya yang  sedang hamil besar mencium tanan kami anak gadis yanga merantau ini.

Barang pun di pindahkan ke rumah sebelah, rumah ini terbuat dari setengah batu dan beratap seng. Lantai ubin yang dilapisi karpet plastik. di dalam rumah juga sudah ada WC. Jadi Sudah sangat layak, aku bersyukur bisa tinggal di rumah seperti ini.

Kamar kami ternyata sudah di persiapkan, dengan gorden pink dan karpet pink. Betapa bersyukurnya aku.. langsung saja aku berterimakasih dan menyalami pak Yoel Wetipo S.Pd.k Yang aakn menjadi teman serumah kami setahun ke depan.

Dari jendela kamar kami, aku melihat barisan gunung dan perkebunan yang rapi. Disinilah air mataku meledak. Sudah berbaga macam cara aku ingin menahan, dari pura-pura mengaajak ngobrol si Hotma yanag sedang bongkar muat barang, sampai menghidupkan music dari HP ku, tapi tetap saja dua anak sungai itu mengalir dengan lincah melalui sela-sela kornea mata.


karena kamar kami cukup penuh dengan barang (padahal Cuma berdua,  barangnya hampir memenuhi isi kamar), aku persilahkan Hotma duluan yang bongkar koper dan perlengkapannya. Sedangkan aku menikati indahnya hamparan ciptaan tuhan yang ada di depan mata, aku duduk di pintu jendela dan air mata yang tak dapat ku tahan lagi menetes satu persatu…

entahlah.. entah atas perasaan apa aku harus menangis.  Entah rasa takut mulai menggelut, entah rasa rindu yang tiba-tiba muncul karena haru. Beru menyadari betapa jauhnya jarak antara aku dan orangatua ku. Betapa jauhnya jarak yang harus di tempuh ketika aku rindu masakan ummiku. Aku baru saja sadar, rasa nekatku telalu besar ketika memilih ikut program ini. Rasa penasaranku terlampau kuat untuk memijakkan kaki di tanah papua ini, tanpa memikirkan resiko jauh dari keluarga dan rasa kesepian yang saat ini sedang menjalari seluruh hatiku.

 Aku yang biasanya hidup dengan hiruk pikuk kota, dan kegiatan seabrek yang aku jalanai sehari-hari. Sekarang harus terkurung di antara bukit yang mengurungku dari keramaian. Jangankan motor, apalagi mobil, melihat manusia lewat saja jarang.

Satu hal yang aku syukuri, disini ada listrik PLN dan sinyal HP. Baik itu telkomsel maupun indosat. Jadi masih bisa tetap interaksi dngan dunia luar. Air mataku pun perlahan mulai berhenti tumpah. Aku memperhatikan Hotma, anak Universitas Mulawarman Kalimantan yang masih sibuk membongkar baranag-baranaganya.


“Ini barang-barang kamu semua Hotma? Berapa kilo over bagasinya kemaren?” tanyaku terperangah ketika  melihat banyaknya macam barang yang ia bawa. Mungkin barangku hanya sepertiga dari perlengkapannya.

“Iya, aku sudah lengkapi semua keperluan untuk setahun, barang-barang yang kira-kira tidak ada disini aku beli banyak. Kau Tanya apa, semua ada di koperku ini, Bah! Gampang lah itu, pakai aja nanti punyaku!”  dengan logat batak yang cukup menentramkan hatiku.

“Yah, sepertinya semua akan baik-baik sajaa. Amin ya Robb..” katakau dalam hati menutup tangisku sore ini.

Hari pertama di lokasi tugas.
Rumah Dinas Guru. SD YPPGI HITIGIMA.
Dsitrik Asotipo. Kota Wamena.
Kab. Jayawijaya. Prov. Papua
SD YPPGI HITIGIMA, DISTRIK ASOTIPO. WAMENA.  PAPUA



Halaman SD YPPGI HITIGIMA. WAMENA. PAPUA. Kemana memandang semuanya bukit.

*tunggu foto-foto lainnya dan cerita selanjutnya :)