Tampilkan postingan dengan label Tutorial Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tutorial Cerpen. Tampilkan semua postingan

14 Juli 2012

Diskusi cerpen with Mbak Syamsa hawa. Pimred majalah annida

7/14/2012 09:19:00 PM 22 Comments
Sebelumnya aku mau tanya dulu, pada tau Annida, kan? Satu-satunya majalah remaja islami. Sekarang terbit secara Online, meskipun baru-baru ini terbit juga majalahnya dengan system POD (Print On Demand) tapi belum efektif (sok tau) karena system order yang ribet dan harga yang lumayan mahal. Tapi aku udah baca nih, hasil pinjam dari si Ilham.


Yang belum tau sama sekali, mungkin bisa langsung ke TKP di Annida Online

Nah, tadi siang, agak sorean dikit, FLP Pekanbaru dapet kesempatan untuk diskusi sama Pimred (Pimpinan Redaksi) nya. Penulis yang sudah malang melintang di mana-mana, namanya Mbak Syamsa Hawa. Seperti namanya, orangnya  manis banget, enerjik dan humoris.

Acaranya sih nggak formal-formal amat, diskusi terbuka dan santai banget. Di awali dengan pembacaan puisinya sang pujangga Pekanbaru, siapalagi kalau bukan bang Askolani Nst, di lanjutkan dengan  kenalan (Mbak Syamsa langsung inget semua nama-nama yang hadir loh!) dan yang paling panjang cerita kenalannya adalah si tukang baca puisi. Dari lahirnya di kota yang tak terdeteksi di peta, sampe gurunya yang dari Madura, semua di ceritain.  Baguss..

Berlanjut ke diskusi. Mbak Syamsa bukan ceramah dan ngasih materi seperti yang biasa di lakukan metor-mentor penulis lain. Mbak yang sudah Triple ini (satu suami dan satu anak) memformat acara dengan mengumpulkan cerpen-cerpen yang hadir, kemudian bukan sulap, bukan sihir, Mbak Syamsa mengoreksinya secara cepat, dan memberikan komentar, kripik manis dan pedes untuk cerpen itu.

Nah itu yang bikin aku Bad Mood dan mendadak jadi pendiem. Aku nggak bawa cerpen, jangankan Print Out, aku bahkan nggak bawa flashdisk yang biasanya terselip beberapa cerpen geje disana.

Betapa envy nya melihat cerpen-cerpen yang lain di koreksi dan dinilai, layak di baca redaktur apa enggak, layak menang nggak, layaknya di muat di majalah apa. Seperti cerpennya Mulya Abdul sukur yang dinilai layak dimuat di Story, soalnya 16 lembar ini novelet, bukan cerpen lagi. Jadi penasaran pengen baca.

Oh ya, boleh deh aku share catatan-catatan kecil yang aku tangkap dari diskusi tadi. Cekibroootttt……

11. Tulislah paragraph pembuka yang nonjok!
Aku baru denger nih, biasanya denger dari bang Joni Lis Efendi selalu bilang “Buatlah paragfraf awal yang bombastis”, nah sekarang yang nonjok. Nonjok orang dulu kali ya baru nulis. Hihi
Mbak Syamsa juga membongkar rahasia redaktur atau mungkin juga para juri yang menilai dan membaca ratusan cerpen.
Simak baik-baik yaa.. sshhtt… katanyaa… mereka hanya membaca dua paragraph awal, kalau paragraph biasa aja, dan nggak nonjok, jangan harap mereka bakal melanjutkan baca. So, buatlah kalimat awal yang nendang (abis nonjok nendang)

Contoh kalimat biasa:

Namaku Bella, umurku 19 tahun. aku tinggal di jalan Mawar. Aku ingin sekali membahagiakan orangtuaku…. De es te..

Seharusnya penulis yang ingin beda dari yang lain jangan lagi menggunakan kalimat ini, mungkin bisa menggunakan dialog, Quote (kutipan) atau penggambaran suasana yang singkat.

Contohnya cerpen yang terbit di annida berjudul “Akulah guru terkutuk” yang menulis kalimat pembuka seperti ini :
 Langit pagi mendung. Pekat bergelayut. Pukul enam lewat lima menit waktu di pergelangan tangan. Saya memantapkan diri mengajar, tetapi dilarang istri. Tak akan ada orangtua yang mengizinkan anaknya bersekolah, katanya. Saya pandangi langit, menerjemahkan larangan istri saya. Saya mendekat ke gorden jendela. Saya buka. Angin meruak tajam.

Paragraph awal yang langsung menuju konflik.

Sebenarnya bisa aja di awali kalimat “Namaku Bella, aku ….” 
Tapi lebih cocok untuk cerita-cerita Humor. 

Contohnya “Namaku Bella, lengkapnya sih Bella sungkawa”
Lucu kan? Hihi

Oa, paling banyak dalam 1 paragraf itu 8 baris aja. Lebih dari itu sebaiknya di mutilasi jadi 2.

Nah, setelah redaktur baca 2 paragraf awal, ia akan baca ending. Kalau endingnya menarik dan nggak klise (seperti mati, kecelakaan #gue banget tuh!) baru lah ia akan baca cerpen keseluruhan.

2. Cerpen harus update!
Sesuaikan tema cerpen dengan fenomena yang ada. Mislanya sekarang dekat Ramadhan. Silahkan tulis cerpen bertema ramadhan, jangan tentang Valentine pula. Hii

3. Gaya penulisan yang unik.
Ada sebuah cerpen yang di tulis (lupa nama penulisnya) tanpa dialog, tanpa narasi. Nah lo, bingung kan? Isi cerpennya Cuma conversation sms aja. Dan itu unik banget.
Ada juga cerpen yang semuanya dialog, atau cerpen yang Flashback, maju mundur kaya ulekan.

4. Cari ide yang unik, atau cobalah membalik sebuah fakta.
Contoh : Mae di gigit kucing. Tangannya berdarah, dan di bawa ke rumah sakit.
Itu biasa banget… coba begini :
Mae Mengigit Kucing
Mae seorang anak dari ibu penyayang kucing, ketika tangannya sakit, ibu nya masih saja tak memperhatikannya, hanya kucing paling  utama. Karena Mae kesal dan ingin memukul kucing, sedangkan kedua  tangannya di perban. Jadilah si Mae menggigit kucing. Haha

Segitu dulu deh..
Semoga ada manfaatnya.
Semangat menulisss. Fighting.. ^_-

Eh iya, pulangnya kami dapet “Buku Sakti Menulis Fiksi”. Horeee…. makasih banget mbak Syamsa Hawa.. semoga Annida bisa cetak lagi dan beredar di agen-agen kaya dulu. Annyeong :)




buku nya langsung di TTD dan dapet short Message pake tulisan korea. ternyata Mbak Syamsa suka Korea dan belajar bahasanya korea. hihi



02 Juli 2011

Tips Rahasia Menang Lomba Cerpen

7/02/2011 12:25:00 PM 0 Comments
Oleh Joni Lis Efendi

www.menulisdahsyat.blogspot.com



Apakah kamu sudah keseringan kalah lomba menulis cerpen sudah kesekian kali sakit hati bin kesal karena sampai detik ini belum pernah menang, atau jangan-jangan sudah talak tiga sama yang namanya lomba lantaran selalu keok?



Ini dia solusinya. Dan, kamu wajib membacanya kemudian langsung praktek. Setelah itu, berdoalah lomba berikutnya kamu bisa juara.



9 tips rahasia menang lomba cerpen:

Tulis sesuai tema, keluar dari tema = kalah. Kamu harus jeli melihat tema lomba tersebut, yang kira-kira memiliki peluang menang lebih besar. Temukan ide yang unik dari tema tersebut untuk dijadikan cerpen yang memikat.

Tulislah sesuatu yang berbeda dan unik, inilah yang dinamakan orisinalitas alias keaslian ide. Tema boleh sama, tapi ide cerita kamu harus berbeda. Kalau ikut-ikutan menulis yang sudah jamak ditulis penulis-penulis sebelumnya, dijamin cerpen kamu itu tidak akan dilirik juri. Isu tentang lokalitas salah satunya. Maka, tulislah apa yang dekat di sekitarmu, di daerah asalmu, tentunya sesuatu yang menarik untuk ditulis. Jika tidak menarik, ya buat apa ditulis.

Perhatikan syarat lombanya. Patuhi secara ketat ketentuan perlombaan, mulai dari banyak halaman, spasi, ukuran kertas, margin (garis teks), jenis huruf, besar huruf, sinopsis, nomor halaman, biodata, formulir (jika diminta), surat pernyataan keaslian karya (jika diminta), surat pengantar lomba, dll.

Penulisan yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia dan mematuhi EYD. Harap diingat, bahasa baku dalam sastra/fiksi itu jangan dipukul rata sama dengan bahasa baku ilmiah. Kalau masih bingung macam apa makhluk bahasa baku sastra, silakan baca cerpen yang sudah dimuat di koran-koran/majalah sastra nasional yang ditulis para cerpenis top.

Gunakan bahasa yang sederhana, mengalir lancar, ceritanya mudah dipahami dan ada pesan yang kuat terkandung di dalamnya. Salah satu indikasi pesan cerpen itu sampai adalah kamu masih terus kebayang jalan cerita cerpennya, malahan terbawa dalam mimpi.

Ketahui tujuan lomba tersebut apakah berkaitan dengan momen tertentu seperti Hari Ibu, Proklamasi Kemerdekaan, hari-hari penting tertentu, dll. Nah, usahakan menulis sesuai dengan momen tersebut jika kamu masih ingin mendapat hadiah.

Siapa penyelenggara lomba, dan tulislah sesuai dengan keinginan mereka. Misalkan yang mengadakan lomba cerpen tersebut adalah ikatan ibu-ibu kelurahan, jangan kamu tulis masalah bapak-bapak yang kesurupan di hutan lalu ditolong orang utan, gak nyambung ding. Dijamin tak dilirik, capek deh. Kondisikan tema cerpen kamu itu sesuai dengan kepentingan si penyelenggara, apalagi jika itu adalah majalah/koran, instansi tertentu, ormas, dll. Tentunya mereka mengadakan lomba yang intinya tidak jauh-jauh dari kepentingan mereka. Jika penyelanggara yang ada di daerah, maka WAJIB hukumnya kamu menulis cerpen yang berseting di daerah tersebut jika masih ingin mendampatkan tropi juara. Misalkan yang mengadakannya adalah majalah wanita seperti Nova, WAJIB hukumnya tokoh utamanya adalah wanita (lebih khusus wanita karir, atau ibu muda), kalo kakek-kakek atau balita tokoh utamanya jangan mimpi bakal dapat juara.

Jika penyelenggara lomba adalah institusi yang terkenal sebagai pelopor sastra misalkan Majalah Horison, Koran Kompas, Dewan Kesenian Jakarta, Dewan Kesenian Lampung, Dewan Kesenian Riau, dll. usahakan menulis cerpen yang aroma sastranya lebih kental. Kalau masih nekat mengirim cerpen lebay bin alay kamu yang sepenuh bumi menggunakan bahasa gaul itu dijamin sampai kiamat cerpen itu tidak akan menang. Lulus sensor panitia saja sudah sebuah keajaiban.

Ketahui siapa dewan jurinya dan pelajari cerpen seperti apa yang mereka sukai. Jika sudah tahu selera dewan jurinya macam mana, tinggal sesuaikan saja penulisan kamu sesuai dengan gaya tersebut. Karena soal selera tidak akan pernah menipu.



(*boleh disebar ke seluruh dunia dengan catatan mencantumkan nama penulis dan sumbernya di atas

03 Juni 2011

Trik Sederhana Menulis Alur dan Plot Cerita

6/03/2011 07:15:00 PM 13 Comments
oleh Joni Lis Efendi

www.menulisdahsyat.blogsot.com



1. Alur Cerita

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu, atau rangkaian peristiwa demi peristiwa dari awal sampai akhir cerita. Ada alur progresif yang bergerak runtut dari awal sampai akhir (A-B-C). Alur kilas balik (flash back) yang dimulai dari akhir cerita kemudian bergerak ke awal cerita (C-B-A). Dan, ada alur percampuran antar kedua alur yang disebutkan di atas.

Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action) dari tokoh-tokoh cerita. Alur yang baik akan sangat membantu pembaca untuk menangkap gambaran utuh dari cerita yang disuguhkan dalam novel. Bagi penulis, penguasaan alur cerita sangat menolong agar nggak kehilangan jejak, atau mentok di tengah jalan.



Sebaiknya sebelum mulai menulis dibuat terlebih dahulu draf alur ceritanya. Hal ini untuk memudahkan kita saat menulis nanti. Walaupun begitu, kita nggak diharuskan terlalu kaku memegang draf awal dari alur tersebut. Karena biasanya ketika menulis, pergerakan alur cerita akan berkembang dengan sendirinya.



Kamu bisa menulis draf awal sebuah alur cukup dengan beberapa kalimat aja, paling banyak lima kalimat. Tentunya nggak terlalu ribet, kan. Berikut ini contoh alur dari cerpen "Rindu Banjir" yang dimuat di Majalah Ummi edisi Februari 2010.



Contoh Alur:

Salmah selalu merindukan datangnya banjir.
Salmah mendapatkan haid pertama saat musim banjir tiba.
Emak melarang Salmah bermain sama anak laki-laki.
Marlan, sahabat baik Salmah, kaget dengan perubahan sikap Salmah.



2. Plot

Plot adalah hubungan yang mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lainnya sehingga saling berhubungan yang memicu terjadinya krisis dan menggerakkan cerita menuju klimaks (puncak konflik). Dengan kata lain, adanya suatu peristiwa dibenturkan dengan peristiwa lain, yang saling bergesekan sehingga memantik konflik. Plot inilah yang sesungguhnya menggerakan cerita dari awal sampai akhir yang menghiasinya jalannya cerita tersebut dengan ketegangan, konflik dan penyelesaian (ending).



Di dalam plot inilah persoalan-persoalan yang dihadapi para tokoh cerita saling digesekkan, dibenturkan satu sama lain menjadi persoalan baru yang lebih kompleks, diseret ke puncak krisis, lalu dicari pemecahan (penyelesaian)-nya menuju akhir cerita (ending). Plot digerakkan oleh tokoh cerita, gesekan yang timbul karena pergerakan plot inilah yang melahir ketegangan (suspend) yang menyulut api konflik. Kemudian plot yang mengkondisikan tokoh cerita berusaha untuk mencari jalan keluar dari konflik yang terjadi tersebut untuk menurunkan tensinya sampai pada ending.



Contoh plot dalam cerpen "Rindu Banjir"

Salmah mendapatkan haid pertamanya bersamaan dengan datangnya banjir sehingga Emak melarang Salmah bergaul dengan laki-laki termasuk main hujan dan bersampan dengan Marlan. Karena sekarang dia sudah gadis dewasa yang harus menjaga adab pergaulan.
Keinginan Salmah untuk main sampan selama banjir sirna dengan adanya larangan Emak.
Salmah dikurung di rumah selama haid dan tak boleh ke mana-mana.
Marlan, sahabat baik Salmah, heran dengan perubahan sikap Salmah yang terkesan menjauhinya. Sikap Salmah menjadi dingin kepada Marlan, dan Marlan pun akhirnya menjauhinya.

Nah, sekarang timbul pertanyaan, apa beda alur dengan plot?

Beberapa perbedaan antara alur dan plot:

Alur berisi kronologis cerita, walau susunannya bisa maju, kilas balik atau gabungan.
Alur hanya rangkaian cerita dari awal sampai akhir.
Alur bisa dijabarkan dengan gaya narasi, deskripsi, eksposisi dan narasi. Sedangkan plot sebagian besar dengan narasi dan dialog.
Plot adalah pergerakan cerita dari satu kejadian demi kejadian yang saling berkaitan, bahkan terkadang sengaja dibenturkan untuk menimbulkan adanya ketegangan, klimaks (puncak konflik), antiklimak (penurunan konflik) sampai ending.
Alur adalah badan cerita sedangkan plot adalah ruh yang menggerakan cerita.
Alur ada pada jenis tulisan lain seperti feature dan esai. Sedangkan plot khusus ditemukan dalam cerpen dan novel.



Sekarang giliran kamu untuk menulis alur dan plot. Tema kali ini adalah tentang gadis hujan yang selalu merindukan hujan, karena hujan selalu mengingatkannya pada kenangan cinta pertamanya. Walau terkadang dia benci hujan, lantaran cinta pertamannya pun hanyut diseret hujan lebat hatinya.

Nama tokoh dan setting sesuai dengan keinginanmu masing-masing:



Selamat menulis.