31 Januari 2016

Belajar Menghargai Kebaikan dari Mas Gagah



Review film : Ketika Mas Gagah Pergi
 
Alhamdulillah, setelah gagal nobar KMGP bersama FLP kemaren, hari ini kami para FLPers Pekanbaru sukses ikutan nonton bareng film fenomenal ini. Kami nonton jam 09.30 it’s mean kami datang ke bioskop pagi-pagi saat pintu mall belum buka. Jadi harus naik lift barang. hihihi.  Sampai di bioskop terlihatlah pemandangan yang tak biasa. bioskop hari ini jadi lautan jilbab dengan ikhwan-ikhwan berwajah teduh. Anak-anak panti asuhan dan anak-anak pesantren yang diundang juga rame di bioskop itu. Wew, ada kurang lebih 500 orang yang akan menonton di 2 studio yang sudah dicarter oleh penyelenggara nobar ini. kerreenn..!!!

Seperti apa sih film yang bikin penasaran ini? gimana aktingnya aktor baru Hamas Syahid dalam film ini. kenapa film ini sempat turun layar padahal penontonnya sebanyak ini? kenapa harus cater bioskop dulu dan dilunasi H-3 untuk bisa menonton film ini di bioskop? Segitu takutnya pemilik bioskop memutar film ini? yok kita simak liputannya setajam pisau! #pake gaya fenny rose

Mas Gagah, sosok kakak yang begitu dekat dengan adiknya, Gita. Selalu melindungi dan tau betul caranya bersenang-senang dengan adiknya. Tapi tiba-tiba sepulang dari Ternate Mas Gagah berubah! Bajunya yang modis berubah menjadi koko, wajahnya yang maskulin dihiasi jenggot tipis. Mas Gagah bahkan berani meninggalkan dunia modeling! 

Sang adik yang menjadi sedikit terabaikan karena kesibukan kakaknya untuk berhijrah menjadi kalut. Gita tidak bisa menerima perubahan kakaknya. Mas Gagah tidak bisa lagi di ajak nonton konser, nongkrong di cafe dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan Mas Gagah mengorbankan uang tabungannya yang harusnya untuk traveling ke luar negeri bersama Gita, untuk membangun rumah singgah anak-anak pinggiran. Mas Gagah ingkar janji. Gita murka dan menuntut penjelasan.

Dua bulan di Ternate ternyata merubah Mas Gagah menjadi sosok yang berbeda. Gita merasa seperti ada orang lain di rumahnya, bukan lagi Mas Gagah yang dulu. Belum lagi hadirnya Yudi yang setiap hari selalu ditemuinya di bus kota untuk berceramah panjang lebar seperti Mas Gagah. Apa Yudi adalah orang suruhan Mas Gagah untuk mengawasinya di bus kota? Apa yang membuat Mas Gagah berubah sedrastis itu? Tonton filmnya di bioskop terdekat #eaakk… 

Yang bikin mata nggak bisa lepas dari layar film ini adalah Hamas Syahid yang berperan sebagai Mas Gagah. Sumpah demi anak-anak kucingku, Mas Gagah nya beneran gagah banget! *ngiler di bangku. Walaupun itu jenggot keliatan palsunya, tapi ketampanan dan kharisma Mas Gagah benar-benar mempesona penonton. saat Mas Gagah menemani adiknya mengerjakan PR, mengantar jemput adiknya ke sekolah, berantem melawan preman dan mendirikan rumah cinta. Ahh.. doski keren bangeettt… belum lagi bacaan qur’an nya yang bagus dengan tahsin yang mulus. Bikin klepek-klepek. Hua.. Ummi, aku pengen juga punya kakak kaya gitu *ditabok ummi pake codet.

Aquino Umar yang berperan sebagai Gita juga natural banget aktingnya. Katanya doski aktris baru tapi sama sekali nggak keliatan kaku. Aktingnya Aquino Umar sebagai adiknya Mas Gagah cucok banget. Sesuai sama imajinasi pembaca bukunya Helvi Tiana Rosa yang udah 20 tahun masi aja terus cetak ulang. Karakter Gita yang manja dan butuh perlindungan dari Mas Gagah dapet banget diperankan oleh Aquino umar. Selain itu, yang aku suka dari film ini. meskipun ada pemeran yang tidak memakai jilbab, tapi kostum mereka sopan-sopan. Seperti Aquino Umar yang berkarakter tomboy, tapi tidak pernah memakai tank top atau celana hot pans di film ini. Dia cuma memangkas pendek rambutnya, dan Viola! Aquino Umar yang aslinya feminim dengan rambut panjang bisa jadi Gita dengan karakter tomboy nya. Salut untuk totalitasnya dalam akting.

Selain pemeran-pemeran utamanya yang merupakan pendatang baru di dunia akting. Film ini juga didukung oleh lebih dari 30 artis-artis senior. Sebut saja Wulan Guritno yang berperan sebagai Mamanya Mas Gagah, Epi Kusnandar sebagai preman, Ali Syakieb sebagai pencopet, bahkan Sule juga ikut berperan di film ini walaupun cuma duduk sebagai penumpang bis. Hihihi. Penonton seolah dapat surprise di setiap scenenya dengan hadirnya pemeran-pemeran pendukung yang biasanya kalau di film lain doi jadi pemeran utama. Seperti Shiren Sungkar yang kebagian peran jadi pemain teater, Joshua yang jadi teman kampus Mas Gagah dan  masi banyak lagi artis-artis senior yang turut berperan di film ini dan mengundang gelak tawa penonton .
Film yang diawali dengan memamerkan keindahan Ternate juga memukau penonton, di tambah lagi kegagahan Mas Gagah tadi. Tapi sayang seribu sayang, pengambilan gambar di Ternate sangat sedikit dan hanya dari satu sisi saja. Mungkin biar penontonnya penasaran dan langsung pergi ke Ternate *plak! Analisa macam apa ini.

Memang banyak hal yang bikin penonton penasaran dalam film ini, selain tentu saja karena film ini dibuat bersambung, juga ada banyak adegan yang seolah lompat-lompat. Aku yang sudah berulang kali membaca bukunya (sebelum nonton aku juga membaca lagi) agak bingung dengan jumping scene di film ini (istiah macam apa itu!). Tapi karena sudah exited, ku abaikan saja. Seperti ketika Gita dan mama mengantar Mas Gagah ke bandara dan tau-tau Mas Gagah nya udah pulang dengan penampilan yang berbeda. Mbok ya di kasi keterangan tertulis “2 bulan kemudian” gitu ya. Meskipun perubahan penampilannya hanya dari baju modis ala model yang berganti menjadi baju koko dan jenggot tipis yang keliatan itu ditempel. Sedangkan celananya masih menggunakan jeans yang ketat dan memperlihatkan bentuk kaki *aku kan jadi haaaauss liatnya. *tutup mata . 

Jumping scene di bandara bukanlah satu-satunya adegan lompat-lompat di film ini. masi banyak lagi yang bikin kening berkerut. Bagi yang sudah pernah membaca bukunya, ini seperti nonton trailer yang durasinya panjang. Ibarat nonton cuplikan-cuplikan dari buku. Kalau aku jadi penonton yang belum pernah baca bukunya, pasti aku nggak ngerti dan butuh seorang guide untuk menjelaskan lebih detil. Kenapa dia begini, kenapa begitu. Loh kok tiba-tiba dia ada disini, emang kenapa dia begitu? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan sejenis yang  muncul. Apa IQ gue yang emang jongkok.

Yudi yang ’ceramah’ di bus kota juga cukup mengganggu. Kalau dibuku sih asik aja membaca sosok Yudi yang membuat Gita jadi teringat kakaknya. Berdakwah dimana aja dan kapan aja, sampai-sampai di bus pun dia ceramah dengan semangat 45. Anti mainstream banget cara berdakwahnya. Tapi ketika di visualkan ternyata jadi agak keki. 

Terlepas dari itu semua sosok Mas Gagah disini memang menginspirasi banget. Menginspirasi untuk berhijrah, untuk ngemong adik, untuk melakukan kebaikan apa aja yang kita bisa. Udah sering denger dong ya, dari pembaca buku yang dapet banget feel buku ini dan terinspirasi untuk berhijrah. Sebut saja kak Siti, temen aku di FLP Pekanbaru yang juga menjadi ‘korban’ dari efek membaca buku ini. beliau yang juga punya kakak yang selalu mengajak kepada kebaikan seperti Mas Gagah ini. Sejak baca buku KMGP jadi terinspirasi untuk berhijrah dan taraa… sampai sekarang Alhamdulillah tetap istiqomah.

Kalau dilihat dari idealisme Helvi Tiana Rosa yang merupakan penulis buku sekaligus produser film ini memang bikin salut dan patut diapresiasi. Dakwahnya tersampaikan dengan mulus. Seperti ketika mengenalkan apa itu nasyid, apa itu  ikhwan yang bikin seisi bioskop terngingkal-pingkal tertawa karena penyampaiannya yang humoris tapi masuk ke otak penonton, bahwa ikhwan itu bukan sejenis makanan seperti bakwan atau tekwan. Hahaha. Juga didukung bahasa kekinian yang membuat film tidak ketinggalan zaman seperti memvisualkan buku yang lahir 20 tahun lalu . Konflik Palestina juga berhasil diangkat di film ini. Menyentil kita sebagai muslim harusnya tidak bisa tinggal diam melihat kekacauan di Palestina. Film ini sukses membuka mata orang awam tentang hijrah, tetang berubah menjadi lebih baik. Ada kalimat dari buku yang juga ditampilkan menonjol di film ini.

“Ketika kita tidak dapat memahami suatu kebaikan, maka cobalah untuk menghargainya.”

Berasa di tabok kan sama kata-katanya? Kalimat ini berkesan banget di otakku. Sering kali kita sewot liat si anu yang tiba-tiba aja jilbabnya jadi lebar, mengerutkan kening ketika melihat si ono udah pake jenggot. Padahal kalau kita belum bisa memahami kebaikan itu, menghargai saja sudah cukup.

last but not least, film ini layak untuk segera kamu tonton. Film ini ibarat oase di tengah gersangnya film-film islami yang tampil di bioskop. Film yang mengajarkan banyak hal untuk menjadi lebih baik. Aku dan ribuan penonton sangat menantikan versi lengkap dari film ini. Semoga segera tayang dan bisa lebih memuaskan penonton! Bravo untuk tim KMGP the Movie!

More info:

sebagian adik-adik dari Panti asuhan dan rumah Tahfiz yang diundang  nobar
adik-adik dari Pesantren Dar el Hikmah Pekanbaru

karena foto barengnya crowded banget. jadi kita foto berdua aja deh
 tempat duduknya sudah di atur agar tidak bercampur ikhwan dan akhwat

27 Januari 2016

Puluhan Calon Penonton KMGP dikecewakan Bioskop


Tepat jam 13.00 aku sampai di bioskop Holiday 88, disana sudah berkumpul para penulis-penulis yang tergabung di komunitas FLP (Forum Lingkar Pena) Riau. Para penulis ini bukan mau bedah cerpen, atau musikalisasi puisi di bioskop. Bukan! Kita mau nonton bareng film yang di angkat dari novelnya Mbak Helvi Tiana Rosa (Sering di singkat HTR). Yang mana mbak HTR ini adalah pendiri FLP! Novel ini sangat terkenal dari zaman aku masi SMP dan sampai sekarang masi terus cetak ulang. Ceritanya sangat menginspirasi. Anak-anak kelahiran tahun 90an yang hobi baca pasti lah tau banget gimana sepak terjangnya HTR ini. dan betapa terkenalnya beliau dimasa itu (sekarang makin terkenal). 

Selain di angkat dari novel HTR, yang bikin exited nonton film ini adalah pemerannya yang masih fresh banget di dunia perfileman, dan nilai tambahnya,selain ganteng level 9, pemeran Mas Gagah nya adalah seorang penghafal Qur’an. Wew… tambah penasaran dong ya. Walaupun terbilang jarang banget nonton bioskop, tapi demi film yang satu ini kami pun rela berbondong-bondong datang ke bioskop untuk mendukung film inspiratif ini.


Siang itu (Selasa, 26/01/2016) kami udah siap dengan atribut FLP. Malah pake baju kaos FLP SARANG PENULIS segala. Spanduk juga sudah di siapkan. Tapi ketika memesan tiket, calon penonton kecewa…. Eng eing eng....
FLP SARANG PENULIS

Jadwal Film KETIKA MAS GAGAH PERGI (KMGP) yang kami lihat di Koran dan website adalah jam 13.15. Jadwal selanjutnya sore pukul 15.45. kami sepakat pilih yang jam 13.15. tapi ketika beli tiket kami pun terkejut, karena mendadak jadwal film KMGP berubah jadwal tayang menjadi jam 17.45. it’s mean kalo kita nonton, kita bakal melewati sholat magrib. Dan bakal pulang malam. Nggak baik buat yang akhwat. 

So, aku dan bang Adit (HUMAS FLP Pekanbaru) mencoba melobi si mbak kasir. Tapi apalah daya seorang kasir, kebijakan bukan miliknya. Kami pun meminta bertemu dengan manajer atau supervisornya. Tapi para atasan di bioskop itu sedang keluar. Kami hanya duduk berjam-jam menunggu supervisornya datang. 


25 Januari 2016

Puisi Cetar dari Ismail



Membicarakan Ismail memang tidak akan ada ujungnya setiap hari ada saja tingkah nya yang bikin ngakak, ternganga takjub, atau bikin seisi kelas tepuk tangan. Dari yang unik, aneh, menyebalkan sampai mengagumkan! Ismail, muridku di SDIT Al-Fikri Islamic Green School Pekanbaru ini pernah mengerjakan soal ulangan blok pelajaran IPS dalam waktu 10 menit dengan nilai 100. Pernah juga bolos di pelajaran matematika dan lebih memilih membaca buku ensiklopedi Luar angkasa di Perpus dari pada memperhatikan gurunya ngoceh di depan kelas. Akibatnya nilai matematiknya dapat telor. Tinggal di bawa pulang minta gorengkan sama Ummi.
 
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari Ismail kadang nggak nyampe di otak gurunya yang pas-pasan ini. misalnya, kenapa teori terbentuknya alam semesta yang di tulis Charles Darwin hanya di bantah oleh satu orang. yaitu Harun Yahya. Seharusnya kalau orang percaya akan tuhan, semua akan membantah teori Charles Darwin tentang terbentuknya alam semesta #kemudian hening #ustazah sibuk buka google.

Ismail ini anaknya moody banget. Jangan pernah bikin doski sampai bad mood. Bisa berabe. Pernah suatu ketika  pulang dari kelas Al-Qur’an Ismail ‘meradang’ di kelas ku. Awalnya aku coba biarkan dia tidur sendirian di belakang kelas. Tapi karena di kelas III ini anak nya jahil-jahil, teman-temannya pun mencoba ‘membujuk’ Ismail (tapi dengan cara yang salah, contohnya nyolek-yoleh bahunya). Ismail pun menendang meja dan kursi. Aku yang berusaha memeluknya untuk menenangkan nya juga kena jurus silatnya. Kemudian Ismail menangis tanpa suara, mungkin kaki nya sakit kena meja. Style Ismail memang begitu. Kalau menangis tak bersuara. 

Aku mencoba bicara dari hati ke hati ketika kulihat dia sudah agak tenang.  Tapi hanya mulutnya yang bergerak tanpa suara. Aku kan jadi bingung. Ku biarkan dia tidur telentang sendirian di belakang kelas. Ku introgasi teman-teman sekelompok belajar al-Qur’an Ismail., ternyata dia ditegur (ditegur loh, bukan dimarahin) oleh guru Al-Qur’an karena membaca buku ensiklopedi kesayangannya. Ya iyalah di larang, Wong dia bacanya di jam pelajaran Al-Qur’an! Udah gitu dia sambil baca sambil di terangin ke teman-temannya.”eh, eh Ini loh ada planet, jarak bumi ke neptunus sekian loh, Pluto itu tidak di anggap planet lagi loh, eh antum mau ke planet nggak?” teman-temannya yang lagi belajar Qur’an tentu tergoda dong, dan pelajaran Al-Qur’an jadi terganggu. Hampir habis jam pelajaran Pkn barulah mood baik Ismail kembali ke peraduan. Dia bahkan menghampiri ku di meja guru. 

“Ustazah, sekarang ngerjain apa nih?”

Kemudian Ustazah tersenyum

mungkin Ismail hanya butuh waktu untuk sendiri.

Kadang kalau lagi nggak mood belajar, nggak mood ngerjain tugas, Ismail berdiri di jendela kelas. Kelas aku itu di lantai 2. Jadi dari jendela bisa lihat perumahan padat penduduk dan gedung-gedung tinggi di Pekanbaru, kayak RS Syafira, Grand City Hotel, Balai Dang merdu dll. Aku sih kadang membiarkan Ismail dengan “me time” nya di jendela. Dijamin setelah diberi waktu untuk berdiri di jendela dia bakalan mau belajar lagi. 

Pernah di jam pelajaran al-quran juga. Ismail diberi waktu 10 menit untuk menceritakan isi buku yang dibacanya. Asalkan ia tertib ketika belajar al quran. Ternyata peraturan ini manjur. Ismail bahkan lebih semangat mengulang hafalan juz amma nya. Sepuluh menit terakhir Ismail pun bercerita tentang planet. Setelah itu ada sesi tanya jawab antara guru al-qur’an dan Ismail (waktu itu guru al-quran nya adalah ustad Sahabir), anak-anak memperhatikan dengan seksama.

“Oke, karena Ismail sudah tertib. Ustad kasi Ismail waktu 10 menit untuk bercerita.”

Ismail yang semangat langsung cerita panjang lebar soal planet. Dari bagaimana terbentuknya alam semesta, luas bumi berapa KM, jarak mahari dan bumi, nama-nama planet. Semua dia hapal DILUAR KEPALA! Wow… pembaca blog ini ada yang hapal berapa jarak antara bumi dan matahari? Eit, jangan buru-buru buka google. Nanti aja. Ismail masih akan membuat kita tepuk tangan.

Ustad sahabir yang kagum dengan jawaban-jawaban Ismail malah tambah semangat bertanya (atau menggali wawasan Ismail). Ustad pun mengaitkan pertanyaan dengan tafsir Al-Qur’an. Dan amazing, Ismail bisa menjawabnya dengan menyebutkan ayat Al-Quran yang bercerita tentang planet dan alam semesta (aku lupa surat apa. Yang jelas juz 30).
 
Ismail dengan buku ensiklopedinya. Hasil minjem dari perpus
Aku yang lagi duduk santai di belakang kelas langsung berdiri memberikan standing applause. Reflex teman-temannya dan ustad sahabir pun ikut tepuk tangan. Ketika aku ngobrol ngobrol dengan umminya sepulang sekolah. Umminya mengaku tidak pernah mengajarkan tafsir al-qur’an pada anaknya. Umminya yakin, dia tau itu semua dari hasil baca buku. Waaaaa… daebaaakk.. amazing…!!!

Ismail ini kalau ulangan selalu menjawab dengan logika. Tak jarang jawaban-jawabannya itu bikin senyum-senyum sendiri bahkan tertawa ngakak. Gurunya yang punya otak pas-pasan ini cuma kagum angguk-angguk bilang “ya juga ya”. Kadang hayati nggak ngerti jalan fikiran Ismail ini. hahaha

Duh kepanjangan cerita tentang Ismail. Baiklah ini ada sebuah puisi terakhir yang Ismail buat untuk ustazahnya yang selalu ternganga ketika di tanya pertanyaan absurd. Hari itu adalah hari senin, sejak hari jum’at aku sudah bilang kalau hari senin adalah hari teraakhirku di SD IT Al Fikri Pekanbaru. Senin Pagi selembar puisi  yang ditulis dikertas buku gamabr terletak di mejaku. Ini dia…


Aku yakin kalian bakalan jereng kalo maksa baca tulisan ini, ini aku tuliskan tanpa merubah satu huruf pun.

Ustazah Risa
Tanpa engkau……
Tiada lagi penerima informasi
Tiada lagi pendukungku untuk belajar
Tiada lagi pengapload tulisanku di facebook
Tiada lagi yang mempersilahkan untuk melihat pemandangan
Tiada lagi yang mempersilahkan baca koran di kantor

Ustazah risa
Tanpa engkau…….
Aku hanyalah kegelapan
Aku hanyalah kehinaan
Aku hanyalah sebutir kacang polong
Yang bertebaran di angkasa
Sungguh besar jasamu padaku
Sehingga engkau adalah wanita terbaik ke-2
Sehingga engkau patut ditiru oleh guru2 sesudahmu

salam
 ***
Reaksi aku waktu baca surat ini adalah ketawa ngakak jungkir balik samba kayang dilapangan sekolah. Enggak ding! Pokoknya di kelas itu aku ngakak banget. Asisten kelasku, Ustazah Ilvi sampai geleng-geleng kepala, tapi setelah baca puisinya Ismail zah ilvi ngakak juga.

Waktu aku tanya umminya pas pulang sekolah, umminya bilang Ismail nulis ini larut malam. Nunggu kakak-kakaknya pada tidur dulu, biar dapat inspirasi katanya. Ckckckck..

Waktu aku tanya si Doski, siapa wanita terbaik pertaama. Eh ternyata bukan Umminya yang udah capek-capek ngelahirin dia, tapi Sumayyah bin Khabath. Tau kan siapa Sumayyah? Iya bener banget, Sumayyah adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Ia rela kemaluannya di tombak demi mempertahankan keislamannya. We O We! Aku gurunya yang nggak seberapa ini disamakan dengan Sumayyah! Betapa bangga ini menyesaki dada. Betapa puisi ini lebih berharga dari kado apapun.

Terimakasih Ismail, mengajariku banyak hal…

22 Januari 2016

Terimakasih SDIT AL Fikri Islamic Green School!

bersama murid-murid shalihah SDIT AL Fikri Islamic Green School
Alhamdulillah, tepat hari ini tugasku di Alfikri selesai sudah.

Aalhamdulillah ya, rejeki anak sholeh. Puang dari Papua seharusnya jadi pengagguran di rumah selama 6 bulan menunggu jadwal kuliah, tapi yang namanya rejeki selalu datang. Setelah sebulan berleha-leha dirumah, ada info tes untuk menjadi guru pengganti yang cuti melahirkan di SDIT AL FIKRI Islamic Green School Pekanbaru. Info ini aku dapat dari Putri, teman sekampus di PGSD yang saat ini juga menjadi guru disana.#that's why you need friend everywhere

Dari 5 orang yang ikut tes, diterima 2 orang untuk menjadi wali kelas 2 dan 3. Aku diberi tanggung jawab untuk wali kelas 3 Al-Farabi. Besoknya ustazah Wawat, wali kelas sebelumnya yang akan cuti melahirkan menyerahkan padaku semua administrasi kelas. Juga menjelaskan sedikit mengenai sifat dan karakter anak-anak ketika belajar.

Hari senin itu, aku mendapatkan suasana yang berbeda dari pengalaman setahun mendidik di Papua. hari itu aku bertemu lagi dengan anak-anak berkulit putih yang rapi. Mereka harum tidak membuat sakit hidung. Pagi itu aku bertemu lagi dengan anak-anak pintar-pintar yang kritis dan sholeh sholehah.

18 Januari 2016

Film Alif Lam Mim dan Tragedi Pengeboman Sarinah



Tragedi pengeboman sarinah kemaren bikin gue kepo. Coba-coba buka yutub dan ternyata video terpoluper H+1 adalah video detik-detik pengeboman yang di ambil dari atas gedung.
 
Gue cuma senyum kecut aja waktu melototin video itu. How can seseorang bisa standbye dari sebuah gedung yang entah laintai berapa dan ngerekam pas banget bom kedua meledak? Dengan kualitas gambar yang bagus, tenang dan nggak keliatan panik. Setau gue manusia kalo denger suara pintu dihempas aja kaget bukan main. Apalagi ada ledakan di sebelah. Normally si perekam itu harusnya kaget, kabur menyelematkan diri takut ada bom selanjutnya. Atau okelah, dia pemberani dan punya jiwa jurnalis, dan langsung ngerekam bom yang meledak 4 kali itu. Tapi harusnya ngerekam sambil gemeteran karena kaget gitu ya. Tapi hasil rekaman yang di yutub itu sungguh bagus, tenang dan sama sekali tidak terlihat panic. Kebetulan?
saking banyaknya kebetulan FP Militan keadilan di FB merangkum beberapa kebetulan itu.

Kebetulan hari Kamis 14 Januari 2016.
Kebetulan Jam 10 pagi.
Kebetulan ada travel warning dari kedubes AS terhadap warganya di Indonesia.
Kebetulan ada serangan teroris.
Kebetulan yang diserang bukan objek vital, cuma pos polantas.
Kebetulan mereka menyerang kafe tempat nongkrong, meskipun banyak tempat lain yang lebih bernilai tinggi.
Kebetulan Jokowi tak lagi di Jakarta.
Kebetulan disitu ada petugas Polairud yang berpangkat AKBP, kemudian mendadak jadi superhero di TV.