19 Desember 2014

Ketika Guru Jadi Backpaker. Part #2

Air Terjun Air Garam
#Intro
Sebenernya perjalanan ke air garam ini udah lama banget. Sekitar awal oktober yang lalu. Tapi nggak afdol kalo nggak di ceritain di blog ter cintah ini. Ibarat sayur tanpa garam. (apa hunungannya) Jadi wajib gue certain di blog ini. Muehehe.

Air terjun yang akan kami kunjungi kali ini terletak di Desa Air Garam, Distrik Asotipo, Wamena, Kab. Jayawijaya. Provinsi Papua. Kalo kamu liat di peta. Nggak bakal ada desa air garam. Karna letaknya paling ujung di distrik asotipo. Nggak ada listrik, sinyal, dan sulit air. Di desa inilah 2 guru asal Riau dan Kalimantan mengabdi untuk anak negeri. Kepala desa air garam yang antusias banget dengan kedatangan 2 cowok ini langsung merelakan rumahnya untuk di tempati, sedangkan beliau sendiri rela tinggal di Honai (rumah adat papua).

Sayangnya, meski sudah di berikan rumah, si Aidi yang berasal satu kampus denganku itu tidak bisa tinggal di rumah yang sudah di sediakan persis di depan sekolah. Darwin yang datang dari UNMUL (Universitas Mulawarman, Samarinda) pun sependapat. Bahkan gosip yang beredar di antara SM3T Wamena, di awal kedatangan mereka di desa air garam. Darwin sempat menangis sambil menelpon orangtuanya hihihi.. siapa yang tidak menangis membayangkan bakal tinggal di rumah yang jauh terpisah dari rumah penduduk, tidak ada listrik, tidak ada sinyal dan tidak ada air. WC untuk membuang hajat pun tidak ada.  Wajarlah Darwin menangisi nasibnya untuk satu tahun ke depan.

Sorenya mereka turun gunung menuju Hitigima. Desa tempat tugasku mengajar. Perjalanan sekitar 1 jam jalan kaki (nggak ada transport selain jalan kaki disini). Mereka membawa laptop dan gadget lainnya untuk di cas di rumahku yang alhadulillah ala kulli hal ya Allah. Rumahku ada listriknya 24 jam. Sore itu mereka curhat. Sore di hari pertama di tempat kami mengabdi, sore ketika aku berteriak kegirangan melihat aidi datang dari atas gunung. Sore setelah air mata pertama ku di Papua.

Malam itu kami atur strategi, plan A nya Darwin dan Aidi bakal tinggal serumah dengan aku. Dan mereka akan bolak-balik jalan kaki ke sekolah. Karena mereka nggak cukup tahan untuk tinggal di atas (air garam) tanpa listrik, sinyal dan tidak ada yang bisa menjamin keamanan mereka karena rumah yang jauh terpisah dari rumah penduduk. Pasti udah pada tau gimana kondisi keamanan papua yang rawan terjadi kejahatan itu.
Ternyata, setelah di telpon, teman kami satu distrik asotipo yang hari ini juga sampai di Desa Sogokmo tidak beda jauh nasibnya dengan Air Garam. Rumah mereka ada di dalam lingkungan sekolah, tidak ada air, tidak ada listrik, kesulitan sinyal, tapi WC masih ada, menggunakan WC sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Ketika di telpon, suara muti  yang putus-putus menandakan mereka ketakutan tinggal rumah yang jauh dari keramaian. Dengan gagah berani, akhirnya Darwin dan Aidi malam itu juga menjemput Fauzan Azimah alias Aan dan Muti yang ada di sogokmo. Malam-malam jalan kaki sekitar1 jam dengan berbekal senter. Aku menahan napas khawatir menunggu mereka dirumah. Untunglah mereka selamat sampai dirumahku. Dengan membawa barang-barang berharganya dan sleeping bed, Aan yang alumni Biologi di UR dan Muti yang berasal dari UNMUL itu bercerita  tentang poskonya. Ternyata dari 3 posko di distrik asotipo. Posko akulah yang paling layak huni. Dirumahku ada 2 kamar, ruang tamu, ruang tengah, dapur mini, dan dilengkapi dengan listrik 24 jam. Sinyal bagus (bahkan bisa buka FB sesekali), dan ada WC di dalam rumah. Air memang agak sulit karna harus angkut jauh, tapi untuk hari pertama iitu pak Wetipo sudah menyedakan banyak air di kamar mandi untuk kebutuhan kami. Thanks God!
hari pertama hidup di Papua. masa-masa si Aidi dan Darwin masi jadi anak terlantar :D
awal -awal hidup di papua


06 November 2014

Ketika Guru Jadi Backpacker #Air Terjun Napua





Dulu, sebelum pernah ngebayangin bakal terdampar di papua, aku pengen banget jadi backpacker. Karna apalagi kalo bukan karena baca-baca blog temen-temen yang tiap abis weekend postingan blog nya pasti jalan-jalan mulu. Sebut saja blog nya kak Lina. Tiap ngebaca tu rasanya pengen garuk-garuk keyboard laptop saking ngirinya liat foto-foto di blognya. Naik gunung rame-rame dengan ransel berat serba lengkap di gedong di punggung. Jalan kaki ratusan meter, naik turun bukit yang terjal, nginep di hutan pake tenda, wuaaahh… Keren banget kayaknya. Bukan kayaknya, emang keren banget!

Begitulah hasrat aku untuk jadi backpacker yang selama aku tinggal di Pekanbaru belum pernah kesampean. Tapi siapa sangka, Mimpi aja aku nggak pernah bakalan tinggal di Papua! Demi apa aku tinggal sama orang-orang yang nggak malu jalan telanjang d tengah kota Cuma pake koteka doang. Demi apa sodaraaa…. Ngimpi juga nggak pernah! Aku emang pernah kepengen ikut SM3T, rencana ini ada di dalam list PLAN B aku dan temen-temen setahunyang lalu. Bahkan rencana itu juga aku abadikan di postingan blog yanag ini. Eehh.. siapa sangka sodaraa… aku beneran ikut SM3T, dan terdampar di Papua lagi… paling pojoknya Indonesia… mamake tolooooongggg….. 

Tapi begitu turun dari pesawat Garuda yang udah mengombang ambingkan aku di udara selama 5 jam, perasaan nyesel, takut, pengen pulang, semua itu runtuh waktu aku liat pemandangan kota Wamena. Ibukota provinsi Jayawijaya. Yang kata orang, kalo belum ke Wamena, belum ke Papua cuy..

Disini terhampar bukit berbaris-baris. Gunung dimana-mana. Mengelilingi kota. Eh tapi sampe sekarang aku masih bingung deh, yang mana bukit yang mana gunung. Sama aja bentuknya. Kemana mata memandang di kota Wamena ini, semuanya gunung dan bukit. Kota yang ada di tengah-tengah gunung. Makanya nggak ada akses jalan darat untuk bisa sampe kesini, soalnya nggak ada jalan yang rata. Karena bisanya naik pesawat doang, harga-harga disini luar biasa mahalnya, karna semuanya di angkut pake pesawat. Babi tetangga aku aja pernah naik pesaawat dari jayapura ke wamena. Aku pikir Apa nggak di bom aja ya salah satu gunungnya biar ada akses darat, dan harga nggak melampung setinggi langit kayak gini. Makan nasi padang aja kena 50k cyinn..

Oke, ini udah keana-mana ceritanya… back to backpacker..

Jadi ceritanya waktu nyampe di Papua, aku langsung laper mata. Pengen jalan-jalan kesana kesini. Weekend Minggu pertama aku masi ngintilin si Hotma nginep di rumah nangborunya (Tante) sesama orang batak satu marga. Keluarga ini tinggal di kotaa. Kami di servis abis disana, makan enak, tidur pake selimut tebal, nonton tv dll. Hahaa.. minggu ke dua aku dirumah, ngebikin kue ulangtahun dari nasi goreng untuk partner seperjuangan aku yang waktu itu lagi ultah. Baca aja ceritanya DIPOSTINGAN HAPPY BIRTHDAY HOTMA.

Pertaruhan nyawa menuju air terjun Napua

Nah, minggu ketiga ada d Wamena. Aku dan rombongan temen-temen SM3T dari Riau, jalan-jalan ke Napua.  Sedangkan si Hotma memilih nginap di rumah tantnya, karena kata tantenya daerah menuju Napua nggak aman. Disana ada posko temen SM3T juga, dan ada air terjunnya. Berangkatlah kami guru-guru yang super nekat ini ke Napua dengan menyewa mobil sejenis superben. Nggak semua temen2 rombongan Riau yang ikut ke Napua. Hanya 13  orang-orang nekat yang ikut pergi. Kenapa? Karna hari kami berangkat itu sedang ada perang antar suku. Ya, papua kan emang hobinya suka perang suku gitu..
Sebelum berangkat, Alga, temen SM3T yang bertugas di Napua udah bertanya sana-sini, dan udah mastikan kalo perang antar suku yang berlangsung sejak hari jumat itu sudah selesai (hari kami berangkat adalah sabtu). Kami pun siap berangkat. 
Waktu jalan kaki keluar dari SD YPK Betlehem Wamena (posko tempat kami biasa berkumpul kalo turun ke kota), datanglah iring-iringan mobil polisi dengan pasukannya. Ada 3 kompi mobil polisi yang melintas di depan kami. Mereka semua membawa senjata yang siap ditangan. Salah seorang polisi menyilangkan tangannya di dada dengan muka pias. Aku pikir nih polisi ngapain sih.. ternyata mereka ngasih kode supaya kami jangan jalan terus, rombongan jalan kaki ini pun berhenti di depan sebuah bengkel.
Seorang bapak keluar dari bengkelnya dan bicara dengan Alga dan cowok-cowok yang jalan di depanku. Aku dengar bapak itu melarang kami melanjutkan perjaanan karena ada perang. Seorang ibu-ibu pendatang juga keluar dari toko pancing. Ibu itu dengan muka gelisah dan cemas melarang kami naik ke Napua.
“kalian mau kemana? Di sinagma ada perang ini. Kalian tidak lihatkah polisi sudah tutup jalan itu.” Kata ibu itu dengan muka pias.
“Kami mau ke Sinagma, Mama. Teman tadi su bilang di Napua Aman.” Jawab kami.
“aihh… Napua Aman, tapi kalau mau ke Napua lewat pasar sinagma, To. Disana dorang (dia orang) sedang perang itu. Mereka ratusan, bawa panah semua, bawa senapan angin juga ada. Sa (saya) kasi tau kalian e, jangan buang nyawa disini. Mereka itu tak pilih, siapa yang lewat main habisi saja itu. Mau pendatang kah, orang asli kah. Lebih baik kalian nginap di kota saja dulu, saya saja pu rumah di atas, suami suruh saya ngungsi disini dulu. Sa tra (tidak) berani naik.. anak saya libur sekolah sejak kemarin ini.  Doranag peranga kan sudah sejak hari kami to. Kalian tidak tau kah?” ceramah ibu pendatang asal makassar itu panjang lebar. Ibu itu sudah puluhan tahun tinggal di Papua. Mengikuti suaminya yang jadi PNS disini. 
Kami yang cewek mulai galau. Membayangkan ratusan orang papua yang memakai koteka, membawa panah menghadang mobil kami di pasar sinagma. Tempat mereka perang antar suku. Hampir satu jam kami berembuk di pinggir jalan itu. Mau kembali ke posko ku juga tidak mungkin, karena menuju posko ku harus melewati sungai Wouma. Disanalah kemaren ditemukan jenazah mengambang setelah perang, artinya sungai wouma di saat perang seperti ini tidak aman. Apalagi sore. Si Risma dan Jumi, yang punya posko di megapura juga pengen balik aja ke poskonya, tapi sudah sore,  tidak ada taksii (angkot). Kami makin resah gelisah. Sedangkan di Aan, Elen dan Oci (guru SM3T dari Kalimantan) tetap nekat mau ke Napua. Karna Alga selaku Ketua Rombongan (yang kami nobatkan saat itu juga) udah menghubungi kepseknya d Napua dan bilang kami bisa naik dengan aman. Jadilah Dedek, tanpa pesetujuan dari Aku, Risma dan Jumi (kelompok minoritas yang nggak berani naik) memesan sebuah mobil untuk naik ke atas. Aku dan cewek-cewek yang takut berharap semoga mobil itu tidak jadi datang. Tapi kalau tidak ke Napua, kami juga tidak tau mau tidur dimana malam itu, sedangkan sore sudah mulai menyisakan gelap.
Finally, mobil sewaan itu datang, setelah bernegoisasi harga dan supir siap untuk enembus kerumunan masa di pasar sinagma. Kami naik ke mobil dengan jantung yang berdetak tak karuan. Aku ambil posisi duduk di tengah paling belakang. Semua kaca mobil di tutup. Kamia pun berangkat dengan doa yang tak putus-putus ku ucap di mulut.
Sampai di pasar sinagma, memanga abanyak orang bersenjataa berserakan.  Tapia abaukan oranaga papua yang memakai koteka membawa panah seperti cerita yang kami dengar. Beberapa toko dan kios sudah di tutup. Polisi dan TNI dengan seragam loreng dan sejata di tangan juga berkeliara disana. Aku tidak tau lagi berapa kecepatan  jantungku ini berdetak. Handycam yang rencananya akau pegang untuk merekaama adegan perang sungguhan itu mulai bergetar. Tak ajelas lagi mengarah kemana. 
Sampai di simpang pasar, mobil kami di cegat oleh sekelompok pilisi yang berjaga-jaga disana. Polisi menanyakan tujuan kami. Setelah kami jawaab polisi itu bilang tidak bisa naaik, jalan di pasar Sinagma sedang tidak aman. Ketua rombongan mengataakan kami adalah guru-guru SM3T yang akan naik ke Napaua, polisi itu terlihat berat dan ragu-ragu. Tapai polisi lainnya menghampiri supir kami dan member solusi.
“Kalian bisa naik, tapi sampai ke pos Napua nanti kalian lapor dengan TNI yang ada di pos sana. Biar mereka kasi ama. Jalan sudah. Tidak apa-apa. tutup saja kaca mobil ini e.” katanya meberi solusi denga logat papua yang kental.
Kami melanjutkan perjalanan dengan jantung atraksi marching band. Suara degub jantungku hamper terdengar di telinga. Masing-masing kami komat-kamit membaca doa apa saja yang kami ingat. Tapi ada juga beberapa yang tetap saja melawak, mencairkan suasana.
Ketika di perjalanan, tepatnya di lapangan pasar sinagma inilah kami melihat puluhan (bukan ratusan seperti yang dikabarkan) orang papua memakai koteka, membawa panah. Tapi syukurlah mereka tidak sedang perang, melainkan sedang duduk berbaris mendngaarkan instruksi seseorang yang berdiri di depan mereka. Mungkin itu pimpinan perangnya. Supir kami bilang, mereka sedang rapat sebelum perang. Alaamaaakk….. sebelum perang ternyata rapat dulu. Gaaool…. Terus supir kami bilang, besok insyaallah kami bisa pulang dengan aman. Karena hari minggu disini adalah hari Tuhan. Kegiatan apapun d hentikan, termasuk perang. Jadi kalo hari minggu perangnya libur dulu, hari senin baru dilanjutkan kembali. O em ji…. 
Tidak lama kemudian, sampailah kami di Napua degan selamat. Betaapa leganya hati kami melihat gerbang poskonya Alga, kak Rina dan ini. Rasanya mau sujud syukur di tanah, bersyukur bisa melewati rintangan tadi.
 
Gerbang Poskonya Alga, Ochi dan Kak Rina
di belakang itu Poskonya Alga.. kumuh luarnya.. tapi dalemnya okeh banget!

Karena hari sudah sore, badan capek dan mental juga drop. Kami menunda acara jalan-jalan ke air terjun. Sore itu kami kumpul-kumpul nggak jelas aja di poskonya Alga. Paginya, barulah kami beraksi. Melihat sunset di paagi dari dari belakang rumah Alga.

sebenernya lebih indah dari yg di foto.
 
merah saga nya nggak keliatan karena cahaya camera terlalu terang
nah ini baru dapet.. tapi agak blurr.. hohoho

Dari atas gunung Napua jam 6 Pagi. dari Atas sini kita bisa lihat kota Wamena


Siangnya, barulah kami pelan naik turun gunung ke air terjun Napua. Jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki. 
perjalanan menuju Air Terjun Napua. semua ditempuh jalan kaki cyinn..
 
naik ke sini harus estafet. saling tarik biar bisa sampe ke atas

 
lewat Hutan Belantara

di tengah-tengah huta, kami ketemu tempat lapang seperti ini. foto dolloo...
 
kami ketemu sungai ini sebelum sampe. kirain ini air terjunnya. untung bukan


harus melewati kali kecil yang bikin kaki kami berbecek-becek ria

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnyyaaa sampe juga di air terjun Napua-Wamena-Jayawijaya. Ini dia penampakan air terjunnya… lumayaannn..

mereka langsung nyeburrr... aku nggak bawa celana ganti. gak berani ikut
akhirnya setelah kak Rina janji minjemin celana panjang, aku bisa nyebur dan berfosee... eaakkk
cari insprirasi
Absen dari kiri : Aidi, Jumi, Risma, Aku, Rina. semuanya SM3T Riau
si Alga (pake baju hitam) udah membeku kedinginan
Absen dari kiri searah jarum jam : I'am, aku, Aan, Tika, Rina, Aidi, Jumi, Ellen,
Risma, dan anak2 Papua. Masi banyak yg belum ikutan nih.

Setelah air terjun Napua, destinasi selanjutnya adalah air terjun Air Garam yang ada di Distrik Asotipo. Nantikan cerita dan fotonya hanya di blog tercintah ini yaaaaaa ^_^

20 September 2014

Guru SM3T Di Pelosok Wamena Kampanyekan Gaya Hidup Sehat


Kebiasaan hidup tidak sehat siswa siswi SD YPPGI Hitigima, Distrik Asotipo, kota Wamena membuat dua guru muda yang tergabung dalam Program SM3T ini risau. Bagaimana tidak, pemandangan “Angka 11” yang terus saja mengalir tiada henti dari hidung anak didik. Bahkan cairan kental itu sampai mengering karena dibiarkan begitu saja. Kadang-kadang kalau nasib ingusnya mujur, cairan itu kembali masuk ke mulut anak-anak  berkat jilatannya. Jijik? Tentu saja. Bahkan hari pertama pemandangan ini tak pelak memancing isi perut dua guru muda itu keluar. Habislah nasi sarapan pagi dmuntahkan.

Belum lagi kaki-kaki mereka yang tidak pernah menggunakan sandal apalagi sepatu. Kaki itu menginjak lumpur sejak 2 hari yang lalu tidak dicuci, lumpur dan tanah itupun mengering di kaki mereka. Dengan kaki kotor itulah mereka berangkat ke sekolah. Ditambah lagi bau badan yang entah berapa lama tidak menyentuh air, rambut yang bau karena tidak mengenal shampoo dan baju seragam yang sudah berubah waarna menjadi coklat. Bisa dibayangkan baunya sangat menyengat hidung.

Dengan latar belakang masalah itulah dua guru asal Riau dan Kalimantan ini mengadakan kampanye hidup sehat untuk peserta didiknya. Dengan modal uang pribadi, mereka turun ke kota membeli sekitar 180 sikat gigi, odol dan sabun cair untuk cuci muka.

Selasa (09/09), Tepat pukul 11.00 WIT anak-anak sudah berbaris di lapangan. Sejak hari jum’at yang lalu guru sudah mensosialisasikan bahwa hari selasa akan ada kampanye hidup sehat, jadi antusias anak-anak sangat tingggi untuk bisa mendapatkan sikat gigi gratis, yag biasanya jarang hadir, hari itu hadir semua.
Setelah diberi motivasi hidup bersih dan manfaat hidup sehat oleh salah satu guru muda dari Riau yang biasa di panggil ibu guru Risa, anak-anak juga melihat demonstrasi cara menyikat gigi yang benar, cara mandi, cuci tangan dan lainnya dari ibu guru Hotma, guru SM3T asal Kalimantan.  Setelah mendengarkan pengarahan, barulah anak-anak membentuk lingkaran untuk memulai sikat gigi bersama.



tukang foto         : Arfan, asal Universitas Mulawarman, Kalimantan
tukang peraga     : Hotma, Asal  Universitas Mulawarman, Kalimantan
tukang ngomong : Risah

Sikat Gigi Bersama
Setelah guru membagikan sikat gigi, anak-anak menerima odol yang langsung di oleskan Ibu Guru ke sikat gigi yang sudah di pegang anak-anak. Setelah di pastikan semua mendapatkan odol, ibu Hotma, Ibu guru Risa dan di bantu guru-guru SM3T dari distrik Air Garam dan Asolokobal ikut memperagakan cara menyikat gigi yang benar di depan murid-murid.


Sebelumnya guru juga sudah menginstruksikan kepada anak-anak untuk membawa gelas dari rumah, sedangkan air disediakan di sekolah.

Cuci Muka Bersama
Acara gosok gigi selesai, agenda berlanjut ke cuci muka bersama. Kembali guru harus berkeliling untuk membagikan sabun cair kepada siswa-siswi SD YPPGI Hitigima dari kelas I-VI yang sudah tidak sabar.
Berbagai celetukan murid terdengar, seperti “sabunnya harum”, atau “Bu Guru, tambah lagi sabun punyaku boleh”, dan berbagai komentar lainnya. Ibu guru Hotma mulai mendemonstrasikan cuci muka menggunakan sabun. Beberapa detik kemudian hebohlah lapangan dengan wajah murid-murid yang penuh busa.
Hotmauli Gultom, SM3T asal Kalimantan dan siswanya
Gosokk teroooss... :D
Setelah sikat gigi dan cuci muka bersama, terlihatlah wajah-wajah segar dari siswa, senyum-senyum dengan gigi putih bersih. Dan keceriaan mereka mendapatakan sikat gigi baru. Selanjutnya Ibu Risa berdiri di tengah lapangan dan  menyimpulkan kegiatan hari ini. Anak- anak dengan antusias menjawaab pertanyaan-pertanyaan dari ibu guru, dan membuat janji akan menerapkan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari kedepannya. 
 
guru SM3T, Kepala Sekolah SD YPPGI Hitigima dan anak-anak yang ceria
setelah sikat gigi bersama. "kita orang su pu sikat gigi gratis dari ibu guru"

 

BERSIH….. YES!!!
KOTOR….. NO….!!!

#Terimakasih kepada :
1.      Kepala sekolah SD YPPGI Hitigima, Pak Pilemon Asso
2.      Guru-guru yang membantu menyukseskan acara ini, Bapak Yoel Wetipo, S.Pd.k, dan Bapak Yan Asso
3.      Guru-guru SM3T, Pak Darwin S.Pd (Kalimantan) dan Pak Marsidi S.Pd (Riau) dari Desa Air garam distrik Asotipo, dan Bapak Arfan S.Pd (Kalimantan) dari desa Megapura distrik Asolokobal.

*****Sekian, Semoga bermanfaat*****





19 September 2014

Memberantas “Angka 11”


Kali ini cerita lagi-lagi berasal dari distrik Asotipo, SD YPPGI HITIGIMA. Satu hal yang sangat mencolok ketika kami guru SM3T bertemu dengan anak-anak didik kami pertama kalinya di lapangan. Pemandangan yang mencolok itu dating dari wajah-wajah polos mereka yang di hiasi angka 11 yang mengalir dari hidung. Mungkin karena suhu udara di sini yang selalu dingin (berkisar antara 18- 26 derajat celcius) dan gaya hidup mereka yang jauh dari kata bersih dan sehat.
 
siapa yg tahan ngajar dengan pemandangan murid yang rata-rata begindang cyiinn....

SD YPPGI HITIGIMA #Part 2


Baca cerita sebelumnya di SINI

Anak Kelas VI Masih Buta Aksara
Ketika kami mengumpulkan semua murid dan observasi kemampuan baca mereka, ternyata hasilnya jauh dari yang diharapkan. Siswa kelas VI masih ada yang tidak kenal huruf, sebagian ada yanga masih mengeja, dan sebagian kecil ada yang sudah bisa membaca dengan kecepatan over low.



Itu baru kelas VI, Kelas V, IV dan kebawah jangan di tanya. Ketika aku masuk kelas III dan menuliskan semua huruf abjad di papan tulis, mereka hanya hafal huruf A-G. huruf selanjutnya masih banyak yang ragu bahkan tidak tau sama sekali. Anak kelas IV yang seharusnya sudah tau nilai tepat puluh ribuan, ketika kami tanya, puluhan saja mereka bingung. Ketika belajar bahasa Indonesia, Partnerku Hotmauli Gultom S.Pd yang berasal dari Universitas Muawarman Kalimantan membacakan sebuah teks, ketika dia tanya Judul teks kepada anak-anak, mendadak kelas menjadi hening seperti kuburan. Bayagkan, bagamana mereka memahami teks, ditanya judulnya saja mereka terdiam. Benar-benar miris.

Administrasi Sekolah Kacau
Dengan keadaan yang sudah dijelaskan di atas, administrasi sekolah jangan diragukan lagi, sudah bisa dipastikan NOTHING. Tidak ada yang namanya RPP, Silabus, Program Semester, Program Tahunan dan lain-lainnya. Ketika kami tanya kalender pendidikan untuk menyusun silabus, Kepala Sekolah mengatakan belum turun dan Dinas Pendidikan. Padahal tahun ajaran 2014/2015 sudah berjalan lebih dari sebulan.

Satu hal yang lebih lucu lagi adalah jadwal pelajaran. Bagaimana bisa jam pelajaran KTK lebih banyak dari pada jam pelajaran (Jampel) Matematika. Bahasa Indonesia juga hanya 2 jam. Anak kelas I, II dan III punya jam pelajaran yang sama. Padahal seharusnya kelas 1 30 jam, kelas II punya 32 jampel, dan anak kelas III punya 34 jampel sesuai dengan ketentuan kurikulum 2013. Namun sayangnya, sekolah ini masih memakai buku-buku paket dan kurikulum KBK (Tahun 2004) dan baru saja salah seorang guru ikut pelatihan penerapan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006). Ketika kami rapat dengan guru, kepsek memberitahukan bahwa akan ada pelatihan kurikulum KTSP utuk smua guru. Helloowww…. Se indonesia sudah sibuk sana-sini pelatihan dan penerapan kurikulum 2013. Disini malah baru mulai belajar gunakan KTSP. Alangkah Lucunya Negri Ini.

Rapat Guru Yang Berlangsung 7 Jam
Hari kedua kami bertugas d SD YPPGI HITIGIMA ini (3 September 2014), kami langsung mengikuti rapat guru yang di mulai jam 11.00 WIT. Rapat ini membahas agenda penempatan guru kelas dan pembagian guru bidang studi. Kemudian juga akan membahas masalah kesiswaan, sampai pembahasan anggaran dana BOS (Biaya Operasinal Sekolah) yang akhirnya cair juga setelah 6 bulan berlalu.

Di rapat guru itu kami sebagai guru SM3T berusaha semaksimal mungkin memperbaiki ADM sekolah dan memberikan masukan-masukan kepada kepala sekolaha Syukurlah kepsek sangat open minded, beliau menerima usul baik yang kami sarankan. Pembagian tugas dan hala-ahal penting lainnya sudah di bahas dengan lancar.

Namun tiada kami sangka rapat tersebut berlangsung hampir 7 jam!  Bahkan saat makan siang pun rapat tidak ditutup, tapi tetap rapat sambil makan hidangan yang sudah disedian istri kepsek sekaligus merupakan calon guru kelas I. Menu siang itu adalah nasi bulog dan mie instan yang di rebus dengan sayur sawi. Akhirnya rapat selesai jam 17.40 WIT. Luarr biasaaaaaaa…!!!

Cara Pembagian Anggaran Dana BOS Yang Unik
Setelah selesai membahas adiministrasi, kepsek mulai membuka lapak pembagian uang. Dana BOS yang baru saja cair hari itu, di keluarkan di atas meja. Jumlahnya sekitar Rp. 30.000.000. Mulailah acara hitung menghitung uang. bendahara membagia-bagi uang itu dalam beberapa kelopok, hal-hal yang di anggap perlu, di sediakan uangnya langsung di pisahkan di tempat lain. Jadilah meja penuh tumpukan uang.

saking transparannya, uang di serakkan gini di meja

Pembagian dana ini menurutku cukup unik juga. Biasanya pembagian anggaran di lakukan di atas kertas saja, uang tetap di simpan di bank, dan kapan perlu uang akan di ambil. Mungkin karena sifat transparansinya yang berlebihan membuat kepsek membuat lapak seperti ini, hahaha..

Masih banyak cerita unik dan aneh lainnya di tepat tugas kami. Mohon doanya semoga semua program yang kami canangkan berjalan lancar J

#Tulisan ini juga di posting di blog : http://sm3turjayawijaya.blogspot.com


Kepsek SD YPPGI Hitigima : Kami Butuh Guru Sarjana


Sekolah ini adalah sekolah tertua yang ada di distrik HITIGIMA, salah satu distrik di pojok kota Wamena. Didirikan oleh yayasan Gereja-gereja Injil. Sampai sekarang punya nama SD YPPGI (Yayasan Pendidikan Gereja-Gereja Injil) Hitigima. Sekolah ini berdekatan dengan gereja  Injil.  Walaupun penuh keterbatasana, sekolah ini telah melahirkan orang-orang sukses, seperti Sarjana yang sudah jadi Guru dan Bupati.

Yup! Benar sekali, bupati Wamena adalah alumni dari SD YPPGI Hitigima. Beliau lah yang melanjautkan perjuangan memperbaiki infrasturktur sekolah. Dan membangun sebuah gereja besar di depan sekolah.

Walaupuan sudah melahirkan alumni seorang  bupati, sekolah ini masihlah banyak kekurangan. Dari tenaga pengajar yanga hilang entah kemana rimbanya, sampai anak-anak kelas 6 yang tidak bisa membaca. Saya akan mulai ceritakan satu persatu.

Bertemu Mr. Fujiko, Kakek dari Jepang.


Ketika kami mendarat di bandara Soeta, Jakarta jam 20.30 WIB,  dan kami harus menunggu sampai jam 23.30 WIB utuk terbang ke bandara Sentani, Jayapura disinilah keahlian menghabiskan waktu agar tidak bosan menunggu dikerahkan. Dari duduk mendengar musik, sampai mencari-cari bule untuk  mengasah kemampuan English atau untuk di ajak ngobrol ngalor ngidul pake bahasaa antah berantah. hahaha

Malam itu, setelah menjama’ solat magrib dan isya, kami berfoto ria di ruang tunggu keberangkatan menuju Jayapura. Suasana Papua mulai terasa karena dinding pembatas semua ditempeli stiker bergambar orang Papua, ada foto-foto festival lembah baliem , foto-foto orang Papua berkoteka, rumah honai dan banyak lagi. Sebagian temanku menghabiskan waktu untuk tidur, sebagian lagi yang tidak tahan gadjetnya mati, sibuk mencari terminal carger, sedangakan aku duduk manis berusaha menangkap sinyal wifi. Biasa deh, maniak internet gratisan always do that.

:
dari kiri : Amak, Aam, Mas Aris, Aku, Aidi, Kak Endang, 
ada taman baca, tapi isinya majalah nggak jelas #atau aku nya yg gak ngerti

14 September 2014

When Your Birthday in Papua

Ini adalah Minggu ke dua ku di Wamena. Minggu pagi yang lengang seperti biasa. Hari minggu adalah hari Tuhan, dan semua masyarakat yang mayoritas kristen sangat menghormati hari Tuhan. Semua kegiatan dihentikan, pasar juga toko-toko di larang berjualan. Tukang becak, angkot, ojek dan taksi dilarang beroperasi. Karna hari minggu adalah hari Tuhan. Saatnya umat kristiani beribadah. Bahkan kalau di Kabupaten Lanny Jaya (kabupaten yang bertetangga dengan kota Wamena) dilarang melakukan kegiatan apapun di rumah, menyapu halaman juga tidak boleh. Pokoknya minggu pagi di Papua itu ibarat kota mati. Kosong melompong kayak kuburan..

Hari ini mungkin adalah hari yang special buat partner ku, ibu Guru Hotmauli Gultom S.Pd. tapi mungkin tidak se spesial tahun-tahun sebelumnya. Karna tahun ini, doski harus melewati hari ulangtahunnya di Papua… tidak ada kue ulangtahun dari vanhollano, tidak ada lilin yang akan di tiup, tidak ada kado, dan tidak ada teman yang tiba-tiba datang rame-rame ngasi surprise… karena kami saat ini ada di atas gunung desa Hitigima. Jauh dari kota, jauh dari teman-teman… sedihnya hotma...

Untuk menumpas rasa sedih dan kecewa adikku yang hobi memanggilku Eonniee (kakak dalam bahasa korea) ini, pagi-pagi aku udah rempong di dapur. Aku membuka lemari stok makanan kami. Hasilnya nihil, tidak ada sesuatu yang bisa di jadikan kue. Akhirnya ide brilian aku muncul, dan setelah setengah jam berkutat di dapur, , jadilah kue ulangtahun ala hitigima…


Here is.. birthday cake from friedrice… hahahha
si Hotma kadang di panggil Uli
Komposisi :
Nasi goreng
Telur dadar
Selada dari anak murid
Jeruk bali dari anak murid juga
cabe merah dari anak Murid
Saos beli sendiri

Waktu aku lagi bikin kue, hotma lagi rempong prepare ke gereja. Doski lagi nyetrika di ruang tamu, begitu aku selesai, aku langsung bawa kue nya kedepan dan nyanyiin lagu selamat ulangtahun pake versi bahasa korea (kami berdua itu korean addict loh..)

Saengi chukkaa hamnida.. saengi chukka hamnidaa…
sarangaaneul uri Hotma… saengi chukka hamnida… horeeee….
 
si Uli dengan senyum sumringah pagi-pagi di kasi suprise abal-abal
selfie bertiga doloo...
Abis nyanyi-nyanyi gaje, Hotma make a wish sebentar dan tiup lilin yang dari tadi aku usahakan supaya apinya nggak mati. Lilin ini aku buat dari lidi dan di atasnya lapisi kapas, setengah mati menahap supaya api nya nggak lari di bawa angin. Senangnyaaa akhirnya ada acara tiup lilin. Pake make a wish segala lagi.. hahaha..

Si Bapak Wetipo yang tinggal serumah dengan kami bertugas memegang handycam untuk merekam reaksi hotma saat aku kasih surprise… tapi reaksinya agak mengecewakan, aku kira dia bakal nangis-nangis dan kami berpelukan kayak teletubbies, ternyata dia malah ketawa ngakak liat kue ultah abal-abal ala aku. jiaaahh…… 

“uu maak lekk… kakak… jadi dari tadi kakak sibuk di dapur bikin ini kah?” tanya nya dengan logat kalimantan.

Aku mengangguk-anggukan kepala kayak burung pelatuk.

Huaaa… unnniiiieeee… kamsahammidaa…. Unniiee.. sarangee,,” alay versi koreanya kumat. Aku geleng-geleng, bapak geleng-geleng, anjing yang menonton pun geleng-geleng.

Sampe siang, Hotma pulang dari gereja, nasi goreng masi belum tersentuh. Katanya sayang dan nggak tega ngerusak hiasannya.. padahal aku nyiapin nasgor itu biar dia bisa sarapan dulu sebelum ke gereja. ujung-ujungnya aku deh yang nyicip dikit-dikit, tapi lama-lama tinggal setengah.. muehehehe.. abis laper sih… hihihihi…
HAPPY BIRTHDAY HOTMA SAYAAAANNKK....

Semoga Tuhan beri kami kesabaran mengarungi bahtera kehidupan selama setahun bersama ku #udah kayak laki bini ini.. iuuu...

Semoga target-target yang kita harapkan bisa tercapai...
Semoga sehat selalu, karna kalo mu sakit, aku yang repot. Hahaha
Dan semoga semua yang terbaik Tuhan beri padamu.

God Bless You chinggu.. muach!