27 Desember 2015

Ketemu Bule Korea


Ini draft blog sejak masih di Papua yang belum sempat terposting. Pengen aja diceritain di blog ini. itung-itung nambahin postingan di tahun 2015. Muehehe..
 
Ceritanya hari Selasa SMP dan SMA Advent Sogokmo ngadain acara penamatan. Karena sekolah ini masih satu distrik dengan poskoku, dan kami kenal baik dengan guru-guru dan kepseknya, jadilah kami guru-guru SM3T yang baik hati, suka makan gratis dan rajin menolong ini pun terjun langsung ke TKP. Bantuin dekorasi dan segala kerempongannya. Sampe larut malam baru deh kelar dekorasinya, dan mau nggak mau harus nginap di rumah kepsek SMA Advent Sogokmo, Sir Yoddy. Sebenarnya nggak perlu dipaksa pun kami mau banget nginep disini, karena sinyal wifinya kenceng buangett, nggak nyangka di tengah-tengah pegunungan ada sinyal wifi sekenceng ini. Buka youtube aja kagak ada buffer nya cyinn..

Ma’am Ola, istrinya kepsek yang asal manado bilang, besok bakal ada donator yayasan yang datang dari korea. Wuidih.. kami makin exited aja nungguin acara penamatan besoknya.

Ternyata orang korea yang datang ini sudah 14 tahun berturut-turut selalu hadir dalam acara penamatan siswa SMP dan SMA Advent Sogokmo. Beliau lah donator tetap sekolah ini. Beliau adalah pemilik pabrik obat herbal di Korea. Beliau juga donator organisasi 1000 MISSIONARIS MOVEMENT INDONESIA yang menyebarkan missionaries-missionaries muda ke pelosok-pelosok Indonesia. Nggak tau segimana kayanya ni ajumha (Bibi dalam bahasa Korea) karena sekolah yang di donatorinya juga ada di Filiphina. Gilaakk...

Kemaren aja, H-2 sebelum acara , bule korea yang belum menikah ini jalan-jalan ke Anggruk. Salah satu distrik terpencil di kabupaten Yahukimo. Beliau bagi-bagi sembako. Distrik itu cuma bisa ditempuh dengan pesawat. Jadi ajumha ini nyarter pesawat 32 jetong cyin.. Cuma buat pergi 5 orang doang.  Eddaann orang kayaaa…

26 Desember 2015

Resensi Novel “Akik dan Penghimpun Senja"



Novel  "Akik  dan Penghimpun Senja"
Prolog
Novel ini sudah rilis sejak aku masih di Papua. dan begitu pulang ke Pekanbaru aku langsung ke gramedia untuk membeli buku ini. Betapa penasarannya aku dengan karya Afifah Afra kali ini. Karena judulnya sangat kekinian. Batu akik. Ya, batu akik pada waktu itu sedang menjadi bintang di Indonesia. Sampai-sampai para kolektor permata, intan mutiara mengerutkan kening, mereka kalah pamor. Apa bagusnya batu akik sampai se tenar itu (yang saat ini ketenarannya sudah memudar). Di TV, Koran, berbagai artikel selalu memberitakan soal batu akik. Dari anak-anak sampai orang tua semua mencari batu akik. Kehebohan batu akik lebih menggemparkan Indonesia ketimbang comeback nya One Direction.  Tiada ku sangka, Afifah Afra mengambil kesempatan itu untuk menelurkan satu lagi novelnya. Prime time!


24 Desember 2015

Resensi Novel : Bila Mencintaimu Indah


Judul : Bila Mencintaimu Indah
Penulis : Triani Retno A
Penerbit : PT. Elex Media komputindo
Tebal    : 201 halaman
Genre  : Novel Islami


Keisha. Nama yang indah untuk menjadi tokoh utama sebuah novel. Gadis yang sejak kecil punya cita-cita ingin menjadi wartawan. Kerena menurut mamanya, salah satu profesi yang bisa membawa nya menjelajah negeri adalah wartawan.

Lulus SMA keisya terbang ke Amrik demi mewujudkan impiannya menjadi wartawan. Ia mendapatkan beasiswa jurnalistik di universitas ternama di Amrik. Meninggalkan kedua orang tuanya, meninggalkan sahabat-sahabatnya, Maura, Andre, Imel dan Eggy. Ya, Eggy adalah sahabat terdekatnya. Eggy sudah beberapa kali menyatakan perasaanya pada Keisha. Tapi keisha yang belum yakin dengan perasaannya sendiri, memilih untuk tetap bersahabat. 

Keisha berhasil mewujudkan impiannya. Kembali dari Amrik ia menjadi reporter di B-TV. Keisha yang cantik, pintar dan selalu enerjik masih belum peduli pada perasaannya sendiri. Apakah ia hanya sayang sebagai sahabat kepada Eggy, atau ia telah jatuh cinta. Hari-hari berlalu, dan waktu terbuang begitu saja. Sampai kejadian-kejadian tak terduga terjadi….

Maura, sahabatnya ia temukan tewas dibunuh perampok. 2 tahun kemudian, Eggy yang sudah menjemput mimpinya menjadi seorang pengacara menghilang selama satu bulan. Kabarnya ia diculik. Keisha mulai merasa kehilangan, mulai menyadari perasaannya. Tapi ketika ia sudah yakin bahwa ia benar-benar mencintai Eggy, sebuah berita dari Harry teman sekantor yang juga mengejar-ngejar cinta Keisha memberi kabar bahwa jasad tak dikenal yang ditemukan di tengah hutan adalah Eggy. Eggy yang ia cintai menjadi korban mutilasi. Eggy, sahabat yang sangat mencintainya dan menunggu Keisha bertahun-tahun kini jasadnya telah terpotong enam.

20 Desember 2015

Tips backpacker hemat dan nyaman ke Raja Ampat


1.       Buat rombongan. Kalau mau hemat jangan berangkat berdua doang ama pasangan, apalagi sendirian. it’s okay kalo budjet kamu di atas 15 juta boleh deh sendirian. Karena buat sewa kapal keliing pulau aja udah 7 juta. Tapi kalo uang kamu berlimpah, dan mau nyobain sensasi privat tour. It’s okay. No problem. Kalo aku sih ogah. Percayalah, bersama lebih baik.



2.       Cari tiket pesawat murah.Kan sering tuh ada tiket promo dari berbagai maskapai, tapi udah aku pantau terus sejak pertengan tahun 2015 sampe aku pulang dari raja ampat kemaren bulan , nggak ada promo ke papua. palingan promo sekitaran pulau jawa dan Sumatra aja. Tapi Tuhan bersama rang-orang yang sabar, pantau aja terus web yang jualan tiket pesawat kayak traveloka. E tiket. Dll. Biasanya prime time tiket promo itu tengah malam

Banana Boat at Pamutusan Island

Biar lebih seru, baca dulu cerita sebelumnya:
Camping dan Snorkeling di Pulau Pamutusan
Camping dan Snorkeling di Pulau Pamutusan #2 
Suatu pagi di Pulau Pamutusan 

Apa yang terpikir ketika menyebut banana boat? Boat pisang? Atau boat yang bentuknya seperti pisang. Yap! Benar sekali. Banana boat adalah salah satu wahana permainan di air. Bentuknya seperti pisang, di tarik menggunakan kapal speed boat dan melajulah di tengah birunya laut. 

Di Sumbar, ada beberapa titik tempat kita bisa bermain banana boat. Di pantai carocok salah satunya. Tapi pantai carocok saat ini sudah sangat ramai. Tidak asik menikmati pantai jika terlalu ramai pengunjung. Aku dan teman-teman rombonganku memilih untuk main banana boat di sebuah pulau yang belum terlalu ramai. Sebelumnya kami pun sudah camping disana, paginya kami snorkeling dan main banana boat. What a beautiful Holiday.
 
Ready to Banana Boat
Darwin di kerjain, di pakein sunblock tapi ngak di ratain.. jadi kayak tikus keluar dari tepung :D
Naik ke Banana Boat nya penuh perjuangan cuy
bersiap untuk meluncurrrrrrrr

19 Desember 2015

Suatu Pagi di Pulau Pamutusan

Suatu Pagi di Pulau Pamutusan, Sumatra Barat

cerita sebelumnya :

Camping dan snorkeling di Pulau Pamutusan, Sumbar

Camping dan Snorkeling di Pulau Pamutusan, #Part 2


Langit masih gelap, debur ombak terdengar sangat syahdu karena tiada suara lain dipulau itu. beberapa tenda yang berbaris disamping kami masih tertutup rapat. Aku keluar dari tenda yang sudah seperti sauna. Sekitar jam 3 pagi baru bisa tidur. Sebelumnya aku cuma memejamkan mata tapi tidak bisa tidur karena badan basah oleh keringat. Ternyata ngecamp di pantai jauh beda sama ngecamp di gunung. Di pantai panas bangeett… jam 5.30 aku melangkah mengikuti Jamira ke kamar mandi umum untuk berwudhu. Kami sholat subuh di detik-detik matahari terbit. Ighfilri ya Robb…
 
Selesai dua rakaat, kami keliling pantai. Menikmati irama debur ombak di pulau yang sunyi, mendengaran kicauan burung yang hinggap di pulau kecil ini kemudian terbang lagi.  Menyusuri dermaga yang berwarna kebiruan. Menyaksikan kerlap kerlip lampu di pulau pagang yang dimatikan satu persatu. Dan tidak lupa berpose alay dengan camera HP seadanya.

from left : Darwin, aku dan Iam. keliatan banget muka bangun tidur nya :D
ada paparazi
Guvan, guide kami yang berdedikasi baru bangun dan kami langsung mengajaknya tracking ke puncak pamutusan untuk menikmati sunrise dari atas. Dengan baju piyama, sandal jepit seadanya, dan muka bangun tidur kami tracking ke puncak. Iam bahkan masih bergulung dalam sarung. Padahal aku sudah menyiapkan kostum untuk tracking, sepatu keren juga sudah kubawa. Semuanya sia-sia hanya terpendam di dalam tas yang saat ini di tenda. Kalau harus ganti kostum dulu kelamaan, bakal nggak kebagian nonton bioskop terbitnya matahari. Rugi dooong..

Naik ke atas diperkirakan cuma 15 menit doang. Tapi ketinggiannya lumayan curam dan licin habis ditimpa hujan tadi malam. Kaki ku berasa kebas berjalan di kemiringan yang tajam dan selicin itu. Beberapa kali aku berhenti dan menarik napas ngos-ngosan.  Gimana mau  nanjak merapi kalo bukit beginian aja udah ngos-ngosan. Hihihi.

Sampe di atas kita disuguhi gugusan pulau-pulau dan birunya laut. Ditambah bonus sunrise yang kueeereeeennnn banget.. tapi sayangnya aku nggak bisa menggunting indahnya matahari terbit pagi itu dan menempelkannya di blog ini, karena lagi-lagi kami nggak bawa kamera. Cuma mengandalkan HP. Ada sih kameranya guide, tapi lupa minta file nya. Biarlah memori otak yang menyimpan semua pemandangan indah itu.
Pulau Pagang yang terlihat dari Pulau Pamutusan, dengan camera seadanya
Temani Adek, Bang...
bukan LGBT

L O V E
Mira, Darwin Iam dan aku. ala ala anak 4L4Y

Dari atas puncak pamutusan ini terlihat 2 pulau yang terhubung. Seperti jalan antar pulau. Karena itulah pulau ini disebut pulau pamutusan. Karena kalau laut pasang, sebagian dari ‘jalan’ yang terlihat itu akan tenggelam.
Mira dengan Pose nasioalisnya
Pose Nasionalis yang gatot, tiang benderanya patah -__-
With all your crazy friends laughing with you somewhere in secluded private clear blue lagoon, you can never have too much fun! :D (ngutip kata-katanya prettypucca)

Kalau Raja Ampat punya puncak Pianemo atau Wayag. Sumbar punya puncak pamutusan dan pasumpahan. It’s really like a mini raja ampat. Nggak bosen-bosen mandangin samudra yang dihiasi pulau-pulau itu dari atas. Subhanallah.. indahnya ciptaan Tuhan.

Turun dari puncak lebih gamang dari pada naiknya. Karena sandal ku cuma sandal jepit ala pantai yang sangat tidak cocok untuk menuruni bukit curam dan licin, Darwin akhirnya merelakan sandal gunungnya sedangkan dia nyeker. Yang walaupun kebesaran, tapi aku jadi lebih nyaman dan berani jalan turun ke bawah.

“Heuhh.. susah bawa nenek-nenek jalan!.” Katanya mengerutu meninggalkan aku di atas yang teriak-teriak minta ditungguin. “Pinggang nenek encok cuu…”

Sampai dibawah kita langsung ganti kostum untuk snorkeling dan underwater foto session 2. Juga syuting video underwater. Walaupun hasilnya nggak seberapa, tapi cukup memuaskan. Si Guvan sampai ngos-ngosan karena harus berkali-kali nyelam untuk mengambil gambar. Dan si mas bro (yang sampai sekarang aku masih lupa namanya) sibuk megangin live jacket dan alat snorkeling selama kita nyelam bebas tanpa alat.

Pagi itu, air masih jernih dan pulau masih sepi. Dengan leluasa kami bisa puas foto-foto underwater dan berenang-renang di pantai yang nggak jauh dari dermaga. Menambah koleksi luka di tangan dan kaki karena kena karang, dan jamira tetep dong… ngapung-ngapung 
dengan live jacket nya dan aman dari luka! :D

Jam 11 siang mulai berdatangan beberapa kapal. Karena mungkin \ hari sabtu, jadi banyak pengunjung yang sekedar datang sebentar dan kemudian pergi lagi ke pulau lainnya. Ada juga rombongan gathering dari salah satu Koran di Pekanbaru.

Guvan dan asisten guide nya sibuk melayani mereka. Dari memberikan breefing singkat, sampai underwater foto. Tapi underwater foto disiang itu tidak begitu bagus, mungkin karena terlalu ramai dan cuaca agak mendung. Jadi air laut gelap dan hasil foto kurang jernih. Kurang beruntung deh si oom oom. Kapan-kapan balik lagi om… 

Siang itu kami juga kedatangan satu anggota yang mau ikutan ke pamutusan. Tapi karena doski udah punya istri, dan nggak bisa ninggalin kerjaannya, jadilah nggak bisa ikut ngecamp dan baru bisa datang hari sabtu pagi. Dokter berkulit putih ini 2 tahun PTT di Papua. Aku udah pernah juga bertandang ke tempat tugasnya di Bokondini, Tolikara. Beberapa kali ngetrip bareng. Salah satunya waktu mengejar salju ke Trikora. pernah aku ceritain DISINI dan DISINI.

Bang Poby yang jadi dokter umum di RS. M. Djamil Padang ini begitu datang langsung diajakin buat foto underwater. Karena kami udah take foto sejak kemaren, Cuma bg Poby doang yang turun, sedangkan kami nyante-nyante di ayunan.
Bg Poby bersiap snorkeling. what a crystal water!!
Begitu bg Poby kelar sesi foto underwaternya, nasi bungkus yang udah di sedian Loading Tour langsung di lahap. Setelah itu mandi, sholat zuhur dan beres-beresin tenda untuk berangkat ke pulau selanjutnya. Pulau Pasumpahan dan Suwarnadipwa. Here we cooooomeeeee…!


16 Desember 2015

Al-Fatih Preschool. Feels Like Home



Al Fatih Preeschool and Course
Minggu pagi sampailah saya di sebuah preschool yang dikelola oleh teman saya. Kak Adhek Febby Rivano. Kami para (ex) penyiar Radio Robbani FM dulu memanggilnya Mbak Okki. Karena cara berjilbab beliau kadang mirip Okki setiana Dewi. Bintang sinetron yang berhijab itu lho.
 
Bukan tanpa alasan saya datang kesini, mbak okki, eh Kak Febby meminta saya dan Cica (yang juga ex penyiar Robbani) untuk menjadi MC di acara bazar anak dan talkshow dongeng bersama Kak Agus DS. Sang Maestro dongeng tingkat Dunia. Wew… bakalan heboh nih kayaknya…
Begitu saya sampai di TKP, saya langsung takjub melihat preschool yang terbilang baru tapi sudah cukup besar ini. bayangan Kak Febby mengelelola preschool di sebuah ruko terbantahkan sudah. Preschool ini didirikan di atas sebuah rumah besar, dengan halaman yang luas. Letaknya strategis dan sangat aman, karena jauh dari jangkauan jalan raya, dan diamankan dengan pagar di sekeliling rumah. di samping rumah, sudah berdiri dengan cantik tenda dan panggung bernuansa hijau. Sesuai dengan warna yang di usung sekolah untuk anak-anak berusia 3-6 tahun ini.

14 Desember 2015

Camping dan Snorkeling di Pulau Pamutusan, #Part 2





Snorkeling adalah kegiatan yang paling aku suka kalo lagi ketemu pantai bagus. pake live jacket, pake snorkel dan ngapung-ngapung di permukaan laut menceburkan wajah melihat keindahan bawah laut yang luar biasa. Dulu pertama kali nyobain kegiatan snorkeling ini, aku agak deg-degan ketika ngeliat dasar laut yang dalam. Paling beraninya yang di kedalaman 2 meter aja. Tapi sekarang lumayaan berani agak ke tengah, kedalamannya sekitar 3-8 meter. (kalau untuk snorkeling itu udah cukup dalam). Tapi asalkan nggak sendirian! hahaha. Kalo sendirian aku takut hanyut lagi kayak waktu snorkeling di Yenbuba, raja ampat. Gara-gara exited banget aku langsung terjun dari kapal, padahal arus lagi kencang banget sore menjelang magrib itu. Untung ada 2 hero penyelamat. Alhamdulillah… hihihi.

Karena takut terbawa arus itu, kali ini aku snorkel nya nggak mau sendiri. Kadang aku ngekorin Iam, kadang ngekorin Darwin. Sampe kadang muka aku ketendang kakinya. Bodo amat! Yang penting aku nggak sendiri. Kecuali kalo snorkel di tepi yang nggak jauh dari dermaga. Berani deh aku sendirian.

10 Desember 2015

Camping dan snorkeling di Pulau Pamutusan, Sumbar


Aku sama sekali nggak pernah ngebayangin bakal punya pengalaman camping di pulau yang ada di pesisir Sumatra Barat ini kalau bukan idenya temen ku yang jauh-jauh datang dari Kalimantan. Nggak pernah ngebayangin bakal mendirikan tenda di pulau tak berpenghuni yang jaraknya 1 jam naik kapal dari kota. Gilak gak nih. Ini pulau loh… sebuah daratan yang luasnya Cuma kurang lebih 8 hektar dan dikelilingi laut.dilihat dari foto diatas, kami bakal camping di pasir putih yang ketutupan pohon yang menghubungkan 2 pulau itu. kalo nggak salah namanya semenanjung ya? karena ada pasir putih itulah pulau ini disebut puau pamutusaan, karena kalau laut pasang, maka air akan menutupi pasir itu.  Kalo-kalo malamnya pasang, maka lenyaplah sebagian pulau itu beserta isinya, belum lagi kalo malam hari ada binatang buas yang mendekati tenda. Tebayang sudah film-film horror Indonesia yang syuting di pantai. Oh my god! Darwin, kau membawa anak gadis orang dalam bahaya!

01 Desember 2015

What a Great Weekend


Aku ngerasa weekend kemaren adalah weekend yang berbobot dan full of agenda. Biasanya weekend aku emang selalu ada agenda sih. tapi nggak sebanyak agenda wekend ini dan nggak sebermanfaat ini. hihihi. Aku mau ceritain satu-satu. sebenernya agak gak penting sih buat diceritain. tapi ini kan blog gue, terserah gue doang mau cerita apa. weks. hahaha.

1. seminar Cinta Al-Qur’an
Semua keremponganku dimulai dari hari sabtu pagi. Sekolah tempat aku ngajar ngadain kegiatan buat wali murid yang kami namakan “Seminar Cinta Al-Qur’an”. Seminar ini tujuannya buat memotivasi wali murid agar membimbing anaknya dirumah. karena di sekolah tempat gue ngajar itu program unggulan nya adalah tahfizul qur’an, maka berharap orangtua bisa bekerjasama dengan baik. soalnya bakalan percuma juga kalo anaknya capek2 ngafalin berpuluh2 ayat di sekolah, tapi pas di rumah nggak diulang.

Dalam seminar itu di undang seorang ustadz, beliau adalah seorang Dosen bahasa arab lulusan LIPIA Jakarta. memiliki 6 orang anak yang semuanya adalah penghafal al –qur’an. semua loh ya.. Dalam seminar itu turut datang anak bungsunya yang sudah hafal 4 jus. umur masi 10 tahun tapi sudah kelas VI. karena waktu dites masuk SD tau-tau langsung naik ke kelas 3. kelas 1 dan 2 nya lewat. cowok ganteng pecicilan yang selalu rangking 1 disekolah itu juga sempat membacakan surat Al-Qiyamah sampai selesai. dengan tartil dan irama ala anak-anak di kaset. luar biasaa...! emak emak wali murid aku liat ada yg meneteskan air mata mendengarnya.

02 November 2015

15 Tipe-tipe Guru SM3T Selama Mengabdi


Guru SM3T ini datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk mengabdi menuju pelosok negeri. Di daerah pengabdian kita jadi mengenal karakter teman baru dan berbagai macam kelakuan unik teman-teman seperjuangan SM-3T. apa aja sih tipe-tipe guru SM3T selama bertugas di tempat pengabdian?

Inilah hasil mata-mata saya selama setahun mengabdi di Papua Pegunungan tengah. Bertemu teman-teman dari Riau (UR), Kalimantan (UNMUL) dan Surabaya (UNESA). Tepatnya di Kabupaten Jayawijaya. Postingan ini sekedar intermezzo. Foto-foto hanyalah sebagai ilustrasi. Kalau ada yang tersinggung, itu semata-mata adalah kesengajan penulis. Here we go!

1. Tukang ngabdi

27 Oktober 2015

Inilah Yang Akan Terjadi Ketika Papua di Landa Asap.

  Kabut asap kini tengah melanda Indonesia. Di beberapa provinsi sedang dalam status berbahaya, Riau yang sudah banyak memakan korban Jiwa, Kota Palangkaraya yang ISPU nya sampai 1900. Dan banyak lagi kota-kota lainnya. Kabut asap ini melumpuhkan bandara, menggagalkan lebih dari 3800 penerbangan di bandara Sultan Syarif Qasim Pekanbaru. Kerugian perusahaan penerbangan sudah milyaran. Asap semakin hari semakin pekat, Bandara lumpuh total.

Namun, walaupun Bandara lumpuh, perekonomian di Riau masih tetap bisa berjalan karena punya akses darat. Yang tentu saja lebih banyak memakan waktu. Tapi jika kabut asap yang berasal dari pembakaran lahan di daerah Papua Barat sampai terbang ke Kota Wamena, yang terletak di daerah pegunungan tengah papua, yang tidak punya akses darat maupun laut, inilah yang kira-kira akan terjadi :

1. Bandara lumpuh

Bandara adalah titik point perekonomian di wamena. Karena tidaka da akses masuk ke pegunungan tengah papua selain pesawat, jadi semua sembako di antar pakai pesawat. Sebelumnya saya pernah menceritakan mengenai bandara Wamena di cerita Hercules Jatuh. Kemaren sempat pesawat Hercules tidak beroperasi karena perbaikan berkala, dan bensin di wamena tembus sampai harga Rp. 90.000/liter. Gilak gak tuh?

21 Oktober 2015

Travelling Alone around Papua #2



Sentani airport  #abaikan muka

cerita sebelumnya >  Travelling Alone around Papua

Aku keluar dari bandara dengan manggul carier padat, kardus mie dan muka kucel padahal ini masih jam 09.20 pagi. Begitu keluar dari bandara aku liat banyak banget para penjemput. Dan udah pasti nggak ada di antara mereka yang jemput aku! Tapi ternyata anak sholeh di sayang Tuhan. Diantara para penjemput ada satu orang yang aku kenal. Dialah Ustadz Rifki yang lagi berdiri gendong anaknya. Begitu aku ketemu Ustadz Rifki, aku kayak liat harta karun! Mata aku berninar-binar! Ustadz Rifki adalah guru bahasa Arab aku di Wamena. Selama bulan puasa Ustadz Rifki tinggal di Wamena dan membuka kelas Tahfidz dan bahasa Arab. Aku sempet beberapa kali ikut kelas bahasa arabnya di Masjid Polres Wamena… arrrgghh… senangnyaaa….

“Assalamualaikum Ustad.” Aku langsung menyapa beliau yang keliatan lagi celingak-celinguk nyari orang di terminal kedatangan.

Si Ustad pun kaget bisa ketemu aku di Jayapura. Sendirian pula! Aku agak malu karena kostum aku hari itu tomboy banget. Ala-ala backpacker banget lah. Celana gunung, kaos bertulisan I Love Raja Ampat. Ditambah bawa carier. Addoohh.. malu banget. Karena biasanya ketemu ustad kan di pengajian dengan rok lebar  dan jilbab menjulur. Tapi Ustad yang masih muda dan gaul itu maklum karena tau aku abis dari  Raja Ampat. Secara sebelum ke Raja Ampat aku umumkan ke mana-mana. Hahaha..

Aku cerita kalo hari ini transit di Jayapura, besok pagi baru berangkat ke Wamena. Eh Ustadz Rifki malah nangkep nya aku transit karena pesawat ke Wamena Delay. Soalnya dia sempet denger juga Trigana Delay. Ya udah aku males meluruskan. Yang penting aku punya tempat bersadar untuk bantuin nyari penginapan. Punggung berasa mau bengkok mikul carier.

Ustadz Rifki bilang, di sekitaran bandara banyak penginapan. Harganyaa pun murah. Dari harga 125rb. Ustadz Rifki langsung mengambil HP nya dan menelpon seseorang. Ternyata beliau di sini lagi nungguin temennya dari Wamena. Temennya itu bawa titipan oleh-oleh nanas bokondini.  Singkat cerita aku dititip ke temennya Ustadz Rifki. Karena temennya itu di jemput om nya pake mobil dan bakal transit juga di Jayapura. Besok pagi berangkat ke Merauke. Memang rejeki anak sholeh. Aku berasa mau sujud syukur di bandara di pertemukan dengan Ustad Rifki.

Pas temennya Ustadz Rifki (kita singkat TUR) keluar dari bandara, aku sama sekali nggak kenal. Katanya Beliau kerja di Yayasan apa gitu di Jakarta dan selama bulan puasa kemaren ditugaskan di Wamena. Orangnya cakep, berkulit putih dan ramah banget. Waktu om nya jemput, aku dikenalin sebagai sesama warga Wamena yang lagi transit di Jayapura karena pesawat Delay (again). Om nya ternyata welcome banget dan ngajak nginep dirumahnya. Besok pagi-pagi dia yang bakal nganterin ke bandara. Ya Allah.. makasi bangeettt…

Di mobil aku denger mereka ngobrol pake bahasa Minang. Aku pun langsung cerita kalau ummiku juga orang Minang. Cerita punya cerita ternyata kampung kami sebelahan di Pariman, Sumbar. Obrolan yang tadinya basa basi pake bahasa Indonesia, jadi berubah ke bahasa Minang. Setelah di runut keturunan sana-sini. Ternyata aku harus manggil si Om dengan sebutan Pak Etek yang berarti Paman dalam bahasa Minang. Wow. What a small world!

Sampe dirumah aku langsung di ajakin pergi silaturahmi ke rumah Ketua persatuan orang Minang di Jayapura. Wew.. sama sekali diluar planning nih. Aku sempet nolak karena rencana ku mau keliling Jayapura, perbatasan Papua nugini dan ke Jayapura city. Eh tak disangka, Pak Etek malah meminjamkan mobilnya ke TUR yang sudah aku panggil uda (abang dalam bahasa Minang) untuk nganterin aku ke Jayapura City. Kurang beruntung apa gue! Udah nginep gratis, transport gratis pula. Aku mengucap Alhamdulillah berkali-kali. Allah bersama para backpacker :D

Selesai “dipaksa” makan, kami bertiga pun berangkat ke Jayapura. Mampir dulu kerumah adiknya Pak Etek yang punya istri dan anak yang cantik-cantik, makan rendang, makan sate padang pake ketupat. Ah nikmatnya... Jadilah 2 mobil kami menuju rumah ketua persatuan Minang yang dipanggil Pak Haji. Entah Haji siapa aku lupa. Muehehe..

Beberapa rumah kami singgahi, dan topic nggak lepas dari aku yang seorang guru di pelosok lembah baliem. Mereka banyak nanya-nanya keadaan di Wamena dan masalah masjid yang dibakar Massa di Tolikara. Aku pun menceritakan apapun yang aku tau dengan semangat 45. Di acara silaturahmi keluarga ini aku malah jadi artisnya. Muahahhaa… untung aku punya keahlian cepat beradaptasi dan bersosialisasi dengan baik #kibasrambut

Selesai makan siang, yang entah ke berapa kalinya. Pak Etek ngasi kunci mobil ke si Uda. Sedangkan Pak Etek nanti pulangnya nebeng di mobil adiknya. Waahh… langsung deh aku dan Uda caw keliling Jayapura. Pertama ke Mall, perbatasan PNG (Papua New Guinea ), danau sentani dan banyak lagi. Keliling kota deh pokoknya. Dan semuanya nggak aku foto. Karena batre HP sekarat dan aku nyisain buat foto-foto di Jayapura City. And here is.. 
penampakan kota Jayapura  dari HP gue yang gak seberapa  :D

Jayapura yang berbatasan dengan saudra Pasifik

ikon Jayapura City. karena nggak punya drone. foto aku ambil dari SINI
kita bisa duduk-duduk di ikon nya Jayapura ini. tapi harus hati-hati. SUMBER
dari atas bukit Jayapura City
Selfie never die!
Menuju ke puncak bukit ini jalannya nanjak muterin bukit. Si Uda yang sok hapal jalannya beberapa kali nyasar dan tanya sana-sini. Di atas bukit ini juga ada pemancar RCTI, TVRI, ANTV dll. Mungkin karena ini hari libur, jadi lumayan rame. Uda mempersilahkan aku menikmati pemandangan Jayapura dari atas. Sedangkan aku kayak orang gila foto-foto sendirian pake tongsis. 

Masuk kesini gratis. Cuma bayar parkir mobil 5.000. orang jual makanan nggak ada, jadi kalo mau duduk-duduk lama disitu bawa makanan dari rumah. tapi jangan ninggalin sampah lo ya…
Sampai Malam kami keliling Jayapura-Sentani dan kembali ke Jayapura. Jayapura Mala hari katanya kayak Hongkong. Abis itu aku ditraktir makan di restoran ayam penyet dan nggak nyangka ketemu lagi  Ustadz Rifki yang lagi makan disana juga sama anak dan istrinya. What a small Jayapura.  
Jayapura di malam hari. foto ngambil dari google

Aku nyampe di rumah jam 08.30. sebelum tidur sempet internetan dulu aplod foto, karena ternyata di rumah Pak Etek ini ada wifinya. Amboooyy… nikmat bana!

Paginya aku dan Uda di antar ke bandara dan istrinya Pak Etek ngasi aku  bekal minuman kaleng sama kue-kue kering untuk dibawa ke Wamena lumayan nih oleh-oleh dari Jayapura. Hihihhi… aku cuma bisa bilang terimakasih berkali-kali atas kebaikan Pak Etek sekeluarga yang udah servis aku habis-habisan. Di antar jemput ke bandara, di ajak jalan-jalan, di pinjemin mobil, dikasi kamar anak ceweknya yang lagi liburan ke luar kota, sampe dibekalin sekantong oleh-oleh ini. Hanya Allah yang bisa balas kebaikan Pak Etek sekeluarga.
 
subuh dirumah Pak Etek. siap terbang ke Wamena
selfie selfie lagi. enaknyaaaa travelling sendirian. hahha

don't try this at home!
Sampai di Wamena aku di jemput duo bodyguard sahabatku yang kece. Si Darwin dan I’am (dibaca iam) yang udah lama nungguin di bandara Wamena. Senangnyaaa kali ini ada yang jemput. 
foto celebration. Alhamdulillah bisa pulang dengan selamat setelah travelling sendirian
“Yuk, pulang. Kalian naik apa kesini?” ajakku sambil ngasi barang bawaan ke mereka. 

“KAMI KESINI JALAN KAKI TAU!” 

“Hah? Kalo gitu kenapa kalian jemput? Mending aku pulang naik becak sendirian.”

“Yeeeee… kan tadi kamu yang maksa-maksa kami jemput. Kami kan mau jemput orang yang abis dari Raja Ampat” kata Iam.

“Hehehehe.. iya deh. Makasi yaaa…”

Kami pun jalan kaki bertiga dengan riang gembira mencari tempat sarapan. Mulutku nggak berenti-berenti cerita petualangan aku di Jayapura. Mereka cuma geleng-geleng. Muehehhe..
Thanks for reading ^_^

Coast:
Sorong-Manokwari-Jayapura (Garuda)        = 910.000
Jayapura-Wamena (Trigana Air)       = 574.000
Makan di Ayam Penyet pemuda Semarang = Gratis
total : 1.484.000

bonus :
pembagian sembako bagasi di Bandara Wamena. hanya ada di Papua!