31 Januari 2016

Belajar Menghargai Kebaikan dari Mas Gagah



Review film : Ketika Mas Gagah Pergi
 
Alhamdulillah, setelah gagal nobar KMGP bersama FLP kemaren, hari ini kami para FLPers Pekanbaru sukses ikutan nonton bareng film fenomenal ini. Kami nonton jam 09.30 it’s mean kami datang ke bioskop pagi-pagi saat pintu mall belum buka. Jadi harus naik lift barang. hihihi.  Sampai di bioskop terlihatlah pemandangan yang tak biasa. bioskop hari ini jadi lautan jilbab dengan ikhwan-ikhwan berwajah teduh. Anak-anak panti asuhan dan anak-anak pesantren yang diundang juga rame di bioskop itu. Wew, ada kurang lebih 500 orang yang akan menonton di 2 studio yang sudah dicarter oleh penyelenggara nobar ini. kerreenn..!!!

Seperti apa sih film yang bikin penasaran ini? gimana aktingnya aktor baru Hamas Syahid dalam film ini. kenapa film ini sempat turun layar padahal penontonnya sebanyak ini? kenapa harus cater bioskop dulu dan dilunasi H-3 untuk bisa menonton film ini di bioskop? Segitu takutnya pemilik bioskop memutar film ini? yok kita simak liputannya setajam pisau! #pake gaya fenny rose

Mas Gagah, sosok kakak yang begitu dekat dengan adiknya, Gita. Selalu melindungi dan tau betul caranya bersenang-senang dengan adiknya. Tapi tiba-tiba sepulang dari Ternate Mas Gagah berubah! Bajunya yang modis berubah menjadi koko, wajahnya yang maskulin dihiasi jenggot tipis. Mas Gagah bahkan berani meninggalkan dunia modeling! 

Sang adik yang menjadi sedikit terabaikan karena kesibukan kakaknya untuk berhijrah menjadi kalut. Gita tidak bisa menerima perubahan kakaknya. Mas Gagah tidak bisa lagi di ajak nonton konser, nongkrong di cafe dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan Mas Gagah mengorbankan uang tabungannya yang harusnya untuk traveling ke luar negeri bersama Gita, untuk membangun rumah singgah anak-anak pinggiran. Mas Gagah ingkar janji. Gita murka dan menuntut penjelasan.

Dua bulan di Ternate ternyata merubah Mas Gagah menjadi sosok yang berbeda. Gita merasa seperti ada orang lain di rumahnya, bukan lagi Mas Gagah yang dulu. Belum lagi hadirnya Yudi yang setiap hari selalu ditemuinya di bus kota untuk berceramah panjang lebar seperti Mas Gagah. Apa Yudi adalah orang suruhan Mas Gagah untuk mengawasinya di bus kota? Apa yang membuat Mas Gagah berubah sedrastis itu? Tonton filmnya di bioskop terdekat #eaakk… 

Yang bikin mata nggak bisa lepas dari layar film ini adalah Hamas Syahid yang berperan sebagai Mas Gagah. Sumpah demi anak-anak kucingku, Mas Gagah nya beneran gagah banget! *ngiler di bangku. Walaupun itu jenggot keliatan palsunya, tapi ketampanan dan kharisma Mas Gagah benar-benar mempesona penonton. saat Mas Gagah menemani adiknya mengerjakan PR, mengantar jemput adiknya ke sekolah, berantem melawan preman dan mendirikan rumah cinta. Ahh.. doski keren bangeettt… belum lagi bacaan qur’an nya yang bagus dengan tahsin yang mulus. Bikin klepek-klepek. Hua.. Ummi, aku pengen juga punya kakak kaya gitu *ditabok ummi pake codet.

Aquino Umar yang berperan sebagai Gita juga natural banget aktingnya. Katanya doski aktris baru tapi sama sekali nggak keliatan kaku. Aktingnya Aquino Umar sebagai adiknya Mas Gagah cucok banget. Sesuai sama imajinasi pembaca bukunya Helvi Tiana Rosa yang udah 20 tahun masi aja terus cetak ulang. Karakter Gita yang manja dan butuh perlindungan dari Mas Gagah dapet banget diperankan oleh Aquino umar. Selain itu, yang aku suka dari film ini. meskipun ada pemeran yang tidak memakai jilbab, tapi kostum mereka sopan-sopan. Seperti Aquino Umar yang berkarakter tomboy, tapi tidak pernah memakai tank top atau celana hot pans di film ini. Dia cuma memangkas pendek rambutnya, dan Viola! Aquino Umar yang aslinya feminim dengan rambut panjang bisa jadi Gita dengan karakter tomboy nya. Salut untuk totalitasnya dalam akting.

Selain pemeran-pemeran utamanya yang merupakan pendatang baru di dunia akting. Film ini juga didukung oleh lebih dari 30 artis-artis senior. Sebut saja Wulan Guritno yang berperan sebagai Mamanya Mas Gagah, Epi Kusnandar sebagai preman, Ali Syakieb sebagai pencopet, bahkan Sule juga ikut berperan di film ini walaupun cuma duduk sebagai penumpang bis. Hihihi. Penonton seolah dapat surprise di setiap scenenya dengan hadirnya pemeran-pemeran pendukung yang biasanya kalau di film lain doi jadi pemeran utama. Seperti Shiren Sungkar yang kebagian peran jadi pemain teater, Joshua yang jadi teman kampus Mas Gagah dan  masi banyak lagi artis-artis senior yang turut berperan di film ini dan mengundang gelak tawa penonton .
Film yang diawali dengan memamerkan keindahan Ternate juga memukau penonton, di tambah lagi kegagahan Mas Gagah tadi. Tapi sayang seribu sayang, pengambilan gambar di Ternate sangat sedikit dan hanya dari satu sisi saja. Mungkin biar penontonnya penasaran dan langsung pergi ke Ternate *plak! Analisa macam apa ini.

Memang banyak hal yang bikin penonton penasaran dalam film ini, selain tentu saja karena film ini dibuat bersambung, juga ada banyak adegan yang seolah lompat-lompat. Aku yang sudah berulang kali membaca bukunya (sebelum nonton aku juga membaca lagi) agak bingung dengan jumping scene di film ini (istiah macam apa itu!). Tapi karena sudah exited, ku abaikan saja. Seperti ketika Gita dan mama mengantar Mas Gagah ke bandara dan tau-tau Mas Gagah nya udah pulang dengan penampilan yang berbeda. Mbok ya di kasi keterangan tertulis “2 bulan kemudian” gitu ya. Meskipun perubahan penampilannya hanya dari baju modis ala model yang berganti menjadi baju koko dan jenggot tipis yang keliatan itu ditempel. Sedangkan celananya masih menggunakan jeans yang ketat dan memperlihatkan bentuk kaki *aku kan jadi haaaauss liatnya. *tutup mata . 

Jumping scene di bandara bukanlah satu-satunya adegan lompat-lompat di film ini. masi banyak lagi yang bikin kening berkerut. Bagi yang sudah pernah membaca bukunya, ini seperti nonton trailer yang durasinya panjang. Ibarat nonton cuplikan-cuplikan dari buku. Kalau aku jadi penonton yang belum pernah baca bukunya, pasti aku nggak ngerti dan butuh seorang guide untuk menjelaskan lebih detil. Kenapa dia begini, kenapa begitu. Loh kok tiba-tiba dia ada disini, emang kenapa dia begitu? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan sejenis yang  muncul. Apa IQ gue yang emang jongkok.

Yudi yang ’ceramah’ di bus kota juga cukup mengganggu. Kalau dibuku sih asik aja membaca sosok Yudi yang membuat Gita jadi teringat kakaknya. Berdakwah dimana aja dan kapan aja, sampai-sampai di bus pun dia ceramah dengan semangat 45. Anti mainstream banget cara berdakwahnya. Tapi ketika di visualkan ternyata jadi agak keki. 

Terlepas dari itu semua sosok Mas Gagah disini memang menginspirasi banget. Menginspirasi untuk berhijrah, untuk ngemong adik, untuk melakukan kebaikan apa aja yang kita bisa. Udah sering denger dong ya, dari pembaca buku yang dapet banget feel buku ini dan terinspirasi untuk berhijrah. Sebut saja kak Siti, temen aku di FLP Pekanbaru yang juga menjadi ‘korban’ dari efek membaca buku ini. beliau yang juga punya kakak yang selalu mengajak kepada kebaikan seperti Mas Gagah ini. Sejak baca buku KMGP jadi terinspirasi untuk berhijrah dan taraa… sampai sekarang Alhamdulillah tetap istiqomah.

Kalau dilihat dari idealisme Helvi Tiana Rosa yang merupakan penulis buku sekaligus produser film ini memang bikin salut dan patut diapresiasi. Dakwahnya tersampaikan dengan mulus. Seperti ketika mengenalkan apa itu nasyid, apa itu  ikhwan yang bikin seisi bioskop terngingkal-pingkal tertawa karena penyampaiannya yang humoris tapi masuk ke otak penonton, bahwa ikhwan itu bukan sejenis makanan seperti bakwan atau tekwan. Hahaha. Juga didukung bahasa kekinian yang membuat film tidak ketinggalan zaman seperti memvisualkan buku yang lahir 20 tahun lalu . Konflik Palestina juga berhasil diangkat di film ini. Menyentil kita sebagai muslim harusnya tidak bisa tinggal diam melihat kekacauan di Palestina. Film ini sukses membuka mata orang awam tentang hijrah, tetang berubah menjadi lebih baik. Ada kalimat dari buku yang juga ditampilkan menonjol di film ini.

“Ketika kita tidak dapat memahami suatu kebaikan, maka cobalah untuk menghargainya.”

Berasa di tabok kan sama kata-katanya? Kalimat ini berkesan banget di otakku. Sering kali kita sewot liat si anu yang tiba-tiba aja jilbabnya jadi lebar, mengerutkan kening ketika melihat si ono udah pake jenggot. Padahal kalau kita belum bisa memahami kebaikan itu, menghargai saja sudah cukup.

last but not least, film ini layak untuk segera kamu tonton. Film ini ibarat oase di tengah gersangnya film-film islami yang tampil di bioskop. Film yang mengajarkan banyak hal untuk menjadi lebih baik. Aku dan ribuan penonton sangat menantikan versi lengkap dari film ini. Semoga segera tayang dan bisa lebih memuaskan penonton! Bravo untuk tim KMGP the Movie!

More info:

sebagian adik-adik dari Panti asuhan dan rumah Tahfiz yang diundang  nobar
adik-adik dari Pesantren Dar el Hikmah Pekanbaru

karena foto barengnya crowded banget. jadi kita foto berdua aja deh
 tempat duduknya sudah di atur agar tidak bercampur ikhwan dan akhwat

28 komentar:

  1. mbak, gue kira bakal nyeritain ini filmnya sampe abis, ternyata engga ya tetep suruh nonton :3
    menarik juga jalan ceritanya, pasti diternate mas gagah masuk pesantren itu. kalau enggak pacaran sama ank ustad.

    banyak blogger lain yang ngereview tentang film/buku yang mereka tonton/baca, gue udah cukup kegoda, dan ditambah ini, duh, dompet :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya enggaklah.. bisa di kemplang ama tim yang udah capetk2 buat film nya..

      nonton gihhh

      Hapus
  2. Yah bikin penasaran aja nih..
    Yang bikin penasaran kenapa mas Gagah jadi berubah, dia diperjalanan ketabrak terus ditolong seorang kyai, ketabraknya didepan ponpesnya si kyai jadi mas Gagah beljar disitu. Kayaknya aku ngerubah jalan cerita orang deh..

    Tapi Aquino Umar emang cantik sih, mau diapain juga cantik :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiah dia malah bikin sendiri jalan ceritanyaa.. hahaha

      Hapus
  3. Cieee akhirnya yang dapat nonton film yha setelah penantian dan perjuangan yang cukup lama😁😁😊😊
    Cici doakan deh supaya kakak dapat suami kayak mas gagah

    BalasHapus
    Balasan
    1. huaaa.. sebenernya gak muluk2 amat.. tapi kalo ada yg doain begin, amin amin ya Robb

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. dari cerita diatas ajah udah seru banget kayagnya, apalagi nonton filmnya langsung. eehh btw udah muncul ngak di bioskop itu film mas gagah yang berubah itu..

    film yang seperti ini emang bisa melepas dahaga bagi pecinta film islami yang sekarang udah mulai "jarang" tayang di bioskop. film mas gagah hadir dengan cerita yang keren pastinya..

    nobarnya juga keren, ngajak anak-anak pesantren dan panti asuhan. udah jelas kalo gitu film ini penuh inspirasi dan makna serta patut untuk di tonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya emang keren banget!

      jadi kemaren itu kami beli tiketnya 60k. yang 20k nya untuk patungan ngajak adik-adik ini nonton juga...
      gitu deh

      Hapus
  6. Mas Gagah...
    Novel yg menjadi salah satu sarana saya untuk move on ketika masa masa SMA 7tahun yg lalu...
    Ceritanya bikin nangis... dan saking sukanya dgn novel ini saya membelikan beberapa buku untuk kakak kakak saya sbg hadiah.
    Buku ini sangat bagus untuk vitamin para generasi muda...yg cinta prestasi dan produktif dalam berkarya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahh.. iyaakah??
      aku juga dulu nangis pas baca buku ini..

      Hapus
  7. Menggugah !! #eeh, komentar gue sikit banget ya.. hehe krna banyaknya diambil oleh penulis blog ini, kali ya.. ^_^ lnjutkan kak, semangat ! ;)

    BalasHapus
  8. Menggugah !! #eeh, komentar gue sikit banget ya.. hehe krna banyaknya diambil oleh penulis blog ini, kali ya.. ^_^ lnjutkan kak, semangat ! ;)

    BalasHapus
  9. Memang terkadang, film yang di angkat dari buku, selalu bikin kita tidak puas. Beda aja rasanya ya. Ya, yang seperti mbak bilang, ada bagian yang loncat-loncat.

    Tapi kayaknya film ini bagus. Nonton di ciput, Mbak?
    Mahal nggak sih di ciput? Hahahaha. Aku biasanya kalau nonton di bioskop sebelah, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. susah kali ya menjadilkan tulisan menjadi visual...

      iya nonton di ciput nih..

      bioskop sebelah? dimana tu..

      Hapus
  10. Waaa maaf yaa ternyata kamu juga post tentang KMGP. Aku nggak ngecek dulu di fb, hehe. Nggak akan ada karya yg 100% sempurna, pasti ada kekurangan di bbrp bagian. Dan value yg dimiliki film ini membuatnya menjadi film yang layak ditonton.

    Sip, good luck for the competition :)

    BalasHapus
  11. ya elah jia.. kenapa juga harus minta maaf..
    hahaha..

    semoga kita menang yaa.. kamu dapat smartphone. aku dapet kaos boleh lah.. hahaha :D

    BalasHapus
  12. Wah ini film KMGP, saya dari awal ngikutin perkembangannya nih meski lewat facebook, hehe. Dari awal pengumuman pembukaan casting nya untuk pemeran2nya, hingga kini filmnya berhasil diputar.

    Haha cukup besar juga ini usahanya dalam membuat film KMGP. Tapi malah saya belum nonton film nya :3

    BalasHapus
  13. Ini kali keduanya saya membaca review film KMGP hahaha.
    Wah mbak ini ternyata tergabung sama FLP toh. Karya karyanya banyak ya pasti hehehe.

    Iya, mbak. Kata teman saya sih juga gitu kurang sesuai sama tulisannya. Duh saya mah jangankan filmnya, novelnya aja belum kesampean untuk dibaca.

    Gutlak buat lombannya juga ya mbak :)

    BalasHapus
  14. Lebih tertarik ke baca bukunya jadinya mbak. Soalnya katanya lebih jelas dan nggak bikin bingung. Tapi emang seringnya gitu sih. Pas buku difilemkan bakal ngecewain. Aku juga sering kecewa kalo lihat film yang diangkat jadi buku. Tapi semoga terlalu bikin kecewa para pecinta buku film ini.

    Sekarang jarang nonton film di bioskop nih. Nunggu gratisannya aja apa ya? Wkwkwkwk. Nggak patut dicontoh.

    BalasHapus
  15. "Ketika kita tidak memahami kebaikan, cobalah menghargainya." Ini kok bikin gue jleb banget, ya.

    Dari sedikit review ini (Padahal gue pengen sampe jelas, biar gak usah nonton). hahaha. Mendengar kabar burung, ceritanya lebih enak di buku ya kak? Serius, jadi penasaran sama bukunya. ENtar deh, kalo ke gramed. Dicek, masih ada apa enggak.

    Kemaren sempet gak jadi, akhirnya jadi juga nontonya.:)

    BalasHapus
  16. Cihuuuy akhirnya nonton juga nih ya :D hihihi seneng deh :D

    Mas Gagah pergi untuk kembali, kok wkwkwk :D

    BalasHapus
  17. Aseekkk,, bisa nonton juga.

    Namanya aja mas gagah, pasti milih pemeran yg tentunya gagah banget. :)

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah akhirnya nonton juga, aku udah cek di websitenya 21cineplex. Emang KMGP ini nggak play disemua bisokop ya mbak.

    Oh jadi ketika mas gagah pergi ini, maksudnya pergi ke ternate toh, aku sendiri sih belum baca bukunya.
    Hamas Syahid ini aku denger, memang aslinya engga mau salaman sama yang bukan muhrim ya mbak ?

    BalasHapus
  19. wah! selamat yam akhirnya berhasil nonton. baru baca review film ini di blog tetangga... kayaknya unsur agamanya memang cukup kental yak. apalagi mainnya jug adi ternate, religius sekali..

    BalasHapus

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)