23 Desember 2016

Wawancara dengan Pemenang UNSA Ambassador 2016

Ilham Fauzi. UNSA AMBASSADOR 2016

UNSA (Untuk Sahabat) adalah sebuah grup kepenulisan yang tenar di media sosial facebook. Setiap tahun Unsa memilih satu orang anggotanya untuk menjadi Duta Penulis Unsa yang tugasnya memotivasi dan menginspirasi  para penulis lain untuk berkarya lebih baik lagi. Tidak hanya itu, Duta Penulis Unsa harus senantiasa bersahabat atau friendly dengan siapa pun dalam berkarya. Mengingat saat ini tidak sedikit penulis yang hanya berkarya saja namun terkadang masih dingin dengan teman-teman penulis lain yang ingin sharing dan berbagi ilmu dengannya.

Untuk menjadi Unsa Ambassador tidak mudah. Ada rentetan tugas dan penjurian yang harus di ikuti selama 3 bulan (emejing banget kan. Kalau gue ikut kompetisi selama itu mungkin sudah melambaikan tangan ke kamera). Tugasnya bermacam-macam. Dari tugas membuat cerpen sampai menulis buku. Dua finalis terpilih akan berkompetisi satu sama lain dan diundang dalam perayaan ulangtahun UNSA.

Juara pertama Unsa Ambassador ini akan mendapatkan hadiah uang tunai ratusan ribu, selempang Unsa Ambassador yang bertuliskan tahun jabatan (duh ngiler banget gue secara selempang cuma bisa didapat di ajang kayak putri-putrian gitu), tropi, paket buku dan tentu saja dinobatkan menjadi UNSA Ambassador. Cukup menggiurkan bukan?

Pemenang UNSA Ambassador tahun 2016 adalah Ilham Fauzi. Pria berdarah minang ini merupakan pengurus FLP Pekanbaru yang saat ini sedang menjalani pendidikan master-nya di UNAND Padang. Keren apa coba. Dia masih singel loh dan katanya lagi buka lowongan, muehehe. Saat diwawancara via inbox fb, Ilham baru saja pulang dari Bogor menghadiri milad UNSA dan penobatan UNSA Ambassador 2017 yang baru. Meski begitu, Ilham tetap mau kok berbagi pengalamannya yang pernah memenangkan Unsa Ambassador 2016 dan berbagi kisahnya selamat menjabat menjadi Duta Penulis.

*ceritanya disini aku sebagai wartawan yang mewawancarai artis. haghaghag*

Ilham di acara penobatannya sebagai UNSA AMBASSADOR 2016
Halo Ilham. Bagaimana rasanya bisa mengunjungi dua kota berbeda di tahun 2016 ini dan itu semua difasilitasi?
Hai kakak keceh. Rasanya senang Alhamdulillah. Januari lalu bisa pergi ke Surabaya dan dapat pengalaman berkesan juga di sana, dan ini baru saja kembali dari Bogor dalam rangka serah terima jabatan ke Unsa Ambassador yang baru. Selamat ya buat Alfian dari Pekanbaru yang menjadi Unsam selanjutnya. Harus semangat berkarya dan tetap bersahabat loh. Sekalipun ada yang nge-bully. Hehehe...

Bagaimana rasanya meninggalkan jabatan yang telah diemban selama setahun? Apa sedih, senang, lega, gembira atau baper?
Rasanya sih pertama kali lega ya. Karena bisa menjalankan amanah Unsa Ambassador sampai selesai dan diberi kesempatan juga oleh Allah untuk senantiasa sehat sampai akhir masa menjabat. Tapi juga ada sedihnya karena besok-besok tidak akan ada lagi kesibukan sebagai Unsa Ambassador. Tapi ya gak papa sih. Meski begitu saya gak kemana-mana kok. Hati saya akan tetap bersama kamu eh maksudnya bersama Unsa #eaa #modus

Memangnya kesibukan sebagai Unsa Ambassador apa aja sih?
Menjadi Unsa Ambassador alias Duta Penulis Unsa itu tugas utamanya memotivasi siapa saja untuk menulis dan membaca. Baik dia jomblo atau udah merid. Baik dia suka warna janda (ungu) maupun warna duda (?) Baik dia fensnya Fedi Nuril atau Reza Rahadian. Baik dia fensnya Kara atau Suju #digetok pemirsah :D
Ya intinya menjadi Unsa Ambassador itu seru. Bisa jalan-jalan gretong juga, wkwkw .Tugas utamanya ya nulis aja. Intinya, anugerah Unsa Ambassador ini diberikan agar pemenangnya lebih bersemangat lagi menulis dan memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan apa yang telah mulai ia tulis.

Bagaimana mulanya Ilham mengikuti Unsa Ambassador ini?
Awalnya sih ya gabung aja sama grup fb Untuk Sahabat. Grupnya selalu update. Jadi waktu itu ada pembukaan pendaftaran Unsa Ambassador 2016. Fyi, biasanya pendaftaran ini bukanya setiap bulan September. Syaratnya gak macem-macem. Cuma nyediain satu naskah cerpen doang. Kalau usia semua umur boleh. Yang udah tuir macam Kak Risah yang malah diutamakan sih sebenarnya. *digampar

Napak tilas dong bagaimana perjuangan Ilham setahun lalu hingga akhirnya bisa menjadi juara Unsa Ambassador? Katanya perjuangan di top 2 bikin buku ya?
Waaah... panjang sih sebenarnya ceritanya. Tapi intinya kan ada 10 finalis. Jadi tiap putaran itu ada eliminasi gitu. Persis kayak di tipi tipi gitu deh. Cuma ya ini penilaiannya gak berdasarkan poling. Murni berdasarkan penugasan yang berupa cerpen yang kita tulis. Cerpennya itu tiap putaran selalu berbeda-beda temanya. Ada tema roman, horor komedi, cerita islami, dan lain-lain. Yang paling berkesan sih waktu penugasan cerpen horor komedi. Cerpen saya waktu itu berjudul “Kuntilanak Belajar Move On”. Nah, kalau pada tugas grand final, kita disuruh menulis buku fiksi atau nonfiksi (pilih salah satu). Saya mendapat bagian menulis non fiksi dengan panjang naskah minimal 60 halaman dan maksimal 100 halaman selama 30 hari. Wow... mulanya ragu apa bisa terkejar dalam waktu sebulan bikin sebuah buku? Tetapi akhirnya tugas itu bisa terselesaikan. Kalau gak ikutan Unsa Ambassador rasanya sampai sekarang masih belum punya naskah buku kayaknya. :D

Sebelum keberangkatan ke Bogor kemarin untuk pelepasan jabatan sempat kelimpungan ya? Kenapa?
Iya, bener banget. Jadi waktu menjelang keberangkatan pas banget dengan jadwal ujian akhir semester. Emang sih ujiannya take home. Tapi bukan berarti semuanya jadi mudah. Tugasnya bikin paper. Dengan referensi jurnal-jurnal dan seabreg buku tebal. Ya Tuhan.. belum lagi persiapan untuk sharing di Bogor belum dipersiapkan dengan matang. Pokoknya ke Bogor kemarin challenging banget, sampe gak bisa tidur. Karena kedua tangan hanya bisa digunakan untuk mengerjakan UAS, nggak mungkin dong si kaki ikut campur #gubrak. Jadilah ketika di ruang tunggu dan di atas pesawat sempat-sempatnya corat-coret di kertas buat persiapan acara di Bogor.

Tapi ketika hari H nya lancar kan? Bagaimana sih hari-hari selama di Bogor?
Alhamdulillah sharingnya berjalan lancar. Waktu itu kita berkesempatan mengisi di Sekolah Islam Terpadu Al-Madinah-Cibinong, Kabupaten Bogor. Pihak sekolahnya welcome banget. Tim Unsa juga mengadakan lomba baca puisi buat adik-adik di sana. Seru banget pokoknya.

Kalau kegiatan di Bogor sangat menyenangkan. Apa jadinya jika lebih kurang sepuluh penulis yang tersebar di seluruh Indonesia satu wisma selama 4 hari 3 malam? Jawabannya : heboh banget. Jadi mereka sudah pada ‘dewa’ di bidang masing-masing. Kayak Ken Hanggara sang masternya cerpen, kang Khoer Jurzani sang master puisi, kang Denny Herdy master penerjemah, ada dokter Intan Andaru juga yang habis PTT di Halmahera Selatan yang tak lama lagi naskah bukunya akan diterbitkan GPU. Trus ada kang Irwan Sandza juga, dia ini warga WR 02 dahulunya looh. Ajib banget kaan...

Oh ya, waktu di Bogor kemarin kita sempat berkunjung ke Mie Janda. Ini tempat recommended banget bagi pecinta kuliner. Menu minuman andalannya salah satunya adalah es d’ kepo. Isinya kumpulan buah-buahan seperti buah naga, alpokat, dan lain-lain.

Ada kejadian yang unik nggak sih selama di Bogor?
Jadi Kang Khoer Jurzani itu punya dua nama, nama aslinya Hoeruddin. Jadi malam itu dia nginbox nanyain dimana tempat penginapan. Karena udah tengah malam, aku baru ngeh sama inboxnya itu ketika paginya. Pas bersamaan dengan kehadiran seseorang di ruang tamu. Sambil mengernyitkan kening membaca inbox kang Hoeruddin, aku kenalan sama orang yang mengenalkan dirinya dengan Khoer Jurzani. Tak lama kemudian, Uncle DAS (creator UNSA) muncul. Spontan aku nanyain kalau Mas Hoeruddin malam tadi nanyain alamat, tapi gak tahu sekarang dia ada dimana. Dengan ringkas Uncle DAS menjawab bahwasanya Mas Hoeruddin adalah orang yang ada di depanku. Dia tak lain dan tak bukan adalah Khoer Jurzani. Astaga! Malu banget waktu itu. Lagian Mas-nya pake dua nama segala sih. Wkwk....

O iya, denger-denger kalau mahasiswa magister sibuknya ampun-ampunan. Bagaimana sih Ilham menyikapi di tengah kesibukan sebagai mahasiswa magister namun mengemban tugas sebagai Unsa Ambassador?
Iya, bener. Sejauh ini, time managementku gak terlalu bagus sih. Masih berusaha keras melawan kemalasan. Intinya, kalau memiliki tanggung jawab, kita harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Kalau lebih menjadikan menulis sebagai selingan ketika jenuh. Yang penting seimbang. Itu aja sih.

Ada pesan buat pembaca blog ini?
Apa ya? Yang paling terpenting dalam hidup itu sebenarnya adalah kontribusi kita terhadap apa saja. Karena saya menyukai menulis, saya mencoba menyumbangkan hasil pikiran saya melalui tulisan-tulisan yang mencerahkan pembacanya. Kita tidak perlu iri pada orang lain, apa lagi ingin menjadi seperti mereka. Karenas setiap kita punya potensi. Yang paling krusial itu sebenarnya adalah jika kita tidak mampu melawan diri sendiri dan larut dalam hal-hal yang tidak membawa manfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Yup, benar banget. Semoga ke depannya makin sukses ya. Terimakasih mau berbagi di blog ini. Sebagai closing ada yang mau dipersembahkan. Fiksi mini atau puisi mungkin?
Mumpung bertepatan dengan hari ibu, sempat buat bait puisi nih. Semoga menghibur. J

Pulanglah, Nak
Anandaku,
tak kudapati lagi engkau di ambang pintu pagi itu, karena kau sudah menyapa waktu di tempat kita tak biasa lagi bertemu; dan hanya suaramu yang  menyapa hari-hariku.

Kau telah tumbuh menjadi manusia yang mengerti betapa dunia-Nya maha luas, maha tinggi, dan maha tak terbatas. Di sana, di tempat dimana kita dibatasi ruang dan waktu, kau menghamba pada-Nya tanpa mendengar lagi ucapan dariku tentang ingatan-ingatan sederhana; apa kau telah mengerjakan ini; dan itu. 

Anandaku,
dalam doaku ketika kau masih lugu, senantiasa lisan melontar asa bahwa dikau kelak akan menjadi ilalang tinggi yang terus hidup tanpa henti; tanpa pernah mati. Terbanglah, Nak, seperti Kenari. Terbanglah di atas bumi-Nya meski sebetulnya kepak sayapmu lelah membentang di angkasa. Teruslah kau kibarkan segala inginmu, harapmu, serta rasa, asa dan citamu : untukku, ya untukku. Untuk perempuan yang melahirkanmu, membesarkanmu, tanpa pamrih; tanpa letih.

Anandaku,
luruhkan tangis-Mu dalam sujud-sujud panjang pada-Nya. Kau tak usah berkecil hati, Nak, bila pada akhirnya kau temui segenap asa terbelah dan terhempas. Kita hanya perlu bersyukur. Betapa dunia ini masih dipercayakan-Nya pada kita untuk mencecap apa yang ada.

Pulanglah, Nak. Pulanglah... sebelum kau menjenguk cinta di atas pusara.


***
more info click:
UNTUK SAHABAT on Facebook
ILHAM FAUZI on his blog 

1 komentar:

  1. Asik dong bisa nyoba wawancara orang lain. KAdang suka gak ada ide kalau mau wawancara orang lain.

    BalasHapus

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)