19 September 2014

Bertemu Mr. Fujiko, Kakek dari Jepang.


Ketika kami mendarat di bandara Soeta, Jakarta jam 20.30 WIB,  dan kami harus menunggu sampai jam 23.30 WIB utuk terbang ke bandara Sentani, Jayapura disinilah keahlian menghabiskan waktu agar tidak bosan menunggu dikerahkan. Dari duduk mendengar musik, sampai mencari-cari bule untuk  mengasah kemampuan English atau untuk di ajak ngobrol ngalor ngidul pake bahasaa antah berantah. hahaha

Malam itu, setelah menjama’ solat magrib dan isya, kami berfoto ria di ruang tunggu keberangkatan menuju Jayapura. Suasana Papua mulai terasa karena dinding pembatas semua ditempeli stiker bergambar orang Papua, ada foto-foto festival lembah baliem , foto-foto orang Papua berkoteka, rumah honai dan banyak lagi. Sebagian temanku menghabiskan waktu untuk tidur, sebagian lagi yang tidak tahan gadjetnya mati, sibuk mencari terminal carger, sedangakan aku duduk manis berusaha menangkap sinyal wifi. Biasa deh, maniak internet gratisan always do that.

:
dari kiri : Amak, Aam, Mas Aris, Aku, Aidi, Kak Endang, 
ada taman baca, tapi isinya majalah nggak jelas #atau aku nya yg gak ngerti

Waktu aku duduk itulah datang seorang Kakek yang aku taksir berasal dari Jepang atau Korea. Beliau sepertinya ingin mengajak bicara, karena dari tadi aku lihat dia berdiri beredar di antara kelompok kami, padahal rombonganya sesama orang bekulit putih dengan umur yang tak jauh beda sedang tertidur dibangkunya. Si Kakek sedang berusaha bercerita dengan bahasa Jepang, dan beberapa temanku yang lain mendengarkan dengan manggut-manggut dan kening berkerut. Tak lama, Taulah aku beliau orang Jepang yang tidak bisa bahasa inggris.

Mulailah aku dan beberapa teman seperti  Aam (asal kata dari Rahmat Hidayat entah dari mana datang nama panggilan Aam, Risma, dan Amak (asal kata dari Myra)  dll yang lalu lalang, aku berniat menyapa si orang Jepang.

Hallo Mister Fujiko, watashiwa Risa Desu, Douzu youroshiku Onengai Shimasu” kataku sambil menjabat tangannya. Respon nya luar biasa karena senang mendengar akhirnya ada juga yang bisa berbahasa Jepang. Meskipun pengucapannya belum sepenuhya benar.

Beliaupun mulai berkicau, dan aku mulai bingung, soalnya bahasa Jepang yang aku tau cuma kata sapaan doang. Selanjutnya aku nggak atau apa-apa. Hancurlah harapan si Kakek untuk  berbahasa Jepang ria denganku. Hahaha.. maaf ya tukk…

Untuk bertanya selanjutya, aku buka google translate dan mulai menanyakan dari mana asalnya dan apa tujuannya ke Jayapura. Dia menjelaskan dan lagi-lagi kami tidak mengerti, yang kami tangkap dari gerakan tangannya, mungkin dia sedang membuat sebuah proyek di papua.

Mulalah beliau mengeluarkan isi tas kecilnya satu persatu. Ia menjelaskan peta yang di bawanya, ternyata beliau berasal dari Tokyo, Japang. Selanjutnya aku tak mengerti apa-apa lagi.  muehehehe

Aku terus bertanya menggunakan google translate, beliau jawab dengan semangat yang aku bisa mengerti cuma kata-kata seperti “Indonesia Kawai Desu,” yang artinya Indonesia indah sekali.

dari kiri : Aam, Mr Fujiko, Aku dan kak Endang
Obrolan ngalor ngidul kami berlangsung lama, teman-teman lain sepertinya mulai tertarik dan ikut mengerubungi Kakek dari Jepang ini. Beliau berusaha semaksimal mungkin untuk bisa berkomunikasi dengan kami. Seperti di duga, kami hanya manggut-manggut saja tanpa mengerti apa yang dikatakannya. Aku jadi menyesal, kenapa dulu aku melarikan diri dari les bahasa Jepang yang aku ikuti bersama Manil, Sahabatku. Kami sempat ikut kursus bahasa Jepang selama 2 bulan yang di taja organisasi di kampus. Karena sensei (guru) nya tidak asik, aku tidak tertarik lagi dan melarikan diri dari pelajaran bahsa jepang yanag membosankan itu, belakangan ku ketahuai manil juga bernasib sama, sebulan kemudian dia keluar dari les bahasa Jepang itu. Sekarang baru terasa penyesalannya, andai aku ikuti sampai satu semester saja, pastilah ada modal sedikit untuk bisa bicara dengan Kakek ini. #penyesalan memang selalu datang di akhir

Dapet kalkulator dari Kakek Jepang
Sambil aku melamun, si Kakek sibuk mencari sesuatu dari tas nya. Kami hanya melongo  memperhatikan, tas nya seperti tas doraemon yang menyimpan banyak barang. Setelah cukup lama mencari barang dengan gusar, ia mengeluarkan sebuah kalkulator cabe. Kalkulator yang paling sederhana. Dia memberikan itu ke tanganku, dan menyuruhku untuk mencoba kalkulator kecil itu.

foto kalkulator

Kami yang melihat tertawa-tawa, mungkin dia kira di Indonesia tidak ada kalkulator. Aku pun mengatakan dengan bahasa isyarat bahwa kami tau ini dan punya barang ini, aku pun mengembalikan kalkulator itu ke tangannya. Tapi ia menolak, ia mengembalikan lagi kalkulator itu ke tanganku dan mengatakan dengan basa isyarat bahwa kalkulator itu untuk aku.

Waaahh. Kami langsung tertawa, senang sekali rasanya dapat kalkulator dari Kakek Jepang ini. Aku langsung membungkukkan badan sambil mengatakan arigatou’ berkali-kali ala orang Jepang.  Temanku melirik dengan pasang muka pengen. Aku tinggalkan teman-temanku dengan Kakek Jepang ini, siapa tau si Aam bisa memancing si Kakek untuk mengeluarkan hadiah lain dari tas doreaemonnya.
Aku menuju tumpukan tas ranselku, dan mencari-cari kira-kira barang apa yang bisa aku berikan untuk si Kakek Jepang. Dapatlah sebuah bulpen alias Pena jatah yang di berikan waktu kami prakondisi dari Kementrian Hukum. Pena itu ada tulisan Kementrian Hukum Indonesia. Ada lambang hukumnya juga. Cucok banget laah pena ini  ku ikhlaskan untuk si Kakek Jepang.

Aku kembali ke kerumunan teman2 dan kakek yang masi bersemangat bicara dengan bahasa isyarat. Aku pun memberikan pena itu ke tangannyaa, dan menjelaskan bahwa di pena ini ada lambang kementrian hukum Indonesia. Ini adalah kenang-kenangan untuk si Kakek. Berbekal google translate lagi, akhirnya Kakek mengerti dan senang luar biasa. Ia membungkukkan badan tanda terimakasih dan terus  tertawa kayak abis menang lotre. Hahaha. Itu pena gratisan doang kali kek…

Karena malam semakin larut, aku mencoba menyarankan si Kakek untuk istirahat, lagi-lagi dengan google translate, kami berpisah dengan Kakek, karena kakek itu aku suruh tidur sambil menuggu penerbangan ke jayapura sekitar 1,5 jam lagi.

Sebelum boarding, ketika aku duduk-duduk dengan Aam, risma, rika dll. Tiba-tiba ada seorang bapak yang menghampiri kami.

“Maaf, Ini Lisa bukan?” Tanya seorang bapak berkacamata yang berlogat Jakarta banget.

Ketika aku menoleh, bapak ini datang bersama Kakek Jepang tadi. Ternyata si Kakek mencari aku dan masih mengingat namaku dengan baik. Walaupun huruf R nya sudah berganti jadi L. kekurangan orang Jepang yang tidak bias mengucapkan huruf R.

Si Kakek Jepang ternyata meminta guidenya mencariku, dan menanyakan kami ini rombongan apa. Si guide juga menjelaskan tujuan para Kakek ini ke jayapura. Ternyata tujuan mereka jauh-jaauh dari Jepang adalah untuk ziarah ke kuburan orang tuanya yang meninggal waktu perang di Merauke. Mereka akan berdoa di kuburan orangtuanya. Menjenguk kuburan ortunya sebelum mereka menyusul masuk kubur. Pasti mereka sudah menabung sejak muda untuk bisa mencapai perjalanan sejauh dan semahal ini.

Barulah kami membulatkan mulut dan mengeluarkan suara “oooooooooo…” sama-sama. Ketika Kakek tau bahwa kami adalah guru yang akan mengajar di pelosok papua, dia langsung mengacungkan jempolnya berkali-kali memuji keberanian kami. Ya, kami memang agak nekat kek. Doakan kami yaa.. hehehe…
Dan ternyata dari tadi guidenya sedang tidur, si Kakek segan membangunkannya, jadilah dari tadi kami bicara pake bahasa isyarat dan nggak nyambung sama sekali. Tawa kami pun pecah di ruang boarding itu. Hahaha…

Bertemu Lagi di Pesawat.
Seperti yang sudah ku duga, kami bertemu lagi di pesawat. Entah karena dunia ini sempit, ternyata si Kakek duduk sebaris denganku. Dia membagi-bagikan permen dari Jepang. Dan terus menerus menyapaaku. Beliau juga mencoba mengajak Amak dan Inda yang duduk di sebelahnya untuk bicara, tpia sepertinya Inda tidak berminat dan mencoba pura-pura tidur. Kasian si Kakek aktif ini. Hihihi..

Setelah hampir 6 jam terbang, sampai di bandara Sentani Jayapura kami transit untuk melanjutkan penerbangan ke Wamena, ibu kota Jayawijaya. Sedangkan si Kakek melanjutkan penerbangan ke Merauke. Pisah deh sama si Kakek jepaang. Aku sempat membungkukkan badan berkali-kali tanda terimakasih dan senang bertemu dengannyaa. Ia yang masih duduk di bangku menundukkan kepalanya tanda membalas salam perpisahanku.


Da….daaah Mr. Fujiko.. semoga selamat sampai tujuan dan terimakasih kalkulator cabe nya. Hahaha… terimakasih juga atas pengalaman komunikasi bahasa isyaratnya. Hahahaa.. 

1 komentar:

  1. #penyesalan memang selalu datang di akhir.. ya iyalah, diawal mah itu pendaftaran :D

    BalasHapus

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)