Teori-teori belajar yang populer dan cocok untuk dengan pembelajaran matematika di SD.

Teori-teori belajar yang populer dan cocok untuk dengan pembelajaran matematika di SD.
1. Teori belajar William Brownel
Teori belajar William Brownel didasarkan atas keyakinan bahwa anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara permanen atau secara terus-menerus untuk waktu yang lama. Salah satu cara bagi anak-anak untuk mengembangkan pemahaman tentang matematika adalah dengan menggunakan benda-benda tertentu ketika mereka memepelajari konsep matematika. Sebagai contoh, pada saat anak-anak baru pertama kali diperkenalkan dengan konsep membilang, mereka akan lebih mudah memahami konsep itu jika mereka menggunakan benda konkrit yang mereka kenal, seperti mangga, kelereng, bola atau sedotan. Dengan kata lain, teori belajar William Brownel ini mendukung penggunaan benda-benda konkret untuk dimanipulasikan sehingga anak-anak dapat memahami makna dari konsep dan keterampilan baru yang mereka pelajari. Teori belajar William Brownel ini dikenal dengan nama meaning theory.
2. Teori belajar Zoltan P.Dienes
Zoltan P.dienes meyakini bahwa dengan menggunakan berbagau sajian (representasi) tentang suatu konsep matematika, anak-anak akan dapat memahami secar penuh konsep tersebut jika dibandingkan dengan hanya mneggunakan satu macam sajian saja. Sebagai contoh, jika guru ingin mengajarkan konsep persegi, maka guru disarankan untuk menyajikan beberapa gambar persegi dengan ukuran sisi berlainan. Cuntoh lain, pada saat guru akan mengenalkan konsep bilangan tiga kepada siswa, guru disarankan menggunakan tiga mangga, tiga kelereng, tiga balon, tiga pensil dan tiga benda konkret lainnya.
3. Teori belajar Jean Pieget
Ahli teori yang sangat berpengaruh ini adalah ahli psikologi bangsa swiss yang meyakini bahwa perkembangan mental setiap pribadi melewati empat tahap, yaitu : sensorimotor,praoperasional, operasi konkret, dan opersi formal.
a. Tahap Sensorimoto (0-2 tahun). Pada tahap ini anak menembangkan konsep pada dasarnya melalui interaksi dengan dunia fisik. Para guru tidak terkait secara langsung dengan anak-anak atau bayi seperti ini. Namun, par guru perlu mengetahui danmenyadari bahwa seajk usia ini dasar-dasar pertumbuhan mental dan belajar matematika sudah mulai dikembangkan.
b. Tahap Praoperasional (2-7 tahun).
Pada tahap ini anak sudah mulai menggunakan bahasa untuk menyatakan suatu ide, tetapi ide tersebut masih sangat tergantung pada persepsi. Pada tahap ini anak telah mulai menggunakan simbol, dia belajar untuk membedakan antara kata atau istilah dengan objek yang diwakili oleh kata atau istilah tersebut. Pada tahap ini anak juga sudah mulai mengenal ide tentang “kekekalan”, “tidak berubah”, atau “konservasi” yang sederhana, walaupun belum sempurna benar. Anak tidak melihat bahwa banyak nya objek adalah tetap atau tidak berubah tanpa memperhatikan susunan ruang yang ditempati objek tadi.
c. Tahap Operasi Konkret (7-12 tahun)
Selama tahap ini anak megembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda konkret untuk mneyelidiki hubungan dan model model ide abstrak. Bahasa merupakan alat yang sangat penting untuk menyatakan dan mengingat konsep-konsep. Pada tahap ini anak sudah mulai berfikir logis. Berfikir lois ini terjadi sebagai akibat adanya kegiatan anak memanipulasi benda-benda konkret. Oleh sebab itu, tahap ini disebut tahap “operasi konkret”. Konsep kekekalan yang merupakan karakteristik tahap ini sudah dapat diterima dengan mantap oleh anak. Sebagai contoh, kita ambil dua gelas yang sama ukurannya. Masing masing gelas diisi dengan air yang sama banyak volomnya. Kedua gelas yang berisi air itu di tunjukkan pada seorang anak.kita tanyakan kepada dia “ apakah sama atau tidak banyak air dalam kedua gelas ini?”. Menurut Jean Piaget anak-anak akn menjawab “sama banyaknya”. Selanjutnya, air dalam salah satu ge;as tadi dituangkan semuanya pada sebuah gelas yang tinggi dan garis tengahnya lebih kecil. Sekarang kedua gelas yang berisi air itu kita tunjukkan pada anak tadi. Ajukan pertanyaan yang sama kepada anak itu. Menurut Jean Piaget, anak akan tetap menjawab sama banyaknya. Alasannya adalah karena
1. Anak mengetahui bahwa banyaknya air masih tetap sama walaupun air pada gelas yang satu tampak lebih tinggi
2. Anak menggunakan pikiran logis
3. Anak berada pada tahap operasi konkret.
Anak SD umumnya berumur 7 sampai dengan 12 tahhun. Jadi mereka berada pada tahap operasi konkret. Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika di SD, pada tahap ini anak dapat “mengelompokkan” benda-benda konkret berdasarkan warna,bentuk, atau ukurannya. Misalnya kita menyediakan sekelompok benda konkret berupa bangun-bangun geometri datar . seperti segitiga, segiempat, segilima, dan segienam. Setiap bangun geometri berwarna tertentu, misalnya merah, kuning, hijau,biru dan hitam. Kita dapat meminta anak untuk mengumpulkan bangun geometri yang berbentuk segitiga. Anak bahkan akan dapat mengumpulkan segitiga yang berwarna merah. Disamping itu, anak juga dapat diminta untuk “mengurutkan” segiempat berdasarkan ukurannya, misalnya dari kecil ke besar atau sebaliknya.
d. Tahap operasional formal (12- dewasa)
Anak sudah mulai mampu berfikir secara abstrak, dia dapat menyusun hipotesis dari hal-hal yang abstrak menjadi dunia real, dan tidak terlalu bergantung pada benda-benda konkret.
Piaget menegaskan bahwa proses belajar merupakan proses asimilasi dan akomodasi informasi ke dalam struktur mental.suatu istilah istilah umum Jean Piaget adalah constructivisnm, karena keyakinannya bahwa para siswa pasti mengkronstuksi pikiran mereka sendiridan bukan menjadi penerima informasi yang bersifat pasif.
Sebagai contoh dalam operasi penjumlahan , anak memahami 5+3= 8 dengan memanipulasi benda-benda konkret yang telah dia kenal.misalnya jeruk, bola atau benda-benda lainnya yang ada disekitarnya.
4. Teori belajar Richard Skemp
Menurut Richard Skemp, belajar terpisah menjadi dua tahap. Tahap pertama dengan memanipulasi benda-benda akan memberikan basis bagi sisw auntuk belajar lebih lanjut dan menghayati ide-ide.
Richard Skemp mendukung interaksi siswa dengan objek-objek fisik selam tahap-tahap awal mempelajari konsep. Pengalaman awal ini akan membentk dasar bagi belajar beriktnya yaitu pada tingkat yang abstrak atau disebut tahap kedua. Misalkan kita akan mengenalkan salah satu sifat perkalian, yaitu 2 x 3 = 3 x 2. Kita dapat menggunakan benda-benda konkret berupa bola bola sebagai berikut.


Di sini terdapat dua baris dan pada stiap baris terdapat 3 bola. Dalam matematika, model se[erti ini dapat dinyatakan sebagai 2 x 3. Karena banyaknya bola seluruhnya ada 6, maka 2 x 3 = 6.
Sekarang kita dapat meminta siswa untuk menyusun 6 bola yang lain menjadi 3 baris dan pada tiap baris terdapat 2 bola. Siswa diharapkan dapat menunjukkan model yang nereka hasilkan mirip seperti model berikut :



Model ini menunjukkan 3 x 2 yang duhasilkan adalah 6. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa 2 x 3 = 3 x 2. Richard Skemp juga meyakini bahwa agar belajar menjadi berguna bagi seseorang. Sifat-sifat un\mum dari pengalaman harus dipadukan untuk membentuk suatu struktur konseptual atau suatu skema. Bagi guru, ini berarti bahwa struktur matematika harus disusun agar jelas bagi siswa sebelum mereka dapat menggunakan pengetahuan awal sebagai dasr untuk belajar apda tahap berikutnya .


5. Teori belajar Jerome S.Bruner
Brunner lebih peduli terhadap proses belajar daripada hasil belajar. Oleh sebab itu, menurut Jerome S.Brunner metode belajar merupakan faktor yang menentukan dalan pembelajaran dibandingkan dengan pemerolehan suatu kemampuan khusus.
Jerome sangat mendukung metode belajar penemuan. Dengan metode ini anak didorong untuk memahami suatu fakta yang belum dia pahami sebelumnya, dan yang belum di berikan kepadanya secara langsung oleh orang lain.
Jerome mengemukakan bahwa dalam mempelajari matematika seorang anak perlu menggunakan bahan-bahan manipulatif yang dirancang khusus dan dapat diotak-atik oleh anak .
Jerome mengemukakan tiga tahap sajian benda, yaitu enactive, ikonic, dan symbolic. Enactive berkaitan dengan benda-benda konk ret dalam belajar. Sebagai contoh, kita ingin mengenalkan konsep bilangan pecahan yaitu ½. Kita dapat menggunakan sebuah apel yang dibagi dua sama besar, masing –masing bagian disebut separoh, setengah, atau seperdua dan ditulis ½. Iconic menunjuk pada sajian berupa gambar atau grafik. Untuk menjelaskan konsep bilangan setengah atau ½, kita dapat menggunakan gambar persegi panjang sebagai berikut :

½ ½
Symbolic berarti menggunakan kata-kata dan simbol. Pada contoh di atas, masing-masing bagian dari daerah persegi panjang tersebut disimbul dengan “setengah”, “seperdua”, atau “ 1/2 ”.

6. Teori Belajar Robert M.Gagne
Teori belajar Robert M.Gagne ini lebih peduli terhadap hasil belajar ketimbang proses belajar. Baginya, tujuan pembelajaran adalah perolehan kemampuan-kemampuan yang telah didiskripsikan secara khusus dan dinyatakan dalam istilah-istilah tingkah laku.
Menurut Robert M.Gagne kemampuan adalah kecakapan untuk melakukan suatu tugas khusus dalam kondisi yang telah ditentukan. Sebagai ontoh kemampuan menjumlahkan bilangan bulat dan membagi bilangan asli.

7. Teori belajar Skinner
belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Hasil temuan skinner terdapat tiga komponen dalam belajar yaitu :
1. Discriminative stimulus (SD)
2. Response
3. Reinforcement (penguatan)
- penguatan positif
- penguatan negative

1 komentar:

  1. makasih ya ka..
    bermanfaat bgt ni buat aq praktkan dlam kelas..
    www.majuin.com

    BalasHapus

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...