08 April 2013

Cerpen : "Tanda Tangan"


Oleh : Risah Azzahra
*Di muat di koran harian Metro Riau (07-04-2013)               

 Sudah dua bulan Qisty mondar-mandir di kampus, keluar masuk ruang dosen dalam rangka mencari tujuh buah tanda tangan dosennya yang sangat berharga. Qisty baru saja selesai ujian proposal dan harus puas ketika kerja kerasnya mengerjakan proposal dan menjawab semua pertanyaan diseminar proposal dengan nilai B. Sebab itulah Qisty harus telaah proposal sebelum melanjutkan penelitian. Saat ini ia sedang mengurus administrasi untuk meminta telaah proposal. Sesuai prosedur, Qisty harus meminta tanda tangan dosen pembimbing, tanda tangan empat orang dosen penguji ketika proposal, ketua prodi, dan ketua koordinator seminar. Totalnya tujuh tanda tangan yang harus ia kumpulkan.

    Tapi apa daya, sudah dua bulan Qisty tak pernah bosan datang ke kampus, mencari dosen-dosen yang namanya tertera pada kertas satu halaman ini untuk meminta sebuah tanda tangan berharga. Tak pernah bosan juga Qisty menunggu di sudut kampus menunggu kedatangan dosen tersebut. Harapan akan diwisuda dan lulus dalam tiga setengah tahun telah terbayang dipelupuk mata. Harapan akan membanggakan orangtuanya.

    Qisty memastikan, harapannya tidaklah muluk-muluk. Ia hanya ingin lulus dalam waktu 3,5 tahun, 7 semester dengan IPK 3,5. Itu saja. apakah itu terlalu muluk? Terlihat simple, standar, menengah dan dipastikan bisa dicapai. Qisty sadar, ia bukanlah mahasiswa yang berharap lulus dengan predikat Cumlaude dengan IPK 4,00. Memang selama ini Qisty belum pernah mendapatkan nilai C. nilainya sebanding antara A dan B. karena itu lah IPK nya selalu terpaut di angka 3,5. Dan itu saja IPK yang diinginkannya ketika wisuda nanti. ia tidak mau bersusah payah mencapai IPK lebih dari itu, alasannya adalah agar angka IPK sama dengan angka lama studinya. Ah itu hanya alibi.

******
    Siang itu hujan lebat. Musim hujan memadang sedang meradang di bulan-bulan yang berakhiran “ber” ini.  Qisty dan beberapa pengendara motor lainnya terkurung di depan sebuha ruko. Menepi mengharapkan hujan segera turun. Sekitar setengah jam Qisty berdiri dengan tas dalam pelukannya. Penahan dingin. Setelah langit puas memuntahkan air rahmatnya, Qisty pun memulai melanjutkan perjalanan. Ditemani gerimis tipis sebesar jarum yang menemaninya hingga ke kampus. Ya, tujuan Qisty siang ini masih sama dengan dua bulan yang lalu. Mencari tanda tangan.

    Sampai di parkiran kampus, ia memperhatikan mobil-mobil yang diparkir disana. Berharap mobil Pak Syamsu hadir. Ketika mobil itu memasuki area parkir dan hadir di hadapan matanya, bukan main girangnya Qisty. Ia mengikuti langkah dosen pengujinya itu dari belakang. Diam-diam ia bersyukur dalam hati, kedatangannya tepat waktu.
    “Pak, saya mau minta tanda tangan surat telaah proposal.” Kata Qisty terbata-bata ketika dosen yang di buntutinya sampai ke kantor.

    “Aduh.. saya baru saja sampai nih, belum juga duduk. Tunggu dulu sana!” bentakan itu diterima Qisty tanpa terduga. Dengan muka melas Qisty keluar kantor dan berniat duduk di kursi, ternyata kursi itu basah terkena air tetesan dari atap yang bocor. Selain itu tak ada lagi tempat duduk yang kosong. Terpaksa ia berdiri dengan lesu.

    Selang lima belas menit kemudian, gadis semester tujuh itu melihat Pak Syamsu keluar dari kantor. Lagi-lagi ia membuntuti. Tapi kali ini ia tak sendiri, ada tiga orang mahasiswa lain yang juga membutuhkan tanda tangan dosen yang dikenal Killer itu.

    “Pak, saya mau minta tanda tangan.” Pinta mahasiswa yang satu tingkat di atas Qisty.
    Dengan permintaan simple, dosen itu langsung berhenti berjalan dan mengambil tempat duduk dikoridor kampus. Ia pun menanda tangani berkas yang diberikan.
“Saya juga pak.” Pinta Qisty sambil menyodorkan berkasnya.
Dosen yang berkacamata tebal itu memperhatikan Qisty dan membaca berkasnya dengan pandangan menyelidik.
“Kamu sudah tiga kali minta tanda tangan dengan saya dengan berkas yang sama. Kenapa di ulang-ulang? Yang kemaren salah lagi?” Tanya bapak itu. qisty tidak menyangka ternyata dosennya itu mengingat kejaidan dua minggu yang lalu.
“Ehem.. itu, Pak. Yang kemarin bapak sudah tanda tangani itu ternyata ada yang salah.” Jawab qisty sambil menunduk.
“Bah! Apanya lagi yang salah?” dengan aksen bataknya dosen itu bertanya.
“Tenyata penulisan nama dosennya tidak memakai huruf besar semua, Pak. Pak Anto yang menyuruh saya merubah.” Jelas Ratih. Dosen itu menceramahinya sebentar. Dan dalam 3 detik, dapatlah ia tanda tangan yang sudah 2 bulan ini diincarnya. Ia pun membuka berkas proposalnya, tinggal tiga buah tanda tangan lagi.
******
    Pagi ini qisty harus mengorbankan jadwal les privatnya. Terpaksa murid lesnya ia liburkan. Planingnya hari ini adalah bertemu bu Gusni, bukan di kampus tapi di rumahnya. Ibu itu sedang sakit, jadi qisty harus bertamu kerumahnya. Sehari yang lalu Qisty sudah membuat janji dengan dosen yang menjadi pengujinya juga ketika ujian proposal.

    Setelah beberapa kali salah alamat dan nyasar tak tentu arah. Berkat arahan dari temannya melalui telpon, akhirnya Qisty berhasil menemukan rumah dosennya itu. rumah tiga lantai dengan aksen barat. Jelas saja, dosennya itu menempuh pendidikan di Adelaide, Australia. Dan lama tinggal di sana. Mungkin rumahnya ini terinspirasi dari rumah di barat.

    Puas dengan tanda tangan yang didapatkannya hari ini. Qisty pun pulang dengan senyum merekah. Tinggal dua tanda tangan lagi, yakni tanda tangan ketua Prodi dan koordinator seminar. Kalau dosen yang berdua ini tak perlu dikhawatirkan, karena menjabat sebagai ketua, tentu saja Pak Rahmat ini stanby di kantornya. Tak perlu mengecek kedatangan dan jadwal masuknya.
    ******
    Qisty Berlari-lari kecil memasuki ruang dosen. Baru saja ia mendapat SMS dari Rani kalau Pak Dodi ada di kantornya hari ini. setelah kemaren bersusah payah membuntuti Pak Rahmat selama seminggu, akhirnya hari ini perjuangan Qisty mengumpulkan tanda tangan. Dan dan targetnya hari ini adalah pak Dodi. Ketua koordinator Seminar Proposal di kampusnya.

    Mendung sudah dari tadi bergelayut, tinggal menumpahkan airnya sederas air terjun tujuh tingkat di Kuansing. Qisty sudah sudah sampai di depan gerbang kampusnya setelah sempat jilbabnya tersangkut di Pintu angkot karena saking tergesa-gesa. Ia memeluk mapnya seolah itu emas seharga satu milyar. Tiba-tiba langit yang sudah sejak tadi ingin memuntahkan airnya sudah tidak tahan lagi menunggu Qisty sampai di pintu masuk gedung kampusnya. Hujan membasahi bumi, jalan, pepepohonan dan termasuk Qisty yang masih berusaha berlari. Selang beberapa detik kemudian ia sudah memasuki gedung kampus. Qisty mengibas-ngibaskan baju gamisnya yang terciprat air hujan. Dalam beberapa detik ia melupakan map nya. dan detik selanjutnya Qisty baru menyadari, kalau map yang di peluknya erat-erat telah basah ujungnya.

    “Apa-apaan ini?! kertasnya sudah kamu mandikan! Print lagi sana!” Hardikan itu yang diterima Qisty dari Pak Dodi di ruangannya. Padahal tadinya Qisty sudah benar-benar berdoa agar Tuhan memudahkan urusannya kali ini. namun Tuhan ingin menguji kesabaran Qisty untuk kesekian kalinya. Kali ini Qisty harus memulai perjuangannya meminta tanda tangan tujuh orang dosen dari awal. Air mata Qisty runtuh bersama tetesan hujan yang membasahi jilbabnya.
 
*Musim Hujan kota Bertuah, Oktober 2012



  Attention : DILARANG MENG COPY PASTE CERPEN INI TANPA SEIZIN PENULIS!

14 komentar:

  1. Huaa,,, SedihNy perjuangan mahasiswa..
    Wktu saya dlu ngurus pndaftaran masuk, ada senior yg jg urus berkas ngomong : " De'..Kmu ini urus berkas masuk susah, tpi keluarNy lebih susah lagi.."
    Ngurus KRS aja berhari2 ngurusNy.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener bgt... Masuk kampus susah, keluarnya luebeh susyahh..

      KRS emangnya belum pake sistem online ya? Kalo kampusku udh pke online, jd bisa isi KRS dari rumah :)

      Hapus
  2. yang sabar ya Qisty.
    seenggaknya curhatan kamu ini dimuat di media cetak dan dibaca banyak orang :)

    kak Qisty, gimana cara cerpen bisa diterbitkan media cetak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Qisty said :
      makasih ya Rozi..
      Iya zi.. Sedep ternyata curhat di koran, hampir 1 halaman penuh lagi. Haha..

      Caranya tanya sama Risah aja ya.

      Risah said : kirim email aja zi..
      Klo riau pos kirim ke info_ahad@yahoo.com
      maksimal 3 halaman
      spasi 1,5.

      Kalo metro riau lupa emailnya. Nanti deh kk kirim

      Hapus
    2. Salam sama kak Qisty ya kak,,, hebat kak qisty curhatannya dimuat dikoran metro riau, keren banget :D
      HIHIHIIHIHIHI

      Hapus
    3. Hahaha..
      Qisty tu nama kawan kk di kampus tu va..
      Org nya dah mencak2 minta royalti :D

      Hapus
  3. ngulang lg deh....
    kyaknya ni cerpen kisah nyata ya....?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Tau juga ya. Iya awal nya emg terinspirasi dr aku, tapi endingnya enggak. Di dramatisir aja itu mah. Hehehe

      Hapus
  4. Cerpennya Keren kakak, apalagi masalah susahnya dapet tanda tangan. Semua mahasiswa pasti mengalami itu, termasuk gue.

    Oh, jadi cerpen ini di muat dikoran. Pasti lo seneng banget, yah kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jd ngalamin juga?
      Tp berkasnya nggak keujanan kan??

      Gah ah, gak seneng banget. Tapi Seneng aja :D

      Hapus
  5. klo gtu kjdiaanya,air mata darah bisa kluar ne..

    bgi mhsiswa tnda tngan itu berharga skli,mnyangkut harkat msa dpan..hehe #apaseh??

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh.. proposal itu kan masa depan.. ga ada tanda tangan berarti gak ada proposal, gak ada proposal berarti gak ada skripsi, gak ada skripsi berarti gak lulus-lulus..

      Hapus
  6. kirain blog lu ngilang taunya ganti url

    BalasHapus

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)