26 Desember 2015

Resensi Novel “Akik dan Penghimpun Senja"



Novel  "Akik  dan Penghimpun Senja"
Prolog
Novel ini sudah rilis sejak aku masih di Papua. dan begitu pulang ke Pekanbaru aku langsung ke gramedia untuk membeli buku ini. Betapa penasarannya aku dengan karya Afifah Afra kali ini. Karena judulnya sangat kekinian. Batu akik. Ya, batu akik pada waktu itu sedang menjadi bintang di Indonesia. Sampai-sampai para kolektor permata, intan mutiara mengerutkan kening, mereka kalah pamor. Apa bagusnya batu akik sampai se tenar itu (yang saat ini ketenarannya sudah memudar). Di TV, Koran, berbagai artikel selalu memberitakan soal batu akik. Dari anak-anak sampai orang tua semua mencari batu akik. Kehebohan batu akik lebih menggemparkan Indonesia ketimbang comeback nya One Direction.  Tiada ku sangka, Afifah Afra mengambil kesempatan itu untuk menelurkan satu lagi novelnya. Prime time!



Ketika aku baca sinopsis di belakang novel ini, kening langsung berkerut. Sama sekali tidak mengerti maksud jalan cerita yang dtawarkan sinopsis novel “Akik dan Penghimpun Senja”ini. ku baca sampai 3 kali. tetap saja otakku hanya berputar-putar tanpa membuahkan hasil. Selesai ku lahap 322 halaman, barulah aku mengerti benang merah yang ditawarkan sinopsis yang menghiasi back cover novel. Hehehe, sudah kalo IQ jongkok. Saat membeli aku hanya berpikir penulisnya adalah pengarang favoritku. Satu alasan yang cukup untuk membawa novel itu ke kasir.

Setelah ku culik beli novel “Akik dan Penghimpun Senja” ini dari rak toko buku, aku tidak serta merta langsung melahapnya. Kesibukanku mengajar di sebuah sekolah swasta membuat otakku memilih lebih dulu menghabiskan ratusan lembar dari teelit dan novel-novel lain yang ku beli di bazar buku. Aku menyimpan novel ini untuk dibaca disaat yang tepat, santai dan nyaman. Seperti menyimpan buah cherry diakhir ketika menyeruput es krim. Seperti menyisihkan kulit ayam untuk dinikmati diakhir. Begitulah aku memperlakukan buku ini. Ketika liburan tiba, barulah aku menciptakan suasana nyaman di kamar dan mulai membuka lembar demi lembar novel dari penulis favorit ku ini.

Resensi
Diceritakan, seorang mahasiswa jurusan Biologi yang punya IQ cemerlang dan berprestasi di kampusnya berhasil mendapatkan dana penelitian dari sebuah international foundation yang bergerak di bidang IPTEK. Dana puluhan juta pun mengucur ke rekening nya. Tapi penelitian yang akan dilakukan tidaklah mudah. Ia harus menyusuri gua untuk menelisik fauna yang ada disana. Dan ini bukan sembarang gua.

Luweng Jaran!

Gua yang masih perawan dan belum dibuka untuk umum. Lebih lagi gerbang masuk gua ini berbentuk vertikal yang mengharuskan pengunjungnya turun dan naik seperti sedang wall climbing. Dengan kedalaman entrance itu hampir 50 meter. Menyusuri gua ini memiliki tingkat kesulitan berkali lipat daripada gua lainnya. Fahira tersedak. Dana dari UK itu sudah mengalir ke rekeningnya. Objek penelitian tetap harus tetap di speleologi. Ia butuh Anton. Anak Mapala yang IPK nya tidak lebih dari 2, tapi sudah menguasai ilmu perguaan. Ia adalah pecinta alam tingkat expert, bahkan Anton juga sudah pernah menyusuri gua sampai ke amerika. Asyarakat di kampus semua tau soal keahliannya ini.

Tapi mengajak Anton bukanlah hal mudah. Dia adalah lelaki paling cuek, kasar dan tidak rendah hati. Ia terlalu sombong untuk di ajak menyusuri gua bersama Fahira. Mahasiswa cerdas yang belum tau apa-apa tentang alam. Fahira hanya di anggap kucing kecil yang menyusahkan Anton. Tapi penelitian ini akan sangat bermanfaat untuk masa depannya di kuliah yang di ujung tombak. Berbagai spekulasi dan bujukan diajukan teman sesama MAPALA yang butuh ikut penelitian ini demi masa depan skripsi.

Apakah Fahira berhasil mengajak Anton menyusuri gua perawan itu? #lu baca aja sendiri. Hihi

Konflik makin seru ketika sekelompok peneliti muda ini tersesat didalam gua. Ditambah dengan amarah sang penghimpun akik yang merasa aktivitas bertapanya terganggu. Ia murka dan mulai mencoba mencelakai mereka. Disisi lain cinta Sang Penghimpun Senja mencoba menahan murka, namum ia terlalu polos untuk tau apa yang selama 7 tahun ini dilakukan penghimpun akik, suaminya. Apa yang terjadi antara dukun akik dan penghimpun senja? Apa hubungannya dengan sekelompok peneliti muda yang membawa harapan ke dalam gua gelap gulita? Temukan konflik dan kisah cinta yang indah di dalam novel ini. #eaakk #semacamiklan

Review
Satu hal yang selalu aku salutkan dari novel-novel Afifah Afra adalah riset! Ya riset beliau sangat detail. Di novel Cinta Adinda aku menemukan banyak hal baru tentang kejiwaan. Bisa dbilang dari novel itu aku tau ada penyakit kejiwaan yang hobinya membunuh orang dan tertarik untuk mencari tau tentang berbagai penyakit jiwa. Novel itu juga yang pertama kali membuat aku jatuh cinta sangat dalam kepada Afifah Afra dan mendaulat beliau sebagai penulis favoritku.

Acintyacunyata

Sunyi, sepi….. gelap abadi.

Dari kisah peneliti menyusuri gua kira-kira apa yang bakal membuat buku ini menarik? Ku kira tidak ada. Di dalam gua hanya ada Sunyi, sepi dan gelap abadi. Tapi Afifah Afra meramunya dengan sangat elok. Meracik dengan tokoh-tokoh idealis, keras, islami, bahkan tokoh dukun pun ada. Membumbui dengan wawasan tentang gua yang sangat detil. System navigasi yang canggih dari kelelawar pun dijelaskan dengan cermat. Kemampuan ekolokasi burung yang hobi hidup di gua ini juga menjadi bagian dari kisah tersesatnya mereka.

Aku ibarat sedang disuguhkan sebuah ensiklopedi gua dan tata cara menyusuri gua vertical. Semua diceritakan lengkap tanpa membuat pembaca bosan. Malah sulit berpaling dari lembar demi lembah yang disuguhkan. Ah, kapan aku bisa menulis buku se apik ini. #ngimpi lu

Di setiap novelnya Afifah Afra selalu menyuguhkan ketengangan demi ketegangan. Dan aku mendapatkan rasa itu ketika membaca novel ini. Tak kalah tegangnya ketika menonton film Sanctum. Film Hollywood yang menceritakan petualangan para peneliti menyusuri gua yang terhubung ke laut. Aku membayangkan Fahira adalah Alice Parkinson yang menyusuri gua dipenuhi air. Cave diving dengan kemungkinan mati 70% yang hampir saja dilakukan Fahira dan kawannya. Novel ini recommended untuk para pecinta novel thriller. Ketegangan mereka memecahkan teka-teki dapat dirasakan pembaca. Keren deh pokoknya Afifah Afra.

Nuasa islami juga terasa cukup kental di dalam novel ini. bergaya FLP banget lah pokoknya. Novel islami tidak harus bercover masjid dan tokoh-tokoh yang alim. Para penulis jebolan FLP tau betul bagaimana meramu nuansa islami ke dalam sebuah novel, bahkan novel penelitian gua seperti ini yang jika dibayangkan adalah novel sains yang akan sulit meramu nya dengan nuansa keislaman. But Afifah Afra do it! #dasarpenuliscerdas!

Kisah percintaan yang begitu singkat adalah satu hal yang membuat aku kurang puas dengan novel ini. aku mengharapkan akan ada drama cinta ala-ala teenlit antara tokoh. Tapi kisah cinta yang disuguhkan sangat sedikit. Hanya di prolog dan epilog. Tidak diceritakan bagaimana mereka membangun cintanya. Ya, mereka hanya memendam cinta di dalam selimut kalsit yang melapisi kerikil jiwa hingga terbentul cavepearl #eaakk.. bahasa gw pun udah larut dalam bahasa perguaan :D

Gitu aja deh ya. Selebihnya baca sendiri. Kalau ada lebih ambil aja, kalau ada yang kurang mohon di maafkan. Happy reading anyone! ^_^

Risah Azzahra- Tertarik Menjadi Wanita Penghimpun Senja

Judul          : Akik dan Penghimpun Senja
Penerbit      : Indiva Media Kreasi, April 2015
Tebal          : 322 halaman
Harga         : Rp 55.000

10 komentar:

  1. Oh, orang Pekanbaru ya, Mbak?
    Pekanbaru di mananya?

    Novel yang cukup menarik menurut aku. Boleh pinjam, Mbak? Muehehehehe.

    Memang benar ternyata ya. Untuk menulis novel, kita harus lebih detil dalam melakukan survey, dan tentunya harus lebih peka. Aku rasa, afifah afra tidak akan bisa membuat novel yang jelas-jelas udah bisa bikin pembacanya masuk ke dalam ceritanya, kalau dia tidak melakukan survey terlebih dahulu.

    Eh, boleh pinjam, Mbak? Hahahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya... aku tinggal di Kulim. tau kah?

      hm.. bole...bolee... :)

      Hapus
  2. Nama Afifah Afra kayaknya udah nggak asing. Termasuk penulis senior nih. Dari review-nya terlihat novel ini memang menegangkan ya. 70% celaka itu gimana nggak bikin deg-degan. :D

    BalasHapus
  3. Hem... gue juga baru tau ada buku ini? Ternyata bahas itu, ya. Gue kira bahas bagaiman peradapan batu akik di zamannya.

    Kalo emang reviewnya seperti itu, boleh dong, kak. Kita ketemuan sebentar. Dan gue minjem bukunya.. hahahaha. "KIta samaan die."

    322 halaman, yakin deh, pasti seru buku ini. Ya, semoga gue ada duit buat beli2 buku lagi.

    BalasHapus
  4. Harganya bukan 67.000 kak, tapi 55.000 hihihi...
    BTW, reviewnya kereeen, sekeren bukunya :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oya??? tapi aku blinya beneran 67.000 -___-

      Hapus
  5. Keren Risah, AYO LANJUTKAN di buku yang berikutnya :) Kalo bisa langsung jadi penulis bukunya :)

    BalasHapus
  6. Waw, masyarakat SM-3T juga ya? :)

    Salam kenal.

    Saya Yoni Prawardayana, SM-3T Angkatan V LPTK Universitas Negeri Malang.

    Saat ini, saya sedang ditugaskan di Kabupaten Aceh Selatan :)

    Waw, bener-bener novel yang komplit ya?

    Novel kombinasi antara kisah cinta, action, dengan sentuhan religi.

    Buku itu masuk GRAMED kah?

    BalasHapus

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)