16 Februari 2015

Kisah Seorang Paman Yang Tega Membakar Tangan Keponakannya

2/16/2015 03:13:00 PM 6 Comments

Cerita ini aku dapat dari Mario Maurer, temen SM3T UNESA (Universitas Negeri Surabaya) yang ketemu selama liburan natal dan tahun baru di kotaa. Kebetulan doski dan temen-temannya pernah nginap di Megapura, posko kedua ku, karna saking seringnya aku nginap disana.

Si Mario ini tugasnya di Papua juga, tapi beda kabupaten. Tempat tugasnya di Kab. Membramo tengah itu lebih terisolir dan masyarakatnya masih sangat terbelakang. Selain itu akses nya susah, makanya harga-harga muahal banget, bayangkan aja beras 50kg harganya Rp. 1.750.000. gilakk apa.. mending makan ubi aja deh. Harga lain jangan di tanya. Bikin mulut menganga dengernya.

Tulisan ini aku culik dari memo HP nya. Karna dia nggak berniat mempublish cerita ini, aku pikir mubazir  banget. Jadi lumayan deh utuk menambah postingan di blog ini. hihihi

Pagi ini saat aku duduk di dapur ada seorang bapak2 paruh baya yg bertamu di dapur kami. Beliau dari Pak dokter untuk berobat, sayang sekali Pak dokter masih ada di wamena, belum pulang ke illuga.

Dari sinilah perkenalan kami di mulai. Beliau Top Gombo. Beliau cerita panjang lebar tentang Papua. Yg menarik perhatian ku, beliau cerita tentang berbagai macam pemakaman di Papua. Yg paling ekstrem adalah pemakaman di suku pedalaman hutan di daerah Distrik megambilis, kab. Membramo Tengah, Prov Papua. Suku pedalaman tersebut apabila ada warganya yg meninggal, mayatnya di gantung saja di pepohonan. Lama kelamaan kalau sudah busuk organ2 dalamnya akan jatuh di tanah, yg tersisa hanya tulang brlulang yg menggantung di pohon.

Jadi jangan heran kalau ada tulang belulang yg bergelantungan di pohon2 hutan Papua. Organ dalam yg berjatuhan di tanah, di kubur dan di tanami pohon sebagai tanda.
Oke kembali ke Pak Top. Sedikit cerita tentang Pak Top Gombo. Beliau adalah orang tua murid dari totius kelas XII Ipa dan totianus VII.

Berbeda dg orang pada wajarnya, Pak Top memiliki kelainan fisik pada tubuhnya. Pergelangan dan jari jemari tangan Pak Top yg sebelah kiri tidak ada, dan tangan yg sebelah kanan terdapat luka bakar. Miris sekali melihatnya. Setelah panjang lebar kami bercerita, beliau menceritakan kisah bagaimana tangannya bisa seperti itu.

Kisahnya bermula saat beliau masih kecil, kisaran masih kelas 3 SD. Pak Top kecil main2 ke hutan sama teman2nya, untuk cari makanan. Ketika berjalan kedalam hutan, beliau menemukan pohon kelapa yg berbuah. Karna kondisi perut lapar dan dahaga, akhirnya memutuskan tuk memetik buah kelapa tersebut. Apa lagi Pak Top tau kalau kelapa tersebut adalah milik om nya sendiri. Jadi beliau fikir petik dulu,nanti baru izin ke om nya. Di pohon tersebut ada 7 butir kelapa. Pak Top petik semua, 2 beliau makan, dan yg 5 beliau bawa untuk di taruh di dapur om nya (pemilik kelapa).

Setelah memakan buah kelapa, Pak Top dkk pulang ke rumah lewat jalan atas bukit. Naas sekali om Pak Top marah sekali melihat tak ada satu butir kelapa pun di pohon kelapanya. Dalam keadaan emosi yg meluap2 om Pak Top mencari siapa yg telah mencuri kelapanya. Setelah tau yg mencuri kelapanya tersebut adalah keponakannya sendiri yg tidak lain adalah Pak Top kecil, malamnya om Pak Top mendatangi rumah Pak Top.

Dengan emosi yg tak terbendung lagi, om Pak Top memukul kepala Pak Top sampai Pak Top tak sadar diri. Setelah itu kedua tangan Pak Top di bakar. Karna dalam kondisi tak sadar diri, Pak Top tak merasakan apa2. Setelah sadar Pak Top menangis dg sekeras2nya. Bukan karena perih terbakar, tapi karena kaget melihat kedua tangannya telah hangus. Keluarga yg tau kondisi Pak Top kecil, langsung membawanya ke Pak mantri. Tapi sudah terlambat, hanya tangan kanan Pak Top yg terselamatkan, sedangkan tangan kiri beliau harus diamputasi, karena tingkat kebakaran yg sudah terlalu parah.

Tangan kanan Pak Top memang masih ada tapi tidak seperti kondisi tangan orang normal pada umumnya, luka bakar masih membekas jelas. Luka tersebut masih terasa sampai sekarang, bahkan seumur hidupnya pun gak bakalan bisa sembuh. Ironis sekali, gara2 7 butir kelapa seorang om tega membakar kedua tangan keponakannya. Semoga kisah Pak Top bisa menjadi pelajaran buat kita..


Ngeri kan pemirsah?? Bayangin aja si Mario harus jadi guru di tengah-tengah masyarakat yang fikirannya masih terbelakang gitu. Semangat buat Mario dan teman-teman SM3T UNESA Lainnya.fighting! 


01 Februari 2015

Di Sebuah Perjalanan Guru SM3T

2/01/2015 04:51:00 AM 19 Comments
Setiap perjalanan ada banyak cerita. Di perjalanan menuju sekolah ada banyak realita. Ada banyak momen yang bisa di cerna. Foto–foto dibawah ini menceritakan bagaimana perhatiannya mama mama (panggilan untuk ibu-ibu di Papua) terhaadap guru. Foto ini di ambil oleh kakak Duta SM3T (Kak Akhirudin Haer dan kak Fajrin Alumni UNM) yang waktu itu sedang  di utus DIKTI untuk melakukan program Rekam Jejak SM3T di Jayawijaya. 

Aidi dan Darwin adalah guru SM3T yang bertugas di desa Air Garam, distrik asotipo. Mereka harus menempuh perjalanan 1 jam mendaki bukit untuk sampai di sekolah. Setiap hari aidi yang alumni UNRI dan Darwin yang berasal dari LPTK UNMUL ini harus berjalan kaki 2 jam demi mencerdaskan anak bangsa. Tak terhitung berapa kali mereka jatuh terjerembab dalam kubangan lumpur saat hari hujan dan jalan menuju sekolah menjadi tidak bersahabat. Karena perjuangan mereka, banyak masyarakat Air Garam yang perhatian dan sayang pada 2 guru muda ini. Sayur-mayur dan buah-buahan hasil kebun selalu hadir sebagai buah tangan ketika mereka pulang sekolah.

Berikut ini adalah foto di perjalanan ketika pergi sekolah. Foto-foto ini bercerita dimana mama-mama yang akan pergi ke kebun, berhenti dulu untuk menyapa 2 guru muda ini dan memberikan ipere (ubi jalar) sebagai sarapan pagi. Subhanallah… pertunjukan yang tidak akan pernah kita dapatkan di kota-kota besar.

buka dan nikmati cerita yang disuguhkan foto ini ^_^

Jadi Guide Sehari Untuk SM3T UNNES

2/01/2015 03:42:00 AM 4 Comments

SM3T Memang memberi banyak manfaat. Salah satu manfaat terbesar adalah memperoleh pengalaman yang nggak semua orang bisa dapatkan. Selain itu, teman, kenalan dan kerabat jadi bertambah. Kita bisa tau karakter orang yang berbeda-beda dan datang dari kota yang berbeda. Jadi tau kebiasaannya, cara bicara, logat dan adat istiadat. Hal-hal yang nggak bakal bisa di dapat kalau cuma duduk manis di rumah.

Bulan desember tahun 2014 ini bisa dibilang bulan full jalan-jalan. Dari berkujung ke danau habema, Danau tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3225 m DPL, jalan ke distrik-distrik di kab. Jayawijaya dan banyak lagi. Kali ini aku mau pamer cerita perjalanan aku dengan teman-teman SM3T dari UNNES (Universitas Negeri Semarang) yang kemaren “terdampar” di Wamena.
Aku ceritain sedikit tentang temen-temen dari UNNES ini, Mereka  di tempatkan di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. nggak ada akses darat dari kab. Jayawijaya menuju kesana. Harus naik pesawat kecil (yang kalo terbang  berasa naik roller coaster). Harga-harga disana tentu lebih mahal, karena kabupaten pemekaran, semua logistik di kirim dari Wamena. sayur-sayuran juga mahal banget karena di kirim dari Wamena (tempat aku bertugas). Untungnya mereka dapat BAMA (Bahan Makanan) dari PEMDA Yahukimo. Jadi nggak terlalu berat kalau soal makan.

17 Januari 2015

Gelas-gelas Kosong

1/17/2015 05:02:00 AM 3 Comments

Berat rasanya kembali ke tempat pengabdian setelah sebulan lebih liburan di kota. Rasa malas mulai menggeluti jiwa, bosan dan masih ingin menikmati hidup di kota. Masih belum siap mental menghadapi dinginnya Hitigima, masih belum sanggup mandi dan mencuci di kali yang airnya seperti batu es. Masih belum rela meninggalkan kota dengan segala keramaian dan hirup pikuknya dan mengganti dengan Hitigima yang sepi melompong.

Untunglah ketika kembali ke Hitigima ada teman dari UNESA  yang mau berkunjung ke posko ku. Jadi agak semangat pulang ke posko. Secara jarang ada yang datang ke Hitigima, jadi kalau ada tamu senengnya bukan main. Selain bikin rame, juga ada yang bikin semangat masak. Biasanya kalo cuma berdua doang kami malas banget masak. Muehehe. Sebelumnya si Marrio ini juga sudah pernah berkunjung ke beberapa posko teman2 lain. Cerita dari tempat tugasnya juga pernah aku post di postingan “Di Papua Ada Paman Yang TegaMembakar Tangan Keponakannya!.”

Kali ini mau mau ceritan keadaan sekolah dan siswaku setelah satu bulan libur sekolah. Keadaan mereka sangat menggenaskan! Jauh dari perkiraanku. Yang aku bayangkan ketika sampai di sekolah adalah mengolah nilai dan membagikan raport semester  1 dengah kehebohan yang sama seperti layaknya sekolah yang bagi raport tiap semester. Tapi kenyataannya, sampai saat ini (seminggu setelah liburan) belum ada penampakan raport murid. Entah dimana letaknya.  Beberapa guru yang aku tanya hanya menggeleng sambil menaikkan sebelah bahunya pertanda tidak tau. Kepala sekolah juga ketika di tanya jawabnya berputar-putar sampe ke merauke (saking jauhnya). Guru-guru juga tidak ada yang keliatan batang hidungnya. Hanya aku dan Hotma, serta Kepala Sekolah yang sibuk di rumahnya.

05 Januari 2015

Habema, Danau tertinggi di Indonesia

1/05/2015 09:14:00 AM 0 Comments
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kaki kami menginjak danau Hebema. Danau dengan ketinggian 3220 mdpl. Dengan ketinggian ini, danau ini di daulat menjadi danau tertinggi di Indonesia. Dan 36 Orang Guru SM3T Jayawijaya sudah pernah menaikinya. Wow..
 
Perjalanan ini bermula dari pertemuan kami secara resmi dengan bupati jawawijaya. Setelah membicarakan mengenai program-program SM3T, kami mengajak Bupati untuk jalan-jalan bersama guru-guru SM3T. tiada disangka pak Wempi Wetipo sebagai bupati itu sangatlah humble dengan masyarakat dan langsung mengatur jadwal keberangkatan menuju danau habema diliburan Natal dan Tahun baru. Bahkan beliau yang menyiapkan 8 mobil gunung untuk menjelajahi gunung dan perbukitan menuju danau habema. Yeaaayy.. makasih bapak.. 

karena masih 2 bulan di Papua, aku belum tau apa-apa soal ini. berikut sekilas tentang Danau Habema yang aku culik dari triptrus.com


Danau Habema memang bisa dikatakan sebagai danau di atas. Walapun lokasinya di kaki Gunung Trikora, Kabupaten Jayawijaya, Papua, danau ini merupakan salah satu danau tertinggi di Indonesia. Terletak di ketinggian lebih dari 3.300 meter di atas permukaan laut, oleh Masyarakat Dani, penduduk Jayawijaya, danau itu dianggap sebagai tempat keramat yang jadi sumber kesuburan dan kehidupan

Sekedar harapan dan target di tahun 2015

1/05/2015 03:57:00 AM 4 Comments

Kayaknya nggak afdol ya kalo tahun baru nggak bikin resolusi.. biar ada target dan biar lebih gaol.. aku mau ikutan bikin resolusi juga. Resolusi tahun ini agak beda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena sekarang aku live ini papua. yang pasti gaya hidup yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya deh…   karena tahun 2015, aku buat resolusinya juga 15 biji aja. Here is my resolution in 2015.

1. Memberantas buta aksara di SD YPPGI Hitigima
Di sekolahku ini, tepatnya di Distrik Asotipo. Kabupaten Jayawijaya. Provinsi Papua, emang parah banget kemampuan muridnya. Bayangkan aja kelas VI ada yang belum bisa baca bahkan belum hafal huruf. Padahal tiap hari datang ke sekolah. Ngapain aja coba tu anak, udah makan bangku sekolahan 5 tahun tapi belum bisa baca. Kelas rendah jangan di tanya. Calistungnya parah juga. Kelas III rata-rata tidak tau berapa 10-6. Jadi aku harus ngajar mereka dari awal lagi. Berbagai usaha dan cara udah kami kerahkan. Salah satunya les pulang sekolah dan les malam. Tapi sampai saat ini progres nya masih lambat banget. Apa yang d ajarin hari ini dia bisa, tapi besok lupa lagi kayak gelas es cendol yang kesenggol. Isinya kosong. Minta doanya sebelum kontrak SM3T ini berakhir, nggak ada lagi anak yang nggak bisa baca di SD YPPGI Hitigima. Amin ya Rabb

Natal dan Tahun Baru Di Wamena

1/05/2015 03:31:00 AM 2 Comments

            Seumur-umur, 12 tahun di Pekanbaru, 4 tahun di Jakarta, 4 tahun di Kampar, dan 4 tahun di Pekanbaru.. aku belum pernah ngerayain  yang namanya tahun baru. Biasanya temen-temen yang lain kalau tahun baru pasti jalan-jalan ke luar rumah, nongkrong-nongkrong di tepi jalan menunggu jam 12.00. atau kalau di Pekanbaru yang terkenal jadi pusat nongkrong kalau tahun baru itu adalah kawasan purna MTQ. Biasanya bakal macet parah, kalau udah pergi kesana pasti pulangnya bisa-bisa subuh.

Ada juga kebiasaan bakar ayam dan kumpul-kumpul di depan rumah. Menghindari gilanya macet di malam pergantian tahun.  Biasanya sekeluarga ngumpul bareng tetangga-tetangga juga untuk ngumpul-ngumpul di halaman rumah. tapi Cuma segelintir keluarga yang ikutan rempong di akhir tahun. Kebanyakan memilih nonton tv dirumah. Atau yang paling ngenes, langsung tidur.

Beda banget sama di Wamena, Kab. Jayawijaya, Papua. Tempat aku nghabiskan liburan natal dan tahun baru yang hampir sebulan.  Selama liburan aku keliling posko teman-teman di distrik asotipo dan asolokobal, selain untuk merasakan bagaimana posko mereka, juga untuk menghemat biaya hidup. Karna makannya nebeng. Hahaha…

Bosen di kampung, kami pun merantau ke kota. Ada beberapa kenalan buat di jadikan tempat nginap. Salah satunya di rumah Pak Rais. Seorang polisi asal Ambon yang punya istri orang makassar. Istrinya penjual kue grosiran (sakingnya banyaknya) yang walaupun cerewet tapi baik nya ampun ampunan..

Ibu bhayangkari yang kaya dari jualan kue ini biasa kami panggil mamak. Ada juga beberapa yang manggil Mami. Dirumah ini setiap weekend selalu rame. Ada 6 sampai 20 orang yang selalu nginap di rumah ini. Dari 66 orang SM3T asal Riau dan Kalimantan, 80 % nya pernah menginap disini. Semua biaya makan mamak rais yang tanggung. Subhanallah… semoga Allah memurahkan rezki keluarga Pak Rais. Amin..

04 Januari 2015

Roller Coaster in 2014

1/04/2015 11:25:00 AM 4 Comments

Tahun 2014 itu ibarat naik roller coaster buat aku. Dari susah, senang, semua lengkap di tahun ini. Tapi kebanyakan senengnya sih kayaknya. Banyak impian-impian yang akhirnya bisa di rangkul. Banyal hal-hal baru yang aku dapat di tahun ini. Beberapa moment bakal aku certain disini. Here we go..

Setelah wisuda bulan oktober 2013. Aku sempat jadi pengangguran kurang lebih 1 bulan. Jadi pengguran ternyata asik juga, asal jangan kelamaan. Hehehe.. cerita-cerita semasa pengangguran aku ngapan aja, baca aja disini dan disini.

Jadi wartawan

Bulan Januari 2014 aku di terima di salah satu media local riau. Koran harian ini belum terlalu terkenal karena baru aja 2 tahun berdiri. Dialah HARIAN DETIL. Lini dari HARIAN VOKAL yang udah lumayan banyak di baca di Riau. Di HARIAN DETIL ini aku kebagian tugas jadi reporter untuk halaman ekonomi bisnis. Namanya juga halaman bisnis, isi beritanya tetang dunia perbisnisan di Riau. Misalnya Honda baru launching produk baru, atau Hotel mewah menawarkan promo menginap murah, termasuk juga berita ekonomi makro dan mikro, semisal harga sembako naik dll.  Aku yang awalnya buta banget soal nulis berita, jadi terbantu banget sama Korlap (Koordinator Lapangan) Pak Ical yang baik dan pengertiannya luar biasa. Ada juga pak Budi, reporter senior halaman bisnis yang banyak ngajarin aku cara nulis berita untuk halaman bisnis dan cara ngelobi orang-orang penting yang bersangkutan dengan berita. Ada juga kak Adek (hadohh.. lupa nama aslinya) yang aku buntutin berhari-hari buat belajar cara ngeliput berita di lapangan. Ternyata melelahkan dan tentu saja MENDEBARKAN! Yag kepo baca aja ceritanya di postingan A Journalist Wanna be part #1, PART #2, PART #3 dan PART #4

Selama hampir 2 bulan jadi wartawan aku banyak banget dapet pengalaman baru, ternyata jadi wartawan itu selain capek ngebuntutin orang penting kemana-mana, ternyata asyik banget! Selama jadi wartawan itulah aku bisa di undang kemana-mana sama brand yang lagi promoin barangnya, ngarep beritanya masuk di Koran gitu. Lumayan cuma modal uang saku untuk wartawannya dan makan mewah gratis. Dalam seminggu itu ada banyak iven, dan rata-rata mengundang wartawan halaman ekonomi bisnis koran-koran yang ada di Pekanbaru. Jadi banyak kenal wartawan-wartawan senior dan banyak belajar dari semangat juang (mencari berita) mereka.

selama jadi wartawan juga aku jadi bisa nonton konser gratis, bahkan ikut press con nya (ya iyalah, elu kan wartawan!) yang kalo dibayar itu hamper 1 juta Cuma buat nontonin idolanya cuap-cuap di depan dan foto-foto.

Karna punya  kartu pers, aku bisa ikut meet and greet nya COBOY JUNIOR di hotel Grand Elite Pekanbaru. Pengalaman pertama ikut presscon dan meet and greet sama artis. Tapi karena aku nggak begitu suka ama anak-anak SMP yang jadi boyband itu, aku nggak terlalu autis untuk ikut mengantri foto-foto yang nomor antriannya hamper 500an. Gilak. Mana fans nya rata-rata anak-anak SMP labil yang dkit-dikit teriak, dikit-dikit nangis. Persis orang gila..

Coboy Junior meet and greet at ballroom Grand Central Hotel Pekanbaru
yang kepo ceritanya, baca aja DISINI

1 minggu kemudian, ada konser afgan di hotel Arya Duta Pekanbaru. Aku udah antusias banget, karena aku udah ke PD an, pasti aku yang bakal di utus dari kantor untuk ngeliput itu. Wartawan bisnis di kantor Cuma 2 orang, aku dan pak Budi. Kalau pak Budi kan udah sering ngeliput konser, pasti males dan udah bosen. Jadi aku udah exited banget bakal ikut presscon nya si ganteng Afgan.  Sayang beribu sayang, H-1 konser, ada insiden di kantor. Dan aku nggak jadi ngeliput konser Afgan. Huaaaa… sakitnya tuh disinii..

Banyak perjuangan selama jadi wartawan. 1 hari itu semuanya penuh perjuangan, bayangin aja aku pernnah nunggu hamper 5 jam buat ketemu GM Pertamina wilayah Riau buat wawancara masalah kenaikan gas yang waktu itu harganya mendadak melambung tinggi. Pernah juga di usir narasumber (orang cina) karena nggak mau di wawancara. Belum lagi waktu ngeliput harga emas, aku harus kelilingi toko emas di sekitaran pasar ramayan buat survey harga. Baca cerita lengkapnya diSINI. Capek, deg-degan, tapi seruu…! This is amazing moment.

Akhirnya Aku Jadi Guru Betulan   

Belum kelar tugas aku jadi reporter, belum puas aku keliling-keliling Pekanbaru tiap hari buat nyari berita, belum kesampean impian ngeliput keluar negri.. eh.. aku udah harus ninggalin kantor DETIL yang penuh perjuangan dan suka duka untuk kembali ke habitatku. JADI GURU SD. Karena memang dengan berat hati ku akui, aku adalah alumni PGSD UR, konsentrasi Matematika yanga sepatutnya jadi guru di SD. Karena lamaran yang aku masukkan selama jadi pengagguran, aku di panggil unuk tes. Setelah melewati beberapa tes, berupa tes wawancara keislaman, wawancara pake bahasa inggris mengenai manajemen kelas, tes computer (mic exel) , dan tes hafalan al-qur’an, tahfiz (Juz 30) dan tahsin, akhirnya aku di terima jadi guru di SD AN NAMIROH 3. SD swasta yang cukup bergengsi di Pekanbaru. Karna sudah memiliki puluhan cabang dari PAUD, TK, SD sampai SMP.

Jadi guru di sini punya kesulitan yang beda banget dengan mengajar di SD Negeri. Kalau di SD negri mungkin anaknya nakal-nakal, nah di sini aku harus menghadapi anak-anak yang manjanya ruarr biasa. Maklumlah, rata-rata murd di sekolah ini dari orang berada yang biasa di manja di rumah. Guru harus memperhatikan makan siangnya habis atau tidak, melaporkan perkembangan hariannya pada orangtua, dll. Pokoknya full servis, baik ke anak mau pun orangtua. Selama 9 bulan aku jadi guru disini, HP selalu rempong. Bunyi mulu karna selalu ada aja telpon dari walai murid yang kadanag nggak penting. Kalau di SD negeri biasanya menghadapi anak yang dekil-dekil setelah bermain di lapangan, di SD Swasta ini anaknya cantik-cantik dan wangi. Nggak ada yang bau keringat kareana mereka main d koridor sekolah yang tertutup, dan juga setiap kelas dilengkapi 2 buah AC yang bikin belajar jadi nyaman.

Enaknya ngajar disini juga banyak, membuataku jadi lebih mengeksplor kemampuanku sebagai guru SD. Karna ada tuntutan dari yayasan gurunya harus perfect, bahkan   Nggak bisa asal-aslan kasi materi, harus perfect dan anak-anak harus mengerti bagaianapun caranya. Guru disini kadang d sibukkan membuat media atau power point untuk di tunjukkan di depan siswa supaya belajar jadi lebih menarik.

Selain itu  Ada bayak kegiatan-kegiatan di sekolah ini yang menanbah ilu dan wawasan setiap guru. Setiap juaam’at siang guru harus belajar computer bahasa inggris, bahasa araab dan hafalan qur’aan. Luar biasa bukan?

murid-muridku yang cantikcantik, ganteng-ganteng, imut dan pinter2. I Miss you all my student

Be a part time announcer

Keinginan melanjutkan narsis di udara akhirnya kesampean. Sambil ngajar hari senin-jum’at. Hari sabtu dan minggu aku siaran di Radio Robbani 91,6 FM. Salah satu stasiun Radio Islami yang lumayan terkenal di antara orang-orang beriman. Hihihi..  

ruang siaran Radio Robbani 91,6 FM
dapat kunungan kerja dari AL-Madani FISIP UR
Kru Radio Robbani dan pendengar setia yang berkunjung ke studio. #Mayan, cemilan gretong cyinn

Terbang ke Papua

Nah yang terakhir ini yang paling amazing moment banget deh. Aku nggak pernah bercita-cita ke papua, bahkan buat jalan-jalan pun nggak pernah terbayangkan. Ternyata takdir menyuratkan aku harus stay selama satu tahun di Papua. Wow…

Kalau keinginan untuk ikut program SM3T sih udah dari lama aku bayangin tapi nggak serius dan itu Cuma impian sekilas kalau rencana-rencana lain setelah lulus nggak kesampean. Ikut SM3T ini Cuma PLAN B. pelarian dari target-target lain. Tapi Alhamdulillah banget, puji syukur, impian aku yang lain kesampean, yang ini juga berjalan. Alhamdulillah ala ku lli hal ya Allah.

Nggak terbayangkan sebelumnya aku bakal tinggal dengan orang-aorang yang terbelakang di papua. Emak-emak yang dengan santainya telanjang dada di mana-mana, duduk satu angkot di sebelah Bapak-bapak yang toples Cuma pake koteka doang. Hadeuhhh…

Belum lagi perjuangan hidup harus jalan kaki kemana-mana karna nggak ada transport. Bayangin aja, kalau mau ke kota untuk belanja kebutuhan sehari-hari (di desaku nggak ada warung), aku harus turun gunung jalan kaki sekitar 20 menit. Biasanya kalau turun ke kota aku nggak mengeluh, karna hati riang gembira karna mau shopping di kota dan bisa makan enak. Yang biasanya bikin ngos-ngosan itu pulangnya, karna harus naik gunung yang kemiringannya sekitar 45 derajat. Mendaki gunung, dengan tas ransel berat dan tentengan barang belanja untuk kebutuhan seminggu. Sakitnya tuh disinii…. #nunjuk bahu

Oa, amazing moment sebelum nyampe papua ini adalah persiapannya.

Sebelum terbang ke papua ini empognya luar biasa banget . Bayangin aja, H-2 Sebelum prakondisi aku masi kerja di SD Annamiroh. Sedangkan setelah prakondisi langsung berangkat ke papua. Packing barang untuk 1 tahun hidup di pedalaman papua itu nggak gampang. Mana bagasi di batasi nggak boleh lebih dari 15 kg. dapet bawa apa coba 15 kg doang… Pusing banget apa aja yang mau di bawa. Sibuk tanya sana-sini. Udah banyak list barang yang aku buat untuk di bawa. Tapi karna prepare nya cuma 1 hari, jadi banyak barang-barang penting yang nggak terbawa. Tapi untunglah over bagasiku jadi nggak banyak. Cuma lebih 7kg. itu pun gratis karena di akumulasikan dengan bagasi rombongan. Beda banget sama bawaannya si Hotma, partner ku dari Kalimantan yang over bagasinya 22kg. bayar sendiri lagi.. ajibb…

Kalau bepergian, tentu yang berat itu pasti perpisahannya. Berpisah dengan orangtua, adik-adik dan sahabat-sahabat di Pekanbaru tercintah. Sebelum pergi aku udah ngadain pamitan dengan keluarga besar dan beberapa meet up dengan sohib-sohib deket.  temen-temen kampusku, dengan anak-anak blogger dll. Dan tentu saja yang paling berat itu perpisahan dengan orangtua. Apalagi sebelumnya ortuku dengan keras nggak mengizinkan aku berangkat ke Papua tapi setelah aku berhasil nge brain wash ummiku akhirnya, Buya (Bapak.red) ngizinin juga dengan berat hati.

Di hari keberangkatan itu, jam 3 udah harus ngumpul di bandara karena ada dokumen dari LPTK yang harus kami tanda tangani. Sedangkan aku jam 1 siang masi berkeliaran keliling mall nyari kamera pocket. Karna aku pikir kalau bawa SLR pasti rempong banget, berat dan harus di atur-atur dulu, takut nggak dapet momen nya karena kelamaaan ngeluarin SLR dari tas. Begitu juga laptop. Karena laptop ku yang lama itu Compac yang lumayan berat, aku mau beli notebook aja yang lebih simple dan ringan untuk di bawa bepergian. Akhirnya hari itu aku dapet notebook baru warna ungu, dan camera digital warna ungu, dan tas ransel warna ungu. Semua ungu.. hihihi..

Jam 14.30 aku baru nyampe rumah dan taksi udah stand by di halaman. Nggak pake mandi, nggak pake bedakan. Aku langsung masuk taksi. SENDIRIAN. Aku jadi bingung.  Kok yang dirumah pada anteng aja. Nggak ada yang nganterin.

“Icha pergi aja dulu pake taksi, nanti ummi sama buya nyusul. Biar nggak ketinggalan rombongan.” Kata ummiku dengan polosnya.

Aku langsung nyesek, masak gue kebandara sedirian. Aku ini mau ke ujung Indonesia, buat setahun. Tapi orang serumah kayaknya nggak ada yang peduli. Akhirnya dengan suara gemetar menahan tangis, akau berhasil membujuk Buya untuk ikut dengan aku naik taksi. Padahal buyaku lagi nggak enak badan banget. Pusing berasa mau tumbang kalo berdiri lama-lama. Buyapun masuk taksi kayak ogah-ogahan gitu.

Tapi ketika supir taksi nanya tujuan. Buya langsug cerita panjang lebar, dengan bangganya menceritakan anak sulungnya bakalan ngajar di Papua. Dengan bangganya buyaku menceritakan proses tes dan prakonsidi yang di hadapi sebelum berangkat. Aku yang sibuk dengan HP mengetik SMS pamitan ke orang-orang terdekat diam-diam mendengarkan. Ternyata buya sudah bisa ikhlas dan bangga aku terbang ke papua.

Sampai ternyata om, tante dan sepupu-sepupu ikut mengantar. Satu mobil penuh. Belum lagi sahabat-sahabat terdekat di kampus dan di tempat kerja yang lari-larian ngejar aku d bandara (kayak film AADC gituh) ummi dan adik-adikpun menyusul. Sebelum check in aku di peluk dan di cium satu persatu sama mereka. Tumpah sudah air mata yang dari rumah aku tahan. Jaket SM3T yang aku pakai membentuk pulau-pulau bekas air mata. Buyaku yang jarang menangis berulang kali memelukku berurai air mata tanpa kata-kata. Ummi memelukku erat sambil berpesan menjaga sholat 5 waktu. Om dan tante juga mengantarkan doa. Pokoknya detik-detik keberangkatan itu penuh haru dan air mata.

Rombongan yang nganter di Bandara. ini belum semua loh.. :D

Sampai di ruang tunggu aku berusaha menahan tangis dan ikut berkumpul dan tertawa dengan rombongan. Ini adalah perjalan pertama aku dengan pesawat garuda. Secara garuda kan mahal tiketnya cyinn.. dan dengan noraknya aku foto-foto di pesawat dengan fasilitas lengkap ini. Menikmati perjalanan 5 jam di udara menuju Jayapura.

Dapet temen sebangku sama narsisnya. he is Fendy Thomas. alumni UPI

Sampai di papua tentu banyak pengalaman-pengalaman yang nggak bakal aku dapat kalau saja aku terus ada di zona nyamanku tinggal di Pekanbaru. Pengalamaan  kaget  ketika sampai di bandara Jayapura. Melihat di sekeliling orang-orang berkulit hitam, rambut keriting dengan muka seram. Belum lagi bau yanga menusuk hidung. Setelah sampai di wamena kami juga kaget dengan udara dingin siang bolong yang selalu 16 derajat. 2 hari di asrama  banyak yang tidak kuat mnyentuh air untuk mandi. Bibir  dan kulit pecah-pecah saking keringnya. Krim pelembab mendadak jadi barang yang paling di cari.

Ada banyak hal-hal baru yang aku alami di Papua. Sedikitpun aku tidak pernah menyesali kedatanganku ke sini. Justru bersyukur bisa tinggal dengan masyarakat papua yang bermuka seram tapi hatinya selembut sutra. Senang bisa melihat live pemandangan papua yang luar biasa indahnya. Sampai-sampai membuat airmataku tumpah karena melihat betapa indahnya lukisan Allah di tanah papua ini. (Baca ceritanya di postingan air mata pertama). Bersyukur bisa mengajar anak-anak di pedalaman yang kelas 6 nya saja belum bisa membaca. Entah apa yang mereka pelajari selama 6 tahun datang ke sekolah.

Les Khusus calistng di rumah. rameeeee nyaaaa.....
Itu dia sedikit cuplikan perjalananku di tahun 2014. Dari masih jadi wartawan, udah panggil untuk jadi guru di SD AN Namiroh. Masih jadi guru, harus pergi ke papua karena lulus tes SM3T. semuanya ibarat naik roller coaster. Semoga saja tugasku di sini di mudahkan dan semua target kerja tercapai. Amin..

 Quote abal-abal : “Kau tidak akan tau betapa indahnya dunia ketika kau tidak berani meninggalkan zona nyaman.”

Semoga lebih baik lagi


#postingan ini diikutsertakan dalam #liamartagiveaway ‘shareyour moment’. 

19 Desember 2014

Ketika Guru Jadi Backpaker. Part #2

12/19/2014 04:42:00 AM 16 Comments
Air Terjun Air Garam
#Intro
Sebenernya perjalanan ke air garam ini udah lama banget. Sekitar awal oktober yang lalu. Tapi nggak afdol kalo nggak di ceritain di blog ter cintah ini. Ibarat sayur tanpa garam. (apa hunungannya) Jadi wajib gue certain di blog ini. Muehehe.

Air terjun yang akan kami kunjungi kali ini terletak di Desa Air Garam, Distrik Asotipo, Wamena, Kab. Jayawijaya. Provinsi Papua. Kalo kamu liat di peta. Nggak bakal ada desa air garam. Karna letaknya paling ujung di distrik asotipo. Nggak ada listrik, sinyal, dan sulit air. Di desa inilah 2 guru asal Riau dan Kalimantan mengabdi untuk anak negeri. Kepala desa air garam yang antusias banget dengan kedatangan 2 cowok ini langsung merelakan rumahnya untuk di tempati, sedangkan beliau sendiri rela tinggal di Honai (rumah adat papua).

Sayangnya, meski sudah di berikan rumah, si Aidi yang berasal satu kampus denganku itu tidak bisa tinggal di rumah yang sudah di sediakan persis di depan sekolah. Darwin yang datang dari UNMUL (Universitas Mulawarman, Samarinda) pun sependapat. Bahkan gosip yang beredar di antara SM3T Wamena, di awal kedatangan mereka di desa air garam. Darwin sempat menangis sambil menelpon orangtuanya hihihi.. siapa yang tidak menangis membayangkan bakal tinggal di rumah yang jauh terpisah dari rumah penduduk, tidak ada listrik, tidak ada sinyal dan tidak ada air. WC untuk membuang hajat pun tidak ada.  Wajarlah Darwin menangisi nasibnya untuk satu tahun ke depan.

Sorenya mereka turun gunung menuju Hitigima. Desa tempat tugasku mengajar. Perjalanan sekitar 1 jam jalan kaki (nggak ada transport selain jalan kaki disini). Mereka membawa laptop dan gadget lainnya untuk di cas di rumahku yang alhadulillah ala kulli hal ya Allah. Rumahku ada listriknya 24 jam. Sore itu mereka curhat. Sore di hari pertama di tempat kami mengabdi, sore ketika aku berteriak kegirangan melihat aidi datang dari atas gunung. Sore setelah air mata pertama ku di Papua.

Malam itu kami atur strategi, plan A nya Darwin dan Aidi bakal tinggal serumah dengan aku. Dan mereka akan bolak-balik jalan kaki ke sekolah. Karena mereka nggak cukup tahan untuk tinggal di atas (air garam) tanpa listrik, sinyal dan tidak ada yang bisa menjamin keamanan mereka karena rumah yang jauh terpisah dari rumah penduduk. Pasti udah pada tau gimana kondisi keamanan papua yang rawan terjadi kejahatan itu.
Ternyata, setelah di telpon, teman kami satu distrik asotipo yang hari ini juga sampai di Desa Sogokmo tidak beda jauh nasibnya dengan Air Garam. Rumah mereka ada di dalam lingkungan sekolah, tidak ada air, tidak ada listrik, kesulitan sinyal, tapi WC masih ada, menggunakan WC sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Ketika di telpon, suara muti  yang putus-putus menandakan mereka ketakutan tinggal rumah yang jauh dari keramaian. Dengan gagah berani, akhirnya Darwin dan Aidi malam itu juga menjemput Fauzan Azimah alias Aan dan Muti yang ada di sogokmo. Malam-malam jalan kaki sekitar1 jam dengan berbekal senter. Aku menahan napas khawatir menunggu mereka dirumah. Untunglah mereka selamat sampai dirumahku. Dengan membawa barang-barang berharganya dan sleeping bed, Aan yang alumni Biologi di UR dan Muti yang berasal dari UNMUL itu bercerita  tentang poskonya. Ternyata dari 3 posko di distrik asotipo. Posko akulah yang paling layak huni. Dirumahku ada 2 kamar, ruang tamu, ruang tengah, dapur mini, dan dilengkapi dengan listrik 24 jam. Sinyal bagus (bahkan bisa buka FB sesekali), dan ada WC di dalam rumah. Air memang agak sulit karna harus angkut jauh, tapi untuk hari pertama iitu pak Wetipo sudah menyedakan banyak air di kamar mandi untuk kebutuhan kami. Thanks God!
hari pertama hidup di Papua. masa-masa si Aidi dan Darwin masi jadi anak terlantar :D
awal -awal hidup di papua


06 November 2014

Ketika Guru Jadi Backpacker #Air Terjun Napua

11/06/2014 05:05:00 AM 14 Comments




Dulu, sebelum pernah ngebayangin bakal terdampar di papua, aku pengen banget jadi backpacker. Karna apalagi kalo bukan karena baca-baca blog temen-temen yang tiap abis weekend postingan blog nya pasti jalan-jalan mulu. Sebut saja blog nya kak Lina. Tiap ngebaca tu rasanya pengen garuk-garuk keyboard laptop saking ngirinya liat foto-foto di blognya. Naik gunung rame-rame dengan ransel berat serba lengkap di gedong di punggung. Jalan kaki ratusan meter, naik turun bukit yang terjal, nginep di hutan pake tenda, wuaaahh… Keren banget kayaknya. Bukan kayaknya, emang keren banget!

Begitulah hasrat aku untuk jadi backpacker yang selama aku tinggal di Pekanbaru belum pernah kesampean. Tapi siapa sangka, Mimpi aja aku nggak pernah bakalan tinggal di Papua! Demi apa aku tinggal sama orang-orang yang nggak malu jalan telanjang d tengah kota Cuma pake koteka doang. Demi apa sodaraaa…. Ngimpi juga nggak pernah! Aku emang pernah kepengen ikut SM3T, rencana ini ada di dalam list PLAN B aku dan temen-temen setahunyang lalu. Bahkan rencana itu juga aku abadikan di postingan blog yanag ini. Eehh.. siapa sangka sodaraa… aku beneran ikut SM3T, dan terdampar di Papua lagi… paling pojoknya Indonesia… mamake tolooooongggg….. 

Tapi begitu turun dari pesawat Garuda yang udah mengombang ambingkan aku di udara selama 5 jam, perasaan nyesel, takut, pengen pulang, semua itu runtuh waktu aku liat pemandangan kota Wamena. Ibukota provinsi Jayawijaya. Yang kata orang, kalo belum ke Wamena, belum ke Papua cuy..

Disini terhampar bukit berbaris-baris. Gunung dimana-mana. Mengelilingi kota. Eh tapi sampe sekarang aku masih bingung deh, yang mana bukit yang mana gunung. Sama aja bentuknya. Kemana mata memandang di kota Wamena ini, semuanya gunung dan bukit. Kota yang ada di tengah-tengah gunung. Makanya nggak ada akses jalan darat untuk bisa sampe kesini, soalnya nggak ada jalan yang rata. Karena bisanya naik pesawat doang, harga-harga disini luar biasa mahalnya, karna semuanya di angkut pake pesawat. Babi tetangga aku aja pernah naik pesaawat dari jayapura ke wamena. Aku pikir Apa nggak di bom aja ya salah satu gunungnya biar ada akses darat, dan harga nggak melampung setinggi langit kayak gini. Makan nasi padang aja kena 50k cyinn..

Oke, ini udah keana-mana ceritanya… back to backpacker..

Jadi ceritanya waktu nyampe di Papua, aku langsung laper mata. Pengen jalan-jalan kesana kesini. Weekend Minggu pertama aku masi ngintilin si Hotma nginep di rumah nangborunya (Tante) sesama orang batak satu marga. Keluarga ini tinggal di kotaa. Kami di servis abis disana, makan enak, tidur pake selimut tebal, nonton tv dll. Hahaa.. minggu ke dua aku dirumah, ngebikin kue ulangtahun dari nasi goreng untuk partner seperjuangan aku yang waktu itu lagi ultah. Baca aja ceritanya DIPOSTINGAN HAPPY BIRTHDAY HOTMA.

Pertaruhan nyawa menuju air terjun Napua

Nah, minggu ketiga ada d Wamena. Aku dan rombongan temen-temen SM3T dari Riau, jalan-jalan ke Napua.  Sedangkan si Hotma memilih nginap di rumah tantnya, karena kata tantenya daerah menuju Napua nggak aman. Disana ada posko temen SM3T juga, dan ada air terjunnya. Berangkatlah kami guru-guru yang super nekat ini ke Napua dengan menyewa mobil sejenis superben. Nggak semua temen2 rombongan Riau yang ikut ke Napua. Hanya 13  orang-orang nekat yang ikut pergi. Kenapa? Karna hari kami berangkat itu sedang ada perang antar suku. Ya, papua kan emang hobinya suka perang suku gitu..
Sebelum berangkat, Alga, temen SM3T yang bertugas di Napua udah bertanya sana-sini, dan udah mastikan kalo perang antar suku yang berlangsung sejak hari jumat itu sudah selesai (hari kami berangkat adalah sabtu). Kami pun siap berangkat. 
Waktu jalan kaki keluar dari SD YPK Betlehem Wamena (posko tempat kami biasa berkumpul kalo turun ke kota), datanglah iring-iringan mobil polisi dengan pasukannya. Ada 3 kompi mobil polisi yang melintas di depan kami. Mereka semua membawa senjata yang siap ditangan. Salah seorang polisi menyilangkan tangannya di dada dengan muka pias. Aku pikir nih polisi ngapain sih.. ternyata mereka ngasih kode supaya kami jangan jalan terus, rombongan jalan kaki ini pun berhenti di depan sebuah bengkel.
Seorang bapak keluar dari bengkelnya dan bicara dengan Alga dan cowok-cowok yang jalan di depanku. Aku dengar bapak itu melarang kami melanjutkan perjaanan karena ada perang. Seorang ibu-ibu pendatang juga keluar dari toko pancing. Ibu itu dengan muka gelisah dan cemas melarang kami naik ke Napua.
“kalian mau kemana? Di sinagma ada perang ini. Kalian tidak lihatkah polisi sudah tutup jalan itu.” Kata ibu itu dengan muka pias.
“Kami mau ke Sinagma, Mama. Teman tadi su bilang di Napua Aman.” Jawab kami.
“aihh… Napua Aman, tapi kalau mau ke Napua lewat pasar sinagma, To. Disana dorang (dia orang) sedang perang itu. Mereka ratusan, bawa panah semua, bawa senapan angin juga ada. Sa (saya) kasi tau kalian e, jangan buang nyawa disini. Mereka itu tak pilih, siapa yang lewat main habisi saja itu. Mau pendatang kah, orang asli kah. Lebih baik kalian nginap di kota saja dulu, saya saja pu rumah di atas, suami suruh saya ngungsi disini dulu. Sa tra (tidak) berani naik.. anak saya libur sekolah sejak kemarin ini.  Doranag peranga kan sudah sejak hari kami to. Kalian tidak tau kah?” ceramah ibu pendatang asal makassar itu panjang lebar. Ibu itu sudah puluhan tahun tinggal di Papua. Mengikuti suaminya yang jadi PNS disini. 
Kami yang cewek mulai galau. Membayangkan ratusan orang papua yang memakai koteka, membawa panah menghadang mobil kami di pasar sinagma. Tempat mereka perang antar suku. Hampir satu jam kami berembuk di pinggir jalan itu. Mau kembali ke posko ku juga tidak mungkin, karena menuju posko ku harus melewati sungai Wouma. Disanalah kemaren ditemukan jenazah mengambang setelah perang, artinya sungai wouma di saat perang seperti ini tidak aman. Apalagi sore. Si Risma dan Jumi, yang punya posko di megapura juga pengen balik aja ke poskonya, tapi sudah sore,  tidak ada taksii (angkot). Kami makin resah gelisah. Sedangkan di Aan, Elen dan Oci (guru SM3T dari Kalimantan) tetap nekat mau ke Napua. Karna Alga selaku Ketua Rombongan (yang kami nobatkan saat itu juga) udah menghubungi kepseknya d Napua dan bilang kami bisa naik dengan aman. Jadilah Dedek, tanpa pesetujuan dari Aku, Risma dan Jumi (kelompok minoritas yang nggak berani naik) memesan sebuah mobil untuk naik ke atas. Aku dan cewek-cewek yang takut berharap semoga mobil itu tidak jadi datang. Tapi kalau tidak ke Napua, kami juga tidak tau mau tidur dimana malam itu, sedangkan sore sudah mulai menyisakan gelap.
Finally, mobil sewaan itu datang, setelah bernegoisasi harga dan supir siap untuk enembus kerumunan masa di pasar sinagma. Kami naik ke mobil dengan jantung yang berdetak tak karuan. Aku ambil posisi duduk di tengah paling belakang. Semua kaca mobil di tutup. Kamia pun berangkat dengan doa yang tak putus-putus ku ucap di mulut.
Sampai di pasar sinagma, memanga abanyak orang bersenjataa berserakan.  Tapia abaukan oranaga papua yang memakai koteka membawa panah seperti cerita yang kami dengar. Beberapa toko dan kios sudah di tutup. Polisi dan TNI dengan seragam loreng dan sejata di tangan juga berkeliara disana. Aku tidak tau lagi berapa kecepatan  jantungku ini berdetak. Handycam yang rencananya akau pegang untuk merekaama adegan perang sungguhan itu mulai bergetar. Tak ajelas lagi mengarah kemana. 
Sampai di simpang pasar, mobil kami di cegat oleh sekelompok pilisi yang berjaga-jaga disana. Polisi menanyakan tujuan kami. Setelah kami jawaab polisi itu bilang tidak bisa naaik, jalan di pasar Sinagma sedang tidak aman. Ketua rombongan mengataakan kami adalah guru-guru SM3T yang akan naik ke Napaua, polisi itu terlihat berat dan ragu-ragu. Tapai polisi lainnya menghampiri supir kami dan member solusi.
“Kalian bisa naik, tapi sampai ke pos Napua nanti kalian lapor dengan TNI yang ada di pos sana. Biar mereka kasi ama. Jalan sudah. Tidak apa-apa. tutup saja kaca mobil ini e.” katanya meberi solusi denga logat papua yang kental.
Kami melanjutkan perjalanan dengan jantung atraksi marching band. Suara degub jantungku hamper terdengar di telinga. Masing-masing kami komat-kamit membaca doa apa saja yang kami ingat. Tapi ada juga beberapa yang tetap saja melawak, mencairkan suasana.
Ketika di perjalanan, tepatnya di lapangan pasar sinagma inilah kami melihat puluhan (bukan ratusan seperti yang dikabarkan) orang papua memakai koteka, membawa panah. Tapi syukurlah mereka tidak sedang perang, melainkan sedang duduk berbaris mendngaarkan instruksi seseorang yang berdiri di depan mereka. Mungkin itu pimpinan perangnya. Supir kami bilang, mereka sedang rapat sebelum perang. Alaamaaakk….. sebelum perang ternyata rapat dulu. Gaaool…. Terus supir kami bilang, besok insyaallah kami bisa pulang dengan aman. Karena hari minggu disini adalah hari Tuhan. Kegiatan apapun d hentikan, termasuk perang. Jadi kalo hari minggu perangnya libur dulu, hari senin baru dilanjutkan kembali. O em ji…. 
Tidak lama kemudian, sampailah kami di Napua degan selamat. Betaapa leganya hati kami melihat gerbang poskonya Alga, kak Rina dan ini. Rasanya mau sujud syukur di tanah, bersyukur bisa melewati rintangan tadi.
 
Gerbang Poskonya Alga, Ochi dan Kak Rina
di belakang itu Poskonya Alga.. kumuh luarnya.. tapi dalemnya okeh banget!

Karena hari sudah sore, badan capek dan mental juga drop. Kami menunda acara jalan-jalan ke air terjun. Sore itu kami kumpul-kumpul nggak jelas aja di poskonya Alga. Paginya, barulah kami beraksi. Melihat sunset di paagi dari dari belakang rumah Alga.

sebenernya lebih indah dari yg di foto.
 
merah saga nya nggak keliatan karena cahaya camera terlalu terang
nah ini baru dapet.. tapi agak blurr.. hohoho

Dari atas gunung Napua jam 6 Pagi. dari Atas sini kita bisa lihat kota Wamena


Siangnya, barulah kami pelan naik turun gunung ke air terjun Napua. Jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki. 
perjalanan menuju Air Terjun Napua. semua ditempuh jalan kaki cyinn..
 
naik ke sini harus estafet. saling tarik biar bisa sampe ke atas

 
lewat Hutan Belantara

di tengah-tengah huta, kami ketemu tempat lapang seperti ini. foto dolloo...
 
kami ketemu sungai ini sebelum sampe. kirain ini air terjunnya. untung bukan


harus melewati kali kecil yang bikin kaki kami berbecek-becek ria

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnyyaaa sampe juga di air terjun Napua-Wamena-Jayawijaya. Ini dia penampakan air terjunnya… lumayaannn..

mereka langsung nyeburrr... aku nggak bawa celana ganti. gak berani ikut
akhirnya setelah kak Rina janji minjemin celana panjang, aku bisa nyebur dan berfosee... eaakkk
cari insprirasi
Absen dari kiri : Aidi, Jumi, Risma, Aku, Rina. semuanya SM3T Riau
si Alga (pake baju hitam) udah membeku kedinginan
Absen dari kiri searah jarum jam : I'am, aku, Aan, Tika, Rina, Aidi, Jumi, Ellen,
Risma, dan anak2 Papua. Masi banyak yg belum ikutan nih.

Setelah air terjun Napua, destinasi selanjutnya adalah air terjun Air Garam yang ada di Distrik Asotipo. Nantikan cerita dan fotonya hanya di blog tercintah ini yaaaaaa ^_^