05 April 2015

Agrowisata Petik Nanas di Bokondini, Kabupaten Tolikara.

4/05/2015 09:40:00 AM 16 Comments


Selama SM3T di Papua, aku punya beberapa genk alias kumpulan. Ada geng se distrik di Asotipo, ada geng jalur Wouma. Artinya, temen-temen yang poskonya dari Minimo, Megapura, Hitigima, Sogokmo. Kami sering ngumpul (numpang makan gratis) di posko Megapura. Ada geng gila-gilaan di sekre, Ada juga geng pengajianku kalo lagi liburan di kota. Temen-temen itu adalah anak SM3T yang aktif di BSMI. Sebuah organisasi kemanusiaan yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan dan agama Islam. Ada beberapa teman-teman SM3T yang aktif di berbagai kegiatan BSMI Jayawijaya. Tapi yang tetap istiqomah dari awal sampai akhir adalah para ihkwan dan akhwat yang berasal dari 2 LPTK ini. ada Wulan, Muti, Rina, Tami, Sony de el el.
 
Biasanya rombongan ini kemana-mana selalu barengan. Jadilah dipanggil bubuhan muslimah. Bubuhan dalam bahasa banjar artinya rombongan atau sekawanan gitu. Bukan berarti cewek-cewek yang lain nggak muslimah. Kelompok satu ini dipanggi muslimah karena hobinya mengejar kelompok-kelompok pengajian yang di gelar di wamena. Dan aku salah satu yang ikut didalamnya.

Suatu waktu, mereka merencakan rihlah alias liburan ke rumah Bg Poby. Salah satu dokter relawan di BSMI Jayawijaya. FYI relawan di BSMI ini rata-rata adalah dokter dan pendatang yang tinggal di sekitaran lembah baliem Papua. kalau weekend dan libur biasanya datang ke Wamena untuk belanja kebutuhan sehari, karena Wamena adalah pusat perekonimian di Lembah Baliem ini. relawan BSMI juga diramaikan  dengan kami  guru-guru SM3T.

Tempat tugas Bg Poby ada di Bokondini yang terletak di kabupaten Tolikara. Yap! Bener banget! Yang waktu lebaran 1436 H kemaren masjid nya di bakar pas lagi sholat Iedul Fitri.
Sebenernya wisata di Bokondini nggak ada yang menonjol sih. Cuma si tuan rumah yang gencar banget mempromosikan agrowisata di tempat tugasnya, dan berkali-kali mengundang kami untuk menghabiskan liburan disana. Jadilah kami tergiur untuk sama-sama datang kesana  dalam rangka liburan setelah ujian semester. 

Sony (SM3T), mas Khoir (salah satu relawan BSMI yang bertugas di kantor BPS Tolikara), Dokter Ghozali (relawan BSMI yang bertugas di Nduga) sudah lebih dulu sampai di TKP pagi hari. Kami para akhwat menyusul siangnya. Karena aku belum pernah kesana, dan dirombonganku semuanya adalah cewek. Jadilah aku mengajak Aidy (temen SM3T didistrik Asotipo) dengan setengah memaksa dia untuk ikut. Di Papua ini kita perlu berjaga-jaga dalam setiap keadaan.

Hanya butuh angkos 100k dari wamena dan naik angkutan andalan orang papua, mobil strada, 3 jam kemudian kami sampai di kota Bokondini. yang walaupun cuma sekecil RT, tapi udah disebut kota. Hohoho.
 
Kantor Bupati Persiapan, Bokondini, Tolikara, Papua, Aidi kalo orang nak bepoto dia ikut-ikut

Begitu sampai aku langsung takjub melihat rumah dinas nya dokter poby (yang sudah biasa kami panggil abang). Rumahnya 2 lantai dengan 4 kamar yang dilengkapi dengan dapur yang luas, tempat cuci piring, kamar mandi di dalam dan tempat tadah hujan yang besar. Jadi tidak perlu angkut air dari kali seperti nasib kami para guru SM3T. FYI lagi, punya tempat tadah hujan adalah suatu barang mewah di Papua.

Walaupun rumah dinasnya dari kayu, tapi sangat nyaman. Bg Poby tinggal dengan seorang dokter lajang yang juga PTT di Bokondini. Namanya dokter cita. Biasanya di panggil dokcit. Begitu kami ketemu dokcit langsung cie cie in bang poby. Kami angsung ngebayangin yang enggak-enggak karena Bg Poby tinggal satu rumah sama dokter secantik dan sebening ini.

Jadi gimana dong bg sehari-hari dirumah berdua doang, gimana rasanya?” aku mulai kepo.
“Ya biasa aja, hidup masing-masing. Lagian dokcit lebih sering tidur dirumah bidan di depan rumah dari pada tidur dikamarnya di lantai 2. Dan juga dokcit itu Kristen. Nggak mungkin dong abang macam-macam sama dia. Itu lah pembatas abang sama dia.” Kami langsung manggut-manggut.
Dokter Poby dan Dokter Cita show off keahlian mereka merajut noken
Sekolah international di Bokondini
Begitu sampai kami langsung di ajak melihat Sekolah international Bokondini.  Namanya SD OB ANGGEN yang berada di bawah Yayasan Lentera, Gereja Gidi. Sekolah ini nggak jauh dari rumah dinas Bg Poby. Dan memang kota Bokondini ini bisa dikelilingi dengan jalan kaki. wong kotanya kecil doang. Disana kami ketemu dengan guru SD nya yang berasal dari Manado. Kami sempat ngobrol-ngobrol dengan guru cakep yang sudah 2 tahun mengajar disana. Di ajakin lihat-lihat ruang kelas nya juga. Di SD ini juga bersekolah anak-anak bule yang tinggal di bokondni sebagai missonaris. Ada anak-anak papua asli juga. Keren ya belajar dan satu sekolah sama bule. Mereka juga belajar computer, photoshop, microsof dll. Waah… salut sama ank papua yang sekolah disini. murid ku di SD YPPGI hitigima boro-boro belajar photoshop, baca aja masih kayak kura-kura. Lamban banget.
Mejeng di depan Sekolah Dasar International Bokondini

 salah satu program di Metro TV "Alenia Journey" Pernah datang meliput bokondni dan sekolah Internasional nya

Mengintip Cara Kerja Missionaris Mendidik Orang Papua
Ada banyak missionaries yang tinggal di bokondini. Mereka bahkan melahirkan dan menyekolahkan anaknya disana. Tujuan mereka ke Papua selain menyebarkan agama Kristen juga adaalah memajukan Papua yang tertinggal ini. kami sempat berkunjung ke rumah bule yang berasal dari brazil. Suaminya adalah missionaries, sedangkan istrinya aktif mengelola ibu-ibu Papua. mereka bahkan membuat koperasi, mengajari matematika, computer dan juga cara menyimpan uang. (orang papua kan terkenal watak nya boros dan nggak bisa nyimpan uang). Berkat binaan dan berbagai fasilitas dari missionaris ini taraf hidup masyarakat bokondini mulai membaik.
Pusat Pelatihan Masyarakat yang dikelola oleh Bule
 
berasa lagi di eropa to..
barisan pohon yang ada di sebelakang rumah. sejuuukkk
smilee. *Trada sangka dokter Ghozali fans nya Cherrybell. :D
Putar Papeda ala Habibi
Selain dokter cita, Bg Poby juga sering ditemani oleh seorang Mantri yang bernama Habibi. Pertama ketemu kami kira dia sudah beranak dua. Ternyata masih lajang dan umurnya masih di bawah aku! Gubrak. Bermutu (bermuka tua) dia ternyata. Hahaha.. ampun bro.. Doski berasal dari Palopo di Sulawesi sana. Habibi sudah 4 tahun mengabdi sebagai mantri di Bokondini. Logatnya sudah kental dengan logat papua, pandai merajut noken dan lihai memutar papeda. Wuihh.. Papua abis lah!
sholat jamaah magrib di rumah bg Poby
Malam itu kami para cewek-cewek terpana melihat keahlian Habibi dalam memutar papeda. Papeda adalah makanan khas Papua yang terbuat dari sagu, tapi kadang orang gunung lebih sering memakai tepung kanji. Cara memasaknya gampang, tinggal mencampur tepung kanji dengan air mendidih yang sudah kita tuangkan ke dalam baskom, dan langsung di aduk dengan cara diputar. Makanya namanya putar papeda. Papeda dimakan dengan kuah kuning, alias gulai tanpa santan. Bisa gulai ayam, gulai ikan, bahkan gulai babi. Kalau acara-acara pernikahan aau kematian, biasanya ada papeda dengan kuah kuning Babi. Kalau jauh dari pasar bisa pakai sarden sebagai pengganti ikan. Aku dan hotma sudah pernah putar papeda di posko, tapi kami gagal dan bentuk papeda jadi kacau balau karena tidak teraduk dengan sempurna. Nah, sewatu Habibi unjuk gigi putar papeda, kami langsung terpana. Baru kali itu melihat cara membuat papeda yang benar-benar professional layaknya koki restoran. Gerakannya cepat, dan penuh tenaga. Setelah dia selesai mengaduk papeda. Kami pun reflex tepuk tangan. hahaha

Agrowisata di Kebun Nanas Bokondini
Dari semua promosi bang poby, sebenarnya yang paling menarik itu adalah wisata metik nanas yang katanya manisnya ampun ampunan udah gitu nggak gatel dan nggak ada mata nanasnya. Udah gitu harganya murah! Dari 1000-5000 aja perbiji. Wew…

Kami pun jalan kaki ke kebun nanas yang letaknya di atas bukit. Jalan ke kebun nanas melewati bandara yang kosong. Aku dan bg poby sempat berdebat karena bang poby bilang bandara bokondini adalah bandara tertua. Padahal bandara tertua itu di belakang poskoku di hitigima. Bg poby bilang juga bahwa bandara ini adalah saksi bisu pertama kali injil masuk ke papua. Nah lo, bandara hitigima lah saksi pertama kali ajaran injil di papua. bahkan sampe ada patung monumen inji pertama kali di terima di papua. kami terus saja berdebat sampai perjalanan nggak terasa udah sampe di sebuh bukit yang penuh ditumbuhi nanas. Membayangkan makan nanas sebanyak itu lidahku mulai meriang, eh gatal.

Bandara yang tara da orang
Bandara ini nggak ada pengawasnya. jadi kalo pesawat mau mendarat dan ada orang di jalan. pesawatnya muter-muter dulu di udara, hahaha
 
bandara bokondini dilihat dari atas.*please abaikan celana trening pink saya itu. auu
this is it! nanas pertama yang kami petik
 
hari itu Sony baru beli tongsis. jadi dia exited banget pake tongsis. hahaha
Bendera BSMI Jayawijaya yang selalu berkibar dimana-mana

Foto minumen hitigima vs monument bokondini

Di kebun nanas ini kita boleh makan nanas sepuasnya, GRATIS! Tapi kalau mau dibawa pulang, baaaru deh bayar! Inget ya, makan di tempat gratis, bawa pulang bayar. Haha.. jadilah kami puas-puasin dulu makan nanas di kebunnya. Nanas yang baru aja kami petik langsung di buka oleh si Habibi dengan lagi-lagi memamerkan keahliannya buka nanas. Sepat, sigap, dan rapi. Heran sama anak ini. kok apa aja bisa dikerjain.

Puas makan nanas yang maniiiisss banget, suer deh ini nanas terbaik yang pernah aku cobain seumur hidup! Manisnya kayak pake gula! Setelah kami puas makan nanas, mulailah menghitung berapa nanas yang akan di bawa pulang ke Wamena. Akhirnya berkarung-karung nanas pun di angkut oleh seorang kaka Papua yang kebetulan lewat dan di upahi sebungkus rokok. Kalo kami bawa sendiri mana kuaatt… udah lah karungnya besar, jalannya menuruni bukit pula. Kekuatan orang Papua memang tara da lawan e!

Pasar bokondini. Murah apaaaa…
Sebelum pulang ke wamena, kami sempat jalan-jalaan dulu ke pasar bokondini. Pasar ini menjual hasil kebun masyarakat. Banyak buah-buahan murah-murah. Yang paling menggirukan untuk diborong adalah markisa. Bayangkan aja, seikat markisa yang isinya 8-10 buah markisa Cuma dijual 5ribu. Murah apaaa… (murah banget) ada nangka, alpukat mentega sayuran dan banyak lagi yang semuanya murah-murah. Berasa pengen gue borong semua terus jualan di pasar Wouma atau pasar baru di wamena. Tapi ngebayangin duduk menunggui jualan di pasar dengan jaket SM3T ini. oh no! bisa-bisa dipecat jadi guru. :D
torang pigi belanja dulu e
thats it. pasar bokondini.
Kami pulang kewamena dengan membawa berkarung-karung nanas dan markisa. Selain itu aku juga memborong alpukat dan nangka. Sampai di wamena aku kayak orang habis pulang kampung! Hasil “Panen” itu langsung aku bagi-bagikan ke penghuni sekre SM3T, ke mamak angkat, tante angkat dan angkat-angkat yang lain. Muehehe..

At least, makasih buat dokter Poby Karmendra yang udah jadi tuan rumah dan tour guide bokondini yang luar biasa! Pelayanan sangat memuaskan! Hahaha… sampai-sampai di bekali sekantong obat ketika pulang ke posko. Terimakasih dokter Cita atas tumpangan kamarnya, makasih dokter ghazali dengan resep ipere gorengnya yang lezat, mas Khoir, juga teman-teman seperjalanan yang asik, terimakasih Aidi yang mau jadi pengawal juga. Semoga ukuwah ini tetap terjaga selamanya.

Ayo ke Bokondini! Cuma 100k bisa agrowisata! Hahaha
Risa
-Guru SM3T yang hobi melala

21 Maret 2015

Mengejar Salju di Kaki Gunung Trikora

3/21/2015 02:34:00 PM 32 Comments


Sebelumnya Marrio, guru SM3T asal UNESA yang bertugas di Memberamo Tengah sudah pernah mengajak aku ikut trip ini. mencari salju di kaki gunung Trikora. Dan melihat air terjun tiga tingkat yang mengalirnya ke atas. Wew. Penasaran kan. Tapi tempat itu belum banyak di jamah manusia. Suhunya saja bisa sampai minus NOL derajat. Perjalanan yang gila memang. Marrio dapat info kalau ada salju itu dari supir yang udah sering bolak-balik Wamena-Nduga. Katanya ada spot di daerah Nduga sana yang kalau pagi turun salju. Daerahnya masi polos alias tidak berpenghuni. Nah lo, kan syerem! Dari kami guru-guru SM3T pun belum pernah ada yang sampai kesana. Saat itu aku menolak ajakan Marrio dkk. Karena selain rombongannya cowok semua, hari itu aku juga ada agenda, penyambutaan dosen dari Riau yang datang dalam rangka monitoring dan eveluasi (Monev) kinerja SM3T. pergi jalan-jalan disaat dosenku datang? it’s a big no!
 
Tapi akhirnya aku jadi juga ikut trip gila itu. Ini kronologinya… #sokpenting #kenapadibahas

H-1 keberangkatan. Aku lagi liburan dikota. Malam itu aku melihat dokter Poby di sekretariat SM3T (Disingkat sekre). Doski adalah dokter yang bertugas di kabupaten Tolikara dan aktif menjadi Relawan di BSMI Jayawijaya. Ternyata dokter Poby ikutan trip yang digagas Marrio itu. Makanya nginep di sekre biar tidak ketinggalan, karena berangkatnya jam 4 subuh besok. Wew, salut ama mereka ini. beneran jadi ya trip mengejar saljunya. Setelah basa-basi nanya ini itu, dokpob malah ngajakin aku untuk ikut trip ini. aku ya jelas-jelas nolak dong. Berangkatnya besok subuh dan aku belum punya persiapan apa-apa. Lagian besok kami anak UR harus menyambut dosen di bandara. NO. NO. NO!

16 Maret 2015

Kami Namai air terjun itu UNRI, UNMUL dan UNESA

3/16/2015 02:56:00 PM 0 Comments

Baca cerita sebelumnya : mengejar salju di kaki gunung trikora
 
Mobil Rusak Dapat Emas
Belum sampai ditujuan, kami berhenti di tengah jalan yang sama sekali tidak ada manusianya. Rumah penduduk pun tidak ada. Ternyata mobil rusak. Kalau tetap melanjutkan perjalanan ke atas bukit dikhawatirkan mobil nggak bisa dipakai untuk kembali ke wamena. Kami istirahat sembari menunggu supir memperbaiki sesuatu yang rusak di mobilnya. Ternyata di pinggir jalan banyak batuan yang bentuknya mirip seperti emas. Teman-teman UNESA yakin itu emas. Wah.. langsung deh kami heboh nyariin batu kecil-kecil yang berkilauan terkena sinar matahari. Entah emas atau bukan yang jelas dikumpukan saja dulu. Hahaha.. juga banyak macam batu akik kristal disana. Mario bahkan memenuhi tasnya dengan batu akik. Mau bikin rumah kali yeee
ketika mobil mogok. look at the cloud!
atur strategi biar tetap bisa nyampe air terjun

4000mdpl? jangan percaya! itu dusta teman :D

Kami Namai air terjun itu UNRI, UNMUL dan UNESA
Setelah supir mencoba memperbaiki (ternyata cuma ngecek), diputuskan untuk segera kembali ke wamena. Karena mobil dipastikan tidak akan kuat untuk terus naik ke atas.

16 Februari 2015

Kisah Seorang Paman Yang Tega Membakar Tangan Keponakannya

2/16/2015 03:13:00 PM 6 Comments

Cerita ini aku dapat dari Mario Maurer, temen SM3T UNESA (Universitas Negeri Surabaya) yang ketemu selama liburan natal dan tahun baru di kotaa. Kebetulan doski dan temen-temannya pernah nginap di Megapura, posko kedua ku, karna saking seringnya aku nginap disana.

Si Mario ini tugasnya di Papua juga, tapi beda kabupaten. Tempat tugasnya di Kab. Membramo tengah itu lebih terisolir dan masyarakatnya masih sangat terbelakang. Selain itu akses nya susah, makanya harga-harga muahal banget, bayangkan aja beras 50kg harganya Rp. 1.750.000. gilakk apa.. mending makan ubi aja deh. Harga lain jangan di tanya. Bikin mulut menganga dengernya.

Tulisan ini aku culik dari memo HP nya. Karna dia nggak berniat mempublish cerita ini, aku pikir mubazir  banget. Jadi lumayan deh utuk menambah postingan di blog ini. hihihi

Pagi ini saat aku duduk di dapur ada seorang bapak2 paruh baya yg bertamu di dapur kami. Beliau dari Pak dokter untuk berobat, sayang sekali Pak dokter masih ada di wamena, belum pulang ke illuga.

Dari sinilah perkenalan kami di mulai. Beliau Top Gombo. Beliau cerita panjang lebar tentang Papua. Yg menarik perhatian ku, beliau cerita tentang berbagai macam pemakaman di Papua. Yg paling ekstrem adalah pemakaman di suku pedalaman hutan di daerah Distrik megambilis, kab. Membramo Tengah, Prov Papua. Suku pedalaman tersebut apabila ada warganya yg meninggal, mayatnya di gantung saja di pepohonan. Lama kelamaan kalau sudah busuk organ2 dalamnya akan jatuh di tanah, yg tersisa hanya tulang brlulang yg menggantung di pohon.

Jadi jangan heran kalau ada tulang belulang yg bergelantungan di pohon2 hutan Papua. Organ dalam yg berjatuhan di tanah, di kubur dan di tanami pohon sebagai tanda.
Oke kembali ke Pak Top. Sedikit cerita tentang Pak Top Gombo. Beliau adalah orang tua murid dari totius kelas XII Ipa dan totianus VII.

Berbeda dg orang pada wajarnya, Pak Top memiliki kelainan fisik pada tubuhnya. Pergelangan dan jari jemari tangan Pak Top yg sebelah kiri tidak ada, dan tangan yg sebelah kanan terdapat luka bakar. Miris sekali melihatnya. Setelah panjang lebar kami bercerita, beliau menceritakan kisah bagaimana tangannya bisa seperti itu.

Kisahnya bermula saat beliau masih kecil, kisaran masih kelas 3 SD. Pak Top kecil main2 ke hutan sama teman2nya, untuk cari makanan. Ketika berjalan kedalam hutan, beliau menemukan pohon kelapa yg berbuah. Karna kondisi perut lapar dan dahaga, akhirnya memutuskan tuk memetik buah kelapa tersebut. Apa lagi Pak Top tau kalau kelapa tersebut adalah milik om nya sendiri. Jadi beliau fikir petik dulu,nanti baru izin ke om nya. Di pohon tersebut ada 7 butir kelapa. Pak Top petik semua, 2 beliau makan, dan yg 5 beliau bawa untuk di taruh di dapur om nya (pemilik kelapa).

Setelah memakan buah kelapa, Pak Top dkk pulang ke rumah lewat jalan atas bukit. Naas sekali om Pak Top marah sekali melihat tak ada satu butir kelapa pun di pohon kelapanya. Dalam keadaan emosi yg meluap2 om Pak Top mencari siapa yg telah mencuri kelapanya. Setelah tau yg mencuri kelapanya tersebut adalah keponakannya sendiri yg tidak lain adalah Pak Top kecil, malamnya om Pak Top mendatangi rumah Pak Top.

Dengan emosi yg tak terbendung lagi, om Pak Top memukul kepala Pak Top sampai Pak Top tak sadar diri. Setelah itu kedua tangan Pak Top di bakar. Karna dalam kondisi tak sadar diri, Pak Top tak merasakan apa2. Setelah sadar Pak Top menangis dg sekeras2nya. Bukan karena perih terbakar, tapi karena kaget melihat kedua tangannya telah hangus. Keluarga yg tau kondisi Pak Top kecil, langsung membawanya ke Pak mantri. Tapi sudah terlambat, hanya tangan kanan Pak Top yg terselamatkan, sedangkan tangan kiri beliau harus diamputasi, karena tingkat kebakaran yg sudah terlalu parah.

Tangan kanan Pak Top memang masih ada tapi tidak seperti kondisi tangan orang normal pada umumnya, luka bakar masih membekas jelas. Luka tersebut masih terasa sampai sekarang, bahkan seumur hidupnya pun gak bakalan bisa sembuh. Ironis sekali, gara2 7 butir kelapa seorang om tega membakar kedua tangan keponakannya. Semoga kisah Pak Top bisa menjadi pelajaran buat kita..


Ngeri kan pemirsah?? Bayangin aja si Mario harus jadi guru di tengah-tengah masyarakat yang fikirannya masih terbelakang gitu. Semangat buat Mario dan teman-teman SM3T UNESA Lainnya.fighting! 


01 Februari 2015

Di Sebuah Perjalanan Guru SM3T

2/01/2015 04:51:00 AM 19 Comments
Setiap perjalanan ada banyak cerita. Di perjalanan menuju sekolah ada banyak realita. Ada banyak momen yang bisa di cerna. Foto–foto dibawah ini menceritakan bagaimana perhatiannya mama mama (panggilan untuk ibu-ibu di Papua) terhaadap guru. Foto ini di ambil oleh kakak Duta SM3T (Kak Akhirudin Haer dan kak Fajrin Alumni UNM) yang waktu itu sedang  di utus DIKTI untuk melakukan program Rekam Jejak SM3T di Jayawijaya. 

Aidi dan Darwin adalah guru SM3T yang bertugas di desa Air Garam, distrik asotipo. Mereka harus menempuh perjalanan 1 jam mendaki bukit untuk sampai di sekolah. Setiap hari aidi yang alumni UNRI dan Darwin yang berasal dari LPTK UNMUL ini harus berjalan kaki 2 jam demi mencerdaskan anak bangsa. Tak terhitung berapa kali mereka jatuh terjerembab dalam kubangan lumpur saat hari hujan dan jalan menuju sekolah menjadi tidak bersahabat. Karena perjuangan mereka, banyak masyarakat Air Garam yang perhatian dan sayang pada 2 guru muda ini. Sayur-mayur dan buah-buahan hasil kebun selalu hadir sebagai buah tangan ketika mereka pulang sekolah.

Berikut ini adalah foto di perjalanan ketika pergi sekolah. Foto-foto ini bercerita dimana mama-mama yang akan pergi ke kebun, berhenti dulu untuk menyapa 2 guru muda ini dan memberikan ipere (ubi jalar) sebagai sarapan pagi. Subhanallah… pertunjukan yang tidak akan pernah kita dapatkan di kota-kota besar.

buka dan nikmati cerita yang disuguhkan foto ini ^_^

Jadi Guide Sehari Untuk SM3T UNNES

2/01/2015 03:42:00 AM 4 Comments

SM3T Memang memberi banyak manfaat. Salah satu manfaat terbesar adalah memperoleh pengalaman yang nggak semua orang bisa dapatkan. Selain itu, teman, kenalan dan kerabat jadi bertambah. Kita bisa tau karakter orang yang berbeda-beda dan datang dari kota yang berbeda. Jadi tau kebiasaannya, cara bicara, logat dan adat istiadat. Hal-hal yang nggak bakal bisa di dapat kalau cuma duduk manis di rumah.

Bulan desember tahun 2014 ini bisa dibilang bulan full jalan-jalan. Dari berkujung ke danau habema, Danau tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3225 m DPL, jalan ke distrik-distrik di kab. Jayawijaya dan banyak lagi. Kali ini aku mau pamer cerita perjalanan aku dengan teman-teman SM3T dari UNNES (Universitas Negeri Semarang) yang kemaren “terdampar” di Wamena.
Aku ceritain sedikit tentang temen-temen dari UNNES ini, Mereka  di tempatkan di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. nggak ada akses darat dari kab. Jayawijaya menuju kesana. Harus naik pesawat kecil (yang kalo terbang  berasa naik roller coaster). Harga-harga disana tentu lebih mahal, karena kabupaten pemekaran, semua logistik di kirim dari Wamena. sayur-sayuran juga mahal banget karena di kirim dari Wamena (tempat aku bertugas). Untungnya mereka dapat BAMA (Bahan Makanan) dari PEMDA Yahukimo. Jadi nggak terlalu berat kalau soal makan.

17 Januari 2015

Gelas-gelas Kosong

1/17/2015 05:02:00 AM 3 Comments

Berat rasanya kembali ke tempat pengabdian setelah sebulan lebih liburan di kota. Rasa malas mulai menggeluti jiwa, bosan dan masih ingin menikmati hidup di kota. Masih belum siap mental menghadapi dinginnya Hitigima, masih belum sanggup mandi dan mencuci di kali yang airnya seperti batu es. Masih belum rela meninggalkan kota dengan segala keramaian dan hirup pikuknya dan mengganti dengan Hitigima yang sepi melompong.

Untunglah ketika kembali ke Hitigima ada teman dari UNESA  yang mau berkunjung ke posko ku. Jadi agak semangat pulang ke posko. Secara jarang ada yang datang ke Hitigima, jadi kalau ada tamu senengnya bukan main. Selain bikin rame, juga ada yang bikin semangat masak. Biasanya kalo cuma berdua doang kami malas banget masak. Muehehe. Sebelumnya si Marrio ini juga sudah pernah berkunjung ke beberapa posko teman2 lain. Cerita dari tempat tugasnya juga pernah aku post di postingan “Di Papua Ada Paman Yang TegaMembakar Tangan Keponakannya!.”

Kali ini mau mau ceritan keadaan sekolah dan siswaku setelah satu bulan libur sekolah. Keadaan mereka sangat menggenaskan! Jauh dari perkiraanku. Yang aku bayangkan ketika sampai di sekolah adalah mengolah nilai dan membagikan raport semester  1 dengah kehebohan yang sama seperti layaknya sekolah yang bagi raport tiap semester. Tapi kenyataannya, sampai saat ini (seminggu setelah liburan) belum ada penampakan raport murid. Entah dimana letaknya.  Beberapa guru yang aku tanya hanya menggeleng sambil menaikkan sebelah bahunya pertanda tidak tau. Kepala sekolah juga ketika di tanya jawabnya berputar-putar sampe ke merauke (saking jauhnya). Guru-guru juga tidak ada yang keliatan batang hidungnya. Hanya aku dan Hotma, serta Kepala Sekolah yang sibuk di rumahnya.

05 Januari 2015

Habema, Danau tertinggi di Indonesia

1/05/2015 09:14:00 AM 0 Comments
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kaki kami menginjak danau Hebema. Danau dengan ketinggian 3220 mdpl. Dengan ketinggian ini, danau ini di daulat menjadi danau tertinggi di Indonesia. Dan 36 Orang Guru SM3T Jayawijaya sudah pernah menaikinya. Wow..
 
Perjalanan ini bermula dari pertemuan kami secara resmi dengan bupati jawawijaya. Setelah membicarakan mengenai program-program SM3T, kami mengajak Bupati untuk jalan-jalan bersama guru-guru SM3T. tiada disangka pak Wempi Wetipo sebagai bupati itu sangatlah humble dengan masyarakat dan langsung mengatur jadwal keberangkatan menuju danau habema diliburan Natal dan Tahun baru. Bahkan beliau yang menyiapkan 8 mobil gunung untuk menjelajahi gunung dan perbukitan menuju danau habema. Yeaaayy.. makasih bapak.. 

karena masih 2 bulan di Papua, aku belum tau apa-apa soal ini. berikut sekilas tentang Danau Habema yang aku culik dari triptrus.com


Danau Habema memang bisa dikatakan sebagai danau di atas. Walapun lokasinya di kaki Gunung Trikora, Kabupaten Jayawijaya, Papua, danau ini merupakan salah satu danau tertinggi di Indonesia. Terletak di ketinggian lebih dari 3.300 meter di atas permukaan laut, oleh Masyarakat Dani, penduduk Jayawijaya, danau itu dianggap sebagai tempat keramat yang jadi sumber kesuburan dan kehidupan

Sekedar harapan dan target di tahun 2015

1/05/2015 03:57:00 AM 4 Comments

Kayaknya nggak afdol ya kalo tahun baru nggak bikin resolusi.. biar ada target dan biar lebih gaol.. aku mau ikutan bikin resolusi juga. Resolusi tahun ini agak beda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena sekarang aku live ini papua. yang pasti gaya hidup yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya deh…   karena tahun 2015, aku buat resolusinya juga 15 biji aja. Here is my resolution in 2015.

1. Memberantas buta aksara di SD YPPGI Hitigima
Di sekolahku ini, tepatnya di Distrik Asotipo. Kabupaten Jayawijaya. Provinsi Papua, emang parah banget kemampuan muridnya. Bayangkan aja kelas VI ada yang belum bisa baca bahkan belum hafal huruf. Padahal tiap hari datang ke sekolah. Ngapain aja coba tu anak, udah makan bangku sekolahan 5 tahun tapi belum bisa baca. Kelas rendah jangan di tanya. Calistungnya parah juga. Kelas III rata-rata tidak tau berapa 10-6. Jadi aku harus ngajar mereka dari awal lagi. Berbagai usaha dan cara udah kami kerahkan. Salah satunya les pulang sekolah dan les malam. Tapi sampai saat ini progres nya masih lambat banget. Apa yang d ajarin hari ini dia bisa, tapi besok lupa lagi kayak gelas es cendol yang kesenggol. Isinya kosong. Minta doanya sebelum kontrak SM3T ini berakhir, nggak ada lagi anak yang nggak bisa baca di SD YPPGI Hitigima. Amin ya Rabb

Natal dan Tahun Baru Di Wamena

1/05/2015 03:31:00 AM 2 Comments

            Seumur-umur, 12 tahun di Pekanbaru, 4 tahun di Jakarta, 4 tahun di Kampar, dan 4 tahun di Pekanbaru.. aku belum pernah ngerayain  yang namanya tahun baru. Biasanya temen-temen yang lain kalau tahun baru pasti jalan-jalan ke luar rumah, nongkrong-nongkrong di tepi jalan menunggu jam 12.00. atau kalau di Pekanbaru yang terkenal jadi pusat nongkrong kalau tahun baru itu adalah kawasan purna MTQ. Biasanya bakal macet parah, kalau udah pergi kesana pasti pulangnya bisa-bisa subuh.

Ada juga kebiasaan bakar ayam dan kumpul-kumpul di depan rumah. Menghindari gilanya macet di malam pergantian tahun.  Biasanya sekeluarga ngumpul bareng tetangga-tetangga juga untuk ngumpul-ngumpul di halaman rumah. tapi Cuma segelintir keluarga yang ikutan rempong di akhir tahun. Kebanyakan memilih nonton tv dirumah. Atau yang paling ngenes, langsung tidur.

Beda banget sama di Wamena, Kab. Jayawijaya, Papua. Tempat aku nghabiskan liburan natal dan tahun baru yang hampir sebulan.  Selama liburan aku keliling posko teman-teman di distrik asotipo dan asolokobal, selain untuk merasakan bagaimana posko mereka, juga untuk menghemat biaya hidup. Karna makannya nebeng. Hahaha…

Bosen di kampung, kami pun merantau ke kota. Ada beberapa kenalan buat di jadikan tempat nginap. Salah satunya di rumah Pak Rais. Seorang polisi asal Ambon yang punya istri orang makassar. Istrinya penjual kue grosiran (sakingnya banyaknya) yang walaupun cerewet tapi baik nya ampun ampunan..

Ibu bhayangkari yang kaya dari jualan kue ini biasa kami panggil mamak. Ada juga beberapa yang manggil Mami. Dirumah ini setiap weekend selalu rame. Ada 6 sampai 20 orang yang selalu nginap di rumah ini. Dari 66 orang SM3T asal Riau dan Kalimantan, 80 % nya pernah menginap disini. Semua biaya makan mamak rais yang tanggung. Subhanallah… semoga Allah memurahkan rezki keluarga Pak Rais. Amin..

04 Januari 2015

Roller Coaster in 2014

1/04/2015 11:25:00 AM 4 Comments

Tahun 2014 itu ibarat naik roller coaster buat aku. Dari susah, senang, semua lengkap di tahun ini. Tapi kebanyakan senengnya sih kayaknya. Banyak impian-impian yang akhirnya bisa di rangkul. Banyal hal-hal baru yang aku dapat di tahun ini. Beberapa moment bakal aku certain disini. Here we go..

Setelah wisuda bulan oktober 2013. Aku sempat jadi pengangguran kurang lebih 1 bulan. Jadi pengguran ternyata asik juga, asal jangan kelamaan. Hehehe.. cerita-cerita semasa pengangguran aku ngapan aja, baca aja disini dan disini.

Jadi wartawan

Bulan Januari 2014 aku di terima di salah satu media local riau. Koran harian ini belum terlalu terkenal karena baru aja 2 tahun berdiri. Dialah HARIAN DETIL. Lini dari HARIAN VOKAL yang udah lumayan banyak di baca di Riau. Di HARIAN DETIL ini aku kebagian tugas jadi reporter untuk halaman ekonomi bisnis. Namanya juga halaman bisnis, isi beritanya tetang dunia perbisnisan di Riau. Misalnya Honda baru launching produk baru, atau Hotel mewah menawarkan promo menginap murah, termasuk juga berita ekonomi makro dan mikro, semisal harga sembako naik dll.  Aku yang awalnya buta banget soal nulis berita, jadi terbantu banget sama Korlap (Koordinator Lapangan) Pak Ical yang baik dan pengertiannya luar biasa. Ada juga pak Budi, reporter senior halaman bisnis yang banyak ngajarin aku cara nulis berita untuk halaman bisnis dan cara ngelobi orang-orang penting yang bersangkutan dengan berita. Ada juga kak Adek (hadohh.. lupa nama aslinya) yang aku buntutin berhari-hari buat belajar cara ngeliput berita di lapangan. Ternyata melelahkan dan tentu saja MENDEBARKAN! Yag kepo baca aja ceritanya di postingan A Journalist Wanna be part #1, PART #2, PART #3 dan PART #4

Selama hampir 2 bulan jadi wartawan aku banyak banget dapet pengalaman baru, ternyata jadi wartawan itu selain capek ngebuntutin orang penting kemana-mana, ternyata asyik banget! Selama jadi wartawan itulah aku bisa di undang kemana-mana sama brand yang lagi promoin barangnya, ngarep beritanya masuk di Koran gitu. Lumayan cuma modal uang saku untuk wartawannya dan makan mewah gratis. Dalam seminggu itu ada banyak iven, dan rata-rata mengundang wartawan halaman ekonomi bisnis koran-koran yang ada di Pekanbaru. Jadi banyak kenal wartawan-wartawan senior dan banyak belajar dari semangat juang (mencari berita) mereka.

selama jadi wartawan juga aku jadi bisa nonton konser gratis, bahkan ikut press con nya (ya iyalah, elu kan wartawan!) yang kalo dibayar itu hamper 1 juta Cuma buat nontonin idolanya cuap-cuap di depan dan foto-foto.

Karna punya  kartu pers, aku bisa ikut meet and greet nya COBOY JUNIOR di hotel Grand Elite Pekanbaru. Pengalaman pertama ikut presscon dan meet and greet sama artis. Tapi karena aku nggak begitu suka ama anak-anak SMP yang jadi boyband itu, aku nggak terlalu autis untuk ikut mengantri foto-foto yang nomor antriannya hamper 500an. Gilak. Mana fans nya rata-rata anak-anak SMP labil yang dkit-dikit teriak, dikit-dikit nangis. Persis orang gila..

Coboy Junior meet and greet at ballroom Grand Central Hotel Pekanbaru
yang kepo ceritanya, baca aja DISINI

1 minggu kemudian, ada konser afgan di hotel Arya Duta Pekanbaru. Aku udah antusias banget, karena aku udah ke PD an, pasti aku yang bakal di utus dari kantor untuk ngeliput itu. Wartawan bisnis di kantor Cuma 2 orang, aku dan pak Budi. Kalau pak Budi kan udah sering ngeliput konser, pasti males dan udah bosen. Jadi aku udah exited banget bakal ikut presscon nya si ganteng Afgan.  Sayang beribu sayang, H-1 konser, ada insiden di kantor. Dan aku nggak jadi ngeliput konser Afgan. Huaaaa… sakitnya tuh disinii..

Banyak perjuangan selama jadi wartawan. 1 hari itu semuanya penuh perjuangan, bayangin aja aku pernnah nunggu hamper 5 jam buat ketemu GM Pertamina wilayah Riau buat wawancara masalah kenaikan gas yang waktu itu harganya mendadak melambung tinggi. Pernah juga di usir narasumber (orang cina) karena nggak mau di wawancara. Belum lagi waktu ngeliput harga emas, aku harus kelilingi toko emas di sekitaran pasar ramayan buat survey harga. Baca cerita lengkapnya diSINI. Capek, deg-degan, tapi seruu…! This is amazing moment.

Akhirnya Aku Jadi Guru Betulan   

Belum kelar tugas aku jadi reporter, belum puas aku keliling-keliling Pekanbaru tiap hari buat nyari berita, belum kesampean impian ngeliput keluar negri.. eh.. aku udah harus ninggalin kantor DETIL yang penuh perjuangan dan suka duka untuk kembali ke habitatku. JADI GURU SD. Karena memang dengan berat hati ku akui, aku adalah alumni PGSD UR, konsentrasi Matematika yanga sepatutnya jadi guru di SD. Karena lamaran yang aku masukkan selama jadi pengagguran, aku di panggil unuk tes. Setelah melewati beberapa tes, berupa tes wawancara keislaman, wawancara pake bahasa inggris mengenai manajemen kelas, tes computer (mic exel) , dan tes hafalan al-qur’an, tahfiz (Juz 30) dan tahsin, akhirnya aku di terima jadi guru di SD AN NAMIROH 3. SD swasta yang cukup bergengsi di Pekanbaru. Karna sudah memiliki puluhan cabang dari PAUD, TK, SD sampai SMP.

Jadi guru di sini punya kesulitan yang beda banget dengan mengajar di SD Negeri. Kalau di SD negri mungkin anaknya nakal-nakal, nah di sini aku harus menghadapi anak-anak yang manjanya ruarr biasa. Maklumlah, rata-rata murd di sekolah ini dari orang berada yang biasa di manja di rumah. Guru harus memperhatikan makan siangnya habis atau tidak, melaporkan perkembangan hariannya pada orangtua, dll. Pokoknya full servis, baik ke anak mau pun orangtua. Selama 9 bulan aku jadi guru disini, HP selalu rempong. Bunyi mulu karna selalu ada aja telpon dari walai murid yang kadanag nggak penting. Kalau di SD negeri biasanya menghadapi anak yang dekil-dekil setelah bermain di lapangan, di SD Swasta ini anaknya cantik-cantik dan wangi. Nggak ada yang bau keringat kareana mereka main d koridor sekolah yang tertutup, dan juga setiap kelas dilengkapi 2 buah AC yang bikin belajar jadi nyaman.

Enaknya ngajar disini juga banyak, membuataku jadi lebih mengeksplor kemampuanku sebagai guru SD. Karna ada tuntutan dari yayasan gurunya harus perfect, bahkan   Nggak bisa asal-aslan kasi materi, harus perfect dan anak-anak harus mengerti bagaianapun caranya. Guru disini kadang d sibukkan membuat media atau power point untuk di tunjukkan di depan siswa supaya belajar jadi lebih menarik.

Selain itu  Ada bayak kegiatan-kegiatan di sekolah ini yang menanbah ilu dan wawasan setiap guru. Setiap juaam’at siang guru harus belajar computer bahasa inggris, bahasa araab dan hafalan qur’aan. Luar biasa bukan?

murid-muridku yang cantikcantik, ganteng-ganteng, imut dan pinter2. I Miss you all my student

Be a part time announcer

Keinginan melanjutkan narsis di udara akhirnya kesampean. Sambil ngajar hari senin-jum’at. Hari sabtu dan minggu aku siaran di Radio Robbani 91,6 FM. Salah satu stasiun Radio Islami yang lumayan terkenal di antara orang-orang beriman. Hihihi..  

ruang siaran Radio Robbani 91,6 FM
dapat kunungan kerja dari AL-Madani FISIP UR
Kru Radio Robbani dan pendengar setia yang berkunjung ke studio. #Mayan, cemilan gretong cyinn

Terbang ke Papua

Nah yang terakhir ini yang paling amazing moment banget deh. Aku nggak pernah bercita-cita ke papua, bahkan buat jalan-jalan pun nggak pernah terbayangkan. Ternyata takdir menyuratkan aku harus stay selama satu tahun di Papua. Wow…

Kalau keinginan untuk ikut program SM3T sih udah dari lama aku bayangin tapi nggak serius dan itu Cuma impian sekilas kalau rencana-rencana lain setelah lulus nggak kesampean. Ikut SM3T ini Cuma PLAN B. pelarian dari target-target lain. Tapi Alhamdulillah banget, puji syukur, impian aku yang lain kesampean, yang ini juga berjalan. Alhamdulillah ala ku lli hal ya Allah.

Nggak terbayangkan sebelumnya aku bakal tinggal dengan orang-aorang yang terbelakang di papua. Emak-emak yang dengan santainya telanjang dada di mana-mana, duduk satu angkot di sebelah Bapak-bapak yang toples Cuma pake koteka doang. Hadeuhhh…

Belum lagi perjuangan hidup harus jalan kaki kemana-mana karna nggak ada transport. Bayangin aja, kalau mau ke kota untuk belanja kebutuhan sehari-hari (di desaku nggak ada warung), aku harus turun gunung jalan kaki sekitar 20 menit. Biasanya kalau turun ke kota aku nggak mengeluh, karna hati riang gembira karna mau shopping di kota dan bisa makan enak. Yang biasanya bikin ngos-ngosan itu pulangnya, karna harus naik gunung yang kemiringannya sekitar 45 derajat. Mendaki gunung, dengan tas ransel berat dan tentengan barang belanja untuk kebutuhan seminggu. Sakitnya tuh disinii…. #nunjuk bahu

Oa, amazing moment sebelum nyampe papua ini adalah persiapannya.

Sebelum terbang ke papua ini empognya luar biasa banget . Bayangin aja, H-2 Sebelum prakondisi aku masi kerja di SD Annamiroh. Sedangkan setelah prakondisi langsung berangkat ke papua. Packing barang untuk 1 tahun hidup di pedalaman papua itu nggak gampang. Mana bagasi di batasi nggak boleh lebih dari 15 kg. dapet bawa apa coba 15 kg doang… Pusing banget apa aja yang mau di bawa. Sibuk tanya sana-sini. Udah banyak list barang yang aku buat untuk di bawa. Tapi karna prepare nya cuma 1 hari, jadi banyak barang-barang penting yang nggak terbawa. Tapi untunglah over bagasiku jadi nggak banyak. Cuma lebih 7kg. itu pun gratis karena di akumulasikan dengan bagasi rombongan. Beda banget sama bawaannya si Hotma, partner ku dari Kalimantan yang over bagasinya 22kg. bayar sendiri lagi.. ajibb…

Kalau bepergian, tentu yang berat itu pasti perpisahannya. Berpisah dengan orangtua, adik-adik dan sahabat-sahabat di Pekanbaru tercintah. Sebelum pergi aku udah ngadain pamitan dengan keluarga besar dan beberapa meet up dengan sohib-sohib deket.  temen-temen kampusku, dengan anak-anak blogger dll. Dan tentu saja yang paling berat itu perpisahan dengan orangtua. Apalagi sebelumnya ortuku dengan keras nggak mengizinkan aku berangkat ke Papua tapi setelah aku berhasil nge brain wash ummiku akhirnya, Buya (Bapak.red) ngizinin juga dengan berat hati.

Di hari keberangkatan itu, jam 3 udah harus ngumpul di bandara karena ada dokumen dari LPTK yang harus kami tanda tangani. Sedangkan aku jam 1 siang masi berkeliaran keliling mall nyari kamera pocket. Karna aku pikir kalau bawa SLR pasti rempong banget, berat dan harus di atur-atur dulu, takut nggak dapet momen nya karena kelamaaan ngeluarin SLR dari tas. Begitu juga laptop. Karena laptop ku yang lama itu Compac yang lumayan berat, aku mau beli notebook aja yang lebih simple dan ringan untuk di bawa bepergian. Akhirnya hari itu aku dapet notebook baru warna ungu, dan camera digital warna ungu, dan tas ransel warna ungu. Semua ungu.. hihihi..

Jam 14.30 aku baru nyampe rumah dan taksi udah stand by di halaman. Nggak pake mandi, nggak pake bedakan. Aku langsung masuk taksi. SENDIRIAN. Aku jadi bingung.  Kok yang dirumah pada anteng aja. Nggak ada yang nganterin.

“Icha pergi aja dulu pake taksi, nanti ummi sama buya nyusul. Biar nggak ketinggalan rombongan.” Kata ummiku dengan polosnya.

Aku langsung nyesek, masak gue kebandara sedirian. Aku ini mau ke ujung Indonesia, buat setahun. Tapi orang serumah kayaknya nggak ada yang peduli. Akhirnya dengan suara gemetar menahan tangis, akau berhasil membujuk Buya untuk ikut dengan aku naik taksi. Padahal buyaku lagi nggak enak badan banget. Pusing berasa mau tumbang kalo berdiri lama-lama. Buyapun masuk taksi kayak ogah-ogahan gitu.

Tapi ketika supir taksi nanya tujuan. Buya langsug cerita panjang lebar, dengan bangganya menceritakan anak sulungnya bakalan ngajar di Papua. Dengan bangganya buyaku menceritakan proses tes dan prakonsidi yang di hadapi sebelum berangkat. Aku yang sibuk dengan HP mengetik SMS pamitan ke orang-orang terdekat diam-diam mendengarkan. Ternyata buya sudah bisa ikhlas dan bangga aku terbang ke papua.

Sampai ternyata om, tante dan sepupu-sepupu ikut mengantar. Satu mobil penuh. Belum lagi sahabat-sahabat terdekat di kampus dan di tempat kerja yang lari-larian ngejar aku d bandara (kayak film AADC gituh) ummi dan adik-adikpun menyusul. Sebelum check in aku di peluk dan di cium satu persatu sama mereka. Tumpah sudah air mata yang dari rumah aku tahan. Jaket SM3T yang aku pakai membentuk pulau-pulau bekas air mata. Buyaku yang jarang menangis berulang kali memelukku berurai air mata tanpa kata-kata. Ummi memelukku erat sambil berpesan menjaga sholat 5 waktu. Om dan tante juga mengantarkan doa. Pokoknya detik-detik keberangkatan itu penuh haru dan air mata.

Rombongan yang nganter di Bandara. ini belum semua loh.. :D

Sampai di ruang tunggu aku berusaha menahan tangis dan ikut berkumpul dan tertawa dengan rombongan. Ini adalah perjalan pertama aku dengan pesawat garuda. Secara garuda kan mahal tiketnya cyinn.. dan dengan noraknya aku foto-foto di pesawat dengan fasilitas lengkap ini. Menikmati perjalanan 5 jam di udara menuju Jayapura.

Dapet temen sebangku sama narsisnya. he is Fendy Thomas. alumni UPI

Sampai di papua tentu banyak pengalaman-pengalaman yang nggak bakal aku dapat kalau saja aku terus ada di zona nyamanku tinggal di Pekanbaru. Pengalamaan  kaget  ketika sampai di bandara Jayapura. Melihat di sekeliling orang-orang berkulit hitam, rambut keriting dengan muka seram. Belum lagi bau yanga menusuk hidung. Setelah sampai di wamena kami juga kaget dengan udara dingin siang bolong yang selalu 16 derajat. 2 hari di asrama  banyak yang tidak kuat mnyentuh air untuk mandi. Bibir  dan kulit pecah-pecah saking keringnya. Krim pelembab mendadak jadi barang yang paling di cari.

Ada banyak hal-hal baru yang aku alami di Papua. Sedikitpun aku tidak pernah menyesali kedatanganku ke sini. Justru bersyukur bisa tinggal dengan masyarakat papua yang bermuka seram tapi hatinya selembut sutra. Senang bisa melihat live pemandangan papua yang luar biasa indahnya. Sampai-sampai membuat airmataku tumpah karena melihat betapa indahnya lukisan Allah di tanah papua ini. (Baca ceritanya di postingan air mata pertama). Bersyukur bisa mengajar anak-anak di pedalaman yang kelas 6 nya saja belum bisa membaca. Entah apa yang mereka pelajari selama 6 tahun datang ke sekolah.

Les Khusus calistng di rumah. rameeeee nyaaaa.....
Itu dia sedikit cuplikan perjalananku di tahun 2014. Dari masih jadi wartawan, udah panggil untuk jadi guru di SD AN Namiroh. Masih jadi guru, harus pergi ke papua karena lulus tes SM3T. semuanya ibarat naik roller coaster. Semoga saja tugasku di sini di mudahkan dan semua target kerja tercapai. Amin..

 Quote abal-abal : “Kau tidak akan tau betapa indahnya dunia ketika kau tidak berani meninggalkan zona nyaman.”

Semoga lebih baik lagi


#postingan ini diikutsertakan dalam #liamartagiveaway ‘shareyour moment’.